SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 DOKTER ERIK


__ADS_3

Erik memberikan hormat, tim yang bertugas langsung keluar. Erik mendekati Jum yang mulai tersadar, mengusap kedua tangan Jum agar menatapnya.


"Bunda, Tian baik-baik saja dia berhasil melewati koma dan sekarang sudah stabil. Tian akan dipindahkan ke dalam ruangan perawatan, Bunda jangan sedih, Erik merasa gagal kalau Bunda masih menangis."


"Tian baik-baik saja."


"Iya Bunda, kita tunggu Tian sadar, Erik pergi dulu karena masih ada pekerjaan."


Jum langsung memeluk Erik, dengan tersenyum Erik membalas pelukan Jum. Erik sangat tidak menyukai seorang ibu menangis, dadanya sesak karena bagi Erik cukup dirinya yang mempunyai masalalu yang kelam tapi orang disekitarnya harus tersenyum.


Erik berdiri, menepuk bahu Ravi dan Wildan langsung seorang suster meminta izin untuk memindahkan pasien, Erik hanya menggagukan kepalanya.


"Permisi Dok, Dokter Erik sudah ditunggu di ruangan operasi."


Erik langsung melangkah pergi, meninggalkan kedua orangtuanya yang menyimpan banyak pertanyaan. Ravi melihat Uncle Ammar menatap Erik tajam Septi juga binggung.


"Maaf ya Uncle, Erik menutupi identitasnya karena takut Uncle menolak keputusannya." Ravi menatap Ammar yang meminta penjelasan Ravi.


Saat lulus SMA, Erik dan Ravi ingin melanjutkan kuliah di luar negeri mengambil jurusan bisnis tapi baru satu bulan Erik mendapatkan kabar adiknya mengalami gagal ginjal dan meninggal, Erik langsung kembali dan melihat Mama Septi terpukul karena kehilangan putri kecilnya yang baru berusia 5 tahun, Ammar menuntut Dokter yang melakukan kesalahan saat operasi putrinya, Ammar sangat membenci seorang Dokter sejak kejadian itu.


Saat kembali Erik keluar dari kampus dan mengambil jurusan kedokteran, jika Ammar membenci Dokter, Erik ingin menjadi Dokter agar tidak ada korban seperti adik kecilnya, malaikat mungilnya yang sudah tiada. Tanpa bantuan siapapun Erik berjuang, mengunakan beasiswa untuk pendidikannya, menyembunyikan identitasnya, otaknya yang cerdas membuat Erik sangat mudah memahami sampai perjalanan panjangnya berujung, Erik menjadi Dokter sesungguhnya.


Saat Ambri adik Septi mengalami kecelakaan, Erik Dokter yang menyelamatkan. Dia tidak akan membiarkan Mama yang dia sayangi menangis lagi, jika menjadi Dokter kesalahan bagi Papanya tapi kebanggaan bagi Erik.


"Tolong mengerti keadaan Erik Uncle, bagi Erik Aunty Septi nyawa dan nafasnya, Papa Ammar hidup dan matinya."


"Aunty tidak marah, tapi sangat bangga dengan putra pertamaku."


"Ravi, Uncle tidak tahu banyak hal tentang Erik dia juga tidak pernah memanggil papa hanya kakak ipar. Pernah tidak Erik terpukul saat menjalankan tugasnya."


"Pernah, di sini dia paling hancur dan terpukul. Saat tidak bisa menyelamatkan ibu kandungnya, ibunya meninggal karena terkena penyakit kangker servis, dan juga terkena virus HIV."


"Astaghfirullah Al azim,"


"Apa itu bertepatan dengan hari Erik menabrak mobil Mami yang terparkir."


"Iya Mi, Erik datang menemui Mami hanya untuk menangis."

__ADS_1


"Putraku selalu sok kuat, tapi cengeng."


"Bukannya itu Ravi." Viana menepuk pundak Ravi menyindir.


"Ravi tidak cengeng, Wildan yang cengeng." Ravi mengacak rambut Wildan yang melangkah pergi.


Melihat semuanya sudah mulai tertawa, Ravi baru bernafas lega hanya menunggu Tian sadar. Para putri juga sudah di sidang oleh Wildan, Kasih juga di sana coba bicara pelan dengan keempat wanita yang tidak berhenti menangis.


***


Pagi-pagi seluruh orang berkumpul menjenguk Tian yang sudah sadar, semuanya sudah mendengar penjelasan soal Tian yang tertembak karena membantu Tama dalam misi. Tama akan selalu menjadi perisai untuk mengelak dan menutup masalah, para putri juga tutup mulut dan diminta untuk melupakan.


"Dasar anak nakal, kalau orang membawa senjata yang harus kamu lakukan hanya satu."


"Apa Mommy?"


"Kabur!" Viana dan Reva tertawa, Tian juga tersenyum melihat tiga wanita yang selalu mendukungnya di belakang.


"Bunda maafkan Tian yang membuat Bunda khawatir."


"Tidak apa sayang, jika sakitnya datang pindahkan saja ke Bunda nak." Tian mencium tangan Jum, jangankan rasa sakit, semut juga tidak akan Tian biarkan menyentuh kulit Bundanya."


"Sakit,"


"Kamu Dokter, bisa mengobati sendiri."


"Dokter juga manusia Mami sayang, Erik juga bisa merasakan sakit."


"OHH, sini peluk Mami"


"Erik sudah besar Mami, nanti Papi cemburu. Cukup Mama saya,"


"Gaya kamu, kalau sedih lari ke Mami."


"Iya Erik juga sayang Mami tapi takut sama Wildan. Dia menyeramkan Mami."


Erik meminta maaf kepada Septi, tidak berani menatap Ammar. Suara pelan Ammar terdengar meminta Erik duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Lupakan adik kecil kamu, kamu sudah menjadi kakak terbaik."


"Iya kakak ipar, Erik sudah belajar ikhlas."


"Kamu bisa tidak memanggil Papa, jika ada masalah ngomong kepada Papa, berhenti bertahan sendiri."


"Memangnya Papa mengakui aku sebagai anak?"


"Astaghfirullah Erik," Ammar langsung melangkah pergi, dia merasakan kecewa dengan ucapan Erik, tapi dengan sikap Erik yang sangat berbeda dengan Ammar langsung berlari mengejar dan memeluk.


"Maaf ya Papa Erik hanya bercanda, Erik juga minta maaf sudah tidak jujur dengan pekerjaan Erik."


Ammar memeluk putranya, kehadiran Erik kebahagiaan terbesar dalam hidupnya dan Septi, terlepas dari kehilangan buah hatinya, Erik menjadi alasan Septi dan Ammar untuk kuat.


"Pulang ke rumah hari ini, Ambri juga pulang dari rumah nenek kamu. Lain kali berkunjung juga untuk menyapa, kakek bertanya tentang kamu.


"Malas, kakek mengajak main catur kalau kalah dia marah." Erik sangat kesal setiap bertemu kakeknya, setiap bertemu ingin main catur tapi tidak mau kalah, terpaksa Erik selalu mengalah, jika sampai tiga kali kalah, sudah dijamin ngambek selama tiga hari.


Empat wanita masuk menatap Tian yang terbaring, saling dorong-dorongan untuk mendekat. Wildan menatap tajam, agar keempatnya untuk bersikap biasa saja.


"Matanya kak Wildan enaknya di copot saja, mirip mata kodok." Winda mendengus kesal.


"Enak saja, matanya sangat indah sehingga Vira langsung kejang-kejang jika dipandang dengan penuh cinta."


"Vira kamu tidak takut kalau kak Wildan melemparkan kamu dari lantai 10 apartemennya."


"Mana mungkin, dia hanya akan melemparkannya Vira di atas ranjang." Vira nyegir sambil membayangkan.


Winda juga ikut membayangkan, Billa juga ikut berpikir, sedangkan Bella fokus melihat mata Tian, bibirnya juga tersenyum memintanya mendekat.


Keempatnya duduk menatap Tian, melihat tubuhnya yang di balut, Erik juga mendekat melihatnya keadaan luka Tian.


"Bro, tatap mata Bella cantik ya?" Erik langsung tertawa melangkah menjauh, duduk di samping Septi dan memeluknya.


Ravi juga asik bersandar di pundak Kasih sambil memejamkan matanya. Wildan masih sibuk dengan tabletnya, karena tengah malam Wildan dan Ravi akan segera melihat orang yang terlibat. Ravi juga tidak sabar menunggu tengah malam, akhirnya untuk pertama kalinya dia harus menyerang, memberikan hukuman agar tidak mengusik kebahagiaan keluarganya.


Wildan mengerutkan keningnya, pesan terakhir Ravi meminta Wildan jangan membuang waktu, karena Ravi ingin segera menikah dan memiliki anak, membuat Wildan menutup tabletnya dengan kuat.

__ADS_1


"Kalau hadir cinta, pasti muncul juga masalah." Gumam pelan Wildan kesal.


***


__ADS_2