SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 TAMU


__ADS_3

Senyuman Wira terlihat menatap wanita yang akan menjadi baby sister sementara di kediaman keluarganya.


Erlin menunda tinggal bersama Vira, karena masih ujian. Dia tinggal bersama guru pembimbingnya untuk belajar ketertinggalan agar bisa memberikan yang terbaik.


Vira tidak mempermasalahkan, selesai ujian Erlin langsung tinggal bersama mereka untuk bertemu dengan keluarga.


Langkah kaki Wira berlari, langsung menabrak Erlin yang juga terjatuh.


"Maafkan kakak, kamu baik-baik saja." Lin membantu Wira berdiri, langsung membersihkan kaki Wira, meniup luka kecil.


Wira langsung pergi, tanpa mengatakan apapun kepada Erlin. Wajah Lin terlihat sangat merasa bersalah saat melihat punggung Wira.


"Maafkan kakak adik kecil, sungguh tidak sengaja. Apa dia baik-baik saja? Lin kenapa tidak hati-hati?"


Mobil berhenti, Wira langsung masuk menatap bodyguard meminta langsung pulang. Sepajang perjalanan Wira hanya diam sambil mengemil makanannya.


Panggilan dari Windy terdengar, Wira langsung cepat mengubah ekspresi wajahnya. Menatap tajam Mommy Daddy-nya yang meminta maaf karena mereka akan lebih lama, berharap Wira tidak nakal dan membuat Winda kesulitan.


[Mommy, Wira melihat seorang wanita.]


[Berhentilah mencari pacar, kamu masih kecil.]


[Mommy, Wira hanya ingin mengatakan melihat seorang wanita yang matanya terlihat sangat tenang, sikapnya sangat lembut, tapi dia sangat lemah.]


[Wira, kamu tidak tahu arti kata tenang. Ombak di pinggir pantai akan terus naik dan turun begitupun sikap tenang wanita, dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga mengikuti alur. Jangan meremehkan itu.]


[Apa dia jahat Mom?]


[Tergantung lingkungan memperlakukannya.]


Wira tersenyum, mematikan panggilannya langsung keluar mobil berlari masuk ke dalam rumah.


Vira sedang pergi bersama Wildan untuk mengecek kandungan, setiap melakukan pengecekan ada rasa khawatir sehingga semuanya berkumpul berharap Vira baik-baik saja, begitupun dengan kandungannya.


"Aunty, Wira sudah bertemu dengan Erlin."


"Bagaimana karakter dia Wira?" Bella menatap keponakan bulenya.


"Tenang, lembut juga lemah."


Winda langsung berlari memeluk Wira, melihat dengkul Wira terluka. Bella langsung berdiri mencari obat saat melihat Wira terluka.


"Ada apa Winda?" Kasih meletakan minuman di atas meja.

__ADS_1


"Wira terluka kak, bagaimana ini?" Winda menutup kaki Wira.


"Astaga, luka kecil saja heboh sekali." Wira berteriak jika dirinya baik-baik saja.


"Assalamualaikum. Ada apa Winda?" tatapan Wildan tajam, melihat Wira terluka.


Wildan langsung menggendong Wira, membuang tas keponakannya ke sembarang tempat langsung memangku Wira, melihat luka di kakinya.


Bella langsung mengobatinya, mengecek tubuh lainnya yang takutnya ada luka.


"Kenapa kamu bisa terluka?"


"Namanya juga manusia Uncle, Wira hanya jatuh. Kalian heboh sekali, Asih jatuh dari tangga hanya dilihatin saja, Bulan jatuh dari kereta dorong juga tidak dicemaskan. Wira sudah besar, jangan terlalu berlebihan." Wira langsung duduk di samping Wildan mengatakan jika hanya luka kecil.


Vira tersenyum, langsung memeluk Wira mengatakan jika Wira anak yang spesial menanti kehadiran Wira seperti menunggu keajaiban, karena Wira doa seluruh keluarga.


"Kamu itu berlian yang sangat dijaga Wira, meskipun Mommy kamu keras, tapi dia mempertaruhkan nyawa untuk kamu." Vira meniup kaki Wira.


"Setiap ibu juga mempertaruhkan nyawa."


"Kamu berbeda Wir, bahkan kamu menjadi pilihan harus dipertahankan menyakiti kak Windy, dilepaskan menyakiti seluruh hati. Sehingga kak Win memilih mempertahankan kamu, meskipun perjuangan sangat menyakitkan."


Wira tersenyum, menyentuh perut Vira meminta baby juga kuat seperti dirinya untuk bertahan.


"Kamu tahu mereka kembar?" Vira tersenyum langsung memeluk Wira.


Winda, Bella, Kasih terlihat terkejut mendapatkan kabar Vira hamil kembar. Satu bayi juga beresiko, apalagi dua bayi pasti sangat beresiko.


Vira menunjukkan foto USG bayi, Wira menatap gambar hitam. Wildan hanya tersenyum saja menatap wajah Winda yang terlihat cemas.


"Dokter mengatakan sejauh ini aman, Vira hamil kembar sehingga resiko semakin besar, tapi dokter masih mengatakan semuanya baik-baik saja." Melihat senyuman Vira, Wildan juga jauh lebih tenang.


"Kak, yakin ini tidak seharusnya dihentikan. Maaf bukan maksudnya Winda tidak ikut senang, hanya saja khawatir."


"Winda, jangan terlalu dipikirkan. Percaya sama Vira, jika semuanya baik-baik saja. Vira membutuhkan dukungan, juga semangat dari kalian semua." Senyuman manis Vira terlihat, meminta Winda memeluknya.


"Semangat Vira." Bella langsung memeluk, meminta Winda juga memeluk mereka untuk saling menjaga.


"Apa dia perempuan Uncle?"


"Belum tahu Wir, kita bisa melihatnya di usia kandungan lima bulan."


"Saat tidur Wira bermimpi melihat dua bayi perempuan juga wanita muda sedang memangku mereka. Wira hanya mendengar suara memanggil kakak, tapi tidak tahu siapa yang dipanggil."

__ADS_1


"Kamu bahagia dalam mimpi itu?"


"Iya, Wira sangat bahagia."


"Semoga pertanda baik ya Wira, dalam beberapa bulan ini kita akan ada di posisi khawatir juga bahagia. Uncle hanya meminta doa untuk kelancaran kehamilan Aunty Vira." Wildan ingin memeluk Wira, tapi dia sudah berlari mengejar Arum yang ingin naik tangga.


Semuanya tersenyum melihat anak-anak, Vira dan Wildan juga bahagia melihat putra mereka. Sesekali Wildan mengusap perut istrinya.


***


Pagi-pagi keluarga kumpul di kediaman Prasetya, karena hari libur, sambil menikmati bubur buatan Erik yang terlihat sangat lezat.


"Tunggu Vira, aku ingin mencicipinya terlebih dahulu." Wildan langsung mencobanya.


"Bagaimana Uncle, tidak mirip muntah cacing?" Asih duduk memegang sendok.


"Makanya Asih buang saja cacing kamu, dia sering muntah." Kasih menatap Rasih yang bibirnya sudah monyong.


"Cacing hanya sakit perut Mommy, dia salah makan. Mommy tidak boleh marah-marah, namanya juga lagi sakit." Rasih memohon kepada Mommy untuk tidak memarahi kucing kesayangannya.


Vira hanya tertawa, menikmati bubur yang sangat lezat baginya. Wildan memberikan izin meskipun rasanya biasa saja.


"Bagaimana rasanya Vira?"


"Enak kak Erik, Vira suka sekali."


Erik tersenyum, bangga dengan dirinya sendiri, mengejek Ravi yang masaknya tidak enak. Vira berkali-kali memuji masakan Ravi dan Erik sangat enak.


Anak-anak langsung makan bersama Vira, Wildan sedang berjalan mengikuti tiga bayi yang sedang mengejar langkah kaki Bulan, sedangkan Bintang hanya duduk diam.


"Assalamu'alaikum, benar ini rumahnya kak Vira." Senyuman terlihat, menatap Wildan yang terlihat sangat tampan menggunakan baju santai.


"Erlin, ayo masuk sini." Vira berteriak, langsung melangkah pelan mendekati Lin yang masih menatap Wildan.


Wildan langsung membalik tubuhnya berjalan ke arah Vira, memeluk istrinya yang tersenyum menyambut tamu yang dia tunggu-tunggu.


"Lin, sini kak Vira kenalkan kepada keluarga besar kami." Dia Wildan Bramasta, suami kak Vira."


Erlin langsung berjalan masuk mendekati Vira dan Wildan, langsung mengulurkan tangannya menatap wajah Wildan yang sangat tampan. Kepala Wildan menunduk, menyapa lebih sopan tanpa menerima sambutan tangan Erlin.


Perlahan Lin menurunkan tangannya, tersenyum melihat Vira dan menatap punggung Wildan yang melangkah pergi.


***

__ADS_1


__ADS_2