SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 UANG JAJAN


__ADS_3

Pagi-pagi Lin sudah ada di dapur, dia sangat rajin membantu para maid yang menyiapkan sarapan pagi juga bersih-bersih rumah.


Vira biasanya bangun siang, begitupun dengan Wildan yang pergi kerja siang setelah menemani putra dan istrinya.


Suara langkah kaki terdengar, Wildan turun masih menggunakan baju santai, Lin tersenyum ingin mambantu Wildan membuatkan susu Virdan.


"Siapa nama kamu?"


"Erlin tuan."


"Erlin, mungkin kamu akan tersinggung dengan ucapan aku, kehadiran kamu atas keinginan Vira karena dia bahagia bisa menolong kamu, aku anggap mungkin calon baby suka menolong orang. Jangan kamu salahgunakan kebaikan Vira, sebenarnya dia orang yang tidak bisa dekat dengan sembarang orang kecuali keluarga ini." Wildan menyelesaikan membuat susu putranya.


"Iya kak Wil, kak Vira sudah menceritakannya. Keluarga ini sulit menerima orang baru kecuali Bunda Jum, tapi dia sedang ada di luar negeri." Lin tersenyum menatap wajah Wildan.


"Berarti kamu juga tahu aku risih jika ada yang mendekati aku, bisa kamu anggap tidak mengenal aku. Jangan sentuh apapun yang bersangkutan dengan Wildan, kamu tidak harus melayani dan menyiapkan apapun. Aku ada di sini, tapi anggap saja kamu tidak mengenal aku. Vira pasti sudah menceritakan jika suaminya tidak suka basa-basi langsung intinya. Ingatlah, jika kamu dan aku tidak saling mengenal." Wildan langsung melangkah pergi.


"Satu hal lagi, jangan berpikir aku membenci hadirnya kamu. Tidak sama sekali." Langkah kaki Wildan pergi meninggalkan ruangan dapur, langsung menuju kamarnya.


Erlin hanya tersenyum, Wildan sangat dingin dan keras sekali tidak heran jika dia menjadi orang sukses yang sulit disentuh.


"Aku mengagumi keluarga ini, pasti tuan Rama dan Bima sangat luar biasa. Lin ingin sekali melihat secara langsung." Senyuman Erlin terlihat, langsung membawa cemilan ke rumah Winda.


Tanpa ada rasa takut dan ragu Lin langsung menyapa maid yang ada di rumah mewah Bima, Lin juga melihat foto Windy dan suaminya yang ternyata bule, wajahnya sangat mirip dengan Wira.


"Wow, Windy cantik sekali suaminya juga sangat tampan." Lin bertepuk tangan.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" Wira mengerutkan keningnya, emosinya masih belum stabil karena marah kepada kedua orangtuanya.


"Hai Wira, kak Lin membawakan kamu bekal untuk di sekolah sebagai permintaan maaf membuat kamu jatuh." Lin menyerahkan sesuatu, Wira langsung membuangnya.


"Wira, tidak boleh seperti itu sayang. Jika kamu dengan sesuatu selesai secara baik-baik jangan kamu luapkan amarah kepada orang lain. Ingat pesan Daddy kamu, laki-laki itu pemimpin tidak baik menyakiti perasaan wanita maupun dia lebih muda atau tua dari kamu." Ar mengambilnya makanan yang Wira buang, langsung merapikan kembali.


Tangisan Wira langsung terdengar, menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Lin langsung secara spontan memeluk Wira, mengusap punggungnya.


"Daddy, Mommy Wira kangen." Wira menghentikan tangisannya, mendengar Erlin menangis lebih kencang dari Wira.


"Ibu, Lin kangen ibu." Tangisan Erlin membuat Ar kebingungan.

__ADS_1


Winda langsung berlari melihat Wira dan Erlin menangis memanggil ibu, Daddy mommy.


"Ada apa Abi?"


"Entahlah, mereka menangis berdua." Ar langsung melangkah pergi untuk mengambil putranya.


"Kalian berdua jika ingin menangis di luar, nanti Arum mendengar pasti langsung ikutan nangis." Winda kesal, pagi-pagi dirinya sudah sibuk karena ulah putrinya.


Lin mengadang tangan Wira keluar, masih lanjut menangis di depan rumah karena merindukan ibunya.


Dari lantai atas, Vira dan Wildan terheran-heran melihat di depan rumah Winda Lin dan Wira menangis, keduanya seperti acara paduan suara.


"Apa yang kalian lakukan? ini masih pagi." Bella berteriak dari lantai dua rumah Ayahnya, menggelengkan kepalanya melihat Lin dan Wira, Bulan juga mengintip melihat suara aneh.


"Sayang, kenapa kamu membawa satu lagi anak kecil ke rumah kita?" Wildan memijit pelipisnya, Vira hanya tertawa memeluk suaminya agar tidak kesal.


Vira juga baru tahu jika Lin sangat cengeng. Dia bukan menghentikan tangisan Wira, tapi ikut-ikutan menangis.


Di kamarnya Wildan masih sengsara karena sama seperti kehamilan sebelumnya Wildan akan lemes dan pusing sedangkan Vira asik tidur.


"Sayang, kamu lapar tidak?"


"Ya Allah Vira isi otak kamu, ini sudah lebih dua bulan aku mirip vampir tidak bisa bertemu matahari, tapi pikiran kamu semakin liar." Wildan tersenyum melihat istrinya tertawa.


Sebelum Virdan bangun, Vira dan Wildan masih bercerita bahkan mengobrol dengan baby agar mereka semakin dekat.


"Vir, kamu takut tidak?"


"Tidak, Vira merasa hamil sama seperti hamil Virdan, hanya saja sekarang Vira lebih anggun, rajin memoles wajah, perasaan Vira juga mudah luluh. Semoga mereka berdua mirip Ayang, sangat tenang." Vira mengusap perutnya yang semakin membesar, karena bayi kembar.


"Aku kurang yakin, Virdan sudah pendiam jika kita mempunyai dua putri yang pendiam kasihan Arum tidak punya teman bertengkar." Wildan tidak perduli anaknya itu pendiam atau pengacau paling penting istri dan anak-anaknya sehat.


"Ayo kita keluar melihat Wira dan Lin yang membuat masalah pagi-pagi."


"Kamu saja, aku ingin mandi dan bersiap untuk ke kantor. Turun lewat lift, jangan melewati tangga harus hati-hati." Wildan memperingati istrinya yang mengangguk-anggukkan kepalanya.


Vira berjalan ke depan rumah melihat Wira yang mengambil bekal dari Lin, tersenyum melihat si tampan sudah bisa tertawa.

__ADS_1


"Kak Winda boleh aku mengantar Wira sekolah?"


"Tanyakan pada Vira, Wira juga punya pengawal."


"Boleh, sekalian jemput Asih sama Raka." Vira tersenyum melambaikan tangannya.


Winda memberikan uang jajan untuk Wira, mengingatkan untuk tidak membeli makanan sembarang.


Tangan Lin juga terulur meminta bagiannya, Winda dan Vira kebingungan.


"Ada apa Lin?"


"Lin tidak ada uang jajan, nanti siapa tahu kepengen beli makan." Lin tersenyum menerima uang dari Winda, langsung pamit mengantar Wira sekolah.


"Kenapa aku merasa memberikan uang jajan kepada anak kecil? berapa usia Lin?" Winda menatap Vira yang juga binggung.


"Dia sudah hampir tujuh belas tahun, sekolah juga beasiswa anak berbakat, tapi kenapa tingkahnya mirip anak usia sepuluh tahun?"


"Apa dia tidak pernah memiliki keluarga selain ibunya sehingga sangat bahagia ada di sini?" Winda langsung meminta Vira masuk untuk sarapan, karena ada makanan kesukaan Vira.


Di depan rumah Ravi, Kasih mengerutkan keningnya melihat Lin juga meminta uang jajan untuk dirinya dan Wira.


"Kamu ingin uang jajan juga?"


"Iya,"


"Ini cukup, dan ini untuk Wira. Ingat Wira jangan jajan sembarang." Kasih meminta Raka dan Asih masuk mobil untuk ke TK, bersama Wira yang sekolah berdekatan.


"Asih tidak mau uang jajan segini, kenapa Asih warna coklat, tapi kak Lin warna biru? Mommy tidak adil?"


"Uang jajan diukur dari ukuran badan Asih." Ravi langsung tertawa, memeluk istrinya.


"Lin minta yang coklat saja, ini dikembalikan. Terima kasih kak Kasih, sebenarnya Lin tidak pernah mendapatkan uang jajan, rasanya sangat menyenangkan juga bersemangat untuk sekolah jika ada uang setiap pergi." Lin langsung masuk mobil.


Ravi dan Kasih tersenyum, melambaikan tangannya melihat mobil melaju pergi.


"Sedih sekali hidupnya Lin, tidak heran Vira menyayangi dia. Bunda Jum juga pasti langsung menyukai dia." Kasih melangkah masuk bersama Ravi.

__ADS_1


***


__ADS_2