
Pintu terbuka, Vira langsung berdiri melangkah ingin memeluk, Wildan menahan karena dia harus mandi dulu, tapi Vira tetap memaksa.
Akhirnya Wildan mengizinkan, Vira langsung mual karena bau. Wildan tertawa langsung berlari ke kamar mandi terlebih dahulu.
"Dari mana? kenapa bau keringat?" Vira langsung melangkah ke kamarnya melihat Wildan yang sedang mandi.
Tatapan tajam, Wildan keluar kamar mandi langsung memeluk istrinya.
"Dari mana?"
"Pulang kerja, kak Ravi menantang main bola akhirnya dia yang kalah, taruhan sama kak Erik ratusan juta." Senyuman Wildan terlihat mencium kening Vira.
Senyuman Vira terlihat, dia tidak ingin banyak bicara, apalagi menyudutkan Wildan karena hanya akan membuat konflik antara mereka.
Mata Wildan tertuju kepada Vira, langsung memakai bajunya. Tatapan mata istrinya terlihat berbeda, rasanya ada yang sedang menganggu pikirannya.
"Jika ada masalah bicarakan? jangan diam juga memendam. Aku tidak tahu salah di mana jika kamu tidak bicara." Tangan Wildan menarik Vira duduk dipangkuannya.
Vira tersenyum langsung mengutarakan apa yang sedang menganggu pikirannya, Vira tahu jika Fly beberapa kali menemui Wildan di kantor, bahkan selalu menunggu kepulangan suaminya.
Selama ini Vira diam, karena Wildan belum memberikan respon. Vira tidak ingin jika suatu hari kehadiran Fly akan menjadi bumerang dalam pernikahan.
"Vira percaya Ayang, tapi tetap ada rasa khawatir." Tatapan Vira sendu, dia sangat takut apa yang di khawatirkan Winda ada benarnya.
"Aku bahkan tidak tahu, terakhir kami bertemu saat Fly melarikan diri dari rumah sakit. Randu menikah saja aku tidak datang, hanya mengirim kak Karan." Nada bicara Wildan sangat pelan, terlihat sekali lembutnya agar Vira tidak salah paham.
Air mata Vira langsung menetes, perasaan Wildan langsung khawatir. Memeluk lembut istrinya, meminta maaf jika dirinya ada salah.
"Maafkan aku Vira, jangan menangis sayang. Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak khawatir?" Kecupan di kening mendarat, tangan Wil menghapus air mata istrinya.
"Tidak tahu." wajah Vira menunjukkan ketidaksukaannya, ada rencana buruk yang Vira inginkan.
Wildan langsung khawatir, menghubungi Karan untuk memeriksa rekaman yang Vira katakan. Agar Vira lebih percaya Karan langsung ke rumah untuk melihat.
"Vir, jangan marah. Aku tidak akan pernah macam-macam, kamu harus percaya." Wildan merapikan rambut Vira yang mirip singa, karena pemalas.
"Vira percaya Ayang, tapi tidak percaya perempuan itu. Jika Vira sudah gelap mata, lepas kendali dia bisa mati." Vira langsung melihat tubuhnya di kaca, menguncir rambut tinggi.
__ADS_1
Bunyi bel terdengar, Wildan menggenggam tangan Vira untuk turun ke bawah mendengarkan penemuan Karan.
"Apa kalian berdua sedang bertengkar? tidak bisa satu hari saja tidak menggangu." Karan menunjukkan rekaman Fly yang beberapa kali datang ke perusahaan, tapi kejadian sebelum menikah dengan Randu.
Karan juga mendapatkan informasi soal metal Fly yang sudah normal, dia tidak mengalami depresi lagi.
"Fly tidak gila, tapi ...."
Karan melihat kembali beberapa laporan yang dia dapatkan, Vira juga memperhatikan banyaknya laporan soal Fly.
"Wow, ini pesan dari Randu jika Fly sedang mengandung."
"Cepat sekali, Vira sudah berapa bulan menikah belum?"
"Jangan sedih Vir, kak Karan juga belum masih proses insyaallah secepatnya." Karan tersenyum.
"Iya Vir, jangan negatif thinking." Wildan tersenyum, memeluk istrinya yang menyentuh perutnya.
"Aku juga mendapatkan kabar jika Randu akan tinggal di luar negeri bersama keluarga kecilnya?"
"Assalamualaikum." Randu melangkah masuk bersama Fly, senyuman keduanya terlihat.
Mata Vira merah menahan marah, karena melihat Randu yang membawa pelakor. Vira menahan diri karena Fly sedang hamil.
"Mau apa kalian?" Vira bernada tinggi.
Wildan mempersilakan Randu duduk, menahan istrinya agar sopan dengan tamu.
"Wildan, Vira maafkan Flo."
"Terserah, mau Fly ataupun Flo tidak perduli, Vira tidak suka melihat kamu ada di sini." Vira melotot menatap sinis.
Randu tersenyum melihat Vira, Wildan meminta maaf atas sikap Vira. Randu bicara baik-baik mengucapkan terima kasih, juga pamitan untuk pergi dan menetap di Roma.
Harapan Randu mereka akan bertemu kembali, berhubungan lebih baik dari yang sekarang. Dengan penuh rasa hormat juga rasa bersalah Randu meminta maaf, baik dirinya maupun istrinya.
Kepergian Randu bukan untuk menghindar, tapi dia ingin kembali ke tanah kelahirannya. Memulai kembali rumah tangga sesuai harapan kakaknya.
__ADS_1
"Wildan, aku titip makam kak Dewa dalamnya tidak tahu kapan kami akan kembali atau mungkin tidak kembali lagi." Randu tersenyum, menundukkan kepalanya jika mengingat kakaknya.
"Kamu tenang saja Randu, akan aku sempatkan sedikit waktu untuk menyapanya. Aku doakan kalian bahagia, menjadi keluarga yang utuh." Tangan Wildan berjabatan dengan Randu.
"Wil, maafkan aku." Fly menundukkan kepalanya.
"Emhhh ... tolong jaga Randu, dia pria baik dan penyayang, kamu seharusnya bersyukur karena mendapatkan kesempatan kedua." Tatapan Wildan tajam, ucapan tulus dari hati.
"Semoga kamu dan Vira cepat diberikan momongan, bahagia selalu Wil. Terima kasih kamu berkali-kali memberikan aku kesempatan, kali ini tidak akan aku sia-siakan." Tangan Fly memeluk lengan Randu.
"Amin, terima kasih Fly. Kalian berdua juga harus bahagia, semoga kita bertemu lagi Randu, dengan hubungan persaudaraan yang lebih baik lagi." Senyuman Wildan, Randu, Fly dan Karan terlihat.
Randu langsung pamit untuk pergi, mengucapkan salam perpisahan. Meminta sampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga besar.
Karan tertawa melihat Vira, langsung pamit pulang, karena Karin sendirian.
Wildan melihat ke arah Vira, suara dengkuran terdengar. Vira sudah lama tidur, Wildan tidak tahu apa yang dilakukan oleh Vira dan Winda sehingga Vira terlihat lelah.
"Cantik sekali istriku." Wildan langsung membawa Vira menuju kamar mereka agar istrinya segara istirahat.
Vira yang marah karena kehadiran Fly, tapi saat orangnya datang meminta maaf secepat kilat Vira tidur.
"Good night istriku, kamu tidur mimpi yang indah. Aku kerja dulu sebentar." Wildan turun perlahan.
"Ayang, peluk." Vira mengangkat kedua tangannya, Wildan kembali lagi ke atas ranjang, langsung memeluk Vira.
Mata Vira terpejam, tapi tangannya tidak bisa diam mengelus wajah Wildan, memainkan hidung, menyentuh bibir, alis mata bahkan telinga Wildan juga menjadi mainan.
Senyuman Wildan terlihat, gemes sekali melihat tingkah istrinya yang sangat lucu. Tidak mengerti apa yang dia lakukan, bergerak mencari tempat yang nyaman.
"Ayang, ayo kita main."
"Main apa Vir, kamu tidur apa tidak?" Wildan tertawa kecil, suara ngorok Vira terdengar, tapi tangannya tidak bisa diam.
Selesai lelah, langsung memeluk erat. Wildan membatalkan niatnya untuk lanjut bekerja. Memejamkan matanya ikut tidur di samping istrinya, memeluknya penuh cinta.
***
__ADS_1