SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MEMPERTAHANKAN MILIKKU


__ADS_3

Tangan Tian memegang sebuah foto perempuan, Tian memperhatikan foto, melihat wajah seorang wanita cantik ternyata adik kandungnya.


"Rik boleh tidak aku yang menemuinya malam ini?" Tian menyimpan foto.


"Boleh kak, kita akan segera mengubah rencana." Erik tersenyum menepuk pundak Tian.


Malam harinya Erik memilih tetap bersama Billa, Wildan yang mengurus beberapa orang yang ingin mencelakai Billa. Sedangkan Tian yang akan pergi ke klub malam.


Erik menggenggam tangan Billa, masuk ke dalam mobil untuk melihat beberapa mas kawin. Erik terlihat santai seperti tidak terjadi apapun.


"Kak ini bagus ya?" Billa mengambil sebuah cincin.


"Buat siapa?" Erik tersenyum, Billa langsung tersenyum.


"Untuk Billa kak, memangnya ingin buat siapa?" Billa menatap Erik sambil tersenyum manja.


"Kebiasaan kamu, jika melihat sesuatu bilangnya pasti bagus untuk Bunda, Mama, Winda bukan untuk diri kamu sendiri." Erik mengambil cincin, memasangkannya ke jari Billa.


"Cantik sekali kakak," puji penjaga.


"Calon istri saya memang yang paling cantik, bukan hanya cantik, hatinya baik sekali." Erik menatap mata Billa.


Billa tersenyum malu-malu, Erik memilih cincin sesuai yang Billa inginkan. Billa langsung lapar, menolak makan di Restoran, ingin makan pinggiran jalan. Erik langsung menyetujui keinginan Billa, pergi ke pinggiran untuk makan bakso.


Tempat makan cukup ramai, banyak para anak muda yang makan bersama teman, sahabat, bahkan kekasih mereka.


Erik tidak berhenti menggenggam tangan Billa, mencium berkali-kali. seseorang menatap Erik dengan tatapan aneh, dia langsung melangkah mendekati Erik, memeluknya dari belakang.


"Erik, lama kita tidak bertemu." Santi memeluk Erik dari belakang, langsung cepat ditepis Erik.


"Gila kamu ya, jika ingin melihat aku kamu harus sakit dulu, atau sekarat." Erik menatap tajam.


"Kenapa harus di rumah sakit, seharusnya hotel Erik. Memangnya kamu melakukan apa di rumah sakit.


"OB!" Erik teriak kuat, tawa Santi terdengar mengejek Erik yang percaya jika Erik OB.


"Sabar Billa, resiko mencintai playboy, juga pria tampan, sabar ini ujian." Billa menenangkan dirinya sendiri, sekarang Billa tahu satu hal, Erik tidak pernah mengatakan jika dirinya seorang Dokter.

__ADS_1


Santi pergi begitu saja, Erik langsung meminta maaf. Billa hanya tersenyum terlihat biasa saja. Billa melihat es kelapa yang cukup jauh, tapi ramai pembeli, Billa langsung ingin minum Es kelapa, meminta tolong Erik yang memesannya.


Cepat Erik berdiri, meminta Billa menunggu. Erik tidak curiga sedikitpun jika Billa ingin menyakiti seseorang, melihat Erik sudah jauh dan tidak mungkin bisa melihat keramaian di dekatnya.


Billa melangkah mendekati Santi, melihat minuman bekas di sebuah meja langsung mengambilnya. Berdiri di meja makan beberapa wanita yang menatap Billa tajam.


Gelas yang Billa bawa langsung tumpah di kepala Santi, Santi langsung berdiri ingin membalas, Billa sudah memutar tangan Santi.


"Wanita tidak tahu malu, aku ada dihadapannya beraninya kamu memeluk dari belakang. Aku bukan hanya bisa menyiram air, bahkan aku bisa mematahkan tangan kamu, jangan pernah kamu perlihatkan lagi wajah kamu jika tidak ingin cacat." Billa langsung mendorong Santi sampai terjatuh ke bawah.


"Hari ini akan aku maafkan, jika sekali lagi kamu mengulanginya aku pastikan wajah kamu yang memerah seperti kepiting rebus akan berubah menjadi hancur." Billa langsung menendang kursi, Santi teriak takut, Billa menatap yang lainnya hanya diam, langsung melangkah pergi kembali ke tempat duduknya.


Billa menghela nafas, selama hidupnya baru kali ini memperjuangkan sesuatu, selama ini hanya mengikuti semua keinginan Bella, tanpa ada keinginan lain.


Bundanya tidak memaksa Billa untuk menerima apapun, tapi Bunda Jum juga berpesan agar Billa memperjuangkan haknya, memiliki satu saja keinginan yang tidak ingin dibagi.


"Aduh Billa malu, semoga saja kak Erik tidak tahu. Billa mirip Bunda bukan Ayah." Billa nyegir tidak ingin terlihat kejam seperti kakaknya yang lebih mengidolakan Ayahnya.


Wildan yang mengawasi Billa dari kejauhan tersenyum, memang tidak bisa dipungkiri Bil memang putranya Bisma Bramasta.


"Billa tidak selembut yang kita duga, Kak Erik tidak akan bisa macam-macam, dia mempunyai istri Hulk." Wildan mengusap kepalanya.


"Seriusan, aku pikir hanya Kasih yang mirip Hulk, ternyata ada lagi." Ravi tersenyum melihat rekaman Billa, Ravi lega akhirnya Billa mempunyai keinginan untuk mempertahankan hak miliknya.


Erik kembali melihat Billa yang sudah tersenyum, meminum es kepala yang sangat manis, meminta Erik juga mencobanya.


Ponsel Erik terlihat ada pesan masuk, pesan dari Ravi yang mengejek Erik mengatakan keromantisan pacaran tidak ada apa-apa, dibandingkan dengan keromantisan suami istri di atas ranjang. Erik langsung menghapus pesan Ravi.


"Sialan Wildan, dia mengawasi aku bersama Ravi." Gumam Erik pelan, sambil mengaduk minumnya.


Billa menunjukkan beberapa dekorasi cantik untuk pernikahan, sudah disesuaikan dengan Mansion, Erik setuju apapun yang Billa katakan, bagi Erik yang paling penting sah.


"Kak lihat ini bukan wajah Billa, memangnya wajah Bella banyak bunga?" Billa cemberut menatap Erik.


"Karena lebih menyenangkan daripada melihat handphone, Bil bagi kak Erik cukup memiliki kamu semuanya terasa indah." Erik menggenggam tangan Billa, menggigitnya pelan.


"Maaf ya kak, tadi Billa dari ngupil belum sempat cuci tangan." Billa tersenyum mengejek Erik.

__ADS_1


"Astaghfirullah Al azim, pantas rasanya asin." Erik menatap Billa yang masih saja tertawa.


"Billa hanya bercanda kak." Billa menangkup wajah Erik.


Setelah cukup lama Erik bersantai, Erik langsung meminta pulang, Billa langsung menggagukan kepalanya. Erik membayar makanan mereka, membuka pintu mobil langsung menuju kediaman. Sepanjang perjalanan Erik menggenggam tangan Billa sampai tiba di rumah Billa.


"Kak Erik langsung pulang?" Billa menatap Erik sambil membuka sabuk pengaman.


"Belum, masih ingin bertemu Ravi sayang."


"Kak Ravi mungkin sudah tidur, dia sering bergadang menjaga dua malaikatnya." Billa menatap mata Erik, Erik langsung memberikan ponselnya, baru saja mengirimkan pesan dengan Ravi.


"Baiklah Billa masuk kak, sampai bertemu besok." Billa langsung ingin membuka pintu, Erik menahan tangan Billa, mencium keningnya.


"Selamat malam calon istriku, kamu istirahat yang cukup." Erik menyentuh hidung Billa.


Billa mencium bibir Erik sekilas, Bisma menepuk jidat di pinggir pagar. putrinya yang nyosor duluan.


"Jangan nakal." Billa langsung keluar, memeluk Ayahnya yang sudah menunggu kepulangan Billa, Erik menyapa sebentar langsung pergi.


Erik masuk ke dalam ruangan yang sudah ada Ravi dan Wildan, tawa Ravi terdengar melihat Tian yang baru saja memasuki klub malam, Tian yang paling anti dengan bau minuman memabukkan, akhirnya harus masuk dan bermain di sana.


"Bagaimana keadaan Tian? kamu gila Rav tertawa tidak jelas." Erik langsung duduk di samping Wildan.


"Sudah lama tidak tertawa, wajah Tian lucu sekali. Ngomong-ngomong kita sudah lama tidak masuk ke sana?"


"Gila, sudah punya anak saja belum taubat." Erik menatap sinis Ravi.


"Tutup semua gerbang, target kita sudah masuk. Jangan sampai kehilangan jejak mereka. Paham!" Wildan memberikan perintah.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2