
Dokter keluar mengatakan Yusuf baik-baik saja, hanya mengalami luka yang cukup berat. Wildan langsung melangkah masuk melihat tangan dan beberapa bagian wajah Yusuf dibalut.
"Bagaimana keadaan Winda Wil?" Yusuf berusaha untuk berdiri.
"Dia baik-baik saja, sekarang sedang makan ayam goreng." Wildan duduk di kursi.
Yusuf memejamkan matanya, setelah menarik nafas panjang langsung menatap Wildan yang diam tidak bertanya apapun.
"Bagaimana keadaan di laboratorium?"
"Ada tiga korban jiwa, anehnya mereka bukan tim kita, bukan juga mahasiswa." Wildan menundukkan kepalanya sedang berpikir.
"Kamu baik-baik saja Wil?"
"Wildan hanya lelah kak, sudah menyerah berurusan dengan hal seperti ini."
"Maafkan aku yang membuat kacau."
Wildan menatap Yusuf, meminta segera sembuh karena Wildan akan turun langsung menyelesaikan masalah lab, mencari pelaku, menangkap mereka dan menghentikan semuanya.
Yusuf tersenyum, memejamkan matanya untuk beristirahat. Pintu diketuk, tapi tidak membuat Wildan menoleh.
Dewa melangkah masuk, duduk di samping Wildan. Tatapan Dewa terlihat sedih melihat Wildan yang memejamkan matanya sambil menunduk, juga melihat Yusuf yang terluka.
"Dia mengetahui jika Winda di laboratorium, karena kamu melihat Yusuf dan Winda pergi mendengar pembicaraan mereka." Wildan menatap Dewa.
Dewa tidak menjawab, mengatakan dirinya tidak terlibat juga percuma karena tuduhan Wildan beralasan.
Wildan menyerahkan ponselnya, Dewa langsung mengambil ponsel membaca tulisan Wildan jika Dewa sudah disadap.
Dewa meletakan ponsel Wildan, meraba bagian tubuhnya. Selama ini Wildan tidak merasakan ada yang salah dari dirinya, tidak ada alat yang aktif di tubuhnya.
Wildan menulis kembali, dewa kaget karena Wildan tahu Dewa pernah kecelakaan. Dia mengalami koma selama satu minggu, kecelakaan Dewa sudah direncanakan, bahkan sebenarnya kematian Dewa sudah dijadwalkan.
"Di mana mereka meletakkannya?" Dewa menatap layar Wildan.
Teknologi canggih terus berkembang pesat, manusia jenius terus meningkat, mereka bisa menciptakan teknologi yang lebih hebat dari otak manusia biasa.
Wildan memprediksi saat perawatan ada yang memasukan sesuatu ke tubuh Dewa, saat ini Dewa belum dibunuh karena masih dibutuhkan.
Wildan meminta Dewa mengikutinya, keduanya melangkah tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Wildan masuk ke dalam ruangan yang tidak bisa disadap oleh teknologi apapun.
"Teknologi sistemnya ada kelebihan juga kelemahan karena dia hanya ciptaan manusia."
"Siapa yang mengendalikan aku Wil?"
"Aku juga tidak tahu, jujur sejak kejadian di Roma aku sudah meninggalkan semuanya, ingin mengikuti jejak Papi hanya berurusan soal bisnis, aku tidak ingin terlibat lagi."
"Lalu kenapa kamu datang ke sini?"
"Karena Vira, dia mendapatkan undangan untuk mengenal kamu, aku tidak bisa menghentikan dia."
"Kamu mencintai Vira?"
"Sesuatu yang tidak wajib aku jawab, intinya kehadiran aku hanya ingin membawa mereka kembali."
"Kemungkinan orang yang mengundang Vira musuh lama Viana Arsen."
__ADS_1
"Iya, pastinya ada sangkut paut dengan bisnis ilegal."
"Kamu lindungi wanita yang kamu inginkan, sedangkan aku akan mengalahkan mereka yang menjadikan keluargaku kambing hitam."
"Melawan mereka tidak bisa hanya dengan tekat, kamu hanya terkenal sebagai putra mafia yang sudah tiada, tidak ada yang menghormati kamu, tidak ada yang akan tunduk. Apa yang akan kamu lakukan?"
Dewa duduk di lantai, ucapan Wildan tidak ada yang salah, siapa yang akan membantunya. Dewa hanya memiliki keberanian, tapi tidak memiliki senjata.
"Keluarkan terlebih dahulu benda yang ada ditubuh kamu."
"Aku tidak tahu di mana letaknya."
"Bagian tubuh kami yang terluka?"
Dewa menunjukkan perutnya, Wildan berjongkok melihat bekas jahitan.
Vira dan Bella melihat ke arah perut Dewa yang tidak seperti orang bicarakan.
"Katanya kotak-kotak, tapi ini kenapa sobek?" Vira menyentuh perut Dewa, Wildan langsung menarik tangan Vira.
"Kenapa kalian berdua masuk?"
"Kalian berdua lama keluar." Vira tersenyum.
"Wildan apa yang kalian berdua bicarakan?" Bella menatap Dewa yang tersenyum manis menatap Bella.
"Wil kamu normal? tidak mungkin kamu menyukai laki-laki?" Vira mengerutkan keningnya.
Dewa langsung tertawa, pria sedingin Wildan bisa mencintai sesama sungguh hal yang mustahil.
Wildan mencari sesuatu, langsung menyerahkan pisau untuk menyayat perut.
Dewa langsung mengambil pisau, meminta Bella membantunya menghentikan darah.
Bella menunduk melihat perut Dewa yang mengalirkan darah, Bella menahan luka meminta Dewa berhenti.
"Ini mustahil." Bella menatap Wildan.
"Ada sebuah rahasia yang pernah ditanam ditubuh seseorang, dia membawanya sampai mati. Mereka menggunakan cara yang sama kak Bella."
"Aku pikir ini hanya mitos Wil, tapi ini nyata." Bella memegang sesuatu di dalam kotak kecil tranparan.
"Pergi sejauh manapun kamu, tetap akan terus diawasi." Wildan membawa keluar kotak kecil.
Bella langsung ingin mengejar Wildan, tangannya ditahan oleh Dewa.
"Tolong obati aku Bella."
"Ada dokter, aku tidak bisa membantu kamu." Bella langsung melangkah pergi.
Vira langsung mengulurkan tangannya, Dewa langsung berusaha bangkit sendiri menutupi lukanya.
"Kenapa kamu tidak ingin menerima bantuan aku?"
"Tujuan kamu datang hanya karena undangan, mereka orang yang berbahaya Vira. Cukup Viana yang melakukan kekejaman, kamu jangan."
"Karena aku ingin menyelesaikan tugas terakhir Mommy yang belum terselesaikan." Vira mengandeng tangan Dewa.
__ADS_1
"Kamu memang sulit dihentikan, tidak heran Wildan harus turun tangan melindungi kamu."
"Wildan hanya melindungi kekuasaannya."
"Bagaimana jika dia datang demi cintanya?"
Vira langsung tertawa lucu, memonyongkan bibirnya menatap Dewa.
"Kamu tidak tahu, sejak kecil aku mencintainya sampai kami besar dia tetap menolak cinta Vira, jika dia datang karena cinta sangat mustahil. Vira dan Wildan hanya sebatas saudara." Vira tersenyum.
Dewa melangkah bersama Vira sambil tersenyum, Winda menatap tajam kedekatan keduanya.
"Maafkan aku Bella karena tidak bisa membuat kalian bersama." Winda menghela nafasnya.
Tatapan mata Winda tajam melihat Randu berdiri jauh darinya, langkah kaki Winda mendekati Randu yang babak belur.
Dewa langsung berlari mendekati Randu yang terluka, bibirnya pecah, matanya biru.
"Kak Dewa, mereka ingin membunuh kita. Randu diserang, kak Dewa ditusuk."
"Iya, mereka menusuk. Syukurlah ada Wildan yang menyelamatkan aku, kamu baik-baik saja?"
"Aku akan membunuh mereka." Randu menatap tajam.
Winda mendekati Randu, mencium bau baju yang Randu gunakan.
"Bau parfum, keringat, alkohol, obat, setidaknya ada lima jenis parfum. Dia memang dikeroyok." Winda menatap tajam.
Randu mengerutkan keningnya, cara yang sangat aneh dengan penyelidikan Winda yang mirip anjing mengendus.
"Aku memang diserang, siapa yang ingin babak belur?"
"Siapa yang melakukannya?" Vira melihat serbuk di baju Randu.
"Jika aku tahu, mungkin salah satu dari mereka meninggal." Randu membersihkan bajunya.
"Bodoh, jelaskan saja ciri-ciri mereka."
Randu mejelaskan ciri-ciri rombongan, Winda langsung melangkah ke dalam ruangan Yusuf.
"Amin bangun, kita harus pergi dari sini."
"Ada apa Winda?"
"Mereka bukan hanya menyerang kamu, tapi manusia pori-pori juga."
"Siapa manusia pori-pori?"
"Randu."
Vira, Dewa dan Randu saling tatap. Wildan dan Bella juga masuk ruangan Yusuf saling pandang.
"Apa mungkin Randu meneliti sesuatu?" Wildan menatap Randu tajam.
"Iya, tapi penelitian diledakkan."
Wildan menghela nafasnya sambil tersenyum.
__ADS_1
***