
Matahari bersinar, Viana mendobrak kamar Ravi, memukuli Ravi yang masih tidur.
"Ravi bangun." Viana kesal, Rama berusaha untuk menenangkan.
"Mommy, maaf Ravi kesiangan."
"Mana istri kamu?" Viana melotot.
"Emhhh, Kasih, kenapa Aak tidak dibangunkan?" Ravi teriak memanggil Kasih.
"Di mana Ravi Kasih kamu?"
"Astagfirullah Al azim, di mana Kasih Mom? dia meninggalkan Ravi." Ravi berlari ke luar kamar, teriak memanggil Kasih.
Di ruang tamu Ravi melihat Bisma yang sudah dari pagi di rumah, tatapan matanya juga aneh melihat Ravi.
"Ravi, Uncle tahu kita semua sedang berduka. Sejak kapan kamu bisa melayangkan tangan kamu untuk menyakiti wanita?"
"Siapa yang menyakiti wanita Uncle?" Ravi duduk di depan Bisma, Rama Viana juga duduk.
Bisma menghela nafasnya, Kasih menangis mengedor rumahnya saat hampir subuh, mengeluh tubuhnya sakit semua, berkali-kali Bisma bertanya penyebab sakitnya Kasih, dia hanya mengatakan tiba-tiba muncul, tubuhnya tidak bisa disentuh, terasa remuk semua tulangnya.
Ravi kaget, dia tidak pernah menyakiti Kasih, jangankan menyakiti Kasih, untuk membentaknya saja Ravi tidak tega. Rama juga yakin Ravi tidak mungkin menyakiti Kasih.
"Sebaiknya Viana melihat keadaan Kasih, mungkin kecapean kemarin. Kamu mandi dulu Ravi baru menjemput istri kamu." Viana mengerutkan keningnya, belum selesai dia bicara, Ravi sudah berlari kencang, menuju rumah Bisma.
Viana Rama juga langsung menuju rumah Bisma, Jum sudah di depan pintu, meletakan jarinya di bibir, Ravi berjalan perlahan menuju kamar tamu.
"Jangan dibangunkan dulu Ravi, kasihan baru saja terlelap." Jum mengelus kepala Kasih.
"Kasih kenapa Bunda? Ravi tidak menyakiti dia." Ravi duduk di pinggir ranjang menatap wajah Kasih yang tidur nyenyak.
"Memang tidak ada tanda-tanda kekerasan, hanya saja perasaannya yang sakit semua." Jum menatap Bisma yang cemas, Viana Rama lebih lagi cemasnya.
"Maafkan Mommy ya nak, kamu harus mengungsi, tidak berani membangunkan Ravi." Viana mengelus kepala Kasih, mencium keningnya.
Jum menceritakan awal Kasih datang, tangisan sesegukan mengulurkan tangannya meminta tolong. Kasih mengatakan tubuhnya sakit semua, seluruh tubuhnya terasa ngilu, nyeri.
Melihat Kasih yang terus merintih, Jum memijit Kasih, seluruh tubuhnya. Kasih menerima pijitan Jum, matanya yang lelah menangis, perlahan tertutup.
"Terima kasih Bunda, Ravi lelah sekali sampai tidur lupa waktu. Kasih juga tidak membangunkan Ravi, atau mungkin dia membangunkan, Ravi yang tidak terbangun." Ravi mengelus tangan Kasih.
"Jangan sentuh Kasih Aak, tubuh Kasih sakit semua." Kasih menarik tangannya menjauhi Ravi.
__ADS_1
"Sayang, kalau sakit kita pergi ke Dokter untuk periksa, kamu kenapa?" Ravi mengelus kepala Kasih.
"Jangan sentuh Kasih." Tangisan Kasih langsung pecah, Viana meminta Ravi menyingkir.
Viana menghapus air mata Kasih, mengusap kepalanya. Kasih memeluk erat Viana. Ravi keheranan, dia yang menyentuh teriak sakit, Bunda sama Mommy tidak sakit.
"Maafkan Kasih ya Mommy, sementara Kasih boleh tidak tinggal sama Bunda, atau Kasih pulang ke rumah Ibu." Kasih menangis sesenggukan.
"Kamu punya Mommy Kasih, kenapa tidak mempercayai Mommy bisa menjaga kamu. Kita memang sedang berduka, tapi bukan berarti akan mengabaikan Kasih." Viana meneteskan air matanya.
"Kasih tidak ingin menjadi beban Mommy, Kasih kenapa ya Mommy? biasanya Kasih tidak seperti ini." Kasih melihat tubuhnya.
Viana menatap Rama, dia tidak mengerti yang terjadi kepada menantunya. Rama coba mendekati Kasih duduk di samping Kasih.
"Kasih, bagian mana yang sakit?" Rama bicara pelan, Ravi menghela nafas.
"Semua Daddy, kaki, tangan, pinggang, pundak, tapi sekarang sudah mendingan. Saat tengah malam, sakit sekali, rasanya tulang Kasih remuk."
"Sebaiknya periksa saja." Bisma menatap Rama dan Ravi.
"Jangan-jangan Kasih?" Jum menatap Viana kaget.
"Apa Jum jangan membuat cemas." Viana panik, memeluk Kasih, mata Kasih juga mulai berkaca-kaca.
"Sayang, jangan bercanda. Kita semua lagi khawatir." Bisma menatap tajam Jum yang langsung cemberut.
"Iya Jum, kita hanya percaya sama Allah. Jangan berpikir hal yang tidak ada dalam Al Qur'an." Rama mengelus kepala Kasih.
"Bagaimana jika ucapan Jum benar Hubby? Kasih cantik, mungkin banyak laki-laki yang sakit hati." Viana menatap Kasih, memeluknya erat.
Suara ketukan pintu terdengar, Reva datang bersama Bima. Mendengar kabar Kasih badannya sakit semua, Reva menatap Kasih cemas.
"Bagaimana keadaan Kasih Ravi?"
"Aneh Uncle, Mami, Bunda, Daddy, Mommy bisa menyentuh dia, tapi Ravi tidak bisa." Ravi menatap Kasih.
"Ravi benar juga, hanya Ravi yang tidak bisa menyentuhnya." Viana semakin khawatir.
"Pasti orang tidak suka melihat pernikahan keduanya, jadinya ingin memisahkan mereka dengan cara licik." Jum merinding.
"Langsung saja Jum, panggil mbak Jambrong, jambrut atau siapapun yang sakti di kampung kamu." Reva bersemangat.
"Sudah meninggal mbak Reva, tidak ada lagi bahkan melahirkan saja menggunakan perawat."
__ADS_1
"Reva, jangan bicara sembarangan. Kita pastikan dulu ke Dokter, jangan mengambil kesimpulan sendiri." Bima menatap Ravi, Kasih melangkah keluar kamar, duduk di ruang tamu.
Suara salam terdengar, Erik melangkah masih sempoyongan. Kasih menatap sinis, marah, kesal melihat wajah Erik yang masih muka bantal.
"Ada apa Daddy? Erik baru tidur 30 menit, sekarang sudah bangun lagi."
"Coba kamu lihat keadaan Kasih, tubuh dia sakit semua." Rama meminta Erik melihat Kasih.
"Balik badan, Kasih tidak mau melihat dia. Kenapa wajahnya jelek sekali?" Kasih teriak marah, Ravi menahan tawa melihat wajah Erik.
Erik menunjuk dirinya untuk berbalik, langsung mengikuti keinginan Kasih untuk tidak melihatnya. Ravi menutup mulutnya bersama Bisma menahan tawa.
"Kasih, aku biarpun bangun tidur, rambut acak-acakan, masih ada tahi mata, ada Iler, tidak ada yang mengatakan aku jelek, hanya kamu satu-satunya." Erik mengerutkan keningnya, memejamkan matanya.
"Kamu memang jelek, bau, Kasih kesal melihat wajah kamu. Rasanya Kasih mual melihat wajah kamu. Pokoknya kamu jelek sekali." Kasih melipat tangannya di dada, wajahnya langsung cemberut.
Viana menatap wajah Kasih, Reva juga menatap serius. Wanita galak seperti Kasih bisa ambekan, gadis cuek punya waktu mengkritik penampilan.
"Mulut kamu Kasih, memang tidak pernah sekolah, sebaiknya otak kamu diperiksa." Erik menahan tawa.
Sebuah ponsel melayang, Bisma kaget karena ponselnya melayang ke arah Erik, semua yang ada di atas meja Kasih lempar, Erik langsung bersembunyi melihat Kasih mengamuk. Suara tangisan kuat, Erik mengintip dari balik sofa menatap Kasih menangis sesenggukan.
Semuanya mengaruk kepala, antara ingin tertawa atau cemas melihat tingkah Kasih, menjadi orang yang berbeda.
"Ravi jika dugaan aku benar, kenapa seram sekali tingkahnya? mirip siapa dia suka mengamuk?" Erik menatap Mommy Viana yang melotot.
"Sebaiknya, periksa ke Dokter."
"Dokter otak?" Jum ingin menangis melihat Kasih.
Erik tertawa memeluk Jum, tidak menyangka juga anak Ravi bisa tidak menyukainya.
"Dokter kandungan Bunda ku sayang." Erik langsung berbaring di sofa.
Semuanya mematung menatap Erik.
***
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1442 HIJRIAH.
***
__ADS_1