
Beberapa mobil memasuki area hotel, mobil langsung masuk gerbang dan tersusun rapi di dalam hotel.
Anak-anak mulai berlarian masuk lift untuk menuju mansion atas, Wira juga berjalan masih dengan tatapan marah.
Vira keluar menggendong putrinya, Reva juga menggendong satu bayi. Mereka kembali membawa twins tanpa sambutan.
"Maaf ya Lin." Stev menggendong Lin menuju lift membawanya ke lantai atas.
"Kak Stev kita tunggu di sini." Ravi tersenyum membiarkan Steven masuk bersama para wanita.
Wildan juga pamit ke dalam membawa putranya yang baru selesai diinfus, membutuhkan istirahat.
Ravi duduk di parkiran bersama Tian, menunggu yang lainnya tiba untuk membicarakan masalah yang mendekati keluarga mereka.
"Pasti ada sesuatu yang terlewatkan, jika dia hanya wanita biasa yang gila kekuasaan, tidak mungkin bisa melarikan diri dengan mudah." Tatapan Ravi tajam melihat mobil Erik tiba, bersama Billa, Vi dan Jum.
"Kenapa di luar masuk semuanya?" Viana menatap tajam para pria yang sedang berpikir.
Lift berjalan, Vi bisa melihat ekspresi Ravi yang sedang berpikir keras.
"Ravi, kamu merasa ada yang aneh?"
"Iya mom, dia bukan wanita simpel yang kita ketahui. Ravi merasa ada sesuatu yang lebih besar."
Viana tersenyum, dugaan Ravi benar. Bisma sengaja membiarkan Winda yang mencari tahu tanpa Bella, karena Bella memiliki kepekaan kuat.
Kasih sudah curiga sejak awal jika ada yang salah, tapi hanya mengatakan kepada Vi jika mereka harus berhati-hati, bukan hanya soal Lin ada hal yang lain yang perlahan terbongkar.
"Aku yakin pasti ada hal besar?"
"Winda juga pasti tahu, kak Steven juga. Mereka diam karena tidak ingin ada yang khawatir, melihat keadaan keluarga yang sedang cemas kepada Vira." Tian menatap Ravi yang menganggukkan kepalanya.
"Pantas saja, setiap anak disiapkan pengawal." Jum menatap Vi yang merangkulnya.
Mereka sudah berencana untuk menyambut kepulangan twins, tapi ternyata ada hal yang berada di luar harapan.
Windy menggenggam tangan Lin, mengusap kepalanya yang tidak berhenti menangis. Sekuat apapun Lin menutupi tidak bisa menyembunyikannya kesedihannya.
"Kenapa kamu menangis? apa ada rasa sakit? bicara sama Mommy, jangan memendamnya sendiri." Air mata Windy juga menetes, melihat Vira, Winda, Bella, Billa, Kasih duduk mendekat.
__ADS_1
"Siapa aku?" tubuh Lin menangis gemetaran, dadanya terasa sesak merasakan kepedihan apa yang baru saja dia dengar.
Semuanya duduk diam membiarkan Lin menangis meluapkan kesedihannya, mungkin sudah waktunya dia mengetahui siapa dirinya.
Tangan Lin menunjuk foto ibu dan neneknya yang menggendong seorang bayi, air mata menetes di bingkai foto.
"Siapa mereka?" Lin memeluk bingkai foto satu-satunya yang dia dan ibunya miliki.
Suara tangisan semakin kuat, Vira juga langsung menangis melihat Lin menangis sambil berteriak.
Viana langsung masuk, melihat Lin yang memeluk foto ibunya. Memanggil nama ibu yang selama ini berjuang untuk hidupnya.
"Ibu ... ibu ... kenapa tidak ada sedikit saja hari bahagia? ibu." Air mata tidak terbendung lagi, Lin meluapkan perasaan yang sudah dia tahan sejak bertemu wanita yang ingin membunuhnya.
Reva juga melihat kondisi Lin, menepuk pundak Viana yang terlihat sedih. Pasti Cla tidak tenang meninggalkan putri bungsunya dengan penderitaan yang sangat besar.
"Kak Andri, Pa, apa dulu papa juga tidak bisa pergi dengan tenang setelah meninggal Vi sendirian? hidup Vi hancur Pa, Viana menderita dalam tawa." Air mata Viana menetes bisa merasakan sakitnya hati Lin.
Reva memejamkan matanya, menahan air matanya saat mengingat sosok Clara yang murah senyum, tegas, ucapannya tidak segan menyinggung, tapi hasil karyanya nyata
Senyuman tidak pernah lenyap dari awal setelah menikah, dia menjadi wanita paling bahagia.
Erlin melihat ke arah Viana dan Reva yang menangis, menatapnya penuh rasa sedih. Lin melihat wajah di kaca lalu melihat foto yang ada di bingkai.
"Kenapa wajah aku mirip nenek? aku siapa?" Lin menutup matanya menenangkan dirinya untuk berhenti menangis.
"Lihatlah ini Lin." Reva duduk memberikan bingkai foto.
"Ini aku?" Lin menatap foto masa muda Reva bersama neneknya.
"Bukan, itu Clara. Dia kakak, penjaga, asisten terbaik, dia orang yang sangat berperan dalam masa perjuangan Mami." Reva menunjukkan foto dirinya bersama Cla dan Sisi, dua orang yang ada di belakang panggung setiap langkah Reva.
"Kenapa wajah nenek mirip Lin?"
Viana menggenggam tangan Lin, anak remaja yang baru menginjak usia tujuh belas tahun. masa yang seharusnya penuh canda dan tawa, juga kebahagiaan menyambut masa depan.
"Apa dia ibu kandung Lin? berarti ucapan wanita di rumah sakit benar. Aku anak pembawa sial yang membunuh ibuku." Air mata menetes membasahi foto, sungguh lucu hidupnya yang tidak ada kata bahagia.
Sejak kecil hidup bersama ibunya, membantu ibunya untuk bertahan hidup, tidak ada keluarga juga sosok ayah.
__ADS_1
"Sekarang Lin mengerti kenapa bapak pergi meninggalkan Lin? alasannya tidak bisa menerima Lin karena aku bukan anaknya. Pantas aku dipukul, diusir, disiksa, bahkan dimanfaatkan menjadi pembunuh. Aku hanya anak pembawa malapetaka bagi siapapun." Lin mengigit kuat bibirnya sampai berdarah, jika Windy tidak menghentikan.
Suasana hening menunggu Lin lebih tenang untuk bercerita, dia harus mengetahui cerita ibu ayahnya, juga kakaknya.
"Lin harus pergi, aku harus bertemu Tante Dewi untuk bertanya keberadaan ibu, setidaknya tahu makam ibu." Lin langsung turun dari ranjang.
"Kamu akan mati ditangan dia jika datang mencarinya." Kasih menatap tajam, melihat punggung Lin yang berdiri saja tidak seimbang.
"Bapak, Lin harus mencari bapak."
"Dia ada di penjara, tidak ada orang yang boleh menemuinya dalam tiga bulan ini." Tatapan Winda sedih, meminta Lin tetap beristirahat.
Lin menghapus air matanya, menatap seluruh keluarga yang masih diam menunggu Lin berpikir jernih.
"Kak Feby, Lin harus bertemu kak Feby dia mungkin mengetahui sesuatu."
"Kamu sadar tidak jika mereka semua membenci kamu? kematian kamu sesuatu keuntungan baginya, tidak ada yang bisa melindungi kamu Lin, selain keluarga ini." Vira berjalan memeluk Lin yang langsung menangis lagi, memeluk Vira erat meratapi nasibnya.
Windy mendekat, menghapus air mata Lin untuk berhenti menangis. Air matanya terlalu berharga untuk kering.
"Mommy tahu rasanya kecewa, tapi Lin harus yakin tidak ada anak sial di dunia ini. Semua anak itu rezeki juga anugerah, hanya saja kita tidak bisa memilih lahir dari mana. Ibu Lin wanita yang sangat baik, wanita kuat, mandiri, juga pekerja keras. Mommy juga tidak pernah melihat ibu kandung mommy, wanita yang melahirkan mommy, tapi ada wanita hebat yang Allah kirim untuk menjaga mommy menjadi wanita kuat. Lin juga harus kuat menerima baik buruknya masa lalu Lin, karena wanita yang membesarkan Lin wanita hebat." Windy mengusap punggung Lin yang menganggukkan kepalanya.
***
Author mempunyai novel baru yang berjudul KAWAN ATAU LAWAN alur cerita diberikan oleh editor langsung, jadi author tidak tahu alur cerita ini.
Editor memberikan kerangka cerita sedangkan author menjadikan cerita.
Sebenarnya aku tidak tertarik dengan anak sekolah, tapi mencoba suasana baru yang berisikan kisah anak remaja.
Kalian boleh mampir ke sini ya untuk melihat kisah anak remaja yang masih di bangku sekolah.
Pemeran perempuan wanita kuat, alih bela diri dan dikelilingi oleh tiga lelaki populer.
JANGAN TANYA ALUR YA, AUTHOR GK TAHU KARENA INI CERITA DARI EDITOR. AKU HANYA MENJADIKAN NOVEL DENGAN VERSI AKU.
SEMOGA KALIAN JUGA MENGIKUTI ceritanya
__ADS_1