
Ravi pulang ke rumah dengan wajah kusut, Rama sudah berdiri di ruangan tamu dengan tatapan mengintrogasi. Ravi memberikan salam, mencium tangan Rama, dan Viana yang duduk di sofa.
"Ravi ke atas dulu Mom Dad."
"Duduk Ravi!"
Dengan menghembuskan nafasnya, Ravi duduk di depan kedua orangtuanya. Mata Ravi melihat kearah lantai, Rama menghela nafas.
"Nikahilah Kasih, percumah kamu sholat. Daddy tidak suka Ravi dengan perbuatan kamu di kantor."
"Ravi hanya iseng Daddy, hanya ciuman tidak akan membuat dia hamil. Ini juga pertama kalinya, Ravi tahu batasannya Dad."
"Serendah ini kamu menganggap wanita, kamu mempunyai adik perempuan jika adik kamu diperlakukan seperti yang kamu lakukan. Kamu rela!"
"Daddy Ravi janji tidak akan mengulanginya lagi, dan mulai sekarang Ravi tidak akan bergonta-ganti wanita." Ravi melipatkan kedua tangannya.
"Besok kita temui orang tua kasih." Rama berdiri hendak masuk.
"Ravi bukan Daddy, hati Ravi tidak sebaik Daddy. Jika Daddy menerima pernikahan dengan wanita yang dijodohkan, tanpa tahu siapa dirinya. tapi Ravi tidak ingin menjalani rumah tangga dengan pernikahan yang dipaksa, apalagi wanita yang tidak Ravi cintai." Ravi melangkah pergi masuk ke kamarnya.
"Saat pertama menerima kabar perjodohan, Daddy mencari tahu Siapa Mommy kamu. Tapi Daddy jatuh cinta dari awal bertemu dan melihat keburukan Mommy kamu menjadi tantangannya. Cinta Daddy tidak pernah Daddy sadari sampai pernikahan itu diuji."
"Ravi belum siap Dad, biarkan hati Ravi yang memilih." Ravi langsung melangkah menaiki tangga.
Rama memandangi Viana yang tersenyum, langsung melangkah berlari memeluknya. Di usia Vi yang tidak muda lagi, dia sangat takut jika meninggalkan dunia ini dan tidak bisa melihat suami ABG nya lagi.
"Hubby!"
"Iya sayang, aku sangat mencintai kamu Vi. Sampai aku mati, kamu wanita satu-satunya."
***
Malam semakin larut, Kasih masuk ke dalam masjid. Dia duduk terdiam sambil membaca doa di dalam hati.
__ADS_1
"Ya Allah, Terimakasih sudah mengembalikan kak Tama juga kak Cinta. Kasih sangat menyayangi mereka, tapi Kasih masih marah. Dulu Kasih di buli karena tidak secerdas kak Cinta, juga di buli tidak sebaik kak Tama. Kasih berjuang belajar biar bisa dapat beasiswa, tapi akhirnya Kasih kehilangan kesempatan karena teman kak Cinta, dan lebih sedih lagi kak Tama juga pergi. Kasih tidak punya tempat mengadu." Air mata kasih mengalir membasahi pipinya.
"Anak perawan, sudah tengah malam masih keluyuran. Alhamdulillah nya di masjid, coba di bawah pohon besar. Ngeri juga!" Tama berdiri dengan bersender di pintu.
Kasih langsung berdiri, berjalan melewati gelap malam. Tama berjalan di belakangnya mengikuti adik kecilnya yang dulu sangat manja. Tama selalu ingin melindungi dua princess dari mata lelaki yang mengaguminya. Walaupun keluarga mereka hidup sederhana, Tama selalu menjadi kebanggaan kedua adiknya, demi memenuhi keinginan dua princess Tama, bekerja sampingan agar meringankan beban orang tuannya. Sampai keputusan terakhir, Tama mendapatkan beasiswanya gratis dari pemerintah untuk sekolah TNI.
Sejak hari itu Tama kehabisan waktu bersama kedua adiknya, 7tahun berpisah Tama sangat rindu juga sedih. Melihat Kasih yang paling sulit bertahan, sampai tidak melanjutkan kuliah, kerja menjadi supir taksi menggantikan bapaknya yang sering sakit.
"Kasih, kamu tidak rindu kakak, tidak pengen peluk. Pukul kakak ya dek, kakak nakal karena tidak bisa menjaga kamu." Tama menghapus air matanya.
"Kasih rindu, tapi sekarang sudah besar. Kasih bukan anak kecil lagi yang selalu minta di manja. Kakak jangan pergi lagi, kasihan bapak sama ibu yang selalu merindukan kalian berdua."
Tama merangkul Kasih, mencium keningnya. mereka berdua pulang. Bapak ibu juga Cinta menunggu keduanya, melihat dari kejauhan bapak tersenyum melihat Kasih yang tertawa. Lama bapak tidak melihat senyuman Kasih.
***
Satu bulan sudah kejadian Kasih dan Ravi, sampai saat ini mereka tidak bertemu lagi. Kasih sibuk dengan melukis sebagai hobinya, Kasih menolak untuk kuliah, sekalipun Cinta dan Tama sudah memaksanya.
Tama membeli rumah yang cukup besar, rumah lama mereka disewakan. Mereka pindah ke kompleks elite, Cinta sangat semangat melihat kamarnya yang besar dan indah. Kasih juga senang melihat pemandangan sekitar kompleks.
"Suka banget kak, pemandangan tempat ini bikin tenang." Kasih masuk ke dalam pelukan Tama, Cinta juga berlari memeluk Tama.
Bapak tersenyum melihat ketiga anaknya yang tertawa bahagia, kini bapak sudah ikhlas jika harus pergi selamanya. Ibu mengusap lengan bapak, ingin menangis tapi ditahannya, agar anak-anak tidak tahu tentang penyakit bapaknya, hanya ibu yang tahu.
***
Kasih sedang berjalan mengelilingi kompleks, dilihatnya di bangunan kecil, rumah-rumahan banyak sekali kucing. Kasih yakin pasti ada pemiliknya, ingin sekali Kasih masuk tapi tidak tahu mau izin dengan siapa. Lama berpikir Kasih masuk melompat pagar pendek, dia duduk di rerumputan sambil melukis kucing yang berkumpul dan berjalan mendekatinya. Selesai melukis Kasih menjemurnya agar tertiup angin karena hari mulai senja.
Ingin sekali Kasih masuk ke dalam perumahan kucing, pasti banyak sekali kucing lucu. Tapi tidak ada pemiliknya, Kasih takut dibilang pencuri. Tangan Kasih menggendong kucing berwarna oranye besar dan gemuk sekali, berkali-kali Kasih menciumnya.
"Ular!" Suara pria berteriak membuat Kasih panik.
Kucing langsung dibanting, Kasih lompat-lompat memanjat tubuh Ravi yang terdiam melihat Kasih yang mirip orang gila.
__ADS_1
"Ular! tolong ada ular." Kasih teriak kuat, memeluk erat Ravi sambil digendong dipunggung Ravi.
"Turun, aku bisa mati ke cekik."Ravi menyelamatkan lehernya, yang dipeluk erat oleh Kasih.
"Tidak mau turun, Kasih takut ular. Nanti di gigit, terus dipatuk, terus dililit. Pokonya Kasih gak mau turun."
Banyak orang yang sedang joging menertawakan Ravi dan Kasih, Ravi pasrah jika harus dipaksa menikah lagi karena Kasih memeluknya.
"Cepat bunuh ularnya!"
"Makanya turun dulu, kamu berat." Ravi membebaskan dirinya dari Kasih, tapi tangan Kasih masih memeluk lengan Ravi dan matanya terpejam.
"Nama kucing yang kamu gendong tadi ular, bukannya ada ular." Ravi menatap Kasih yang melongo melihat wajahnya.
"Dasar tidak punya otak, kucing namanya ular." Mata Kasih melotot, dia tidak menyangka orang yang tempat dia memanjat tadi ternyata Ravi.
"Terserah akulah, tidak menggangu kehidupan kamu, mau namanya ular, monyet, kera, gorila, suka-suka aku."
"Kucing tadi warnanya oranye seharusnya harimau, terus yang hitam itu namanya lutung, yang putih namanya rubah." Kasih menunjuk kucing yang datang mendekati Ravi.
"Enak saja! ini namanya ular A, ini ular B." Ravi menggendong kucingnya.
"Kalau sudah sampai Z!" Kasih menatap Ravi yang jidatnya mengkerut.
"Ular AA ular BB ular CC." Ravi tersenyum.
"Dasar cowok edan!" Kasih melangkah ingin pergi, tapi tangannya ditarik oleh Ravi.
"Masukkan semua kucing ini ke dalam, jumlahnya ada 30 jangan sampai kurang. Babysister mereka besok baru datang.
"Babysister!" Kasih garuk-garuk kepala, mengikuti Ravi menggendong kucing masuk ke dalam.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA.
***