SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TEMAN BERCERITA


__ADS_3

Di dalam kamar, Ravi sudah mandi masih menggunakan handuk berguling-guling di atas kasurnya. Mengacak rambutnya, menangis meratapi pulaunya.


"Aak, pakai baju dulu, nanti masuk angin."


"Sayang, Wildan manusia paling kejam Aku membeli sebuah pulau kosong, selama lima tahun mencicilnya untuk ulang tahun pernikahan Mommy Daddy, juga peresmian pesantren. Kamu ingin tahu yang Wildan lakukan, dia membuatnya untuk umum, nanti ada yang berbuat mesum, padahal aku ingin menjadikan pesantren." Ravi berkali-kali mengusap matanya.


"Aak menangis?" Kasih mengelus kepala Ravi.


"Bagaimana tidak menangis? Aak menabung uang untuk pembangunan,mimpi Aak berdirinya sebuah pesantren, tempat berdoa anak-anak." Ravi meneteskan air matanya, Kasih memeluk Ravi yang merengek seperti anak kecil.


"Wildan hanya bercanda Aak, dia bisa dengan mudah mengubah indentitas pemilik. Wildan di sini terkenal bernama Bryan, dia memiliki kekuasaan." Kasih menghapus air mata Ravi.


"Bercanda soal apa?"


"Pulau yang di buka Wildan untuk umum bukan milik Aak, tapi milik Wildan. Jet kak Tian tidak di jual masih ada pada tempatnya, tim kak Tian yang mudah Wildan permainkan."


"Jadi pulau aman, kak Tian juga aman. Terus nasib Erik?"


"Mansion pribadi milik kak Erik, memang luar biasa bagusnya. Kita melihat saat ditanyakan oleh Wildan, mirip istana, bagus sekali. Pembangunan hampir selesai, Wildan mengirim timnya untuk mempercepat, kak Erik membangunnya sudah 6 tahun belum selesai, tapi Kasih akui, sangat indah." Kasih memperlihatkan foto rumah mewah, awalnya Erik membelinya hanya lahan kosong.


"Bagus sayang, rumah ini bernilai triliunan, tidak heran Erik seperti orang linglung." Ravi mengagumi rumah Erik yang belum pernah di kunjungi.


"Billa mengatakan ingin sekali bisa menikah di sana, dengan teman klasik, khusus keluarga inti."


"Amin, Erik pasti mengabulkannya. Aak tidak menyangka Erik hebat bisa membangun rumah untuk masa tuanya." Ravi tersenyum, merasa tenang.


"Rumah kak Erik khusus untuk rumah singgah lansia, dia tidak memilikinya untuk pribadi."


"Baik sekali hati Erik, tapi tidak heran sejak kecil Erik selalu berkorban, dia sangat-sangat baik."


"Kak Tian juga baik, kenapa Jet selalu di luar negeri, kak Tian mengirim orang pilihannya untuk pergi haji, gratis. Banyak orang yang merasakan bahagia bisa umroh, haji gratis, bahkan mendapatkan uang oleh-oleh. Kebanyakan yang pergi orang yang sudah tua, taat beribadah, selalu bersedekah. Subhanallah Kasih kagum sekali Ak, kalian semua orang baik."


Ravi tersenyum, tidak pernah tahu baiknya hati Tian. Setiap hari Tian gila bekerja, tapi masih memiliki waktu hanya untuk melihat orang yang membutuhkan.


"Semoga penerus kita berhati mulia semua, menjalankan amanah orang tua. Daddy selalu mengatakan, sedekah sedekah sedekah, sedikit saja sedekahkan harta." Ravi memeluk Kasih sambil berguling, pelukan Ravi erat, Kasih mencubit perut, barulah Ravi melepaskan.

__ADS_1


"Aak, Daddy inspirasi bagi Aak?" Kasih mengelus wajah Ravi.


"Bisa jadi, saat kecil, menyebutkan kata Daddy sangat menenangkan, seakan sosok Daddy perannya sangat dalam dalam hati, Daddy tidak ada cacatnya, laki-laki yang sangat baik, luar biasa bagi Aak, Vira, Mommy, teguran Daddy suatu hal yang memang harus kita hindari." Ravi sangat bangga menjadi putra seorang Rama.


"Ayah Daddy juga pasti luar biasa ya Ak?"


"Inspirasi Daddy Uncle Bima, Daddy sangat takut ada hari di mana Uncle berkhianat. Sampai menikah dengan Mommy, Daddy masih bergantung dengan Uncle, jadi peran Uncle bukan hanya sebagai guru, kakak tapi mengantikan kedua orang tua Daddy."


"Kasih tahu Uncle Bima sangat baik, dia pernah menolong Kasih saat kecil, senyuman Uncle menenangkan, ucapnya langsung menebus hati, jantung dan pikiran." Kasih tersenyum, Ravi menggagukan kepalanya.


"Daddy mulai mandiri, saat Uncle menikahi Mami Reva, sahabat Daddy."


"Jadi Mami sama Daddy bersahabat lama?" Kasih bersemangat mendengarkan cerita Ravi.


Ravi menceritakan asal persahabatan Daddy-nya, pertemuan semuanya sehingga terbentuk sebuah persahabatan. Kasih berkali-kali tersenyum mendengar cerita tri istri yang lucu, persahabatan yang luar biasa. Ada saatnya Kasih meneteskan air mata, sedih mendengar cerita Ravi.


Pernikahan memang indah, Ravi memiliki teman bercerita, berbagi, tertawa, menangis bersama. Kasih bisa menjadi pendengar yang baik.


"Ak, melihat perjuangan keluarga ini tidak heran memberikan bibit unggul, Wildan yang sangat hebat, Vira, Winda, Bella, Billa, Aak, kak Tian, Erik juga kak Windy."


"Iya Kasih tahu, kak Windy sangat baik. Dia juga wanita yang dermawan, suaminya kak Windy juga baik, tampan lagi."


"Sayang, tidak boleh memuji lelaki lain di depan suami." Ravi langsung mendadak bete.


"Aak, lagian cintanya sama kak Win, wanita paling cantik bagi seorang suami ya istrinya, tapi untuk seorang playboy, seksi dan montok paling cantik." Kasih bicara kuat sambil melotot.


"Sayang, suaminya kak Win dulunya seorang playboy. Seburuk-buruknya lelaki pasti memilih wanita baik sayang."


"Tidak adil, kenapa lelaki memandang wanita hanya yang baik, wanita malam juga ada berhati baik, hanya keadaan yang memaksa untuk salah jalan."


Ravi tersenyum, memeluk Kasih memejamkan matanya. Keduanya tidur siang bersama.


***


Erik masih lemas, berdiri di kapal menatap lautan yang luas. Memegang pancing berharap rezeki besar.

__ADS_1


"Kak Erik sedang memancing, matahari sudah tinggi kak, kenapa berjemur."


"Lagi berharap Bil, semoga saja mendapatkan ikan emas, lumayan sisik bisa dijual." Erik masih fokus memegang pancing.


Billa memejamkan matanya, menikmati angin laut, matahari terik. Erik duduk di samping Billa yang berpenampilan santai, dengan kacamata hitamnya.


"Kak Erik masih memikirkan soal mansion, harta bisa dicari kak, jadi belajar ikhlas."


Erik menghela nafasnya, meletakkan kepalanya di pundak Billa. Memejamkan matanya untuk tidur, Billa memberikan tabletnya, Erik langsung melihat potret Mansion.


"Wildan hanya bercanda kak, dia tidak menjual Mansion. Jangan pernah bertanya bagaimana cara Wildan melakukannya."


Erik tersenyum mengusap matanya yang sedang menangis terharu, Billa menghapus air mata Erik.


"Bil, aku sayang kamu."


"Billa juga, sayang kak Tian, kak Ravi semaunya."


"Aku mencintai kamu, aku tahu Bil, kamu wanita yang sangat sulit aku gapai. Kamu fokus kuliah, abaikan ucapan kak Erik, anggap saja hanya penyemangat." Erik mengaruk Kepalanya, dia keceplosan.


"Billa masuk duku kak Erik." Billa melangkah pergi.


Erik bersedih bukan hanya soal Mansion, tapi soal Billa juga yang mulai meragukan dirinya. Melihat Billa pergi Erik sadar status dirinya.


"Erik ayo semangat, kamu harus bahagia, karena mungkin ini ujian hidup. Disyukuri, dinikmati." Erik bergumam, menyemangati dirinya sendiri. Billa balik lagi mencium pipi Erik.


Bisma melihat putrinya, nafas Bisma menghela terdengar. Dia memang ingin bisa melihat anak-anaknya menikah, jika Erik Billa siap Bisma bersedia menerima keluarga besar Ammar.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2