SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 AKIBAT PLAYBOY


__ADS_3

Tangan Wildan sibuk berselancar dengan komputernya, Ravi memperhatikan Wildan yang mengawasi seorang Dokter, membiarkan Tian mengurus Laura.


"Wil, sebaiknya kak Erik pergi ke klub, membantu Tian." Erik melihat Tian yang mulai pusing mendengar musik.


"Biarkan saja Kak Tian mengurusnya, menjaga perasaan Billa lebih baik, nanti kamu tidak bisa menahan diri, langsung tidur." Ravi menatap Erik.


"Gila kamu Vi, kamu pikir aku lelaki yang haus belaian."


"Diamlah kalian berdua, jika terus berbicara silahkan keluar." Wildan menatap Ravi Erik sinis.


"Wil, Tian dalam masalah."


"Masalah kak Erik apa? sudah Wildan katakan jangan terlalu baik kak. Musuh dari satu orang ke dua orang semakin bergabung, kita tidak bisa menggunakan hati, kak Tian bisa mengurusnya sendiri." Wildan berbicara dengan nada tinggi.


"Kak Erik hanya mengkhawatirkan Tian?"


Ravi menghela nafasnya, Wildan benar musuh semakin bertambah, dari masa lalu terus bergantian, tapi terus ada sangkut pautnya.


Orang yang ingin menghancurkan bisnis Daddy-nya Paman sendiri, orang yang Mommynya anggap orang penting berkhianat. Orang yang mencintai Daddy membuat rumah tangga Daddy-nya berantakan, banyak orang yang tidak terhitung mulai hadir membuat masalah.


Berapa banyak orang yang ingin menghancurkan keluarga mereka, sampai akhirnya tiba di Ravi yang harus berurusan dengan anaknya Abi, sekarang giliran Billa, Tian juga diuji dari masa lalu.


"Masalah akan terus datang, tugas kita terus bersatu menjaga satu sama lain." Ravi menepuk pelan pundak Wildan.


"Masalah kali ini karena kalian playboy, mungkin awalnya hanya ingin bersenang-senang, tanpa disadari ada hati yang tersinggung. Salah satunya Dokter ini." Wildan memberikan foto ke Erik.


"Dia Dokter terbaik, aku tidak pernah dekat dengannya. Dia wanita baik-baik Wil." Erik menatap Wildan.


"Wildan ingin bertanya, surat cinta yang selalu kak Erik abaikan di dalam ruangan kak Erik dari siapa?"


"Tidak tahu, tidak ingin tahu. Bukannya yang ingin menyakiti Billa Laura, adiknya kak Tian." Erik mengaruk kepalanya.


"Kesalahan playboy memilih wanita bar-bar, tidak mengganggap ada wanita baik." Wildan menggelengkan kepalanya.


"Soalnya wanita baik ribet Wil, harus serius, sedangkan kita hanya ingin bersenang-senang." Ravi tersenyum nyegir.

__ADS_1


Wildan tidak mengerti soal banyak wanita yang pasti tugasnya hanya menjaga Billa, Erik diminta berhati-hati, wanita jika sudah saat gelap mata apapun bisa saja terjadi.


"Padahal aku mengagumi dia sebagai Dokter yang baik tulus, tidak mungkin aku berani menyakiti wanita baik-baik." Erik memejamkan matanya, memijit pelipisnya.


"Rik, masih ingat kisah kita dan Cinta. Kamu memilih pacaran dengan Cinta, padahal saat itu aku memutuskan serius dengan Cinta." Ravi tertawa, Wildan mengerutkan keningnya melihat Ravi masih sempat tertawa.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan Dokter ini Wil?" Erik mengembalikan foto, Wildan membakarnya menghilangkan barang bukti.


"Nanti juga kalian akan tahu, kak Erik lebih hati-hati. Wildan tidak menjamin jika dia tidak membunuh kak Erik, masih ingat kejadian kisah cinta kak Windy, saat seseorang tergila-gila memilih mati bersama."


"Iya, cerita hidup kak Windy bisa memiliki Om Bule dan Wira menegangkan, bahkan banyak korban nyawa." Erik langsung merinding.


"Kekuatan cinta memang hebat, bisa membuat bahagia juga bisa membunuh." Ravi melihat foto mereka bersama Windy.


"Lebih hebat Uncle Bima, dia benar-benar bisa menjaga kak Windy. Seperti Wildan yang akan menjaga Winda."


"Papi juga menjaga Wildan sampai detik ini, jika tidak ada Papi Wildan sudah tidak bernyawa di penjara bawah tanah."


Ravi Erik langsung duduk mendekat, cerita Wildan yang berada di dalam penjara bawah tanah membuat mereka penasaran.


"Papi tidak mengalahkan Wildan, hanya membantu sedikit."


"Terserah Wil, intinya cepat cerita."


"Nanti saja kita fokus kepada kak Tian, intinya kak Erik harus berhati-hati." Wildan memperbesar layar, memperlihatkan keadaan Tian.


Ravi dan Tian menatap sinis, langsung melihat ke layar untuk melihat keadaan Tian.


"Rav, kenapa kita seperti sedang menonton film, kamera mengikuti kemanapun Tian melangkah."


"Bodoh kamu Rik, ada seseorang yang di sana mengawasi langsung. Ingat uang dan kekuasaan bisa mengendalikan banyak orang." Ravi tersenyum menatap Erik.


"Berarti Wildan juga mengirim orang untuk mengawasi aku dan Bella pacaran." Erik menghela nafas panjang.


Erik dan Ravi tersenyum, langsung duduk menatap Tian yang sudah melihat Laura berciuman.

__ADS_1


***


Mobil Tian sampai di depan klub malam, langkah kakinya sangat ragu, Tian tidak biasa masuk ke tempat berbau minuman, juga musik yang berputar.


Baru saja Tian sampai di depan pintu, sudah banyak wanita yang mendekatinya. Memeluk lengan Tian membawanya masuk, mata Tian terus berkeliling melihat ke segala penjuru, sudut untuk mencari Laura.


Melihat seorang pemuda tampan juga menggunakan jas, menandakan Tian memiliki banyak uang. Suara musik berdentum, banyak tangan yang sudah meraba Tian.


"Lepaskan tangan kalian, jika tidak ingin aku patahkan." Tian mencengkram kuat.


"Aku akan mengobati luka hati kamu." Seorang wanita menatap mata Tian.


"Benarkah, aku ingin bertemu adikku. Membawanya ke jalan kebenaran, mengobati luka hati dan fisiknya, katakan padanya kakaknya datang untuk menyelamatkannya." Tian mencengkram kuat, matanya berkaca-kaca.


Semua wanita menjauhi Tian, tidak ada yang ingin menyentuhnya lagi. Kaki Tian terus melangkah mengelilingi orang yang sedang bergoyang mengikuti alunan musik.


Sebuah tangan merangkul Tian, tersenyum melihat Tian yang terlihat kacau. Tama membawa Tian keluar dari kerumunan.


"Aku akan membantu kamu kawan, jangan berjalan sendiri. Kita temukan Laura, mengeluarkannya dari tempat kotor ini." Tama menepuk punggung Tian yabg terlihat sedih.


"Tam, tempat apa ini? kenapa adikku bisa bernasib buruk, hidup ditempat seperti ini." Tian menutup matanya, tidak kuasa menahan kesedihan Laura.


"Tidak ada kata terlambat Tian, semuanya bisa berubah, cinta dan ketulusan bisa mengalahkan segalanya, bisa juga menutupi luka. Kamu tidak sendiri, banyak orang yang sayang kamu, keluarga kamu akan menerima Laura." Tama tersenyum membawa Tian melangkah melewati beberapa lorong.


Tama sudah mendapatkan kabar soal Tian dari Erik, di mana ada Tian selalu ada Tama, sejak muda Tama dan Tian menjadi two T, jika tidak ada keluarga yang mendampingi setidaknya sahabat, Tama juga berpengalaman berada di klub malam.


Seseorang mendekati Tama, melihat foto wanita yang Tama cari, langsung di antar ke dalam ruangan VIP. Tama menguatkan Tian yang akan melihat adiknya.


Di dalam sebuah ruangan, seorang wanita yang berpakaian sangat minim, menemani 3 lelaki minum. Hati Tian hancur, melihat adiknya disentuh tangan kotor, berciuman di depan orang.


"Berani bayar berapa?" Tatap seorang wanita yang menolak untuk memanggil Laura.


"Aku bayar seumur hidupnya, tuliskan berapapun yang dia inginkan." Tian mengeluarkan dua cek, langsung melangkah ke ruangan VVIP.


***

__ADS_1


__ADS_2