SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 INGIN PERGI


__ADS_3

Sudah satu minggu Kasih tidak mendapatkan kabar soal Ravi, ibu Kasih juga sudah balik ke kampung ditemani oleh Tama. Cinta mendekati Kasih dan menatap penuh rasa bersalah.


"Kasih, kamu tenang saja Ravi pasti akan memilih mempertahankan kamu, dulu juga...."


"Jangan diteruskan kak Cinta, berhentilah menggigat soal dulu bersama Ravi. Dia dulu dan sekarang berbeda kak." Kasih tersenyum menepuk pundak Cinta dan melangkah pergi.


"Jika kamu diam saja, tidak niat berjuang, banyak perempuan di luar sana yang akan mengejar Ravi." Cinta menatap Kasih tajam.


"Biarkan saja, aku tidak ingin menjadi wanita di luar sana yang mengejar cintanya, tapi Ravi yang harus mengejar cinta Kasih."


Di dalam kamarnya, Kasih sibuk memasukkan bajunya ke dalam koper karena besok dia akan pergi ke luar Negeri, tempat impiannya menimba ilmu tapi impian harus terkubur dalam dan menjadi kenangan.


Setelah beres Kasih berusaha memejamkan matanya, kantuk tidak juga datang, selama bermasalah Ravi tidak datang berkunjung, tidak juga menghubunginya.


Ponsel Kasih berbunyi, panggilan video dari keempat bocah tengil. Kasih tersenyum masam tidak bersemangat.


Suara berisik karena perdebatan mereka, suara Ravi terdengar, Vira langsung menyahut panggilan Ravi. Dia bertanya keadaan Kasih tapi Vira semakin membuat suasana panas, jika Kasih baru saja pulang berkencan dengan seorang pria bule. Terdengar suara pukulan keras, ternyata Ravi memukul pintu dan berlalu pergi.


[Semakin tua semakin pemarah!"] teriak Vira kesal.


Pembicaraan berlanjut, Kasih tersenyum karena ternyata Ravi masih memperdulikannya. Tapi maksud kemarahan Ravi sungguh membuat Kasih tidak mengerti.


***


Pagi-pagi sekali Kasih sudah pergi ke bandara untuk pergi liburan, Cinta sudah berusaha untuk menegur Kasih tapi tidak bisa mengubah keputusan adik bungsu, rasa penyesalan membuat Cinta menangis.


Saat sampai di bandara Kasih duduk menunggu di ruang tunggu, senyum manis terukir di bibir Kasih. Saat pertama kali dia bertemu Ravi di bandara ini, Kasih menangis memaksa bapak membawanya ke bandara karena dia akan sering keluar negeri tapi nyatanya dia tidak pernah bisa pergi sampai bapaknya berpulang.


langkah kaki seseorang terdengar, dia berdiri tepat di depan Kasih. Dari sepatu naik ke celana, sampai baju akhirnya Kasih bisa melihat wajah seorang pria yang tampan tapi sangat dingin berada dihadapan dengan keadaan marah.


"Ravi!" Kasih kaget bisa bertemu Ravi, wajah Ravi juga sangat menakutkan.


'Ke mana." Ravi menatap mata Kasih tajam, mulut Kasih langsung pahit.


"Ja jalan-jalan." Kasih bicara terbata-bata sakin takutnya.


Ravi tersenyum sinis, menekan kedua bahu Kasih, mendekatkan jarak mereka. Bisa Kasih rasakan hembusan nafas Ravi yang terasa hangat, menerpa wajahnya.


"Pergilah! Tapi saat kamu sampai tujuan segera hidupnya ponsel kamu."


"Kenapa?"


"Kasih kamu tidak mengenali aku, yang orang lihat tentang diriku tidak sepenuhnya betul. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau."


Kasih mencoba melepaskan cengkraman tangan Ravi, rasanya juga mulai sakit, karena Ravi semakin emosi.


"Dengarkan aku, saat pesawat terbang aku Ravi Prasetya akan menghancurkan karir Cinta, bukan hanya Cinta tapi Tama. Aku bisa membuat Tama kehilangan pangkatnya." Ravi semakin terbawa emosi, wajah Kasih juga mulai menantang.

__ADS_1


"Kamu mengancam aku!" tatapan Kasih tidak kalah mengerikan.


"Aku akan memberikan DP."


Ravi mengambil ponselnya, langsung menghubungi seseorang untuk memecat cinta, membuat


cinta tidak akan pernah di terima perusahaan manapun.


"Ravi, sekarang kamu mengeluarkan taring, sudah terlihat sikap bejat kamu."


"Selama ini aku tidak pernah memasak apapun untuk memilikinya, tapi saat aku menginginkan sesuatu, akan aku lakukan segala cara untuk memilikinya."


"Sebenarnya apa mau kamu?" Kasih tidak akan menang melawan Ravi, Kasih sangat mengenal Vira yang cerdas juga licik, apa bedanya dengan Ravi yang ada dalam satu rahim dengan Vira.


"Percepatan pernikahan kita, aku tidak ingin mendengar alasan soal Kaka kamu Cinta, persaudaraan, cinta lama, mantan, masalalu."


"Kamu seperti sangat penasaran dengan aku Ravi, bahkan wanita yang ingin kamu paksa menikah ini, sudah tidak virgin lagi, aku pernah berhubungan dengan beberapa pria."


Tawa Ravi terdengar, Kasih kebinggungan melihat Ravi yang merasa ucapannya lucu.


"Kita praktekkan nanti, aku akan menghapus jejak siapapun."


Kasih menelan ludah, dirinya sudah kehabisan kata-kata. Tidak ada moment romantis tapi yang ada ancaman dari Ravi untuk Pernikahan mereka. Kasih tersenyum melihat seorang playboy punya jiwa tidak romantis.


"Masih ingin pergi?"


Lama Kasih terdiam, dia tidak tahu dengan jawabannya. Belum sempat Kasih bilang iya atau tidak, Ravi sudah menghubungi orang kepercayaan untuk membuat Tama terkena masalah sehingga akan kehilangan pekerjaan.


"Ganti rugi, lima puluh juta untuk mengganti layarnya."


"Dari mana aku uang sebanyak itu."


"Bukan urusan aku, masih ingin pergi tidak."


"Ya masih."


Ravi langsung merampas ponselnya dengan kasar, langsung melangkah pergi. Kasih berusaha untuk menahan Ravi dan berlari kecil mengejar langkah kaki Ravi.


"Iya aku ikut pulang, tapi ganti rugi sama tiketnya." Kasih berdiri di depan Ravi.


"Aku ganti biaya tiket, kamu ganti biaya handphone."


"Bagi dua, aku tidak punya uang banyak, tidak boleh memeras wanita miskin."


Ravi mengulurkan tangannya, meminta Kasih masuk mobil. Kasih dengan terpaksa mencapai tangan Ravi yang langsung digenggam.


"Kak Kasih! ayo cepat pesawat keburu terbang." Vira melambaikan tangannya, kening Ravi berkerut melihat empat wanita nakal juga membawa koper di bandara.

__ADS_1


Kasih menunjuk Ravi, Vira mengerti pasti kakaknya tidak memberikan izin, Vira, Winda, Billa Bella mendekat.


"Apa yang kalian berempat lakukan di sini?"


"Buta, sudah tahu di bandara pastinya kita ingin pergi, tidak mungkin ngamen di pesawat." Winda geleng-geleng.


"Kalian ingin ke mana?"


"Korea!" jawab Vira.


"Jepang!" jawab Winda.


"China!" jawab Bella.


Dan terakhir Billa yang menjawab, Indonesia. Karena semuanya sudah disebutkan berarti akan balik lagi ke Indonesia.


"sudah dapat izin belum?" Semuanya menunjukkan surat izin dari Mommy, Bunda, juga Mami.


"Ravi, izinkan aku pergi liburan bersama mereka. Kasih pengen sekali ke luar negeri." Kasih memasang wajah memelas.


"Jadi kamu bukan ingin kabur dari aku, seperti yang Cinta katakan."


"Aku ingin liburan!"


"Ayo gays, kita pulang saja." Winda melangkah pergi membawa kopernya.


"Tidak jadi pergi?" Billa teriak sedih.


Winda menunjukkan pesawat yang sudah berangkat, teriakan Vira sangat kuat sampai duduk di lantai memukuli Ravi.


Ravi tersenyum menggenggam tangan Kasih, tangan yang tidak akan pernah Ravi lepaskan.


"Kasih, aku tidak memaksa kamu langsung jatuh cinta, tapi percayalah aku bisa membawa kamu naik pelaminan.


"Dengan mengancam, orang lemah seperti aku hanya bisa menurut Ravi."


"Aku tidak punya pilihan, Mommy bilang aku boleh melakukan segala cara yang penting tidak menyakiti calon menantunya."


"Sejujurnya kamu mencintai aku tidak?"


"Lihat mata aku Kasih, tatap aku. Apa yang kamu lihat."


"Tahi mata!" teriak Vira yang sudah bergantung di kaki Ravi, Kasih langsung tertawa sambil terduduk mendengar jawaban Vira, Ravi langsung cepat membersihkan matanya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2