SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
LEBIH UNGGUL


__ADS_3

Brak....


Suara meja dipukul dengan kuat, keadaan rapat menjadi tegang, semuanya diam menundukkan kepala tidak berani menatap mata Reva.


Langkah kaki yang berirama berjalan memasuki ruang rapat, Viana langsung masuk dan duduk disamping Reva yang wajah nya sudah masam. Suasana yang awalnya tegang semakin mencengkram dua pimpinan VCLO mengikuti rapat.


Rapat dimulai kembali, semua yang menyampaikan usulan sangat berhati-hati dengan ucapan, sedikit saja salah siaplah terlempar dari VCLO.


"Berapa lama kita bekerja sama, apa kamu berpikir desain lawan kita jelek!?"


"Karena saya percaya, karya buk Reva lebih luar biasa dari karya mereka."


Viana terkejut melihat buku majalah melayang, Reva lebih kejam dari dirinya. Pantas saja VCLO masih bertahan.


"Saya paling benci melihat orang yang bisanya mengkritik tapi tidak mempunyai keahlian, jika produk mereka jelek, mengapa mereka berada diperingkat atas?."


"Apa kamu pikir mereka menggunakan dukun, tukang santet yang bisa menggubah daftar ranking desain terbaik."


"Kita gagal dalam promosi karena kalian tidak bekerja sama, kalian saling menjatuhkan dan menjadi yang terbaik. Padahal kalian semua gagal."


"Singkirkan semua proposal kalian, jika dalam 3jam proposal tidak ada dimeja saya, silahkan angkat kaki dari VCLO." Suara Reva kuat membuat hawa sangat dingin.


Reva keluar dari ruangan tanpa memperdulikan siapapun, gagalnya promosi produk yang merugi mencapai milyaran, membuat emosi Reva berada dipuncak nya.


Semuanya masih diam ditempat karena Viana masih duduk disana. Vi diam menatap satu-persatu karyawan yang masih setia di VCLO.


"Apa kabar kalian semua, pasti sulit bekerja di bawah perintah seorang ABG, Dia masih memiliki ambisi yang sangat kuat, tapi percayalah Reva melakukan semua ini demi kebaikan bersama terutama VCLO." Suara Viana pelan sambil tersenyum.


"Kalian kembalilah ke ruangan Masing-masing, dan kalian berdua tetap disini."


Dua pria paru baya yang ditunjuk Viana saling pandang, tangan mereka dingin wajahnya juga sudah mulai panik, Viana hanya tersenyum sinis.


" Kalian tahu siapa aku?" tatapan Viana penuh amarah.


"Aku tahu kalian dikirim oleh Mitha, kalian pasti kehabisan cara melawan Reva."

__ADS_1


"Pergilah dari sini! katakan pada Mitha Viana menerima tantangan nya."


Kedua pria tersebut melangkah dengan cepat, sebuah gelas melayang menghantam kepala, dan juga hp terbang. Mereka berlari terseok-seok menjauhi Viana yang menyeramkan.


Reva mengecek semua data sampai lupa makan, Viana sudah mencoba menegurnya, tapi Reva masih diam. Dia sangat mirip dirinya saat muda dulu yang mempunyai ego yang besar.


"Ririn sialan, pengecut, aku tidak akan kalah dalam pameran kali ini," Reva membuka sketsa gambar yang pernah diukirnya saat dia patah hati Bima bertemu Brit.


Viana memperhatikan sketsa Reva yang penuh kesedihan, luka, dan rasa tidak bahagia. Viana tersenyum melihat Reva yang mempunyai bakat menggambar sangat luar biasa.


"Kak Vi, Abi memiliki kekuasaan yang besar, tidak muda masuk ke benteng nya, bisa lakukan sesuatu."


"Apa kamu minta aku melawan Abi Mitha, dan kamu menjatuhkan Mitha dipameran."


"Ya! orang licik harus dibalas licik, aku tidak terima kerja keras VCLO diremehkan, aku percaya kak Vi bisa mengalahkan kekuatan Abi."


"Reva resikonya, aku juga akan Menyingkir LOVER."


"Biarkan saja, LOVER tidak akan bangkrut."


***


Hari pameran sisa 1hari, Reva masih dikantornya mengecek semua laporan, Reva membaca dari tamu undangan, lawannya dari negara mana, siapa yang mempunyai kekuatan besar. Dari hal kecil sampai hal besar. Hari sudah larut Reva masih sibuk tidak ingat waktu, kemarahannya karena gagalnya pemasaran yang disebabkan oleh Ririn yang menggantikannya.


Reva melihat jam tangannya dan langsung melotot kaget sudah pukul 01.12 malam, Reva langsung mengambil seluruh berkasnya dan juga tasnya. Sekarang Reva panik karena beberapa kali cerita seram dirasakan di VCLO, Reva langsung membayangkan yang bukan-bukan.


Langkah kaki Reva berlari kecil, Reva merasakan ada yang mengikutinya, membuat Reva panik sampai gemetaran, dia terus berdoa dan beberapa kaki menyebut nama Bima.


Lengan Reva ditarik membuatnya teriak kuat, sambil memukuli tubuh yang menariknya. Bima menahan tangan Reva, Reva langsung melihat wajah Bima dan memeluknya erat.


"Bekerja boleh, tapi ingat waktu, tindakan kamu sangat berbahaya. Bagaimana jika ada laki-laki." Bima cepat menepis pikiran jeleknya.


"Apa om Bima berbahaya untuk Reva,"


"Sudahlah, ayo aku antar pulang," Bima menarik tangan Reva yang membuat Reva tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Kenapa bisa ada di kantor," Reva asik memandangi wajah Bima dari samping yang masih konsentrasi menyetir.


"Viana yang mengabari, aku sudah lama menunggu kamu,"


Mobil tiba di apartemen Reva, Bima tidak ingin ikut turun tidak enak nanti orang berpikir yang tidak baik.


Reva membuka seat belt tapi kesulitan, dia sengaja memancing Bima mendekati nya, Bima yang diam akhirnya mendekati Reva dan coba membantu. Dengan muda Bima bisa membukanya, tangan Reva sudah dikalungkan di leher Bima diciumnya bibir Bima dengan berani, cepat Bima coba melepaskan tangan Reva, tapi Reva tidak mau berhenti. Bima mulai kesal dan kasar melepaskan tangan Reva.


"Reva kamu tidak punya malu dan harga diri ya," teriak amarah Bima terdengar, terasa menyayat hati Reva. Dia langsung membuka pintu dan berjalan masuk apartemen, Bima menghela nafas dan merasa menyesal bicara kasar.


***


Malam sudah larut, Viana membuka selimut dan melepaskan pelukan Rama, dia berjalan perlahan menjauhi ranjang dan masuk ke dalam ruangan Rama dan menghidupkan komputer, Vi melacak beberapa nomor anggotanya yang sudah menyebar menunggu panggilan dan perintah Viana.


"Abi kamu bukan tandingan Viana, aku jauh lebih kuat dari kalian. Aku akan membongkar kamu dan membuat kamu jatuh miskin, kamu tidak pantas menjadi saingan Vi."


Tangan Viana terus berselancar, walaupun sudah 5tahun tapi keahlian Viana masih sebaik dulu, dia mengerakkan timnya mencari kelemahan Abi.


Rama terbangun dan menyadari Viana tidak ada di sebelahnya, Rama melihat jam baru pukul 02.44, Rama mengecek rekaman dirumahnya dan melihat Viana didalam ruangan kerjanya.


Rama mengambil tabletnya dan melihat pergerakan Viana yang membuat nya tersenyum.


"Vi, kamu masih belum percaya aku, kamu masih ingat berjuang sendiri, padahal kamu punya aku. Pernah kehilangan kamu membuat aku menjadi orang yang paling berhati-hati."


Rama menghubungi seseorang untuk menjaga Viana dari kejauhan, Rama juga menggunakan bayangan dan bodyguard untuk menjaga Ravi.


Rama juga sudah lama mengirim orang untuk mengawasi Ririn yang suatu saat bisa menyakiti istri anaknya. Sejak Viana menyebutkan nama Mita Rama sudah langsung bergerak.


Rama juga sudah mendapatkan informasi yang Viana butuhkan, Rama yang dulu sudah berubah semua yang dia lakukan penuh dengan pertimbangan.


"Viana, aku akan melindungi kamu sayang,"


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA..

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE..


__ADS_2