
Tian langsung membuka melihat isinya, mengambil laptop, menyambungkan ke monitor untuk dilihat bersama.
Tangan Billa panas dingin, mungkin sudah saatnya keluarga semuanya tahu. Wildan yang selama ini menjaga Billa lepas tangan, karena Billa harus jujur dengan calon suaminya.
Layar langsung hidup, daftar anak jenius bersama dengan Wildan, salah satu daftar nama Billa Ayu Bramasta, gadis jenius sebagai seorang ilmuwan termuda, Billa terkenal dengan nama Ayu, menciptakan banyak jenis obat-obatan khusus penyakit berat.
Ayu gadis cupu menggunakan kacamata, memiliki banyak sertifikasi relawan di berbagai tempat, dalam dan luar negeri, obat-obatan yang Ayu ciptakan digunakan banyak rumah sakit besar.
Wildan mengirimkan seluruh foto Ayu yang sebenarnya Billa, selama lima tahun, Wildan membantu Ayu agar bisa menyembunyikan identitasnya. Billa tidak ingin terlihat hebat, terutama di depan Bella, bahkan Billa kembali ke sekolah hanya untuk bisa bersama Bella, Vira dan Winda, mengikuti ketiganya melakukan hal gila.
Seluruh guru Billa mengetahui identitasnya, Wildan mengatur semuanya dari kejauhan, menjaga Billa juga status Billa yang sebenarnya calon Dokter spesial.
"Apa ini Bil, jadi kecurigaan kita dari dulu benar. Kamu tidak pernah belajar, karena kamu sudah jauh di atas kita." Bella menatap Billa.
"Maaf kak, Billa hanya ingin bersama kalian, tidak ingin menjadi anak jenius, Billa hanya ingin menjadi Billa, gadis biasa yang selalu mengikuti kalian." Air mata Billa menetes.
"Saat kamu diminta guru untuk membantu di luar kota, sebenarnya kamu di luar negeri Bil. Saat kamu seminggu dua Minggu ikut lomba berenang, sebenarnya kamu sedang ada penelitian, sedang pergi ke beberapa tempat bencana untuk menjadi relawan." Winda juga terheran-heran.
"Iya, maafkan Billa, Ayah Bunda maafkan Billa."
"Jum tidak mengerti, otak bodoh Jum tidak berjalan." Jum mengaruk kepalanya.
"Ayah sudah tahu sejak awal, karena itu kamu bebas setiap pergi. Wildan menceritakannya sejak awal, Ayah yang mengirim guru di sekolah untuk menjaga kamu." Bisma mengusap kepala Billa.
"Ayah, kenapa selama ini diam saja?"
"Karena kamu belum menemukan tujuan kamu, saat Kasih koma kamu baru memutuskan untuk menjadi Dokter spesial anak, ingin menyelamatkan banyak anak yang sedang berjuang. Ayah juga tahu Billa tidak kuliah, tapi sedang koas di Luar Negeri."
"Ayah tahu semuanya." Billa langsung menangis.
"Menjaga kamu tugas Ayah, setiap langkah kamu akan Ayah ikuti. Ada lima orang jenius pada masa kalian, Wildan ahli komputer, Karin gadis jenius dalam desain, Ayu ahli medis, Yusuf senior Wildan juga mendampingi kalian, satu lagi dia meninggal saat kecelakaan, wanita cantik yang pernah berurusan dengan Ravi, sedangkan Karin menghilang tanpa alasan."
"Ohhhh, kakak cantik itu pacar kak Ravi."
"Bukan pacar, tapi orang yang mengagumi Ravi."
"Hari itu Wildan marah besar Ayah, Billa takut dengan Widlan. Dia takut Billa terluka di dalam Lab, bahkan mendorong Billa untuk kembali ke tanah air."
__ADS_1
Bisma memeluk Billa putri jeniusnya, gadis kecilnya yang sangat Bisma lindungi. Tian menatap Ravi sambil tersenyum.
"Ayu, kalian berdua pasti tahu soal Ayu. Sekarang aku mengerti kenapa kalian selalu membuat aku tidak bisa menemui Ayu." Erik mengambil ponselnya, melihat foto Ayu yang sangat cupu.
Bella juga melihat ponsel Erik, menatap wajah Ayu yang berbeda jauh dengan Billa.
"Aiishh, di sini yang paling bodoh Vira, Wildan bisa lompat, Billa juga bisa lompat kelas sekali Vira turun kelas." Vira memonyongkan bibirnya, memeluk Kasih yang mulutnya penuh es krim.
"Vira harus terima nasib, jika Vira memang bodoh." Kasih menjilati tangannya.
"Kakak yang bodoh, kalah sama kak Karin."
"Tidak masalah, setiap anak yang lahir, punyak rezeki masing-masing. Pintar milik Karin, bodoh milik Kasih, tidak masalah yang terpenting Kasih bahagia."
"Aiiisss jika Winda tahu, lebih baik dulu sekolah serius, mengalahkan Wildan mudah. Kenapa dulu mikirnya ingin menjadi orang bodoh, sederhana." Winda duduk lemas.
"Iya Win, sumpah menyesal."
"Bella tidak menyesal, setidaknya kita sudah melewati masa selalu bersama, sudah rezekinya Billa, rezeki kita belum saatnya tiba."
"Bella benar kita harus bahagia, menyambut calon Dokter termuda, juga menyambut pernikahan Billa dan kak Erik." Vira langsung berdiri, kepalanya terkena dagu Kasih yang mengigit bibirnya sendirian.
"Vira diam, Mommy masih penasaran dengan Billa."
"Ravi kamu tahu soal Billa, Tian juga."
"Ravi baru tahu, tidak sengaja melihat Billa, langsung memastikan kepada Wildan. Kak Tian yang sudah lama tahu, tapi diam saja, kami percaya Wildan akan menjaga dengan baik."
"Erik tidak tahu apapun." Erik kesal melihat Tian dan Ravi.
"Billa yang hebat, bisa menyelesaikan kuliahnya tanpa sepengetahuan siapapun, dia masih terlihat gadis polos, ternyata dia seorang Dokter."
"Kamu sudah koas Billa?" Erik menatap Billa.
"Sudah, tapi mendapatkan tawaran di rumah sakit untuk meneliti penyakit langka seorang anak. Sekarang sedang dalam pemulihan."
"Jadi kapan kita menikah?"
__ADS_1
"Awwwwww, sakit Pa." Erik mengusap kepalanya yang mendapatkan pukulan bantal sofa.
"Orang lagi serius mendengarkan, kamu langsung ke intinya. Seharusnya kamu malu Rik, calon istri kamu Dokter termuda."
"Kenapa harus malu, Erik juga Dokter muda, baru mendekati 25 tahun, sudah menjadi Dokter terbaik."
"Sombong, kamu pintar dapatnya dari siapa, kalau bukan darah Papa."
"Dia pintar dari aku Ammar." Anna tersenyum, Ammar langsung melotot.
"Jangan sering melotot Pa, nanti tidak balik lagi jadinya serem." Septi tersenyum.
"Selamat ya sayang, semoga ilmu kamu bermanfaat."
"Amin ma, doakan Billa menjadi Dokter yang baik."
"Selamat sayang, Bunda bangga dengan Billa. Seharusnya Bunda juga tahu dari awal, walaupun Bunda tidak sepintar Ayah kamu."
"Bunda tidak bangga dengan Bella, biar bodoh gini anaknya Bunda." Bella memeluk Jum, bersama dengan Billa.
"Mommy, Vira sebenarnya pintar, Vira bisa menunjukkan nilai Vira, Mommy harus bangga sama Vira." Vira memeluk Viana.
"Bangga, Mommy bangga sekali dengan Vira, orang naik kelas, dia turun kelas. Selamat ya sayang, kamu memang pintar. Viana gemas melihat Vira.
"Kalau Winda Mami." Winda mendekati Reva yang sudah siap memukulinya dengan high heels.
"Mami jahat, Papi." Winda langsung memeluk Bima yang mengelus kepalanya.
"Di mana Kasih?" Ravi langsung mencari Kasih yang tidur di tangga.
Ravi langsung mengangkat kepala Kasih, wajahnya celemotan.
"Kenapa Kasih menangis?" Ravi langsung mengendong Kasih ke dalam kamar.
"Mungkin dia digigit semut, lihat saja mulutnya penuh coklat." Erik teriak melihat Kasih.
Kebahagiaan terlihat, Billa juga bahagia tidak memiliki rahasia lagi, hatinya lega bisa menjadi kebanggaan Ayah Bundanya.
__ADS_1
Juga bahagia melihat Bella yang juga menyambut baik, Billa takut diasingkan dari Bella, Vira, dan Winda, tapi ternyata tidak, ketiganya bangga dengan Billa.
***