
Setiap pagi Wildan dan Vira berkerja sama untuk membersihkan rumah mereka, dari mencuci baju, menyapu, mengepel, memasak dan banyak pekerjaan lainnya.
Wildan melangkah keluar mendengar suara ketukan pintu, jika keluarga lain yang datang pasti langsung masuk karena pintu sudah terbuka. (Cerita kepulangan Winda ada di mengejar cinta Om duren S3)
"Siapa?" Wildan melihat adiknya Winda berdiri di depan pintu, senyuman Winda terlihat.
"Pagi kak Wil." Winda mencium tangan Wildan.
"Kenapa tidak langsung masuk saja? pintu juga tidak terkunci." Wildan melangkah masuk, berjalan ke dalam rumah.
Pelukan Winda erat dari belakang, Wildan menghentikan langkahnya melihat tangan Winda. Tangisan Winda terdengar, dada Wildan langsung sesak.
"Kak, Winda pulang. Kangen." Winda melepaskan pelukannya, langsung menundukkan kepalanya menangis.
Wildan melihat ke arah Winda, melihat adiknya menangis sesenggukan. Wildan langsung memeluk erat Winda, meneteskan air matanya.
Sejujurnya Wildan juga merasakan hal yang sama, tidak bisa tenang memikirkan adiknya yang jauh di negara orang.
Mereka memang sering berpisah, tapi Wildan selalu mengontrol keadaan Winda, tapi sekarang tidak bisa lagi. Winda sudah menikah, suaminya juga bukan orang sembarang, keamanan Ar sangat ketat sehingga akses Wildan juga tidak bisa masuk.
"Apa kabar kamu? kenapa pulang tidak memberi tahu? kak Wil bisa menjemput kamu." Tangan Wildan menghapus air mata adiknya yang tidak berhenti menangis.
"Kak, Winda kangen sama semuanya. Kangen kak Wil." Tangisan Winda semakin kuat.
"Iya kak Wil juga kangen sama kamu, jangan menangis lagi."
"Cium." Winda menatap kakaknya yang langsung tertawa.
"Kak Wil, kenapa Vira dicium terus tapi Winda tidak?" Vira merengek, Wildan semakin tertawa.
Memeluk erat adik bungsunya yang tidak biasanya manja, sungguh Wildan rindu sekali dengan kelucuan Winda.
Ciuman Wildan mendarat di kening Winda, senyuman Winda terlihat, tangannya menunjukkan ke pipi.
Senyuman Winda terlihat menatap perubahan kakaknya yang sudah bisa tertawa lepas, tawa Wildan belum pernah Winda lihat dengan kebahagiaan yang sekarang.
Kening, kedua pipi, dagu, mata, Wildan juga. menyatukan hidungnya dengan adik tersayangnya. Mereka tidak pernah sedekat ini, tapi rasa sayang Wildan siap mempertaruhkan nyawanya demi adiknya.
Vira yang baru sudah mandi, mendengar suara tangisan perempuan membuat keningnya berkerut, langsung membuka pintu melihat suaminya yang memeluk wanita lain, bahkan menciumnya.
Jantung Vira berdegup kencang, hatinya rasanya hancur. Wildan menyentuh wanita lain di dalam rumah mereka.
Vira langsung berlari turun, Ar juga melihat Winda bersama Wildan. Keluarga yang lain juga datang melihat Vira emosi.
"Vira jangan." Viana langsung berteriak.
Wildan langsung melindungi Winda dari jambakan tangan Vira, Winda menahan tawa langsung memeluk kakaknya erat.
Rambut Winda yang sudah panjang, membuat Vira tidak mengenalinya.
"Perempuan sialan." Vira menarik rambut Wildan.
__ADS_1
Reva langsung tertawa, Ar langsung berlari mengambil istrinya. Suara teriakan Vira terdengar, sedangkan Winda tertawa puas.
"Sayang itu Winda, tolong tenang. Kepala aku bisa botak Vira." Wildan mengusap kepalanya, Vira langsung terdiam melihat Ar memeluk wanita yang cekikikan tertawa.
Winda langsung melihat ke arah Vira, membenarkan rambutnya. Memeluk Wildan erat, mengejek Vira yang sudah menangis sesenggukan.
Tangisan Vira terdengar, Wildan langsung memeluknya sedangkan Winda memeluk dari belakang. Vira mencubit kuat Winda, Wildan menahan tangan istrinya.
Winda langsung menangis menjambak rambut Vira, Wildan menghentikan keduanya, memeluk bersamaan meminta Winda dan Vira diam.
"Kapan kamu pulang? kenapa tidak memberitahu?" tatapan Vira tajam, langsung memeluk tubuh Winda erat.
Tangisan keduanya terdengar saling melepaskan rindu, Viana juga memeluk Reva dari belakang terharu melihat putri mereka.
Bella dan Billa juga muncul langsung berpelukan, keempat tertawa bersama akhirnya bisa bersatu lagi, melewati hari-hari bersama.
"Ayang, Vira tidak ingin kerja lagi. Kita nanti jalan-jalan Win, beli baju bayi Bel."
"Oke." Jawaban Winda dan Bella.
Semuanya menatap Billa yang tersenyum, Billa langsung mengangguk kepalanya menghabiskan waktu bersama.
"Winda kangen kalian." Pelukan Winda erat.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
"Rasih kamu tidak sekolah?" Winda menatap Asih yang masih mengantuk.
"Aunty Win pulang." Asih langsung berlari memeluk.
"Terlambat sekali kamu Asih, dasar turunan Ravi." Viana menepuk jidat melihat cucunya yang heboh.
"Billa di mana Em?" Erik mencari putrinya.
"Bukannya digendong kak Erik." Billa menggaruk kepala, dia lupa di mana putrinya.
Winda memeluk Vira dan Bella, inilah keluarganya tidak mungkin ada yang namanya ketenangan.
Wildan melihat CCTV tersembunyi, semua orang tertawa melihat Em berlari mengejar guguk, buntut guguk dipegang.
Erik langsung berlari kencang, takut anaknya digigit. Langsung menangkap dan meletakkannya di atas kepala.
Em jangan sampai lepas dari pengawasan, maka akan menimbulkan masalah besar. Kenakalan Em memang berada di tingkat Dewa.
Semuanya bubar untuk bekerja dan beraktivitas, Wildan masih mengobrol dengan Ar soal pekerjaan, Ravi juga ada di sana bersama Tian.
"Di mana Erik lama sekali?"
"Kalian tidak tahu nakalnya Em seperti apa?" Erik ngos-ngosan.
Vira langsung memeluk Ravi, tatapan Ravi tajam melihat adik perempuannya yang tidak biasanya bermanja-manja.
__ADS_1
Winda juga duduk di samping Wildan menyadarkan kepalanya, memeluk lengan Wildan memejamkan mata.
Vira juga duduk memeluk suaminya, tangan Wil menahan kepala Winda yang sudah tertidur tenang.
"Winda masih pagi tidak boleh tidur." Vira menjauhkan kepala Winda.
"Biarkan saja Vira, mungkin lelah karena perjalanan." Wildan membenarkan posisi tidur Winda.
Ar langsung mendekat, ingin mengambil Winda tapi menolak. Dia ingin berada dalam pelukan kakaknya, Wildan tidak mempermasalahkan.
Vira bersantai sambil guling-guling, kepalanya di paha Wildan sedangkan Winda tidur nyenyak memeluk Wildan.
Bekali-kali Wildan mengusap kepala adiknya yang terlihat lelah.
"Vir, minggir sebentar sayang kita pindahkan dulu Winda ke kamar tamu."
"Iya." Vira mengikuti Wildan yang menggendong adiknya meletakan di atas ranjang. Vira langsung naik tidur memeluk Winda.
"Vira, aku ke kantor dulu bersama Ar. Kalian berdua jangan bertengkar." Wildan mencium kening Vira, mengusap kepala adiknya.
"Hati-hati Ayang, pulang belikan Snack yang banyak." Vira mencium bibir suaminya.
Wildan menganggukkan kepalanya, langsung melangkah pergi bersama Ar.
"Kak Ar tidak ingin mencium Winda dulu." Vira mengejek sambil menahan tawa.
Ar langsung pergi bersama Wildan, mereka ada urusan bisnis penting.
"Winda, ayo kita ke dokter."
"Mau apa?"
"Cek kehamilan."
"Memangnya sudah ada tanda-tanda?"
"Belum, mungkin saja terlambat ada tandanya."
"Vira bego, bikin malu. Kamu bisa diam tidak, Winda capek pengen tidur." Winda menarik selimut.
"Namanya juga berharap Win, jika sudah tahu buat apa lagi tanya dokter."
"Hei, manusia mars bisa diam tidak."
***
MAAFKAN TYPO YA, SOALNYA BELUM SEMPAT REVISI.
***
JANGAN LUPA FOLLOW IG VHIAAZAIRA
__ADS_1
SUAMIKU MASIH ABG MASIH ADA GIVE AWAY