SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BERTEMU


__ADS_3

Suara high heels Winda terdengar memasuki perusahaan kakaknya yang sangat elit, tidak heran Wildan cukup terkenal menjadi pengusaha termuda.


Sudah lama Winda tidak menginjakan kakinya ke perusahaan BB grup, bahkan perusahaan suaminya saja belum.


Lift terbuka, Winda langsung masuk, banyak karyawan yang juga ikut masuk tanpa mengenali siapa Winda.


Pembicara mereka soal mengagumi Wildan terdengar, nama Wildan cukup menjadi topik hangat bagi kalangan karyawan, meskipun mereka tahu Wildan sudah menikah dan memiliki anak.


Rasa kagum sebatas tampan, kaya, juga pemimpin yang hebat, tapi banyak yang tahu diri jika mereka tidak akan mampu menggapai Wildan.


Winda tersenyum langsung keluar dari lift menuju ruangan kakaknya, langka Winda terhenti saat melihat segerombolan wanita sedang tertawa sambil bekerja.


"Pagi Winda." Karan tersenyum melihat ke arah tatapan Winda.


"Ruangan apa ini kak? kenapa banyak kuntilanak?" Winda langsung melangkah masuk ke dalam ruangan Wildan bersama Karan.


"Ketuk pintu dulu Winda." Kepala Wildan menggeleng melihat adiknya yang membuka gorden jendela.


"Kenapa ruangan sebelah banyak wanita?"


"Sebentar lagi kita ada rapat, mungkin mereka sedang diskusi. Ruangan sebelah juga terkadang digunakan untuk meeting sesama karyawan." Karan mejelaskan, melihat ke arah tatapan Winda.


Suara pintu diketuk terdengar, Wildan mempersilahkan masuk. Telinga Winda menangkap suara high heels mendekat.


"Apa kabar kak Feby? lama tidak bertemu." Winda tersenyum tanpa menoleh ke arah wanita yang baru datang.


Karan tersenyum kagum, Winda bisa tahu siapa yang datang. Padahal Karan juga tidak mengenal jika tidak melihat wajah, meskipun bertemu setiap hari.


Feby mengerutkan keningnya, tidak mengenal Winda sama sekali sampai wajah Winda terlihat.


"Winda, astaga aku tidak mengenali kamu. Ayo kita mengobrol di ruangan kak Feby." Senyuman Feby terlihat, memeluk Winda sebentar.


"Boleh menganggu tidak? Winda juga ada pertanyaan kepada kak Feby." Winda berjalan bersama Feby sambil mengobrol dan masuk ke dalam ruangan Feby.


Keduanya mengobrol sangat akrab, karena Feby salah satu orang kepercayaan sejak Bima masih memimpin. Feby salah satu karyawan rekomendasi dari sektretaris pribadi Bima.


Kesetiaan dan kemampuan Feby diakui oleh perusahaan BB, sehingga memiliki hubungan baik dengan Winda.

__ADS_1


"Lama tidak muncul Win?"


"Iya kak, sejak menikah dan memiliki anak cukup memakan banyak waktu. Bagaimana kabar keluarga kak Feby? sudah memiliki momongan belum?" Winda menatap Feby yang tertunduk sedih.


Pernikahan Feby sudah jalan lima tahun, tapi belum dikaruniai anak sama sekali. Suaminya juga jarang pulang dan sibuk bekerja.


Winda menepuk pelan tangan Feby, menyemangatinya untuk tidak pernah menyerah, karena akan tiba saatnya Feby menjadi ibu seutuhnya.


Obrolan keduanya mulai ke topik serius, Winda mengutarakan tujuannya datang, karena ada seseorang yang bermain licik mendekati kakaknya, bahkan hampir membahayakan keponakan yang masih dalam kandungan.


Feby sangat terkejut mendengar cerita Winda, sungguh menakutkan seseorang bermain secara licik, hanya untuk mendapatkan lelaki beristri.


"Dia akan menyesal pernah berurusan dengan keluarga kami, Winda juga tahu jika Lin memiliki seorang kakak atau bisa jadi ibu tiri yang mengendalikan dia. Kematian tidak akan datang dengan mudahnya, jika Lin bisa sekarat dan mati perlahan. Maka orang yang memerintahkannya akan mati secara pelan, dan penuh kesadaran. Aku akan memastikannya itu terjadi." Winda tersenyum sinis, melihat wajah Feby yang tersenyum berkeringat menyemangati penyelidikan Winda.


"Gadis itu sekarat?"


"Iya, dia akan mati perlahan. Mungkin juga dia akan mati otak, seluruh organ tubuhnya akan dilakukan pengecekan dan di keluarkan dari tubuhnya untuk disumbangkan kepada yang membutuhkan, sehingga ada manfaatnya."


Feby tersenyum, mendukung Winda untuk menghukum siapapun yang ingin menyakiti keluarganya.


Winda menganggukkan kepalanya, mempersilahkan Feby untuk pergi dan berkerja.


Winda juga melangkah pergi setelah melihat Feby pergi dengan tergesa-gesa, menatap kakaknya yang sedang melangkah bersama Karan untuk meeting.


Senyuman Winda terlihat, langsung melangkah pergi dari perusahaan. Tidak ada hal yang harus dirinya selidiki.


Panggilan masuk, Vira mempertanyakan keadaan di perusahaan, Winda tidak menemukan apapun. Dirinya akan segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Lin yang sudah melakukan operasi sejak dini hari.


Mobil Winda melaju dengan kecepatan tinggi, mampir sebentar ke sekolah Wira untuk menjemputnya sekalian pergi ke rumah sakit.


"Siang aunty, bagaimana soal penyelidikan di perusahaan?"


Winda tersenyum menyentuh sebuah bingkai foto, Wira langsung melihatnya sambil menggelengkan kepalanya.


"Hanya ini, Aunty tidak bisa bekerja lebih bagus lagi, seharusnya Wira ikut ke kantor." Wira membanting bingkai foto.


Tangan Winda mencubit pipi Wira gemes, langsung mengusap kepala Wira yang menatapnya tajam.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Winda langsung berjalan bersama Wira untuk ke ruangan operasi melihat keadaan Lin yang masih koma.


Dari kejauhan Wira berlari langsung lompat melompat ke arah pelukan Daddy-nya, Winda menghentikan langkah melihat keluarga kakaknya yang menunggu di depan ruangan operasi.


"Kamu beruntung Lin jika masih memiliki kesempatan untuk hidup, karena saat ini kamu dalam pengawasan wanita baik dan pria baik. Mereka pasangan yang tidak pernah berubah dalam hal menyayangi." Winda tersenyum melihat Windy yang sangat cemas.


Steven melihat Winda langsung menurunkan Wira, meminta putranya menemani Mommynya. Stev langsung melangkah mendekati Winda dan melangkah ke tempat duduk yang cukup berjauhan.


"Bagaimana keadaan Lin Kak Stev?"


"Insyaallah baik-baik saja, kita berpikir positif."


"Winda boleh meminta bantuan?"


"Tentu, apa yang sedang kamu rencanakan?"


"Lindungi Lin sampai akhir, jika bisa sampai pelaku yang menyakitinya bersujud untuk meminta maaf." Kepala Winda tertunduk, Stev langsung merangkul Winda tersenyum melihat si kecil yang selalu mendukung sekarang sudah dewasa.


"Om Stev mempercayai Winda, ingat Win isi hati tidak ada yang tahu, tapi ekspresi tidak pernah bohong. Kamu sudah menemukan pelakunya?" Stev merapikan rambut Winda yang panjang terurai.


"Winda tidak mungkin pulang tanpa hasil, Om Stev jaga Sherlin. Namanya Sherlin, neneknya selalu memanggilnya she she, Winda akan ceritakan kisah Sherlin setelah berhasil menyingkirkan benalu." Senyuman Winda terlihat, langsung melangkah mendekati Windy dan memeluknya dari belakang.


Steven tersenyum, melihat sebuah foto Sherlin bersama ibu dan neneknya. Di belakang foto ada nama Nenek Cla, ibu Sin, baby She she.


Steven menatap istrinya yang sedang meneteskan air matanya melihat Erik keluar setelah menyelesaikan operasi yang lebih dari sepuluh jam, dokter yang membantu juga sangat banyak.


"Bagaimana soal pelakunya Winda?"


"Dia ada di dalam genggaman Winda, pastikan saja Lin hidup. Dia akan menjadi urusan Winda."


"Bagaimana keadaan Lin?" Windy menggenggam tangan Erik.


"Maafkan Erik kak, saat ini dia masih koma, meskipun organ vitalnya baik, tapi ...."


"Terima kasih Erik, kak Windy tahu kamu dan seluruh dokter sudah berusaha." Windy menundukkan kepalanya sambil menangis.


***

__ADS_1


__ADS_2