
Ravi mendekati Kasih yang masih terlelap tidur, obat bius sudah hilang, tapi Kasih lanjut tidur karena lelah menangis.
"Sayang." Ravi naik ranjang, menciumi Kasih.
"Aak." Kasih langsung berdiri, berlari keluar.
Ravi kebinggungan melihat Kasih, langsung mengejarnya. Kasih berada di tengah pesta, Kasih mendekati Vira yang masih cemberut.
"Siapa pengkhianatnya Vir? di mana Ravi?" Kasih terlihat panik, meraba tubuhnya, bajunya sudah diganti.
"Kenapa aku sudah ganti baju tidur? di mana baju yang aku pakai tadi? siapa yang lancang menyentuh, mengganti baju Kasih?" Vira jawab Vir, nanti Ravi marah." Kasih langsung mengoyangkan tubuh Vira.
Winda mendekati Kasih menyentuh keningnya, tidak terasa panas, mata Kasih sayu bangun tidur.
"Bangun kak, berhenti mimpi. Kita semua dikerjain dalam rangka birthday party."
"Birthday party? Kasih tidak berulang tahun."
"Jadi kak Kasih tidak tahu?" Vira menatap Kasih yang kebinggungan.
Ravi mendekati Kasih menangkup wajahnya, Kasih baru ingat dia dibius, pingsan saat sadar berada dalam pelukan Ravi, Kasih mengamuk karena lelah langsung tertidur.
Ravi menjelaskan, jika Kasih dan Karin tidak tahu. Karena ulah pemukulan di rumah Tian mengeluarkan uang ratusan juta, lelaki yang Tian kirim patah tulang, bahkan gigi rontok, mata biru sampai harus operasi, patah kaki tangan, juga patah tulang rusuk.
Ganti rugi sangat besar, belum kerugian lainnya. Kasih menahan tawa, salah sendiri dia juga dikerjain, jika tahu tidak mungkin mengamuk.
"Jadi siapa saja yang terlibat?"
"Karan, kak Tian, Erik semuanya tahu kecuali kalian."
"Yusuf?" Winda mengecilkan suaranya.
"Jika Kasih tidak berlari mengacau, mungkin rencana kita gagal. Wildan berhasil membobol area dalam kapal, tapi belum sempat melihat, hanya Yusuf yang melihatnya." Ravi tertawa.
acara makan malam pun dimulai, seluruh keluarga duduk bersama menikmati makan malam sederhana. Pada saat matahari terbit kapal akan berlayar selama 3 hari, acara bulan madu yang Ravi impikan bisa berlayar bersama wanita yang dicintai, sekaligus seluruh keluarga.
Wildan ingin segera acara selesai, dia ingin menghajar Karan yang beraninya mengkhianati, bersekongkol dengan Ravi. Walaupun ini acara ulang tahun, tapi di ia terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa melakukan apapun.
"Wildan, boleh kami meminta sesuatu?" Rama menatap Wildan, yang lainnya juga tersenyum.
__ADS_1
"Apa Daddy? jangan minta aku menjaga Vira, jangan minta aku menjaga adik-adik, mereka memiliki penjaga masing-masing."
"Sekarang kamu banyak berubah Wil, sudah bisa bicara panjang, juga sudah bisa menolak." Bisma tersenyum.
"Kejadian ini mungkin hanya candaan, tapi Wildan sangat marah Uncle, nyawa kami bukan candaan. Bagaimana jika kami membunuh? salah satu cedera." Wildan melepaskan sendok makannya.
"Semua itu tandanya kamu sudah mulai peka Wildan, jika dulu kamu hanya bertugas menjaga Windy dam Winda, tapi sekarang bisa menjaga orang-orang yang berharga dalam keluarga kita"
"Wildan tahu Papi, melihat orang yang Wildan lindungi terbunuh, kak Ravi badannya merah sesak nafas, mendadak kak Tian tergantung, kak Erik berkhianat. Mental Wildan jatuh, biasanya bekerja di balik layar, Wildan tidak pernah melakukan kesalahan, tapi kali ini, Wildan memiliki dua tangan, tapi tidak berguna."
"Kamu jatuh karena berpegang teguh dengan ketiga Kaka kamu, melihat mereka pergi kamu tidak memiliki pelindung lagi." Jum melangkah mengusap kepala Wildan, menciumnya sambil memberikan minuman kesukaan Wildan.
"Wil, kamu memiliki kemapuan yang istimewa, kami kewalahan mengalahkan kamu. di sini ada Karan yang pernah kamu akui hacker yang hebat, ada Gemal juga membantu, bahkan aku membawa sepuluh orang terlatih dari markas, untuk mengalahkan teknologi kamu. Jika Kasih tidak mengacau, kami gagal. Kak Ravi akui kehebatan, kecerdasan kamu."
"Win, coba kamu mirip kakak kamu cerdas. Bukannya memfitnah Yusuf sampai menamparnya." Vira mengunyah rotinya.
"Winda, kamu masih belum berubah. Dulu kamu hancurkan mimpi Yusuf, sekarang juga masih kamu ganggu." Reva menggelengkan kepalanya.
"Iya Mami, bahkan Yusuf berkata, jika aku terlibat, tidak akan aku menginjakkan kaki di tanah, tapi jika aku benar kamu harus bersedia berada dipenjara hidupku." Bella mejelaskan detailnya.
"Dia hanya bermimpi ingin bisa masuk dalam keluarga Bramasta." Winda menatap sinis.
"Papi! dia hanya ingin menyiksa Winda, membalaskan dendam Ibunya. Papi ingin melihat Winda menderita, hidup dalam penjara." Winda berbicara dengan nada marah.
"Dia pria baik Winda, otak kamu yang harus dibersihkan. Yusuf akan membimbing kamu dengan baik, sekarang kamu juga berani membentak Papi." Wildan menatap tajam.
"Kalian merusak suasana hati Winda, bela terus dia. Nikahkan Winda dengannya Papi, agar kalian puas melihat Winda menderita." Winda langsung menendang kursi, melangkah pergi.
Reva terdiam melihat Winda sangat membenci Yusuf, dia memang tidak bersalah, tapi kesalahan Ibu Yusuf tidak bisa Winda terima. Dia memfitnah Winda berzina, sampai Winda digiring masa padahal Winda masih 14 tahun, tidak heran dia sangat membenci Yusuf. Winda membongkar kebusukan Ibunya Yusuf sampai tayang di TV, kemarahan Winda tidak bisa Reva kendalikan saat dia mengamuk.
Vira langsung pamit mengejar Winda, suara kuat terdengar. Teriak Vira kuat, membuat seluruh orang berdiri.
"Mommy, Daddy Winda bunuh diri" Vira langsung menangis.
Bima langsung berlari, Reva langsung mematung hampir jatuh pingsan. Lampu kapal langsung hidup menyeluruh, Tian memanggil Tim untuk menyelam, Wildan tidak menunggu Tim lagi langsung menyuburkan dirinya mencari adiknya.
Tangisan Reva tidak bisa berhenti, Jum juga menangis sesenggukan. Kasih menggenggam tangan Reva menenangkan.
"Puluhan orang turun ke air, Ravi yang merasakan khawatir memutuskan turun, Tian juga sudah melompat. Erik juga ingin turun tapi ditahan Bima, dia dibutuhkan. Semuanya tahu Winda sangat takut air dingin, melihat air laut di waktu hampir subuh membuat jantung melemas.
__ADS_1
Yusuf datang mendekat melihat kekacauan, menatap keluarga yang panik.
"Ada apa paman?" Yusuf menatap Rama.
"Winda terjun bunuh diri, gara-gara bahas kamu ingin menikahinya." Vira memukul Yusuf.
"Vira hentikan." Rama menatap dingin.
"Mustahil dia berpikir pendek, gadis cerdas mengakhiri hidupnya hanya karena pembicaraan yang belum jelas. Winda wanita normal, bukan setengah waras." Yusuf menatap serius.
"Yusuf benar, tidak mungkin Winda terjun. Kamu melihat jelas Vir?" Bisma melihat Vira yang sedang berpikir.
"Tidak, hanya ada bunyi, Vira pikir Winda terjun."
""Virraaa!!!" teriak Mommy, Mami dan Bunda melengking. Kasih dan Karin menutup telinga.
Winda melihat meja makan kosong, suara ribut terdengar.
"Apa yang kalian lakukan?" Winda memakan kue coklat, milik Wildan.
"Vira, mengatakan kamu terjun." Billa nyegir.
"Ihhh gila, ini jam berapa Winda takut air dingin."
Vira sudah cengengesan, Reva Jum menghapus air matanya. Kesal melihat Vira yang membuat jantungan.
"Woy, kalian kurang kerjaan berenang hampir subuh, tidak dingin?" Winda tertawa melihat ke bawah.
"Alhamdulillah aku tidak ikut terjun." Erik mengelus dada.
"Viraaaaa!!!!" teriak Ravi, Wildan, Tian kesal.
Bima sudah memeluk Winda, mencium pipinya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***