SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
MASALALU


__ADS_3

Rama melangkah kakinya memasuki rumah mertuanya, Mansion keluarga Arsen memang sangat mewah. Mommy langsung cepat menyambut kedatangan Rama yang mendadak, Rama memberikan salam ikut melangkah masuk bersama mommy.


"Kemana Ana! Ravi juga! tidak ikut?"


"Tidak mom, ada hal penting yang ingin Rama bahas bersama mommy dan daddy, ini menyangkut soal Viana."


Mommy mengerutkan keningnya merasa khawatir, mommy meminta Rama masuk ke dalamnya ruangan khusus keluarga, karena daddy ada di sana.


Mommy menuju dapur menyiapkan minuman dan membawanya masuk dan mengunci pintu.


Rama hanya diam memandangi foto keluarga Arsen, terutama foto Andri kakak Vi, Rama memperhatikan wajah mereka berdua.


"Rama ini album mereka." Daddy meletakkan banyak album foto masa kecil Andri dan Viana.


Lama Rama memperhatikan foto keduanya, dan menatap mommy juga daddy.


"Mom, dad, maaf jika Rama lancang. Apa penyebab kak Andri meninggal."


"Kecelakaan bersama ibunya Viana saat Andri akan melakukan bisnis ke luar negeri."


"Mengapa mereka pergi bersama,"


"Daddy tidak tahu Rama, Ibu Vi pergi ke kampung setelah sekian lama dia kembali membawa bayi perempuan, tapi dia tidak menyayangi Vi dan hampir membunuh Viana, dan daddy menyelamatkan vi. Datanglah mommy menuduh daddy selingkuh dengan membawa tez DNA."


"Mommy dapat dari mana?"


"Mommy lagi bisnis di LN dan mendapatkan kiriman perselingkuhan Daddy dan langsung kembali, daddy juga mengakui Vi anaknya ternyata atas permintaan Andri."


"Daddy yakin tidak ada yang di sembunyikan."


Daddy menggelengkan kepalanya, menatap Rama penuh tanda tanya.


"Ada apa sebenarnya Rama."


Ravi tidak menjawab tujuannya, dan hanya ingin mengetahui asal-usul istrinya. Rama tidak lama berada di sana langsung pamit undur diri.


***


Beberapa bulan kemudian....


Viana makin di buat sibuk oleh tingkah Ravi yang membuatnya darah tinggi, Ravi berlari marah mencari ular king yang menghilang dari pagi. Seisi rumah di buatnya heboh dan sibuk mencari ular.


Dengan tangan di lipat di dada Ravi berdiri dengan wajah dingin dan kesal.


Viana langsung menghubungi Rama yang sedang sibuk bekerja, hanya Rama yang bisa bicara dengan Ravi yang sedang marah.


[Hubby, cepat pulang! Ravi mengamuk. Viana sebentar lagi gila di buatnya.]

__ADS_1


"Ravi! kamu mirip daddy kamu kalau lagi marah," Viana duduk di sofa menatap putranya yang sedang melotot.


Semuanya berkumpul di depan Ravi tidak berhasil menemukan ular, mereka menunduk takut melihat mata tuan muda yang sedang emosi.


"Apa guna kalian, berapa banyak orang yang menjaga rumah ini? menjaga satu ular saja tidak becus!"


"Ravi jangan salahkan mereka, tugasnya bukan menjaga hewan tapi menjaga rumah."


"Tidak bisa mommy, seharusnya semuanya tahu Ravi menyayangi ular, Ravi meletakkan ular di kandang. Makanannya saja tidak habis berarti setiap Ravi pergi tidak ada yang mengurus ular. Rumah sebesar ini, pengawal sebanyak ini, belum lagi asisten, Apa tidak ada satupun yang bisa diandalkan? apa gunanya kalian di gaji?"


Viana menganga mendengar omelan Ravi yang mirip dirinya yang hobi marah, Viana mengerakkan tangannya meminta pergi tapi teriakan Ravi membuat semuanya berhenti.


"Siapa yang mengizinkan kalian pergi? cari ular! jika dalam satu jam tidak ditemukan kalian terima hukumannya."


Ravi melangkah pergi masuk kamar dengan membanting pintu. Viana mengelus dada semuanya menahan tawa karena di omel bos kecil, dan di ancam. Viana juga meminta maaf dan harap memaklumi Ravi.


***


Jum datang membawa seekor kucing yang mengeow membuat semuanya yang masih sibuk mencari sampai keluar rumah tersenyum bersorak gembira. Akhirnya harta tuan muda bisa di temukan.


"Ketemu di mana Jum,"


"Pinggir taman lagi pacaran dia, cari istri!" tawa Jum dan Viana terdengar.


Ravi berjalan melihat kearah ular yang mengeow padanya sambil mengelus.


"Ular masih kecil mommy, tidak boleh pacaran,"


"Iya dia tidak boleh pacaran tapi dia tetap harus kawin, nanti dia stres."


"Ravi juga belum kawin tapi tidak stres," Jum dan Viana saling pandang dan mengelus dada.


"Kak Vi tidak cerdas bicara dengan Ravi, biar Jum saja yang menasehati."


"Sayang hewan dan manusia berbeda, manusia kawin setelah dewasa tapi hewan...."


"Aunty Jum sudah besar masih belum kawin, bagaimana bisa ular kawin. Sebelum ular kawin Ravi dulu yang kawin."


Jum langsung sesegukan mendengar ucapan Ravi dan melangkah pergi tanpa bicara apapun, sedangkan Viana sudah tertawa terbahak-bahak.


Rama melangkah masuk melihat Viana yang tiduran di sofa sambil menahan tawa.


"Rama anak Lo mau kawin," teriak Vi dan kaget melihat Rama di hadapannya, sambil menutup mulutnya.


"Hubby, urus Ravi mommy mau perawatan dulu. Bisa cepat tua mommy." Vi cengengesan pergi.


***

__ADS_1


Viana dan Jum sedang berada di salon langganan mereka menunggu cacing kremi datang, Reva berlari dengan tertawa gembira sambil memeluk Viana dan Jum.


Mereka bertiga melangkah masuk, dan melakukan ritual kecantikan, walaupun memiliki usia yang berbeda jauh, cerita mereka bertiga sangat nyambung.


"Kak Vi, Reva punya kabar gembira."


"Apa? Bima mencium Lo." Viana tertawa karena tahu Bima sensitif di sentuh.


"Bukan hanya itu, lebih dari itu. Sangat luar biasa."


"Astaghfirullah Al azim Reva, kamu yang paling muda tapi tidak punya malu, kamu menyerahkan kehormatan padahal belum menikah. Kamu berzina!"


Reva melotot melihat Jum yang bicara sangat besar membuat seisi salon melihat kearah mereka, untungnya bukan artist atau istri artis jika tidak langsung viral dan trending.


"Seriusan sejauh itu, gimana enak!"


"Kak Vi, bukannya di nasehatin malah di tanya enak tidak, kak Vi tahu rasanya jangan di tanya lagi." Teriak Jum membuat Viana dan Reva terpingkal tertawa.


"Astaga rusak perawatan Reva kalau bicara dengan Jum, polos nya masa Allah." Reva menekan wajahnya pelan.


Mereka keluar dari salon sambil terus tertawa hanya Jum yang terlihat kesal.


"Sebenarnya kamu mau kasih kabar gembira apa Reva?" Viana ikut penasaran karena pembahasan mereka terhenti karena mengejek Jum yang di tinggal ciuman pertama.


"Janji jangan ada yang teriak." Reva melompat mengungkapkan kebahagiaannya yang tidak terbendung.


Setelah mendapatkan anggukan dan memberikan pemanasan yang membuat wajah Vi dan Jum tegang.


"Tara!" Reva menunjukkan jarinya yang sudah melingkar cincin di jari manisnya, sebuah cincin mutiara yang Vi bisa menafsirkan harganya sangat fantastis.


"Beli di mana?" Vi memegang cincin bermata kuning di jari Reva.


"Wow bangus banget, Jum suka."


Reva menyimpan tangannya dengan tatapan kesal, melihat dua wanita yang tidak mengerti arti cincin di jari manisnya.


"Dasar kalian berdua, kampungan, norak, tidak mengerti yang romantis, menyebalkan. Reva mau pulang kesal."


"Vi juga mau pulang, minta beliin cincin ke hubby."


"Jum minta ke siapa?


***


YANG MINAT GABUNG GRUP SILAHKAN YA.


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE


__ADS_2