
Semuanya bernafas lega setelah melihat Lin kembali ke kamar, Windy meminta anak-anak tetap diam di dalam kamar.
"Kak Windy, bagaimana keadaan kak Vira?"
"Belum tahu, kalian banyak berdoa saja di sini. Lin jaga adik-adik kamu." Windy melangkah keluar bersama Steven, setelah dokter memastikan Lin baik-baik saja.
Arum berjalan bersama Bulan, Bintang, Virdan dan Arwin melangkah masuk. Mereka tidak jadi pulang, karena seluruh pengawal heboh mempersiapkan jika ada yang jatuh.
Seluruh anak-anak duduk di tempat masing-masing, Arum dan Bulan tidur di samping Lin menunggu kabar baik.
Di depan ruangan operasi seluruh keluarga sudah berkumpul, menunggu kabar dari dalam dengan keadaan cemas.
Sakit perut Vira secara dadakan, bahkan tanpa persiapan. Wildan dan Vira berencana merayakan ulang tahun putra mereka, tapi siapa menyangka jika Vira harus melakukan operasi secara tiba-tiba.
Di dalam ruangan operasi, Wildan tidak berhenti menggenggam tangan istrinya yang masih sadar, tidak ada air mata sama sekali dari mata Vira, hanya Wildan yang bekali-kali mengusap air matanya.
Billa secara langsung mengawasi proses operasi, ditemani oleh seorang dokter muda yang pernah bergabung di kedokteran militer.
Saat bertemu pertama kali, Billa sudah langsung mengenali, tapi membiarkan begitu saja.
Senyuman Billa terlihat, meminta adiknya Wildan tenang. Vira jauh lebih baik dari kemarin, operasi untuk mengeluarkan bayi akan segera di mulai, karena pendarahan sudah berhasil dihentikan.
"Kak Vira, tidur sebentar ya." Billa mengusap rambut Vira yang menganggukkan kepalanya.
"Bil." Wildan semakin panik.
"Tenang saja Wil, semuanya akan baik-baik saja. Semua dokter di sini sudah profesional dan terbiasa menangani kasus seperti ini." Tangan Billa menepuk pundak Wildan langsung meminta dokter mulai.
Billa hanya duduk mengawasi, melihat Vira perlahan mulai tidur karena obat bius.
"Apa kabar kamu dek?"
"Lebih baik kita berpura-pura tidak kenal, aku belum siap muncul." Dokter muda dan tampan menundukkan kepalanya.
Billa mengangguk kepalanya, membiarkan si pembuat onar memilih masa depannya.
Sudah satu jam, Billa mulai tegang melihat dokter satu-persatu berlarian mengambil puluhan kantong darah, pendarahan kembali terjadi.
"Dok, kita harus menghentikan ini. Tekanan darah tidak normal." Dokter Vira meminta semuanya menyerah mengeluarkan bayi.
Billa langsung berdiri, melihat tekanan darah Vira yang memang tidak memungkinkan, tapi jika dihentikan dua bayi tidak mungkin bisa selamat.
"Dokter Billa, bayi harus di keluarkan sekarang. Mereka tidak mungkin bisa bertahan."
__ADS_1
"Kita gunakan waktu lima menit untuk mengeluarkan bayi, satu Dokter awasi kondisi ibu bayi."
"Maaf dok, ini terlalu beresiko."
"Terkadang kita harus mengambil resiko, lakukan sekarang." Billa meminta operasi dilanjutkan.
Seluruh dokter panik, apalagi melihat ekspresi Wildan yang sangat tegang. Dia meminta istrinya yang paling diutamakan.
"Billa, bayi ini prematur. Kita hentikan operasi." Dokter utama membentak Billa, meminta keluar dari ruangan operasi.
Pintu terbuka, Erik menatap tajam tidak ada yang boleh membentak istrinya selain dia.
Air mata Billa menetes, Erik meminta Billa mengambil posisi dan bertahan dengan pendirian.
"Seorang dokter bukan tuhan, kita boleh memprediksi hal buruk untuk berwaspada, tapi bukan berarti harus menyerah." Erik menaikan nadanya.
Billa mengusap air matanya, meminta dokter melanjutkan operasi, Billa menghentikan pendarahan dan satu dokter mengawasi kondisi Vira.
Satu dokter pria, langsung mengambil satu bayi, memotong tali pusar meletakan ke dalam tabung inkubator.
Satu bayi lagi di keluarkan, target hanya bisa mengeluarkan satu bayi, tapi dokter muda yang berpenampilan culun dalam hitungan menit berhasil mengeluarkan dua bayi.
Tiga dokter langsung bertidak untuk mengecek keadaan bayi prematur, pendarahan juga berhasil dihentikan. Erik langsung mengambil alih untuk mengecek detail keadaan Vira, tubuh Vira dingin membuat Wildan terduduk lemas, genggaman tangannya terlepas.
Tubuh istrinya dingin, wajahnya pucat kehabisan darah, kedua anaknya tidak mengeluarkan suara dan tangisan. Dunia Wildan rasanya hancur.
"Twins, ini kakak ayo bertahan." Dada twins dipompa pelan.
Suara tangisan kuat terdengar, seluruh kepala menoleh. Satu bayi menangis sangat kuat, Billa langsung mendekatinya sambil meneteskan air matanya.
Satu bayi lagi juga menangis, suaranya tidak terlalu besar. Billa langsung melakukan sujud syukur.
Dua bayi bergerak di dalam tabung, tubuh mereka mulai dibersihkan. Wildan tidak punya tenaga lagi untuk berdiri hanya bisa menangis sesenggukan.
Billa meminta Wildan mengadzani kedua anaknya, suara pelan dan lembut Wildan terdengar bersamaan dengan tangisannya.
Hampir tiga puluh menit Erik berjuang, jahitan di perut Vira sudah ditutup, pendarahan sudah dihentikan.
Erik memastikan jika detak jantungnya, dan organ lainnya berfungsi dengan baik. Bahkan Erik mengecek bagian kepala Vira yang takutnya terkena gumpalan darah.
"Bagaimana keadaan Twins?"
"Aman dok." Seluruh dokter menahan air mata.
__ADS_1
"Ibunya juga aman, dia hanya perlu istirahat dan pemulihan." Erik tersenyum, mengucapkannya terima kasih kepada dokter yang sudah berjuang bersama.
Erik juga tidak segan memuji para dokter yang berani mengambil resiko, juga siap bertanggung jawab untuk tugas mereka.
Suara tangisan terdengar, seluruh Dokter yang terlibat terlihat sangat bahagia, melihat dua bayi mungil yang menangis.
Di lantai Wildan masih menangis, Erik memeluk manusia es yang sudah menjadi Papi dari satu putra tampan, dan dua putri cantiknya.
Mendengar tangisan Wildan membuat Erik tidak bisa menahan air matanya, perasaan Wildan pasti bercampur aduk, siapapun yang ada di posisi Wildan pasti merasakan kehancuran yang sama.
"Sudah Wil, kenapa kamu cengeng? dulu saat kamu kecil kita sering mencubit agar kamu menangis." Erik mengusap air mata Wildan dengan bajunya.
"Bagaimana keadaan Vira?"
"Dia baik-baik saja, kita hanya menunggu dia bangun sampai pengaruh obat bius habis."
"Bagaimana keadaan istriku kak?" Wildan terus mengulangi pertanyaannya sambil menepis air matanya.
Erik tertawa melihat tingkah lucu Wildan yang tidak puas dengan penjelasan Erik. Dia ingin mendengarkan suara istrinya yang tidak pernah bisa diam.
Billa juga tidak berhenti menangis melihat bayi kembar identik, bahkan Billa sulit membedakan.
"Dek, kamu tahu bedanya apa?" Billa mengusap air matanya.
"Em em em, tidak ada bedanya."
"Lalu bagaimana kita membedakannya?" Billa memberikan tanda untuk bayi pertama dan kedua yang sama semuanya.
Wildan berdiri dibantu oleh Erik, melihat Vira yang tubuhnya kembali hangat. Darah mulai kembali normal.
"Bagaimana keadaan twins V? mereka belum beli baju, belum ada nama pasti, belum ada kamar khusus, belum ada persiapan apapun." Wildan menatap Billa yang masih sibuk membedakan dua bayi.
"Ada apa Billa?" Erik melihat dua bayi yang sangat identik. "Apa bedanya?" Erik menatap seluruh dokter yang ikut memperhatikan.
Wildan juga melihat dua bayinya, terlihat sangat mirip membuat Wildan menangis lagi.
"Apa bedanya mereka?"
"Kamu yang membuat Wil, kenapa bertanya kepada kita?" Erik tertawa lucu melihat Wildan menangis.
Erik melangkah keluar setelah puas melihat reputasi Wildan hancur.
***
__ADS_1