SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 LUPA ANAK


__ADS_3

Vira sudah dipindahkan ke ruangannya, hanya ada para orang tua yang menjaga juga Wildan, sedangkan yang lainnya masih sibuk di tempat bayi yang terlihat sangat cantik.


Hari sudah malam, anak-anak masih berkumpul. Wira membawa makanan yang dia pesan secara online untuk adik-adiknya.


Para orang tua lupa anak, karena terlalu bahagia melihat bayi kembar lahir dengan selamat.


"Ayo kita makan." Wira meminta Raka membagikan makanan.


"Rum mam cuap." Arum memonyongkan bibirnya, menunggu Abinya untuk makan disuap.


"Arum, Bulan makan bersama kak Wira." Senyuman Wira terlihat, menyiapkan makanan juga untuk Lin yang tersenyum.


Asih menolak makan, dia masih kesal melihat keluarga yang melupakan mereka hanya karena bayi kembar.


"Ayo makan Asih, nanti sakit perut." Raka menyuapi adiknya yang masih cemberut.


"Asih jangan iri dan dengki, nanti kamu masuk neraka." Ning tertawa, menyuapi adiknya Tiar yang makannya sangat lahap.


Embun Juga makan disuap oleh Elang, dia tidak ingin makan sendirian sebelum papanya meminta maaf, ingin mogok makan tetapi perut lapar.


Arwin dan Virdan juga Bintang sudah mandiri makan sendiri, sesekali Bintang merapikan makanan adiknya agar tidak berhamburan.


Lin meneteskan air matanya melihat anak-anak nakal juga pendiam bisa menjadi anak yang mandiri, Lin binggung bagaimana nasibnya jika keluar dari rumah sakit.


"Kak yin Idak mam?" Bulan menatap tajam melihat Lin menangis, langsung cepat menepis air matanya.


"Ini sedang makan sayang." Lin langsung memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Virdan berjalan keluar, membawa makanannya mencari Mami Papinya. Dia ingin menunjukkan jika dirinya sudah bisa makan sendiri.


"Mami, mami mami." Langkah Virdan berlari sampai bertemu dengan Ar.


"Virdan sayang, kamu ingin ke mana?"


"Mami, Papi." Virdan lanjut berlari ke arah kamar rawat ibunya, meminta bantuan Ar membuka pintu.


"Mami."


Wildan tersenyum melihat putranya yang datang membawa makanan, senyuman Virdan terlihat.


"Mami, mamam." Tangan Virdan memberikan makanan kepada Maminya yang belum sadar.


Wildan langsung menggendong putranya, membantunya duduk melihat Vira yang masih tidur.


"Papi, mamam."


"Iya sayang, sekarang sudah mandiri. Makan apa nak?"


"Ayam, pedas." Mulut Virdan terbuka menunjukkan mulutnya yang kepedasan.


Wildan langsung kaget, menyingkirkan makanan memberikan putranya minum. Dia membawa makanan pedas untuk Maminya yang menyukai masakan pedas.

__ADS_1


"Siapa yang memberikan makanan kepada anak-anak?" Wildan menatap tajam.


Reva langsung berlari keluar, melihat rombongan masih sibuk melihat bayi melupakan anak-anak mereka yang dari siang belum makan.


Pukulan menghantam punggung Ravi, Erik, Tian, Stev dan Tama. Reva juga mencubit Winda, Kasih, Bella, Billa, Windy dan Binar yang langsung meringis kesakitan.


"Mami sakit." Winda mengusap perutnya.


"Anak-anak kalian belum makan, Virdan membawa makanan pedas. Keterlaluan." Reva menatap tajam, semuanya langsung berhamburan ke arah kamar Lin.


Di kamar Ar sudah menghentikan makan anak-anak yang tidak bagus untuk yang masih terlalu kecil.


"Siapa yang pesan makan?"


"Wira Uncle, soal kita menunggu makanan tidak ada yang datang, hanya makan kue. Akhirnya Wira beli makanan paket promo."


"Maafkan Mommy, kita pesan ulang makanan. Sekaligus merayakan ulang tahun dan kelahiran twins." Windy tersenyum melihat anak-anak.


"Tidak perlu, kita sudah kenyang. Urus saja twins V, ayo kita pulang." Asih menatap tajam, langsung melangkah pergi diikuti oleh Arum, Embun dan Bulan.


"Ning ikut juga?"


"Ikut pulang Ning, tinggalkan saja Tiar." Suara Rasih tinggi.


"Baiklah, semuanya Ning pulang dulu assalamualaikum."


Ravi mengejar putrinya yang emosinya, langsung menahannya untuk meminta maaf.


"Daddy sama Mommy lupa jika Asih belum makan, sibuk memuji kecantikan mereka." Tatapan Rasih tajam.


Ravi tersenyum langsung berlutut, mencium kening putrinya yang sedang kesal. Ar juga langsung menggendong putrinya yang sedang berulang tahun, tapi tidak mendapatkan perhatian.


Erik menatap putrinya Embun yang melipat tangan di dada, langsung berjongkok memegang kedua telinganya meminta maaf.


Para mommy hanya diam di dalam, Wira, Raka, dan yang lainnya binggung penyebab para wanita marah.


Windy tersenyum menatap Lin yang sudah membaik, menggenggam tangannya yang halus dan lembut.


"Mereka sudah tumbuh menjadi anak yang mandiri, dewasa juga saling melengkapi. Lin iri melihat keharmonisan anak-anak, Lin juga bahagia melihat twins V lahir dengan selamat." Air mata Lin menetes, sungguh dirinya bahagia, dan berjanji akan hidup bahagia.


"Ayo, Mommy temani bertemu Vira." Windy membantu Lin duduk di kursi roda, berjalan keluar.


Anak-anak sudah kumpul di kamar Vira, wajah mereka cemberut menghabiskan makanan.


Perlahan mata Vira terbuka, melihat suaminya dan putranya duduk. Virdan sedang menghabiskan susunya duduk dipangkuan Papinya.


Tangan Vira menyentuh perutnya, tidak melihat keberadaan kedua anaknya, hanya suara keluarga yang tidak tahu membicarakan apa.


"Mami, Mami." Virdan tersenyum melihat maminya sudah bangun.


"Sayang, kamu sudah bangun. Alhamdulillah Vira sadar."

__ADS_1


Semua orang langsung melihat keadaan Vira, air mata menetes membuat Wildan khawatir.


"Twins, bagaimana keadaan anak Vira?"


"Mereka baik-baik saja Vir, dua jam lagi dia akan bergabung bersama kita." Billa tersenyum mengusap air mata Vira.


"Kedua anakku selamat?"


"Iya, mereka cantik sekali. Kembar identik."


"Alhamdulillah, Vira ingin menangis, tapi perut Vira sakit." Senyuman Vira terlihat menatap Lin yang meneteskan air matanya.


Kepala Lin tertunduk, melipat kedua tangannya memohon maaf kepada Vira karena dirinya, membahayakan twins juga Vira.


"Maafkan Lin."


"Bukan salah kamu, ini sudah diprediksi sejak awal kehamilan. Kamu anak baik, terima kasih sudah memutuskan bangun." Vira mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Lin.


"Maafkan Lin, sungguh Lin menyesal kak."


"Sudah dimaafkan, happy birthday Lin."


"Happy birthday Virdan, Lin, Arwin dan Arum." Wildan tersenyum mencium kening putranya.


Vira menatap para wanita yang biasanya heboh, tapi sekarang sepi. Wajah Asih terlihat bete, Embun juga tatapan tajam, Arum dan Bulan juga duduk diam hanya Ning yang mencoba menghibur.


"Ada apa dengan cucu Prasetya dan Bramasta?"


"Biasalah, cemburu." Ravi tersenyum, mengusap kepala Vira mengucapkan selamat.


"Cemburu? sama siapa?" Vira ingin tertawa, tapi perutnya sakit.


"Twins V, mereka tidak suka karena kita membicarakan twins sangat cantik." Bella tertawa melihat lucunya anak-anak.


"Arum, sini peluk Mami nak. Kangen."


Arum langsung mendekat, naik ke atas tempat tidur memeluk Vira yang mengusap kepalanya.


Sekalipun ada twins V, rasa sayang Vira kepada Arum tidak akan pernah berkurang sedikitpun. Sejak Arum kecil, Vira lebih banyak menyusui dia, tidur bersama bahkan melebihi Winda.


"Kamu tetap Putri pertama Mami."


"Kamu bukan anak umi." Winda menatap putrinya, mengejek Arum yang menunjukkan tinju.


"Rum, Idak cuka dede." Bibir Arum terlihat monyong dan sedih.


"Kenapa nak, hari ini Arum ulang tahun bersamaan dengan lahirnya Dede twins. Nanti Arum jaga adik twins, bermain bersama."


"Jangan mau Arum, memangnya kita pengasuh. Dia akan mengantikan posisi kamu sebagai cucu perempuan satu-satunya Bramasta, juga menggantikan posisi aku." Asih melangkah keluar kamar, sambil membantingnya kuat pintu.


Rama meminta semuanya tenang, langsung melangkah mengejar cucunya yang mewarisi sikap Viana yang ingin berkuasa.

__ADS_1


***


__ADS_2