
Demi kenyamanan bersama Bisma menyewa villa yang sangat besar untuk tempat tinggal mereka selama di Bali, sekalian sebagai tempat beristirahat.
Vira masih tertidur di villa, tangannya masih diinfus karena mendadak demam. Rama menggenggam tangan putrinya tidak bisa menjauh karena sangat khawatir.
"Sakitnya pindah kepada Daddy saja jangan kamu nak, sebentar lagi kita rawat di rumah sakit saja." Rama mengusap air matanya.
Viana tersenyum sejak Vira bayi Rama paling sensitif jika Vira sakit, saat tahu putrinya demam di manapun berada langsung pulang.
"Demamnya sudah turun hubby, Vira sudah besar jangan terlalu dikhawatirkan." Viana mengusap kepala putrinya.
"Bukan masalah dia sudah besar atau kecil Vi, bagi aku dia tetap putri kecilku. Hati aku tidak kuat melihatnya tertidur diam, sejak kecil Vira sangat aktif, melihat dia diam sesuatu yang rasanya aneh." Air mata Rama menetes, mencium kening putri kesayangannya.
Ravi melangkah masuk mengambil kursi menatap adiknya yang masih tertidur, nafas Vira juga tidak teratur. Infus masih terpasang di tangannya.
"Ravi, kamu merasakan bagaimana rasanya melihat putri kecil kamu yang aktif mendadak pendiam sesuatu yang aneh? sangat mengkhawatirkan." Rama menatap putranya.
"Ravi tahu Daddy, menghadapi Rasih sama seperti menghadapi Vira. Mereka penambah kebahagiaan di dalam hidup kita." Ravi menggenggam tangan mommynya.
Viana meneteskan air matanya, memeluk Ravi mengusap kepada putra buah cintanya dengan Rama yang menjadi alasan Viana harus kuat.
"Vir, bangun dek. Jika tidak sanggup kita ke rumah sakit sekarang." Ravi menyentuh tangan Vira.
"Kak, peluk." Vira meneteskan air matanya.
Ravi langsung memeluk adik bungsunya, mengusap kepala Vira lembut.
Ravi sudah melihat rekaman di dalam pesawat, Vira dan Winda yang paling tersakiti, satu sisi Vira melindungi Winda, sedangkan Winda berusaha melindungi Vira.
Keduanya saling melindungi, berpelukan mencoba tenang, meskipun tubuh mereka mendapatkan himpitan barang yang bermuatan berat.
Koper yang berisi beberapa laptop menghantam mereka, saat pesawat merosot ke bawah Winda terjatuh. Vira berusaha menangkap tangan Winda sampai keduanya ditimpa koper yang bermuatan sekitar tujuh kilo.
Pesawat naik lagi, Vira juga terjatuh. Keduanya tidak berteriak karena akan membuat keluarga khawatir sehingga bertahan berdua.
Tangan Winda merah karena berpegangan kuat, satu tangannya memeluk Vira yang tubuhnya melemas.
__ADS_1
Saat semua menggunakan bantuan pernafasan, tapi Vira dan Winda hanya berpelukan.
Air mata Winda menetes, berusaha tetap kuat. Hebatnya Putri manja berhasil keluar kapal dalam keadaan tersenyum, menghapus ketakutan mereka melangkah keluar langsung mencari tempat duduk untuk menenangkan diri.
"Vira, lain kali jika kamu merasakan sakit langsung teriak panggil kak Ravi. Maaf tidak bisa melindungi kamu." Ravi mengusap air matanya.
Vira tersenyum, menepuk pelan dada Ravi. Vira bersyukur hanya dirinya yang terjatuh, terbanting, tertimpa bukan Mommy Daddy-nya, keponakannya.
Vira akan selalu merasa baik selama ada yang menggenggam tangannya, cukup dirinya dan Winda yang saling menjaga.
"Kak, Vira merasa nyawa Vira sudah tidak ada lagi. Permintaan Vira hanya satu, selamatkan keluarga Vira. Jika Vira yang selamat, tidak mungkin mampu bertahan tanpa kalian semua." Vira meneteskan air matanya.
Rama dan Viana juga menangis, mereka juga tidak sanggup kehilangan putri kesayangannya mereka.
"Daddy lebih baik ikut terjatuh demi menyelamatkan kamu, Vira segalanya untuk Daddy." Rama mengusap wajah Vira yang tersenyum sambil menangis.
"Daddy harus jaga Mommy, kak Ravi harus bisa menjaga kak Kasih, Aka juga Asih. Vira hebat bisa menyelamatkan diri sendiri. Daddy jangan sedih karena Vira baik-baik saja, mungkin Vira hanya kaget." Vira langsung melepaskan Ravi memeluk Daddy-nya, berjanji untuk selalu kuat.
Vira tersenyum menghapus air mata Daddy, mommy dan kakaknya.
Ravi langsung mendekati putrinya, memeluk Rasih memintanya jangan menangis, mendekatkan Asih kepada Vira, Aka juga naik rajang mengusap tangan Vira.
"Aunty baik-baik saja, maafkan koper Asih menyakiti Aunty." Asih menghapus ingusnya.
Vira tertawa, langsung mencium kening Asih langsung menggelitiknya membuat Rasih teriak sambil tertawa.
"Aunty cepat sembuh, jangan sakit lagi nanti Kakek sedih, Daddy juga sedih, Aka juga sedih." Raka tersenyum.
"Aunty baik jika kalian juga baik, selama keluarga kita baik Vira Prasetya jauh lebih baik. Aunty wanita tangguh, mampu bertahan meskipun sembilah pedang menebus dada." Vira menyentuh dadanya.
"Aunty sudah gila, jika ada pedang menembus dada pasti langsung mati, memangnya nyawa Aunty ada berapa?" Rasih menatap tajam.
Vira menatap Rasih lebih tajam, Asih selalu merusak suasana haru. Vira langsung mengusir Rasih, memintanya keluar karena selalu membuat emosi.
"Sudahlah, Asih keluar saja. Di sini nangis, di sana juga nangis." Rasih langsung melangkah pergi.
__ADS_1
Vira langsung ingin melepaskan infusnya untuk melihat Winda, Vira mengkhawatirkan Winda yang sempat tidak bisa bernafas.
"Vira, kamu istirahat dulu sayang." Rama menenangkan Vira.
"Bagaimana keadaan Winda?" Vira menatap tajam Kasih.
"Tadinya dia baik, tapi saat tiba di kamar langsung sesak nafas. Erik dan Billa sudah menanganinya." Kasih meminta Vira tenang saja.
Vira langsung menangis, memeluk Daddy-nya. Jika tidak ada Winda, mungkin Vira sudah lama mati tidak bisa bernafas.
Sejak kecil Vira dan Winda seperti anak kembar, rasa sayangnya Vira kepada Winda rela tidak sekolah demi bisa bersama.
"Mommy, Winda baik-baik saja." Vira menggoyang tangan Viana.
"Pasti, Winda pasti baik-baik saja. Dia anak yang kuat." Viana mengusap air matanya.
"Winda takut jarum Mom, katanya nanti tangannya bolong." Vira meminta diantar ke kamar Winda.
"Vira, tolong dengarkan Daddy sekali ini saja. Daddy yang melihatnya mengirimkan foto. Apa kamu ingin dirawat di rumah sakit saja." Rama menenangkan Vira.
Mata Vira langsung terpejam, Rama langsung keluar untuk melihat Winda yang sedang teriak histeris.
Kasih menepuk pelan tangan Vira, meminta untuk segera istirahat. Cepat sehat, bisa main lagi bersama Winda, Bella dan Billa.
Kasih kagum melihat persahabatan Vira dan Winda, meskipun selalu bertengkar keduanya tidak pernah terpisah.
Apapun yang mereka lakukan selalu bersama, saling menjaga dan melindungi. Bukan hanya orang tua yang bersahabat, tapi anak-anak juga.
Tidak ada yang bisa menyentuh mereka, satu terluka yang lainnya melukai.
Saat semua orang sedang berjuang menyelamatkan diri sendiri, Vira dan Winda masih sempat saling menjaga, berpelukan, saling melindungi satu sama lain.
Tidak peduli jika terluka, persahabatan yang saling berkorban, suka duka selalu bersama.
"Kak Kasih iri sama kamu karena memiliki sahabat terbaik dunia akhirat, Vira, Winda, Bella dan Billa sahabat kecil hingga tua nanti. Kamu beruntung sekali Vir bisa memiliki sahabat baik." Kasih tersenyum.
__ADS_1
***