SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PINDAH RUMAH


__ADS_3

Setelah mengantar kepergian Winda ke luar negeri semuanya kembali ke aktivitas masing-masing. (Penasaran dengan cerita keberangkatan AR DAN WINDA baca di MENGEJAR CINTA OM DUREN S3)


Mommy Daddy, Mami Papi, Ayah Bunda kembali ke rumah sakit. Vira dan Wildan langsung pulang, karena mereka akan merapikan tempat tinggal baru mereka.


Rumah mewah bernuansa modern, tidak terlalu besar karena memang rumah khusus untuk keluarga.


Mobil Wildan masuk perumahan, sedangkan di depan mereka ada rumah Ravi Kasih, di sampingannya juga ada rumah Erik Billa yang terlihat sepi.


Vira langsung turun bersama Wildan melangkah masuk ke dalam, Vira terkejut melihat isi rumah yang sudah penuh, tapi tidak ada yang di susun.


"Sebaiknya mencari orang yang bisa membantu merapikan." Vira langsung duduk di atas meja yang masih dibungkus.


"Kita ambil bagian yang diperlukan saja." Wildan langsung melangkah masuk, Vira hanya diam saja menonton Wildan yang mengecek semua ruangan.


Keduanya masuk kamar tidur, Wildan meminta Vira mengambil bantal guling, selimut juga seprai untuk ranjang.


Vira langsung menurut membantu Wildan merapikan tempat tidur mereka, ranjang yang sangat besar membuat keduanya kesulitan.


"Capek." Vira langsung lompat ke atas tempat tidur, tidak ingin membantu Wildan lagi.


Vira mengambil ponselnya melihat foto dirinya dan ke-tiga sahabatnya yang selalu bersama, tapi sekarang semuanya sudah berpisah.


Bella sudah fokus dengan kehamilannya, Billa sibuk bekerja dan mengurus anak kembarnya sedangkan Winda baru saja meninggalkan negara kelahiran mereka.


Air mata Vira perlahan menetes, akhirnya terpejam dan tidur setelah lelah menangis. Wildan yang melihat hanya membiarkan saja.


Di dapur Wildan sibuk sendiri, meletakkan alat memasak yang dibelikan oleh keluarga untuk hadiah pernikahan. Wildan menata semuanya dengan rapi dan terlihat cantik.


Selesai dapur langsung ke ruang tamu, menarik kursi untuk menyusunnya meletakan di ruang tamu.


Penjaga rumah Wildan juga langsung membantu Wildan mengangkat barang-barang besar, memasang foto pernikahan mereka.


Wildan tidak begitu menyukai rumah yang besar dan banyak barang, lebih suka rumah simpel hanya diisi dengan barang-barang penting lainnya.


"Terima kasih pak bantuannya." Wildan menyalami penjaga rumah sambil memberikan uang.


Pintu kamar terbuka kembali, Wildan yang lelah langsung mandi menyegarkan tubuhnya sambil berendam air dingin.


Vira masih tidur mengorok, tidak menghiraukan bunyi apapun yang dia dengar.


AC di dalam kamar Wildan buat lebih dingin lagi, karena dia kepanasan. Langsung membuka koper mencari bajunya.


"Vira, Vir di mana koper aku." Wildan langsung mendekati Vira memintanya untuk mencari koper.


Perlahan mata Vira terbuka, melihat seorang lelaki yang hanya menggunakan celana tanpa baju.

__ADS_1


Lama Vira menatap tubuh Wildan, dari dadanya sampai perut membuat Vira menelan ludah.


Wildan mengikuti arah mata Vira, suaranya berdehem membuat Vira tersenyum malu-malu langsung menutup wajahnya.


"Kamu mau apa Wil?"


"Menurut kamu?" Wildan langsung berdiri melihat Vira yang duduk sambil menguap.


"Wil, tunggu malam saja. Aku baru tahu tubuh kamu ada ototnya." Vira menyentuh dada Wildan menggunakan telunjuk.


"Kamu ingin aku tidak menggunakan baju sampai malam, terlalu nikmat mata kamu melihatnya Vira." Wildan langsung mencari koper kembali, dia binggung di mana letak kopernya.


Vira menutup mulutnya, dia pikir Wildan ingin malam pertama, tapi ternyata mencari baju.


"Cek di dalam lemari." Vira tersenyum langsung lompat membuka lemari.


Saat Wildan pergi Vira sudah menyusun baju, Wildan menepuk jidat melihat bajunya dan Vira digabung. Baju hari-hari juga baju kerja dijadikan satu.


Wildan mengeluarkan seluruh bajunya, membuat Vira memonyongkan bibirnya.


"Susun baju kerja di lemari itu, sedangkan baju ini di sebelahnya. Baju kerja kamu di mana?" Wildan membuka lemari, merapikan baju kerja Vira.


"Sama saja, masih dipakai juga."


Tangan Vira menggaruk-garuk kepalanya, Winda mengeluarkan pakaian dalam mereka menunjukkan kepada Wildan untuk meletakkan di mana.


"Vira, itu punya kamu jangan dipertunjukkan." Wildan menatap sinis, Vira hanya tersenyum.


Selesai merapikan pakaian mereka, Vira diam-diam langsung memeluk Wildan dari belakang, menyentuh perut rata suaminya.


"Vir, nanti kamu aku minta melayani teriak-teriak, tapi kamu menggoda." Wildan mengambil baju langsung memakainya.


"Memangnya kamu tergoda?"


"Tidak sama sekali." Wildan mengambil handphonenya, langsung duduk di pinggir ranjang.


Vira lompat di atas tempat tidur, menjadikan paha Wildan bantal. Senyuman Vira terlihat hubungan mereka terlihat normal dan saling menerima.


Wildan menatap tajam Vira, mata Vira juga melihat ke arah Wildan. Keduanya saling tatap dan terdiam.


Tangan Vira menyentuh wajah Wildan, mencubit pipinya yang mengemaskan.


"Ingin kita bawa ke mana pernikahan ini Vir?" Wildan menyentuh tangan Vira yang ada pipinya.


"Kamu terganggu tidak dengan kehadiran Vira?"

__ADS_1


Wildan menggelengkan kepalanya, Vira juga tidak terganggu, tapi mungkin karena hubungan mereka masih baru sehingga belum ada konflik dan perdebatan yang terjadi.


Vira langsung duduk, mendekati wajah Wildan mencium pipinya, Wildan langsung mengerutkan keningnya menyentuh wajahnya.


"Cium aku Wil." Vira menyentuh bibirnya.


"Tidak mau." Wildan langsung menggeser duduknya.


"Kenapa?"


"Aku tidak terbiasa." Wildan langsung memalingkan wajahnya.


Vira langsung menjahili Wildan, mendekatinya memaksa untuk berciuman. Suara teriak Wildan sangat besar seperti dirinya yang akan disakiti.


Suara tawa Vira tidak bisa ditahan, Vira sudah ada di atas Wildan memaksa untuk berciuman. Tangan Wildan menutup mulut Vira.


Pintu terbuka membuat Vira dan Wildan kaget, Wira langsung masuk bersama adik-adiknya. Wira berpikir Wildan dan Vira sedang bermain kuda-kudaan.


Tubuh Vira terjatuh, bibirnya menyentuh bibir Wildan. Wira naik di atas tubuh Vira membuat keduanya tidak bisa menghindar.


Jika Wildan membalik tubuh Vira, Wira akan terjatuh. Asih dan Ning juga langsung memeluk mereka.


Jangan sampai Wildan membuka mulutnya, mereka bukan hanya bersentuhan bibir, tapi lebih dari itu.


Vira tidak sengaja mengigit bibir bawah Wildan membuat mulut keduanya terbuka, lidah sampai bersentuhan.


Wildan langsung menarik Wira, menidurkannya di samping, baru Wildan membalik tubuh Vira agar ada di bawah.


"Ya aunty Vir kalah." Wira mengerutkan keningnya.


Tangan Vira menyentuh bibirnya yang basah, Wildan juga langsung salah tingkah menutup mulutnya langsung berlari keluar kamar.


"Kenapa bibirnya Uncle merah?" Asih langsung mengejar Wildan.


Vira langsung tengkurap karena merasakan malu, langsung mengambil ponselnya mengirimkan pesan kepada Winda jika bibirnya sudah tersentuh.


Perasaan Vira campur aduk, sungguh membuat pipinya memerah. Wildan yang belum tersentuh tidak mengerti apapun soal indahnya cinta.


Di luar Wildan menutup mulutnya, menatap Asih yang terlihat mengkhawatirkannya.


"Uncle bibirnya merah, kalau bibir Daddy merah katanya tidak sengaja digigit Mommy. Uncle digigit Aunty juga?" Tatapan Asih sedih ingin mencarikan obat.


Wildan terdiam, Ravi memang keterlaluan mengajari anak yang menyesatkan.


***

__ADS_1


__ADS_2