
Karena Wildan semakin risih, akhirnya Ravi memesan ruangan khusus agar Wildan bisa fokus untuk menjelaskan soal keamanan pesta. Kasih tersenyum melihat cara bicara Wildan dan Ravi yang mirip sahabat, Wildan dengan sikapnya yang bahkan berani memukul kening Ravi, jika bertanya dua tiga kali tidak paham juga.
"Wildan, kenapa kamu tidak ingin bertemu dengan Gemal? dia ingin mengucapkan terima kasih."
"Sayang, jawaban Wildan hanya satu. Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih, buktikan saja jika dia bisa membanggakan, jangan membuat malu aku yang sudah membuang banyak waktu hanya untuk mengurus hidupnya." Ravi langsung tertawa, dia sangat hapal dengan jawaban Wildan, tidak perduli dengan siapapun dia bicara, sikap dingin Wildan tidak akan pernah bisa dikurangi.
"Dasar manusia es," Kasih ikut tersenyum.
"Bahkan kita sedang melucu saja dia mati rasa, mirip kanebo kering." Ravi meminta Wildan lanjut lagi, menjelaskan seluruh isi map.
Wildan terus bicara sampai ponselnya berbunyi, panggilan dari Y membuat Ravi dan Kasih pandang.
"Es kamu punya pacar, jangan coba-coba sakiti hati Vira, kamu jangan lupa hubungan kamu dan Vira." Ravi mematikan langsung panggilan handphone Wildan.
Kasih menatap Wildan yang tidak ambil pusing dengan sikap Ravi, tidak juga menanggapi panggilan yang sudah terputus.
"Wildan kamu ingat tidak kalau kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Hmmm."
Kasih menelan ludah, Ravi menahan tawanya, langsung mengacak rambut Wildan yang tidak memberikan jawaban.
"Iya aku tahu, dia juga salah satu daftar perwakilan pada saat aku mulai menjadi salah satu tim anak berbakat, dia seorang seniman dengan lukisannya yang sangat unik, lukisan yang ada di pameran saat kita berkunjung yang sempat kak Ravi beli itu milik dia." Wildan menunjuk Kasih yang sudah tersenyum.
"Aku pikir kamu tidak mengenali aku, soalnya dia seperti bukan manusia, dingin sekali."
"Maklum sayang, Wildan kepadanya di depan tapi bisa melihat orang yang berada di belakangnya, karena mata Wildan ada di mana-mana."
Selesai mendapatkan ejekan, Wildan langsung melangkah pergi tanpa pamitan. Ravi hanya tertawa, Ravi sangat yakin Wildan pasti bertemu dengan Y.
"Wildan pacaran, memangnya boleh?" Kasih menatap Ravi yang diam.
"Entahlah karena tidak diizinkan mencampuri urusan pribadi."
***
Viana dan Reva sedang berada di gedung, melihat dekor yang sudah satu minggu di persiapkan, melihat beberapa hal yang harus di ubah. Senyum Reva terlihat mengigat kembali pernikahanya.
"Bagus Va, waktu cepat berlalu sebentar lagi Ravi akan keluar dari rumah, tinggal di rumahnya sendiri."
"Iya kak Vi, tapi Ravi tidak jauh, dia akan tetap bersama kita.
__ADS_1
Viana meneteskan air matanya, putranya yang pernah melarikan diri demi bertemu Daddy akhirnya akan menikah, bocah kecil yang dulunya suka bikin masalah, membuat tawa, juga membuat repot, akhirnya akan membina rumah tangga.
Di rumah utama semua orang sudah berkumpul, Reva dan Viana baru saja sampai. Suara high heels keduanya terdengar berirama menjadi ciri khas jika dua wanita karir akan muncul.
"Mommy, ayo cepat bagikan baju Vira."
Viana berdiri melihat baju untuk Vira, Winda, Bella, Billa dan Sasha. Kelima wanita cantik menggunakan baju kebaya berwarna gold, sedangkan Bastian, Erik dan Wildan menggunakan baju batik hitam gold.
Para orang tua menggunakan baju kebaya biru, sedangkan yang lelakinya kemeja putih menggunakan jas yang berwarna biru.
"Sekarang kalian semua bisa mencoba baju, dan katakan bagian mana yang tidak nyaman." Viana berlalu pergi membawa bajunya.
Di dalam kamar Winda sibuk memasangkan kebaya Vira, sedangkan Belle sudah cekikikan tertawa sambil guling-guling.
"Vir, kamu hamil ya masa iya baju ini tidak muat, perut kamu besar sekali." Winda menyerah mengancingkan bajunya Vira.
"Mommy, aiishh, Mom tolong Vira?" Viana langsung berlari melihat putrinya.
"Kenapa Vir, Mommy lagi ganti baju." Bastian yang sedang mengobrol bersama Erik dan Wildan menatap Vira yang belum selesai menggunakan baju sambil menangis.
"Ada apa Vira teriak-teriak?" Viana langsung melotot, yang lainnya juga kumpul melihat Vira menangis.
"Lihat Mom baju Vira tidak muat, tapi Bella, Billa dan Sasha muat."
"Jangan-jangan Vira hamil Mom?"
Wildan yang sedang minum jus langsung menyembur Erik yang berada di depannya, semua langsung berdiri menatap Vira, Viana rasanya ingin pingsan.
Rama langsung menarik lengan Vira menatap tajam, wajah marah terlihat. Winda dan Bella tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah Vira yang mengacau suasana.
"Daddy jangan marah, Bira hanya hamil dad."
"Vir, kamu tahu salah kamu. Selain kamu berbuat dosa juga..., astagfirullah Al azim Vira, Daddy gagal menjaga dan mendidik kamu."
"Tidak mungkin Vira hamil, tidak ada laki-laki yang bisa mendekatinya." Wildan meminum kembali minumannya.
"Kenapa semuanya menatap marah kepada Vira?"
Viana langsung menarik kuat rahang Vira, Wildan langsung berdiri menahan Mommy dan memintanya untuk berbicara baik-baik.
"Kamu tidak tahu salah kamu apa? hamil di luar nikah, percuma Daddy mengajarkan agama kepada kamu jika tidak bisa menjaga diri Vir."
__ADS_1
Kasih dan Ravi yang baru datang kebinggungan, melihat semuanya kacau dan panik.
"Wildan kamu harus tanggung jawab?"
"Kenapa aku?"
Semuanya menatap Wildan yang menggelengkan kepalanya, Reva sudah menatap Wildan yang menggerakkan tangannya.
"Aku tidak pernah menyentuh kamu vir!" Wildan menatap marah, Vira membuat seluruh orang shock berat.
"Kalau kamu tidak ingin tanggung jawab, terus Vira harus bagaimana? siapa yang akan tanggung jawab?" Vira langsung menangis kuat, Ravi menarik Wildan mencengkram kedua bahu Vira.
"Kamu jangan bercanda Vira? kamu bukan hanya menghancurkan masa depan kamu, tapi nama baik keluarga kita." Ravi menatap adiknya mencari kebohongan Vira.
"Maafkan Vira, sungguh Vira lepas kendali kak."
"Siapa?"
Vira langsung diam, semuanya saling tatap dan yang paling di pojokan Wildan yang sudah memijit pelipisnya.
"Kak tolong Vira, lihat perut Vira membesarkan kak."
"Vira jawab Siapa?!" Ravi teriak kuat, Kasih yang mendengar langsung mundur takut, air matanya langsung menetes.
Erik sudah menepuk bahu Ravi, Rama sudah terduduk lemas. Viana menggenggam tangannya ingin sekali menampar Vira, kebebasan yang Viana dan Rama berikan dia pergunakan untuk pergaulan bebas.
"Wildan siapa orangnya?" Ravi langsung menatap Wildan tajam.
"Aku tidak tahu Ravi."
"Wil, kenapa kamu bisa tidak tahu soal Vira?"
"Kenapa kalian menatap aku, seakan-akan aku yang melakukannya."
"Apa salahnya kalau kamu tanggung jawab?" Vira menangis melihat Wildan, tangisan Vira karena cengkraman Ravi yang sangat kuat menimbulkan rasa sakit.
"Astaghfirullah Al azim, sabar Wildan, sabar." Wildan tersenyum, mengelus dadanya sendiri mencoba menenangkan.
"Kak Wildan tanggung jawab saja, nikah muda enak Lo, iyakan Vira?" Winda menatap Vira yang menggagukan kepalanya.
"Ya ya ya, terserah kalian, mau tanggung jawab silahkan, Wildan tidak perduli."
__ADS_1
***