SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
PERSIAPAN HARI ISTIMEWA


__ADS_3

Di halaman rumah Jum yang terlihat sederhana dan juga desain nya sangat klasik. Banyak perpohonan buah-buahan, rumah penduduk juga berdempetan. Tapi diantara rumah lainnya mungkin rumah Jum yang paling bagus.


Di teras rumah Jum dan Bisma sudah menunggu, Jum sangat khawatir. Seharusnya Reva datang 5jam yang lalu tapi sampai sekarang belum juga tiba. Bisma berkali-kali menenangkan, coba menghubungi Bima dan Rama dan jawabannya sudah berangkat.


"Kak Jum!" teriak Reva membuat pemuda-pemudi yang sedang berkumpul untuk membantu persiapan, berdiri kaget melihat seorang wanita cantik dari kota yang suaranya cempreng.


"Alhamdulillah ya Allah akhirnya mereka sampai." Mata Jum berkaca-kaca karena khawatir.


Reva langsung memeluk Jum yang juga memeluknya. Reva melambaikan tangannya menyapa Bisma yang menggagukan kepalanya.


Mereka semua masuk dan menyapa keluarga besar Jum, seluruh saudara Jum menyambut kedatangan Reva yang berisik dan heboh.


"Hai, Tante ibunya Jum ya." Reva memeluknya, membuat Jum menutup mulutnya menahan tawa.


"Kamu pasti Reva, Jum selalu menceritakan dua wanita Viana dan Reva. Wanita yang kamu peluk sahabatnya Jum dan saya ibunya Jum."


"OHH mo! Reva langsung berdiri mengucapkan maaf membuat banyak orang tertawa."


"Tante, cantik sekali seperti kak Jum." Reva cengengesan.


"Kamu jauh lebih cantik."


"Soo pasti Tante, bukannya Reva sombong ya Tante. perawatan, baju yang Reva pakai hasil karya Reva. Hebat kan Reva." Reva tertawa melihat tingkahnya dan membagikan oleh-oleh dari kota.


"Kak Jum, teman kak Jum tua sekali! syukurnya Reva tidak memanggilnya nenek." Reva berbisik ke Jum membuat Jum memukul lengan Reva.


Seluruh penduduk yang membantu di rumah Jum menyambut Reva, Septi dan Tya yang ramah dan langsung terlihat akrab.


***


Keesokan harinya mereka sudah sibuk menyiapkan pelaminan, dan juga banyak jenis masakan yang melibatkan banyak penduduk yang membantu.


Soal persiapan pelaminan dekorasi diurus Tya yang dibantu langsung oleh tim WO yang mereka persiapkan. Septi terjun langsung membantu dalam urusan masak, Septi sangat menghargai pendapat penduduk yang turun-temurun dan menggabungkannya masakan khas kota dan desa membuat para ibu yang membantu bersemangat.


Septi juga menciptakan makanan khas luar yang berkreasi membuat banyak wanita muda yang antusias ikut belajar memasak dan memahami nya. Septi bahkan menawari mereka untuk mengolah restoran terbaru yang akan Septi buka tidak jauh dari kampung.


Reva sedang sibuk melakukan perawatan untuk Jum, Bisma dan keluarga inti Jum. Baju untuk hari H juga sudah siap membuat banyak orang kagum melihat kebaya putih dan gaun berwarna gold dan putih yang membuat ibu Jum meneteskan air matanya, putrinya sangat beruntung dekat dengan orang-orang baik.

__ADS_1


Baju yang Reva siapkan sangat indah baik untuk orang tua juga para panitia wanita yang akan membantu menjaga makanan dan lainnya.


"Bisma ini menjadi pesta terbesar di desa ini nak." bapak Jum mengelus punggung Bisma.


"Iya pak, Jum pantas mendapatkannya. Nanti bapak akan melihat satu wanita lagi yang dekat dengan Jum, dia tidak bisa pergi duluan karena sedang hamil suaminya sangat posesif."


"Apa dia Viana?" Bisma menggagukan kepalanya.


***


Viana berdiam diri mempersiapkan kebutuhan pergi besok ke pernikahan Jum dan Bisma. Rama datang memberikan salam dan mencium kening Viana.


"Hubby! sudah mendengar kabar dari Ammar soal Reva, mas Bram sudah tahu."


"Kak Bima belum tahu Vi, soalnya kasus dengan Brit akan selesai sore ini. Kita berdoa saja semoga kak Bima menang untuk mendapatkan hak asuh Windy."


"Iya hubby, yang penting mereka sudah sampai di desa Jum."


Rama mengangguk kepalanya memeluk Viana, mereka langsung menemui Ravi untuk mengecek aktivitas Ravi hari ini dan setelahnya langsung tidur karena besok akan melakukan perjalanan jauh.


***


"Kakak berhasil memenangkan hak asuh Windy."


Bima menggagukan kepalanya tersenyum memandangi putrinya yang terlihat sangat bahagia.


Viana keluar mengandeng tangan Ravi dan tersenyum melihat Windy yang ternyata jatuh ditangan Bima.


"Ammar dan Ivan pergi menyusul, kita berangkat satu mobil saja jadi bisa giliran." Rama setuju dengan usul Bima.


"Kak Bima, Rama saja yang menyetir nanti kita tukeran."


Viana Ravi dan Windy di kursi penumpang, kedua bocah tidur, Ravi di paha Viana sedangkan Windy di bahu Vi.


Mereka sudah melakukan makan siang dan sholat, Bima juga sudah bergantian dengan Rama, Windy membisikkan sesuatu ke Viana membuat Vi tersenyum.


"Mas Bram! berhenti cari toilet, putriku Windy mau ke toilet."

__ADS_1


"Terimakasih Papi, terimakasih aunty."


"Aunty! mommy panggil mommy." Viana meminta Windy mengulang ucapnya.


"Iya aunty ehh mommy, Windy punya bunda tapi tidak sayang Windy. Syukurnya Windy punya mami Reva yang sayang Windy, Mami berantem sama guru Windy karena mereka menuduh Windy mencuri." Wajah Windy langsung manyun menahan air matanya.


"Windy tidak perlu bersedih, walaupun bunda Windy tidak baik doakan terus ya sayang agar bunda bisa diberi hidayah, bagaimanapun juga dia yang pernah mengandung dan melahirkan kamu."


"Iya mommy, Mami juga bilang begitu tapi mami Reva lucu mom, kalau marah pasti suka teriak. Pernah juga mami berantem sama bunda main jambak-menjambak."


Viana dan Windy tertawa mendengarnya ocehan Windy yang sepertinya sangat dekat dengan reva.


Selesai dari toilet, Rama yang menyetir mobilnya karena jarak mereka sudah dekat. Windy juga sudah berhenti mengoceh lanjut tidur.


"Kak Bim, Rama mau cerita sesuatu." Rama melihat wajah Bima yang membalasnya dengan mengaguk.


"Reva saat pergi ke desa mengalami kecelakaan, ada yang sengaja ingin menabrak mobilnya. Tapi kak Bima tenang saja mereka sudah sampai dan baik-baik saja."


"Mengapa baru cerita sekarang Ram, kenapa tidak langsung menelpon saja." Suara Bima sangat tinggi membuat Viana terbangun, Rama juga pertama kalinya melihat Bima bicara dengan nada kuat..


"Ada apa hubby?"


Bima berkali-kali menghubungi Reva, tapi tidak dijawab. Bima memikul Dasbor mobil membuat Viana kaget.


"Mas Bram, Reva yang tidak memberikan izin memberitahu kamu, karena dia ingin kamu fokus ke Windy."


"Ya, kak Bima lagian kasusnya sudah diselidiki. Ammar langsung yang turun tangan menyelesaikan kasusnya.


Bima diam saja, rasa khawatirnya benar soal Reva. Pantas berkali-kali Bima coba menghubunginya tapi tidak ada jawaban.


"Rama! salah tidak aku jatuh cinta padanya? dia terlalu baik. Aku tidak bisa mengutarakan perasaan yang aku miliki. Rasa cinta aku ke Reva melebihi perasaan dahulu aku dan Viana."


"Tidak kak, cintai Reva karena Allah bimbing Reva menjadi wanita saleha, Kakak pria baik sangat pantas bersama Reva."


"Berarti dulu Viana tidak baik ya hubby, sehingga tidak pantas mendampingi mas Bram tapi Langsung diganti pria ABG super tampan, Sholeh lagi. I love you Rama." Viana berteriak membangunkan kedua bocah yang tidur di sampingnya.


***

__ADS_1


__ADS_2