SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
RAMA VIANA RAVI


__ADS_3

Rama masih membicarakan soal proyek dengan Bima yang akan segera memberikan peluang besar bagi para pemburu kerja, Bima sudah kembali bekerja dan fokus ke perusahaan juga bisnisnya, walaupun masih ada rasa khawatirnya pada Bisma yang satu bulan sekali berpindah negara dan bersama banyak wanita.


Suara teriakan dari luar membuat mereka berdua terhenti dan melihat kearah suara, Viana berlari sambil teriak memanggil hubby. Saat melihat Rama Viana langsung memeluk dan bergelayut manja membuat Rama mengaruk kepala, Bima hanya geleng-geleng. Sifat Viana yang sudah tua mirip seperti Reva.


"Hubby! mau cincin seperti Reva." Vi memanyunkan bibirnya manja.


"Cincin! ya sudah beli kalau kamu suka."


"Tapi mau yang mirip Reva, cincinnya bagus mata nya kuning."


Rama menoleh kearah Bima yang hanya diam memperhatikan mereka berdua, melihat tatapan Rama langsung Bima mengangguk kepalanya tanda mengerti tatapan mata Rama.


"Cincin pertunangan Viana, kamu mau bertunangan berjamaah bersama Reva."


Viana menatap kaget melihat Rama dan Bima bergantian, dia baru paham jika Reva sedang menunjukkan lamaran bukan mau pamer cincin.


"Mas Bram melamar Reva, kalian akan segera menikah."


Bima hanya menggagukan kepalanya, Viana berdiri kaget dan melangkah pergi sambil teriak memanggil Jum.


"Ram, gendang telinga kamu tidak pecahkan, setiap hari mendengarkan teriakan Viana yang tingkahnya kekanakan."


"Rama bahagia kak, mendengar teriakan Vi, nanti dia berkelahi dengan Ravi, hebohnya Ravi dengan ular membuat seisi rumah sibuk, kakak akan merasakannya setelah menikah dengan Reva. Akan melihat Windy dan Reva berdebat apalagi sama perempuan tidak bisa di bayangkan. Selamat menikmati kak Bima." Tawa Rama dan Bima terdengar.


"Jum! jumintean! hai Jum Lo sembunyi di mana?" Viana teriak-teriak membuat semua maid berkumpul membantunya mencari Jum di setiap sisi ruangan.


Jum memanyunkan wajahnya, melihat semua orang mencarinya di bawah kolong meja, dalam kemari, bahkan dalam toples, di balik panci semuanya di periksa. Dan bodohnya semuanya mengikuti Viana yang membuka semua sambil teriak.


"Nona! masa iya Jum bisa sembunyi di bawah pas bunga, lucu sekali." Mendengar salah satu maid yang masih muda dan polos Viana langsung duduk dilantai memegang perutnya sambil berbaring tertawa terpingkal-pingkal. Sungguh sebuah kebahagiaan bisa melihat kekonyolan semua orang yang sangat polos.


"Kalian semua, mau saja dikerjain oleh nona, kalian pikir Jun kecoa yang sembunyikan di barang perabotan."


"Nona!" semuanya teriak kesal melihat Vi yang masih tertawa.


Viana berdiri melihat wajah Jum dan sesekali masih memegang perutnya yang terasa keram kebanyakan tertawa.


"Jum, cincin Reva!" Viana masih mengatur nafas dia lelah mengerjai asisten rumah tangga.

__ADS_1


"Tuan Rama akan membelikan kita kak Vi," senyum Jum terlihat bahagia.


"Mimpi!" teriak Vi menyemburkan liur di mulutnya membuat Jum teriak dan berlari ke toilet tapi langsung diikuti Viana


"Jorok, mulut Jak Vi hujan, dasar bocor." Tawa Vi terdengar mendengar kekesalan Jum.


"Reva di lamar Jum, sebentar lagi akan menikah,"


"Serius kak Vi, jadi bukan pamer cincin. Kita salah tanggap pantas saja Reva sangat bahagia, telpon saja kak pasti dia sekarang lagi kesal."


Viana dan Jum pindah ke kursi sofa menghubungi Reva, terlihat wajah Reva yang cemberut di dalam layar.


"Jum tanyain mana Reva? mengapa yang menggakat jelek sekali."


"Mbak Reva mana?"


Reva menggulung handphonenya dengan selimut dan menutupnya dengan bantal, sambil di pukuli.


Viana dan Jum yang melihat gambar gelap dan mendengarkan suara hanya tertawa, pasti Reva semakin marah.


***


"Silahkan duduk kak sakti," Rama pindah duduk ke sofa dan berhadapan dengan Sakti.


"Komplotan berhasil di tangkap, semua barang bukti juga berhasil diamankan. Tidak ada yang lolos mereka akan mendapatkan hukuman atas perbuatan mereka. Tapi ada satu hal berita buruk yang mau aku sampaikan."


Rama hanya mendengarkan semua penjelasan soal penangkapan Abi dan para mafia, Rama ingin menghapus jejak Viana agar tidak terlibat lagi dengan menghilangkan mereka semua. Tapi ada lagi masalah yang membuat Rama khawatir.


"Ririn melarikan diri saat kembali dari persidangan, dia di vonis 20tahun, dan melakukan aksi bunuh diri, saat pelarian ke rumah sakit dia lolos dan masih dalam pencarian."


Rama memukul meja karena kesal, dan langsung menghubungi timnya mengawasi keluarga lebih ketat lagi, terutama Ravi dan Viana.


Rama menghela nafasnya, memandangi Sakti, Rama ingin membahas soal Angel tapi waktu tidak tepat karena kebebasan Ririn yang psikopat.


"Kak secepat bertindak, Rama tidak ingin ada yang terluka kembali."


Sakti menggagukan kepalanya dan melangkah pergi.

__ADS_1


***


Ririn melangkah masuk ke dalam bangunan tua, dia berbaring di tempat tidur yang sudah rusak. Matanya terpejam sambil menggenggam kuat tangannya menyimpan dendam yang teramat besar. Suara kaki yang melangkah masuk membuat Ririn membuka mata dan memeluk erat pria yang datang. Mereka melepaskan rindu dan bercumbu.


Ririn mengetahui jika Abi berhasil di tangkap, dan komplotan mafia lenyap, diantara keringat yang mengalir membasahi tubuhnya Ririn mengigat wajah Viana yang tersenyum bahagia.


"Viana tunggu pembalasanku, tawamu akan segera lenyap."


"Sabarlah sayang, kamu harus bersembunyi terlebih dahulu, biarkan mereka bahagia setelah itu mereka akan menangis"


Tawa menggelegar mengikuti suara meracaw Ririn yang menikmati permainan mereka.


"Hanya untuk memiliki Rama, aku rela menjual diri kepada pria tua yang menjijikan, dan pada akhirnya tidak berguna. Abi menjadi benalu." Batin Ririn penuh amarah.


Rama melangkah pulang ke rumah melihat Viana yang tertawa dan berkelahi dengan Ravi yang marah lagi karena ular menghilang.


Melihat Rama datang Ravi langsung berlari kencang memeluknya, Rama langsung menggakat tubuh Ravi tinggi dan menciumnya.


"Daddy ular menghilang lagi!" wajah sedih Ravi terlihat, Rama menciumi wajah mengemaskan Ravi.


"Ravi terus yang di cium, lupa sama mommy,"


Rama tersenyum mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajah Viana membuat Ravi tertawa, kebahagiaan Rama saat melihat anak dan istrinya tertawa bahagia.


"Vi lebih hati-hati dalam waktu dekat mungkin Ririn tidak bergerak tapi pasti akan ada hari dia datang."


"Iya hubby! Vi tidak takut ada hubby yang akan melindungi kami, hubby tidak akan membiarkan kami terluka."


Rama memeluk erat keluarga kecilnya yang setiap hari membuatnya terus jatuh cinta, lagi lagi dan lagi.


"I love you mommy, I love you Ravi."


"I love you daddy," jawab Viana dan Ravi bersamaan.


Jum meneteskan air matanya melihat kebahagiaan Viana, Jum ingat betul setiap Rama melangkahkan kakinya pulang matanya langsung mencari sekeliling berharap Viana menyambutnya. Foto pernikahan yang menjadi tempat berlabuhnya.


"Jum! terimakasih ya nak, kamu dulu selalu mengingatkan Oma tentang Viana, dan terus memberikan harapan jika dia pasti kembali, dan sekarang saatnya kamu memulai kebahagiaan kamu."

__ADS_1


Jum membalas Oma dengan tersenyum, teringat wajah Bisma yang tidak pernah kembali bahkan menghubunginya.


__ADS_2