
Genggaman tangan Erik kuat, tidak bisa mengerti perbuatan ibunya.
"Tante jahat, dulu demi menghancurkan rumah tangga Papa Tante membuang kak Erik, saat aku berusia 5 tahun Tante memberikan aku racun, Tante jahat sekali. Sekarang Tante menyakiti Mama."
"Kenapa kamu tidak mati saja?"
"Karena aku memiliki Mama Papa juga kak Erik yang akan melindungi Erwin."
Seorang pria berbadan besar menarik lengan Erwin kuat, tangan Erwin menggenggam Erik meminta tolong. Erik menghapus air matanya, mengambil adiknya melayangkan pukulan kuat.
"Selama ibu tidak menyakiti Mama Erik kuat, akan Erik ikuti keinginan ibu, tapi beraninya kalian melukai wajah Mama." Erik langsung memukul, wajah Erik juga mendapatkan pukulan sampai terlempar.
"Erwin tutup mata kamu, balik badan."
"Iya kak,"
Erik berdiri langsung menyerang, banyak orang yang menghentikan Erik yang memukuli suami ibunya, tamparan kuat dari ibunya juga menghantam wajah Erik. Senyum terbit dari bibir Erik sambil menyentuh wajahnya.
"Maafkan Erik ya Bu, terima Kasih sudah melahirkan Erik. Sekali lagi maafkan Erik."
Erik memanggil beberapa orang, Erik keluar membawa Erwin. Puluhan polisi datang yang di kirim oleh Tama, mobil yang dibawa Tama melaju meninggalkan lokasi.
"Kak maafkan Erwin ya." Erwin memeluk erat Erik yang sedang menahan air matanya, akhirnya Erik sendiri yang memenjarakan ibunya, dengan tuduhan pengedar narkoba, judi, minuman keras, bahkan prostitusi online.
"Maafkan kak Erik yang gagal menjaga Mama."
"Kakak sudah menjadi kakak terbaik."
Mobil melaju menuju kediaman Bisma, Septi menunggu di depan rumah, sudah hampir tujuh tahun Septi tidak bertemu dengan Erwin, hanya Ammar dan Erik yang menemuinya.
"Mama, Erwin pulang." Erwin berlari masuk ke dalam pelukan Septi, Reva sudah terisak berpelukan dengan Viana.
"Anakku, akhirnya kamu pulang, Mama rindu."
Erik keluar dari mobil, wajah babak belur bahkan masih terlihat darah segar. Erik berjalan langsung berlutut dihadapan Septi, mencium kaki Septi yang menyentuh kepala Erik.
"Kamu terluka sayang, lihat Mama nak." Septi mengangkat wajah Erik, menangis dihadapan Septi.
__ADS_1
"Maafkan ibu ya Ma, dulu hampir menghancurkan pernikahan Mama, juga hampir membunuh anak Mama. Ibu melakukan semuanya agar Erik menjadi satu-satunya anak kalian."
"Kamu tidak salah Rik, ibu kamu yang jahat, kamu korbannya. Mama sangat menyayangi kamu."
"Erik kotor Ma, bahkan aku tidak menyukai diriku sendiri. Erik tidak minta dilahirkan di dunia ini, Erik membuat keluarga Papa penuh kesedihan."
Ammar berjalan menggakat Erik agar berdiri, melihat wajah Erik, Ammar langsung memeluk Erik erat.
"Papa Ayah kandung kamu, jika kamu menganggap diri kamu kotor, Papa lebih kotor lagi. Kami tidak pernah menganggap kamu sumber kesedihan, kamu kebahagiaan kami, kamu penyemangat Papa Mama. Jika kamu membenci diri sendiri, berarti kamu sangat membenci Papa."
Erik menggelengkan kepalanya, memeluk erat Ammar. Septi juga memeluk kedua lelakinya.
"Erwin juga pengen di peluk, tapi sepertinya sudah penuh."
"Erwin." Ravi tersenyum.
"Kak Ravi," Erwin berlari masuk ke dalam pelukan Ravi.
Ravi menepuk pundak Erwin, bocah kecil yang dulu terbaring tidak berdaya, terkena virus mematikan, harus terbaring bertahun-tahun. Erik mempercepat pendidikannya, dia ingin menyelamatkan adik kecilnya, saat yang paling memukul, Erik mendapatkan gelar tapi Erwin dinyatakan meninggal.
Ravi selalu mengunjungi Erwin bersama Erik, Ammar sesekali datang. Septi mengetahui soal putranya, tapi tidak siap menemuinya.
"Erwin selamat datang kembali di keluarga kita. Ayo beri salam kepada keluarga kita."
"Izin kak Erik dulu."
Ravi tersenyum melihat Erwin yang sangat menurut kepada Erik, kakak yang selalu dia banggakan.
"Kak Erik, boleh tidak Erwin menyapa keluarga, Erwin kangen mereka semua kak."
Erik mengaguk kepalanya, Ammar mengusap kepala Erik menciumnya. Bisma tersenyum melihat Erik yang sangat misterius.
"Hallo putri Mami, ya ampun kenapa sekarang tidak imut lagi, dia berubah menjadi laki-laki." Reva menatap wajah Erwin yang sudah cemberut.
"Iya dulu rambutnya panjang, kita bisa mengikat rambut, terus di konde, pakai jepitan rambut, pakai bando." Viana manyun melihat Erwin yang berubah tampan.
"Reva Viana cukup, Erwin tidak mengenali kalian berdua." Rama menatap Erwin, memeluknya terharu.
__ADS_1
"Erwin mengigat dua nenek yang selalu memanggil Erik putri, sekarang Erik sudah berubah menjadi putra, nanti akan menjadi Dokter seperti kak Erik."
Viana Reva gemas melihat bocah 12 tahun yang sangat tampan, menciumi Erik karena rindu berat.
"Jadi ini alasan kak Erik mati-matian menyelamatkan Kasih, kak Ravi pernah menyelamatkan bocah ini." Wildan melangkah pergi, ternyata ada yang tidak dia ketahui soal keluarga.
Septi memeluk Erwin, Septi ingin menggunakan dapur Jum untuk memasak makanan untuk putranya. Erik tersenyum melihat kebahagiaan Erwin bisa kembali berkumpul dengan keluarga.
Erik melangkah pergi ke taman belakang, duduk melihat ponselnya, beberapa laporan untuk ibunya yang kemungkinan besar akan di penjara seumur hidupnya.
"Ibu, Erik gagal membawa ibu ke jalan kebaikan."
Bisma berdiri di belakang Erik, menatap layar Erik yang melihat foto ibunya. Erik menghapus satu Owen persatu foto, Bisma menepuk bahu Erik, duduk di sampingnya.
"Erik, dulu uncle pernah memilih menjadi orang jahat, mempunyai Kaka yang baik seperti Bima sangat luar biasa, dia panutan banyak orang, tapi orang yang paling aku benci."
"Sebenarnya aku tidak benci, hanya saja rindu keluarga saat kecil. Aku tidak bisa menerima kenyataan jika aku sudah tidak memiliki keluarga. Kita sama Erik hanya mencari kematian."
"Tapi jika kamu mati, bayangkan saja Mama kamu bisa menggila, adik kamu yang sangat bangga kepada kamu, Ravi Tian yang selama ini merangkul kamu, Bunda Jum, Mami Mommy, jika kamu terluka mereka semua lebih terluka lagi. Kamu mempunyai keluarga besar, kamu harus kuat untuk melindungi mereka, berhenti berkorban, kamu terlalu baik menjadi manusia."
"Erik tidak ingin mati Uncle, Erik masih ingin menikah, punya anak. Erik hanya kecewa tidak bisa menolong ibu, padahal Erik sangat berharap, seiring berjalannya waktu ibu akan berubah."
Bisma merangkul Erik, masuk untuk menemui keluarga yang sudah berisik. Tangisan Vira geng juga terdengar, melihat Erwin kecil sekarang sudah besar.
"Jika diperhatikan Erwin mirip kamu Rik."
"Uncle bisa saja." Erik tersenyum melihat adiknya, keluarga yang lain juga heboh.
"Kak Erik, pacarnya kak Ravi cantik. Pacar kak Erik di mana?"
"Belum lahir," Ravi nyegir melihat Erwin yang sedang berpikir.
"Dia belum lahir, tapi Erwin sering melihat kak Erik menghubungi Billa."
Bisma langsung menatap, Erik langsung menjawab hanya membicarakan soal jurusan Billa, mengajarinya secara teori.
***
__ADS_1