
Pintu terbuka, Tian sudah berdiri di depan lift. Matanya menatap pintu yang terbuka, Bella keluar menggunakan gaun yang dia belikan.
Senyuman Tian terlihat mengagumi kecantikan Bella yang sangat luar biasa, Bella melangkah mendekati Tian yang mengulurkan tangannya.
"Kamu cantik sekali Bel, jangan pernah berpenampilan seperti ini di depan lelaki lain." Tian merangkul pundak Bella menekan lift langsung masuk.
Suara langkah kaki keduanya terdengar, banyak orang menundukkan kepalanya saat menatap putra putri Bramasta ada di hotel.
Senyuman Tian terlihat, membukakan Bella pintu mobil baru dirinya juga masuk melajukan mobilnya.
"Kita ingin pergi ke mana kak?"
"Dinner di pinggir danau." Tian menggenggam tangan Bella menyatukan jari jemari mereka.
Kebahagiaan terbesar bagi Tian bisa bersama Bella lagi, kali ini Tian tidak akan pernah melepaskan wanitanya lagi.
Bella memeluk lengan Tian, menatap wajah lelaki tampan yang sejak kecil selalu dia kagumi.
"Kak Tian sekarang semakin kurus." Bella menyentuh perut Tian, menyentuh dadanya.
"Kurus." Tian tersenyum tidak menyadarinya perubahan tubuhnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang mulai ramai.
Bella terpesona melihat danau yang sangat indah, mobil mereka berada di atas jembatan bisa melihat lampu di atas danau.
"Indahnya, Bella belum pernah pergi ke sini." Bella membuka kaca mobil melihat ke bawah danau.
"Danau ini sering dikunjungi oleh pasangan untuk mengutarakan rasa cinta, mereka bisa memesan makanan di bawah sambil menikmati keindahan danau di malam hari.
"Di sini juga bisa melihat bintang." Bella tersenyum menatap Tian.
"Biasanya juga banyak anak muda-mudi yang berkemah jika ada acara kampus, atau komunitas."
Bella langsung menatap Tian yang menjalankan mobilnya kembali, Bella sangat penasaran dari mana Tian tahu segalanya soal tempat seindah ini.
Tian tersenyum, tempat indah yang Bella puji milik Tian, kedatangan Tian ke negara yang jauh hanya untuk memantau perkembangan pembangunan.
Sekarang semuanya sudah sembilan puluh persen mendekati kata sempurna, bukan hanya membangun tempat yang indah, tapi memberikan lapak pekerjaan untuk banyak orang.
"Kenapa di kepala kak Tian hanya ada pekerjaan?"
"Entahlah, waktu aku lebih banyak untuk bekerja, karena dengan bekerja waktu cepat berlalu." Tian mencium tangan Bella.
Mobil berhenti, Tian langsung keluar membukakan pintu untuk Bella. Menggenggam tangan Bella untuk melangkah ke tempat duduk yang sudah Tian siapakan.
__ADS_1
Bella tersenyum bahagia melihat meja cantik yang sudah berisi makanan kesukaannya, ada lilin, mawar merah, cake kesukaan Bel.
"Minuman kesukaan Bella." Tian menyerahkan minuman ke hadapan Bella.
"Kak Tian ini lucu sekali, kita dinner di tempat terbuka."
"Aku sudah lama menantikan hari kita bisa berduaan, bisa bercanda juga saling mengatakan cinta." Tian menyerahkan cake yang langsung Bella coba.
"Sumpah ini enak sekali, tapi kenapa tidak ada cincin di dalam kue nya?" Bella melotot.
"Memang tidak ada, karena cincinnya ada di sini." Tian meminta seseorang mengantarkan kotak kecil untuk Bella.
Senyuman Bella terlihat, menerima kotak yang sudah dia tunggu. Tian hanya bisa tersenyum karena mencintai wanita yang tidak mengerti kata romantis, seharusnya mereka makam dan minum dulu, baru Tian akan menyerahkan cincin.
Bella langsung bersemangat membuka kotak, membuang bungkusan langsung melihat cincin cantik yang sangat dia sukai.
"Bella suka kak, masukan ke jari manis Bella, jika muat Bella terima, tapi jika tidak tetap Bella terima." Suara Bella tertawa terdengar, Tian juga tertawa langsung memasangkan cincin.
Cincin pas dijari manis Bella, sungguh kekaguman yang yang sangat luar biasa karena Tian mengetahui semua tentang Bella.
"Kak Tian tahu tidak ukuran pakaian dalam Bella?"
Tian mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan pertanyaan Bella. Senyuman Bella terlihat mempertanyakan mungkin Tian tahu ukuran pakaian dalamnya.
"Kak Tian tahu baju, sepatu, makanan, tempat, ukuran jari Bella, mungkin tidak kak Tian juga tahu ...."
Bella tersenyum melihat Tian yang canggung membahas soal hal dewasa, memang hanya Ravi dan Erik saja yang paling tahu soal wanita sangat berbeda dengan Tian dan Wildan.
Tian meminta Bella makan, tidak membahas soal pakaian dalam. Bella mengunyah makanan yang sudah Tian siapkan.
"Terima kasih kak Tian, Bella bahagia malam ini."
"Iya, terima kasih juga sudah datang. Besok kemungkinan kita pulang, masih menunggu kabar dari Yusuf."
"Yusuf amin?" Bella kaget.
"Calon suami Winda, kamu sudah tahu mereka dijodohkan oleh Papi Bima."
"Iya Bella tahu, Winda juga sudah tahu. Kak Tian ada urusan apa dengan Yusuf."
Tian menceritakan jika membantu Yusuf memperkenalkan museum Flora untuk umum, Tian juga menanamkan saham.
"Kak Tian tahu, kami ada di sana?" Bella kaget.
"Iya, kak Tian juga sempat menemui Wildan."
__ADS_1
Bella memonyongkan bibirnya karena Tian tidak menemuinya, meskipun pasti Bella menolak untuk bertemu.
"Kak Tian mulai sekarang kurangi kerjanya." Bella menatap kesal.
"Iya setelah kita menikah, pekerjaan akan aku kurangi jika bersangkutan soal kamu." Tian tersenyum.
Bella menunduk malu-malu, melihat ke arah danau yang membuat malamnya sangat bahagia.
Sampai larut malam, Tian dan Bella baru kembali ke hotel. Bella juga tidur di dalam mobil membuat Tian harus menggendongnya untuk masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di kamar Tian membuka high heels, meletakan tas Bella.
"Bella, maaf kak Tian bersihkan make up kamu, nanti kamu mengamuk karena tumbuh jerawat." Tian merapikan rambut Bella.
Tas makeup Bella dibuka, Tian mengeluarkan seluruh isinya. Tian kebingungan yang mana yang lebih dulu harus dia gunakan.
"Sejak kapan benda-benda ini banyak jenisnya." Tian menyentuh kapas membaca satu persatu merek make up Bella.
"Ini dulu kak Tian." Bella mengambil pembersih wajahnya.
Tian tersenyum langsung mengambilnya, meletakan di kapas membersihkan wajah Bella.
Senyuman Bella terlihat, mengingat saat mereka kecil. Tian selalu membersihkan bekas mulut Bella yang celemotan jika makan.
"Terus apa lagi?"
"Ini, terus ini, lalu ini yang ini terakhir."
"Banyak ya Bel, kak Tian binggung."
Bella tertawa, langsung duduk membersikan wajah Tian, menjahilinya menggunakan masker wajah agar terlihat lebih glowing.
"Apa wanita harus melakukan ini? membuang waktu saja."
"Ini namanya surga kecantikan wanita, Kak Tian tidak tahu betapa menyenangkannya menggunakan masker bersamaan." Bella memasang masker di wajahnya.
Bella melarang Tian berbicara, tidak mengizinkan untuk mengatakan apapun, karena bisa merusak makeup yang sedang mereka gunakan.
Selesai maskeran, Tian meminta Bella tidur, karena Tian ingin pindah kamar.
"Kak di sini saja, lagian kita berdua tidak mungkin melakukannya. Bella sangat mempercayai kak Tian." Bella langsung ke kamar mandi, mencuci kaki, menggosok giginya.
Tian tersenyum mengiyakan keinginan Bella.
***
__ADS_1
Maaf jika banyak typo, karena memang belum direvisi. Update hari ini revisi besok.
BESOK EPS VIRA WILDAN LAGI