
Tatapan tajam Dewi terlihat, meminta Dewa membunuh mereka semua tanpa ada sisa.
Dewa langsung mundur menggerakkan kursi rodanya untuk pergi menjauh, Vira dan Winda saling pandang langsung melangkah maju.
Dewa mengarahkan dua senjata kepada Vira dan Winda yang tetap melangkah mendekat, senyuman Vira terlihat langsung berlari mengejar Dewi.
Winda juga berlari langsung menyerang Dewa, ratusan pengawal Dewa langsung keluar menyerang, bodyguard Vira juga maju menyerang.
Randu kebingungan harus membantu siapa, langsung berlari mengejar Vira. Pertarungan antara Winda dan Dewa sama kuatnya.
"Winda, kamu bisa terluka jika terus menyerang."
"Jika kamu mampu buatlah aku terluka, karena sebentar lagi kamu harus mengalahkan Bella. Di atas Wildan sudah menunggu." Winda langsung menyerang melayangkan pukulannya.
Dugaan Winda benar, Dewa tulus mencintai Bella. Mendengar Bella akan muncul Dewa berada dalam dilema.
Melihat Dewa yang diam saja, Winda langsung berlari meninggalkan Dewa untuk mengejar Vira.
Di ruangan yang sangat luas, Vira di kelilingi oleh puluhan pria berbadan besar. Di depannya ada Dewi bersama Butterfly yang sedang tertawa melihat Vira terjebak.
Randu kaget melihat ruangan aneh yang bisa melumpuhkan saraf otak, Vira juga tidak menyangka ternyata teknologi sangat sempurna di ruangan bawah tanah.
"Bagaimana Vira? sudah siap menjadi orang gila."
"Aku tidak takut."
"Jangan sakiti dia kak, kita sudahi dendam yang tidak ada habisnya. Kak Dewi hanya menjadi boneka wanita di belakang kak Dewi, kita mulai hidup baru bersama kak." Randu melangkah mendekat.
"Jangan mendekat Randu, selama ada iblis di belakangnya tidak akan ada yang berubah." Vira melangkah maju, puluhan orang langsung menyerang Vira.
Randu juga langsung menyerang, membantu Vira mesti resiko salah satu dari mereka akan terluka.
Winda juga melihat satu persatu orang berjatuhan, Winda melihat teknologi canggih yang bisa menyebabkan saraf rusak.
"Vira."
"Jangan bergabung Win, cukup aku dan Randu yang akan saling menjatuhkan." Vira tersenyum menatap sahabatnya yang menggelengkan kepalanya.
Winda hanya bisa menatap Vira menjatuhkan banyak orang, siapa yang jatuh dipastikan otaknya langsung mati, tidak ada kemungkinan hidup.
Dewa berlari dan terhenti menatap ruangan tidak seperti biasanya, Dewa langsung menatap Winda yang tidak bisa berbuat apapun.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
"Bodoh, kamu bodoh Dewa. Vira datang ingin menyelamatkan kamu, dia langsung berlari saat kamu hampir di bunuh. Aku menggunakan bawahan Wildan untuk membantu, jujur aku menyesal." Winda menatap tajam.
"Teknologi apa ini?"
"Teknologi canggih, biasanya digunakan untuk pengobatan bagian otak. Dewi mengalami gangguan jiwa, dia tidak mengenal kamu, Ayah ibu atau siapapun, hanya Fly yang dia kenal, karena Fly yang mengobatinya."
"Tidak mungkin, kak Dewi tidak mungkin gila."
"Dia akan mempercayai apapun yang Fly katakan, jika dia mengatakan Vira musuh, selamanya akan menjadi musuh." Winda menatap Dewa yang tidak percaya jika kakaknya dikendalikan oleh orang lain, bahkan hidup kakaknya seperti robot yang menggunakan mesin.
"Alat apa yang ada di kepala kak Dewi?"
"Sudah aku katakan, otaknya Dewi rusak. Dia sudah lama mati, jika tanpa bantuan alat dia tidak ada di dunia ini."
"Winda jangan bicara sembarang!" Dewa teriak kuat.
Winda menampar kuat Dewa, langsung menendangnya kuat, menginjak-injak tubuh Dewa karena terbawa emosi.
"Kalian ini tidak berguna, kamu bertanya setelah dijawab marah." Winda memukul Dewa sampai ada yang menarik tangannya.
***
Mata Bella tidak berkedip melihat di depannya ada area bermain anak-anak, sedangkan di bawahnya ada teknologi yang sangat canggih dikendalikan oleh satu orang.
"Hati-hati kak, kak Yusuf Wildan mohon jaga kak Bella."
"Iya, kamu juga hati-hati."
Wildan menatap Bella dan Yusuf melangkah pergi untuk membantu Vira dan Winda, pintu mobil terbuka, Wildan tersenyum melihat Tian ada di sampingnya.
"Sekitar dua puluh menit lagi polisi akan berdatangan."
"Terima kasih kak Tian."
"Mereka akan baik-baik saja? kamu yakin Wil."
"Tidak yakin, lima persen cendera, tiga puluh persen meninggal, sisanya selamat." Wildan memijit pelipisnya.
Bastian menepuk pundak Wildan, menatap wajah adiknya yang semakin dewasa.
"Kak Tian ingin tahu kenapa Wildan tidak turun?" Senyuman Wildan terlihat.
"Ada apa Wil?"
__ADS_1
"Mommy Viana tahu semua tindakan Vira, awalnya mommy diam karena Vira masih melakukan hanya untuk bersenang-senang, tapi kali ini beda Vira Winda dan Bella mulai ketagihan untuk kembali membangun kesalahan Mommy Vi dahulu." Wildan menghela nafasnya.
"Kak Tian tidak menyangka, sehebat dan sekejam apa seorang Mommy."
Wildan mengangkat kedua bahunya, saat diperjalanan untuk membantu Vira, Wildan mendapatkan email rahasia dari akun yang selama ini tidak bisa Wildan lacak.
Pesan yang membuat Wildan tidak percaya, jika akun tidak bernama milik Mommy Viana. Mommy tidak ingin Wildan membantu mereka, karena menjadi hukuman untuk ketiga wanita yang menganggap pertarungan sesuatu yang menyenangkan.
Viana ingin Vira, Winda dan Bella melihat betapa hancurnya melihat sahabatnya berada di dekat kematian, sehingga tidak diteruskan oleh anak cucu demi keamanan keluarga.
Viana juga ingin putrinya belajar untuk meninggalkan kehidupan yang mengendalikan orang lain, ratusan orang akan terluka hanya untuk merebut kekuasaan, padahal mereka bisa hidup normal dan bahagia menjalani hidup, bukan dengan mengorbankan nyawa.
Pertarungan dengan Fly akan menjadi yang terakhir, Viana tidak akan membiarkan anak cucunya mengikuti jejaknya menyakiti orang lain. Kehidupan Viana sudah tenang menikmati hari tua bersama lelaki yang dicintainya, putra putri juga cucunya.
Senyuman Wildan terlihat menatap Tian yang melangkah pergi, Wildan meletakan laptopnya menatap pesan panjang dari Mommy yang memohon agar Wildan tidak menyelematkan mereka.
"Bagaimana jika memang ada yang terbunuh, tapi Wildan juga tidak bisa menolak keinginan Mommy." Wildan mengigit bibirnya.
"Mommy tidak mungkin membiarkan putrinya meninggal, mungkin Mommy hanya sedang marah saja."
Wildan langsung menghubungi Viana, mempertanyakan kebenaran pesan. Mommy mengiyakan, akun Vi jarang aktif. Mommy melakukan untuk menjaga Ravi, tidak menyangka ternyata harus mengawasi Vira juga.
[Mommy, izinkan Wildan membantu mereka dari sini. Keadaan di dalam berbahaya Mom.]
[Kamu tidak percaya mereka bisa keluar dengan selamat?]
[Mom, dalam hati Vira ada kelembutan Daddy Rama, Wildan mengkhawatirkan kebaikannya.]
[Apa yang akan kamu lakukan?]
[Wildan akan memberikan jalan untuk mereka semuanya keluar dalam keadaan baik-baik saja.]
[Boleh Wil dengan satu syarat, kalian semua harus pulang dan menikah jika tidak Mami tidak akan memaafkan kamu.]
[Mami, kenapa membahas pernikahan terus?]
[Mami tidak ingin tahu, kamu, Vira, Winda dan Bella harus menikah. Apa kalian ingin menunggu sampai Wira yang menikah, lihat kakak kamu Windy pusing karena Wira punya pacar. Tidak malu kamu." Reva tertawa, bersama Viana dan Jum.
Wildan mematikan panggilan, bagaimana bisa Wildan disamakan dengan Wira yang playboy sejak kecil.
"Kenapa harus malu dengan Wira? bocah kecil satu itu jika melihat perempuan cantik langsung cinta." Wildan menatap layar komputer yang memperlihatkan pertarungan Vira dan Randu.
***
__ADS_1