
Sebuah gelas terlempar, Karin melihat kemarahan Cinta. Dia menghancurkan banyak gelas antik, jilbab Cinta sudah melayang, tangan Cinta berdarah karena menggenggam pecahan gelas.
"Kenapa kamu lama sekali matinya?" Cinta mondar-mandir, Karin hanya menatap kasihan.
"Kak Cinta mengapa kalian saling membenci?"
"Karena Kasih penyebab Ayah kandung aku meninggal, saat kalian bertukar posisi Kasih membongkar kebusukan Ayah sampai akhirnya Ayah angkatnya menarik seluruh saham sampai Ayah bangkrut, akhirnya bunuh diri."
"Dia memang orang jahat, jika tidak ada bapak kamu juga sudah di jual, karena demi kamu aku jadi korbannya kak, seharusnya kita hidup rukun kasihan ibu jika sampai tahu."
"Jika bapak dulu tidak menyelamatkan aku, pasti aku hidup dalam kemewahan bukan hidup melarat." Cinta melempar gelas tepat di hadapan Karin.
Suara ponsel Cinta berbunyi, cepat dia menjawabnya, langsung mengambil jilbabnya dan berlari pergi keluar. Karin berusaha mengambil pecahan gelas yang pecah untuk melepaskan ikatannya.
***
Kasih repot di dapur menyiapkan sarapan, Ravi turun karena harus ke kantor pagi, melihat Kasih yang lompat-lompat sambil memegang pengoreng membuat Ravi mendapatkan vitamin pagi dan tersenyum.
Kening Kasih berkerut, melihat tangan yang sudah melingkar, memeluknya dengan erat. Setelah puas memeluk Ravi baru duduk untuk sarapan.
"Kasih, kalau ingin keluar rumah kamu harus izin aku, jika ada perkembangan soal Karin jangan bergerak sendiri, kabari aku."
"Iya, aku sudah bosan mendengar kamu bicara di ulang terus."
"Harus terus di ulang, karena perempuan model kamu masuk telinga kanan keluar telinga kiri." Ravi memasukkan makanan ke dalam mulutnya tapi langsung keluar lagi.
Kasih menatap sinis melihat Ravi, langsung menyingkirkan makanannya. Mata Ravi tajam menatap Kasih, alisnya juga terangkat.
"Kamu cobaan masakan kamu."
Kasih menurut langsung makan tapi mengeluarkan kembali, Ravi menggelengkan kepalanya. Kasih langsung menutup masakannya, mengambil roti dan mengolesi susu, meletakan di piring Ravi.
"Tidak perlu marah, aku sudah bilang tidak bisa masak."
"Setidaknya kamu bisa membedakan gula dan garam."
"Aku tahu, gula manis, garam asin." Kasih nyolot melawan tatapan tajam Ravi.
"Belajar masak lagi, temui Aunty Jum dia sangat pintar masak." Ravi cepat menghabiskan roti, dan bersiap untuk pergi.
Kasih mengantar sampai depan pintu, Ravi menarik pinggang Kasih dan mencium keningnya. Kasih hanya diam saja membiarkan Ravi pergi.
__ADS_1
"Dasar Ravi mesum, hari ini kening, besok pipi, dagu, mata, hidung dan seterusnya." Kasih langsung tersenyum sinis.
"Cepatlah masuk, aku tahu kalian sudah lama mengintip." Kasih melangkah ke dalam di ikuti oleh Vira, Winda, Bella Billa.
Keempat bocah duduk menatap Kasih yang ikut menatap sinis, Vira mencoba mencari perbedaan dari Kasih.
"Ada yang ingin kalian ketahui? jika iya sebaiknya kalian pergi, jangan ikut campur terlalu jauh."
"Di mana kak Kasih?" Vira duduk di depan Kasih.
"Di depan mata kamu."
"Kami tahu kamu bukan kak Kasih,"
"Jika menurut kalian seperti itu, coba cari keberadaan Kasih yang asli."
Bella tersenyum dan tertawa cekikikan merasakan lucu, tangannya terus bergerak di balik layar tabletnya.
"Raya Karina, putri seorang penipu kelas sampah." Bella menatap Kasih yang terlihat santai.
"Apa kamu yang bernama Bella? aku heran mengapa Kasih berteman dengan bocah nakal seperti kalian."
"Iya aku Bella Bramasta, hidup tidak seru jika tidak memiliki tantangan."
"Kak Wildan akan melindungi aku."
"Kenapa tidak melindungi diri sendiri, sekolah yang tinggi perdalam kemapuan kamu dalam teknologi setidaknya ada manfaatnya, aku yakin kamu anak yang tidak kekurangan tapi hidup jangan di buat mainan, sudah saatnya kalian menemukan jati diri."
"Kenapa jadinya ceramah."
"Kalian tahu apa Winda? selama hampir sepuluh tahun aku tidak bisa melarikan diri, hidup ataupun mati terasa tidak nyata, selama aku bisa melindungi keluargaku, maka hidupku menjadi perisai untuk mereka."
"Kak Kasih tidak mengenali keluarga kami."
"Kak Kasih tidak punya waktu Vira untuk mengetahui tentang kalian, hidup aku sudah ribet dan penuh masalah."
"Kami bisa membantu kakak." Vira mendekati Kasih.
"Jika kamu ingin membantu, tolong jangan ikut campur."
Vira tersenyum langsung melangkah pergi, Winda juga melangkah pergi diikuti oleh Bella, hanya Billa yang masih santai sambil meminum susu kotak yang dia bawa.
__ADS_1
"Kamu masih ada urusan apa?"
"tidak ada hanya ingin bersantai saja." Billa tersenyum, menawarkan susunya tapi Kasih menggelengkan kepalanya.
Kasih meninggalkan Billa, dia sibuk membereskan rumah, dari mencuci piring, menyapu, membersihkan kamar, mengepel lantai dan banyak lagi, Kasih ngos-ngosan membersihkan rumah yang cukup besar seorang diri.
"Billa bantu kak Kasih?"
"Oke." Billa langsung membantu membersihkan rumah, lanjut memasak untuk makan siang, Kasih langsung bergegas mandi.
Bau wangi masakan membuat Kasih berlari untuk makan, Billa sudah menyusun di meja, menyiapkan dua piring untuk mereka makan.
"Terima kasih Billa, masakan kamu enak sekali."
"Kak, Billa yakin kak Kasih atau Raya orang baik, tapi kebaikan itu tidak ada gunanya jika kakak berjuang sendiri."
"Aku tidak ingin ada orang lain yang terlibat Billa."
"Sudah hampir sepuluh tahun kak Kasih berjuang sendiri, apa hasil yang kakak dapatkan? bisa bertahan tapi tidak bisa keluar, semakin lama kak Kasih bukan kuat tapi hancur."
"Semua kakak lakukan demi keluarga kakak agar hidup damai."
"Kenapa hanya melihat dari sudut pandang kakak, cobalah jika kakak berada di posisi keluarga. Yang mereka inginkan hanyalah berkumpul, jikapun nafas dalam hitungan detik akan melayang, setidaknya ingin melihat keluarga berkumpul."
"Kamu pintar menyelam ke dalam hati Billa."
"Kak Kasih memangnya tidak ingin berkumpul dengan keluarga, tanpa ada kebohongan."
Billa menyelesaikan makannya, langsung mencuci piring dan pamit ingin pulang. Kasih mengucapkan terima kasih atas bantuan Billa untuk membersihkan rumah.
"Kak Kasih, Mommy Viana pasti akan kehilangan perusahaannya jika tidak ada hubungan baik dengan Mami Reva, Mommy Vi juga pasti akan kehilangan tempat tinggalnya jika Bunda tidak menjaganya. Mereka bahagia sekarang karena ada kerja sama, kak Kasih juga harus bisa terbuka, mulailah berjuang bersama, kami semua bersama kakak." Billa langsung keluar dari gerbang.
"Billa benar, puluhan tahun aku berusaha untuk menjatuhkan tapi sampai saat ini aku masih hidup dalam kegelisahan."
Kasih berbaring memejamkan matanya si sofa, coba memahami ucapan Billa, ponselnya berdering cepat Kasih meletakkan di telinga.
[Hallo.]
[Kasih aku tidak ingin melihat tahi di dalam telinga kamu] suara Ravi mulai mengejek, bibir Kasih langsung monyong.
Wajah Kasih yang sedang bete langsung terlihat, Ravi tertawa melihat wajah cantik Kasih yang sangat sulit untuk tersenyum. Ravi bicara banyak hal, membuat Kasih mengantuk.
__ADS_1
"Ravi Ravi, bocah edan." Kasih mematikan ponsel.
***