
Billa menatap bayi laki-laki merasakan nafasnya yang sangat kecil, seorang Dokter mendekati Billa berusaha untuk memompa jantung. Bayi perempuan juga sudah keluar, Billa menghela nafasnya melihat keadaan bayi perempuan.
"Dok, nafasnya sangat kecil."
"Terus berjuang, sekecil apapun kesempatan Bangunan Raka."
"Raka bangun boy, katanya ingin bertemu Mommy Daddy. Bertahan sayang." Billa memasang alat bantu pernapasan.
Billa mengambil alih untuk melihat keadaan bayi perempuan, Billa mengangkat pelan. Seorang Dokter menatap Billa yang fokus, tidak banyak berbicara. Suara yang keluar hanya memanggil Rasih.
"Dokter Bil, dia sudah tidak bernyawa." Seorang Dokter menyadarkan Billa.
"Diam." Billa masih dengan caranya, tidak ada kata tidak mungkin.
Lama Billa berjuang untuk Rasih, senyum Billa terlihat merasakan dada Rasih mulai bergerak, beberapa Dokter ingin sekali teriak melihat si kecil mungil mulai bergerak.
Alat bantu pernapasan di pasang, Billa berusaha mengeluarkan racun yang tidak sepenuhnya masuk ke dalam tubuh twins.
"Lepaskan alat bantu pernapasan, siapkan tabung inkubator, setelah bayi menangis pasang lagi alat bantu pernapasan, masukkan ke dalam inkubator, jangan lupa, pasang kembali ventilator."
Tidak ada yang menolak perintah Billa, melihat dua bayi mungil juga melihat ibu dan Ayah bayi membuat banyak Dokter bersemangat, berjuang sampai akhir.
Hampir 5 menit suara bayi tidak terdengar, Dokter yang membantu Raka sampai berkeringat, senyumannya terlihat suara tangisan Raka terdengar pelan.
Ravi yang mendengar melihat ke arah beberapa Dokter yang sedang berkumpul, Kasih menarik tangan Ravi dia tidak mungkin salah mendengar tangisan anaknya.
Satu kali lagi suara tangisan terdengar, Kasih menggigit bibirnya bawahnya menahan air matanya, Ravi menciumi wajah Kasih, mencium lama tangan Kasih.
Billa tersenyum melihat dua bayi mulai bergerak, menghangatkan sebentar tubuh mereka.
"Raka jadi kakak yang baik, kamu akan menjadi penerus keluarga Prasetya, bertugas menjaga keluarga besar. Raka harus bertahan satu kali lagi, sampai nanti ada di pelukan Mommy Raka."
"Asih, jadilah wanita baik, kuat dan tangguh seperti Mommy dan nenek ya sayang, kamu princess keluarga Prasetya, menggantikan Vira." Billa tersenyum menahan air matanya.
__ADS_1
Langkah kaki Billa mendekati Ravi, terlihat wajah sedih juga bahagia dari Ravi. Billa langsung melangkah mengulurkan tangannya, Ravi menyambut tangan Billa.
"Selamat pak Ravi sekarang sudah menjadi Ayah, bapak bisa mengumandangkan adzan ditelinga twins, tapi twins harus dirawat khusus karena lahir prematur, butuh waktu lama, kami akan melakukan terbaik untuk mereka." Billa tersenyum, Ravi langsung berlutut.
Sujud syukur Ravi lakukan, tidak ada kata-kata yang bisa terucap dari mulut Ravi yang tidak bisa diam, hanya air mata sebagai ungkapan perasaannya.
Billa juga meneteskan air matanya, tidak bisa tertahankan lagi melihat kesedihan kakaknya. Billa juga berjongkok memeluk Ravi yang masih sujud dengan tubuhnya bergetar.
"Kak Ravi, lihat twins sekarang. Mereka harus dibawa ke ruangan khusus." Billa menggakat kepala Ravi, menghapus air matanya.
"Terima kasih dek, Billa terima kasih." Ravi memeluk Billa, mencium kening Bil, sambil menghapus air matanya.
"Ini jawaban dari doa kakak, kak Kasih, seluruh keluarga kita." Billa tersenyum, mengingat saat Billa masih kecil, saat Tian tidak bisa mengendong Billa karena kecemburuan Bella, Ravi yang akan mengangkat tubuhnya ke atas, berlari seakan terbang tinggi.
Ravi mendekati Kasih mencium pipi Kasih yang masih dalam perawatan, Ravi melangkah mendekati dua tabung, melihat dua anaknya yang bergerak.
Billa memberikan izin untuk mengeluarkan satu persatu, Ravi menggendong bayi yang sangat mungil, mungkin bisa Ravi gendong dengan satu tangan.
Sejak operasi di mulai, tidak ada harapan bayi selamat, hanya ingin fokus kepada Ibu bayi, tapi siapa yang menyangka bayi yang diprediksi meninggal dalam kandungan masih bertahan, bahkan tidak terkena racun, hanya tubuh luar mereka yang membiru.
Ravi mengembalikan kedua bayinya ke dalam tabung inkubator, Ravi menundukan kepalanya, mengucapkan terima kasih kepada seluruh Dokter.
Ravi sangat bersyukur Kasih ditangani Dokter hebat, berjuang untuk menyelamatkan bayinya. Kasih juga mengucapkan terima kasih yang tidak ada hentinya.
Billa meminta dua bayi dibersihkan, lalu di bawa ke ruangan khusus, meminta mempersiapkan ASI, memisahkan Kasih untuk masuk ke dalam ruangan perawatan, Ravi sudah diizinkan keluar untuk memberikan kabar kepada seluruh keluarga.
"sayang Aak keluar dulu ya, kamu istirahat." Ravi mencium kening Kasih.
"Iya Aak, jaga anak kita." Kasih mencium tangan Ravi.
Langkah kaki Ravi terhenti di depan pintu, kepalanya mendadak pusing, karena kebanyakan menangis, pikirannya campur aduk sehingga kondisi tubuhnya drop, dari pagi juga belum menyentuh makanan dan minuman.
Ravi membuka pintu melihat kedua orangtuanya, Ravi berjalan ingin memeluk Mommy Vi, tapi tubuhnya sempoyongan hampir jatuh, jika Erik tidak menangkapnya.
__ADS_1
"Ravi ...." Viana langsung teriak melihat Ravi hampir pingsan.
"Mommy, pengen peluk." Ravi menyentuh Viana, Rama mengusap punggung Ravi, Viana memeluk erat.
Tangisan dari setiap orang terdengar, Ravi menghapus air mata Mommynya, menatap Mami dan Bunda juga menangis sesenggukan.
"Mommy, jangan menangis. Ravi terlalu sering membuat Mommy menangis, maafkan Ravi Mom. Maafkan Ravi."
"Kamu kuat sayang, ada Mommy yang akan selalu menemani kamu."
"Mommy, Daddy selamat ya sekarang menjadi Kakek dan Nenek." Ravi memeluk Viana dan Rama, keduanya juga memeluk Ravi yang masih duduk di lantai.
"Daddy tidak salah dengar Rav, sekarang Daddy menjadi Kakek. Twins baik-baik saja?" Rama mengusap air matanya.
"Iya Daddy, keduanya sekarang baik, tapi harus dalam perawatan khusus karena lahirnya prematur." Ravi tersenyum, Viana mencium seluruh wajah Ravi.
Tangisan Jum kuat memeluk Bisma, menyembunyikan wajahnya. Bisma juga tidak bisa menahan air matanya yang perlahan menetes, Ravi berdiri mengusap kepala Bunda yang terus menangis.
"Bunda jangan menangis, Ravi bulan-bulan ini selalu membuat Mommy, Bunda, Mami menangis."
"Mami, sudah menangisinya." Ravi juga mengusap punggung Reva yang memeluk Bima, nanti maskara Mami luntur.
Reva menghapus air matanya, menatap Ravi tajam membenarkan bulu matanya. Jum juga tersenyum melihat Reva, Viana juga tersenyum dalam pelukan Rama.
"Maskara Mami limited edition Ravi, kamu tidak tahu hanya ada tiga di dunia ini." Reva menarik bulu matanya ke atas.
"Kak Jum kak Vi jadi Nenek." Reva langsung memeluk Viana yang langsung memeluk balik, Jum juga ikut berpelukan. Tri istri akhirnya tertawa bersama saling mengucapkan selamat.
Tian mengusap air matanya, tersenyum bersama Erik. Panggilan video dengan Bella, Vira dan Winda yang melihat kesedihan, sekarang berubah menjadi kebahagiaan, teriakan sampai lompat menyambut kehadiran twins.
Air mata kesedihan yang mengalir, berubah menjadi air mata bahagia.
***
__ADS_1