SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MEMBATALKAN PERNIKAHAN


__ADS_3

Wildan sudah rapi dengan baju kemeja dan jas putih, dia asik berkaca merapikan rambutnya. Ar juga satu kamar dengan Wildan sambil mengecek ponselnya.


Keduanya terlihat santai, Wildan lebih santai lagi mengambil jas dan memakainya.


"Kak, kenapa menikah harus ada pesta? Wildan tidak nyaman." Wil duduk di samping Ar yang hanya tersenyum menghafal ijab kabul.


"Kamu sudah hafal?" Ar menunjukkan kertas yang dibaca.


"Wildan tidak harus membacanya, setelah Daddy Wildan hanya perlu mengikutinya. Hal yang mudah." Senyuman Wildan terlihat, menatap mahar yang Ar berikan.


"Mahar kamu apa?"


"Tidak tahu, nanti mendengarkan Daddy saja." Wildan menggaruk kepalanya, dia bahkan tidak tahu di mana kertas ijab kabul.


"Wil, secerdik apapun kancil dia pernah terjebak. Otak kamu memang jenius dalam materi, juga komputer, bahkan sangat mudah menghafal gerakan, tapi akan ada satu yang kamu anggap sepele, menjadi sesuatu yang menjatuhkan." Suara Ar tertawa terdengar, Wildan melihat kertas Ar yang terlihat mudah.


"Hanya hafalan ini saja?"


"Punya kita beda isi Wil, makanya selalu aku peringatkan hal kecil bisa menjadi besar jika kamu menyepelekannya. Semoga hari ini otak pintar kamu bisa membantu." Ar menepuk pundak Wildan yang hanya duduk diam berpikir.


Di kamar lain Vira sudah menggunakan kebaya putih, memasang hijabnya. Baju pengantin rangakaian Vira sendiri terlihat sangat cantik membalut tubuh indahnya.


Senyuman Vira terlihat, mengagumi hasil desainnya. Tatapan mata Vira melihat ke arah Winda yang melakukan make up sendiri, menolak ada yang menyentuh wajah cantiknya.


Keahlian Winda dalam merias memang sangat luar biasa, dia bahkan bisa menutup matanya hasilnya tetap luar biasa.


Wajah cantik Winda sudah berubah seperti Barbie yang sulit di kenali, Vira menatap mata Winda yang menggunakan softlens berwarna bening.


"Winda, makeup kamu terlalu berlebihan. Bagaimana jika nanti menangis?" Vira menghela nafasnya.


"Kenapa harus menangis? menikah bahagia bukan bersedih Vira." Winda langsung memakai bajunya yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Reva masuk memukul body Winda, memintanya menghapus make up yang berlebihan.


"Bersihkan make up kamu sekarang."


"Ini cantik mami."


"Memang cantik, tapi ini ijab kabul Winda. Jika ingin make up seperti ratu nanti malam." Reva meminta Winda duduk kembali.


"Astaghfirullah Al azim Winda, sudah dibilang badannya dikecilkan lagi, bajunya terlalu memperlihatkan lekuk tubuhnya." Viana mengelilingi Winda yang menatap lesu.

__ADS_1


Suara tawa Bella, Vira, Billa tidak bisa tertahankan lagi. Saat Winda duduk bajunya sobek, Reva menatap tajam memijit pelipisnya.


"Siapa yang duluan ijab kabul?" Viana kesal melihat Winda, sama seperti saat Reva menikah bajunya rusak.


"Armand dulu, baru Wildan." Jum juga cemas, karena Winda belum siap apapun, bajunya juga sobek.


Vira tidak berhenti tertawa, moments konyol Winda yang selalu melakukan sesuka hatinya.


Reva membersihan makeup Winda, mengulanginya dari awal. Tatapan mata Winda kosong terlihat banyak keraguan.


"Mami make up sendiri, cantik sekali." Winda menghentikan tangan Maminya.


Viana meminta Winda membuka saja bajunya, mengganti dengan baju baru yang berwarna biru muda rancangan Vira.


"Mami." Winda menatap mata Reva.


"Apa?"


"Mommy." Winda menatap Viana yang mengukur tubuh Winda.


"Iya sayang, Winda ingin apa? satu hari ini saja jangan membuat masalah." Viana memohon.


Viana dan Jum sama kagetnya, Vira juga langsung berdiri tidak percaya dengan ucapan Winda yang terdengar serius.


"Winda, jangan gila kamu?!" Vira berteriak kesal.


"Aku takut Vir, aku tidak mencintai dia. Seandainya aku tahu dia keluarga Prasetya, maka aku tidak akan menerima pernikahan ini." Winda juga berteriak kuat, menghapus air matanya.


"Winda, Ar putranya Mommy. Kenapa kamu tega sekali, kita sangat bahagia menyambut penikahan kalian." Viana menggelengkan kepalanya.


"Mommy bahagia, tapi Winda tidak."


Viana langsung membuang baju pengantin, melangkah pergi membanting pintu kuat.


"Batalkan saja penikahan ini, kamu ingin mempermalukan keluarga Prasetya, maka aku akan membatalkan pernikahan dengan Wildan. Jangan hanya merugikan keluarga kami, kamu pikir aku ingin hidup bahagia dengan Wildan." Vira langsung melangkah pergi, membanting pintu lebih kuat dari Viana.


Bella dan Billa langsung mengejar Vira, emosi Vira sedang meninggi biasanya akan keluar batas.


"Terserah kamu Win, kamu yang menentukan kebahagiaan. Lakukan sesuka kamu." Reva langsung melangkah pergi bersama Jum, meninggalkan Winda yang hanya diam saja memperbaiki make up-nya.


Viana duduk diam, meneteskan air matanya melihat Ar yang terlihat tenang menatap ke arah tempat ijab kabul.

__ADS_1


"Mommy, Ar tadi mencari mommy."


"Ar, mommy ingin bertanya satu hal. Apa yang membuat kamu yakin ingin menikahi Winda?"


"Karena Allah, Ar yakin bisa menjadi suami yang baik."


"Sayang, mommy tahu ini menyakitkan. Mommy juga merasakan tersakiti, tapi batalkan saja pernikahan kalian, dia tidak menginginkannya Ar." Viana meneteskan air matanya, langsung memeluk Ar yang masih tersenyum mengusap punggung Vi.


"Apa maksudnya kamu Viana?" Bima menatap aneh bersama Rama yang juga binggung.


"Tidak ada Pi, mommy izinkan Ar berbicara dengan Winda. Ini hanya salah paham, jangan khawatir." Ar mengusap air mata Vi, langsung ingin ke kamar Winda.


"Ar, saat wanita mengatakan aku tidak mencintai dia. Maka jangan paksakan perasaan itu." Viana melarang Ar mempertahankan Winda.


"Mommy, apa yang diucapkan lidah tidak sama dengan di dalam hati, jika kita menyelesaikan masalah dari mulut ketemu mulut tidak ada habisnya, Ar ingin mendengar ketulusan dari hati Winda." Senyuman Ar tetap terlihat, memeluk Viana meyakinkannya.


Bima tersenyum melihat Ar pergi, tidak salah dia memilih Ar. Saat orang lain menjatuhkan Winda dia tetap mempercayainya.


Langka Ar terhenti, mendengarkan kemarahan Vira terhadap Wildan yang terdiam tanpa jawaban.


"Assalamualaikum, Vira kamu cantik sekali, lebih cantik jika kamu tersenyum. Kita keluarga, jangan bertengkar hanya karena satu kali pendengaran, saat mengambil keputusan gunakan lima detik saja untuk berpikir, karena itu akan menjadi penentu ucapan kamu." Ar menatap Wildan yang masih binggung masalah Vira marah, dia hanya diam tidak membatah apalagi membentak Vira.


"Ada apa kak Ar?"


"Hanya masalah kecil, kak Ar bangga sama kamu karena tidak meninggikan suara mendengar kemarahan Vira. Sekarang kamu sudah dewasa Wil."


"Kenapa aku harus menjawabnya? Vira bicara apa juga tidak mengerti?" Wildan menggelengkan kepalanya.


"Vira, kamu perbaiki makeup kamu, jangan marah-marah, hari ini harus bahagia." Ar langsung melangkah pergi.


Wildan langsung mendekati Vira, menatap mata calon istrinya yang ingin membatalkan pernikahan.


"Membatalkan pernikahan, enak sekali berucap. Aku akan mengajari kamu bicara yang sopan setelah kita menikah, ucapan kamu yang kasar tadi tidak akan aku izinkan terucap kembali." Wildan menggelengkan kepalanya, meminta Vira duduk merapikan penampilannya.


Bibir Vira monyong, tapi mengikuti yang Wildan katakan.


***


VIRA DAN WILDAN AKAN UPDATE LANJUT DI SINI.


SEDANGKAN WINDA DAN AR LANJUT DI MENGEJAR CINTA OM DUREN S3

__ADS_1


__ADS_2