
Wildan melepaskan lima balon ke udara, bersamaan dengan ratusan balon yang juga terbang ke langit malam.
Senyuman Vira terlihat melihat indahnya langit, Winda juga tersenyum melihat indahnya lantai bawah yang penuh kelompok bunga yang bertulisan happy wedding untuk Vira Wildan, Winda Armand, Bella Tian, Billa Erik. Tertulis nama Ravi Kasih yang selalu menyayangi kalian.
Semuanya menatap lantai bawah, air mata Vira menetes bersama dengan yang lainnya.
Suara Ravi terdengar, dia ingin memberikan hadiah ulang tahun dengan barang mewah, tapi keluarga mengajari mereka semua harta paling berharga ialah keluarga.
"Hai adik kecilku, selamat ulang tahun. Pertama kalinya kak Ravi ingin mengutarakan isi hati untuk kalian berlima, malaikat kecil yang sangat berharga dalam keluarga ini." Ravi mengusap air matanya menatap lima anak yang berdiri di balkon kamar Wildan.
"Vira, kamu tahu bagaimana perasaan kak Ravi saat kamu hadir? ada rasa iri karena kehadiran kamu disambut oleh kedua orang tua kita, tapi kak Ravi juga sangat bahagia karena kamu sangat beruntung. Saat pertama kali melihat kamu, kak Ravi takut kehilangan kasih sayang Daddy, rasanya belum cukup cinta yang kak Ravi dapatkan. Sayang, rasa sayang tidak pernah bisa kak Ravi ucapkan dengan kata-kata, sayang sayang sekali kepada kamu." Ravi menutup matanya, menahan diri agar tidak menangis lagi.
Vira yang mendengarkan sudah menangis sesenggukan dalam pelukan Winda, bagi Vira Ravi kakak yang tidak pernah bersedih, selalu bahagia. Sumber kebahagiaan bagi keluarganya, tidak ada Ravi tidak mungkin Vira bisa sebahagia sekarang berada dalam keluarganya, kakaknya sudah menjadi musuh juga pelindungnya.
"Vir, hari ini kamu akan menikah. Lepas sudah tanggung jawab kak Ravi untuk melindungi kamu, sudah ada lelaki yang keluarga kita percaya untuk menjaga kamu. Kak Ravi hanya ingin kamu menjaga kehormatan suami dengan menghormatinya, sebagaimana kita menghormati orang tua kita, dia akan menjadi musuh juga pelindung kamu." Ravi menarik napasnya, tidak sanggup lagi berbicara lebih panjang.
"Bella ini untuk kamu, perasaan kak Ravi saat melihat kamu sama seperti kak Ravi yang haus kasih sayang. Kamu wanita kuat, tangguh juga egois. Saat kamu memutuskan untuk mundur, mengingatkan kak Ravi saat mundur untuk meninggalkan Daddy kembali, rasa hancurnya sama, sakit tapi tidak berdarah. Bedanya kak Ravi lebih cepat mengubah keputusan untuk satu harapan yang paling besar, sedangkan kamu terlalu lama meskipun akhirnya kalian bersama. Satu lagi Bel, jaga keponakan kak Ravi." Senyuman Ravi terlihat, melihat Bella yang mengangguk kepalanya.
"Billa, kamu wanita yang paling sabar melebihi kesabaran Bunda Jum. Kak Ravi sangat bersyukur memiliki uncle Bisma disisi Ravi. Saat ini juga Ravi bahagia, karena sahabat Ravi dijaga oleh wanita tanpa sayap. Jika ada pilihan wanita terbaik, kamulah pemiliknya. Bil kamu tidak harus berpura-pura sempurna, karena pasangan saling menyempurnakan, sesekali lakukan kesalahan agar Erik ada gunanya." Ravi tertawa melihat Billa yang tersenyum sambil menangis.
__ADS_1
"Ini untuk manusia es, Wildan aku tidak menyukai kamu sejak kecil. Semua terfokus ke kamu, hanya nama Wildan yang terbaik, aku juga ingin sekali melihat kamu melakukan kesalahan juga dipermalukan di depan umum, mungkin aku akan menjadi orang paling berbahagia di dunia ini. Meskipun kak Ravi tidak suka, tetap saja sayang kamu dan juga ini hal yang paling penting, jaga Vira. Jika kamu marah jangan bentak dia, jika kamu marah lagi, hindari dia, jika masih marah luapkan kepadaku. Aku tahu kamu orang yang sabar, meskipun tidak sehebat Papi."
"Kak Ravi banyak bicara, aku juga tidak menyukai kak Ravi." Wildan menatap sinis.
"Hai Winda, kamu tahu saat lahir kak Ravi mengagumi kecantikan kamu. Mata yang indah, senyuman yang manis, tapi jika marah hancur semua. Win, diantara yang lain kamu paling sulit ditebak, kamu terlalu misterius. Terkadang jahat, tapi bisa juga sangat baik. Kak Ravi hanya ingin berpesan kepada kamu, cinta itu ada yang membuat bahagia, juga luka. Pilihlah salah satu, kamu mungkin bisa mengerti arti kehidupan itu apa setelah kamu membuang luka. Selamat ulang tahun anak nakal, happy wedding juga untuk si cantik Winda. Kak Ravi sayang kamu, jika Ar marah, tapi dia tidak akan marah." Ravi menatap Winda yang menundukkan kepalanya coba memahami ucapan Ravi.
"Ehh satu lagi, happy anniversary Papi Mami ku tercinta, kalian coupel terbaik setiap tahun. Papi dan Mami inspirasi terbesar kami semua, terima kasih Papi sudah menjadi perisai untuk kami semua, mengajari kami menjaga keluarga, saling merangkul. Ravi bersyukur Daddy berada di tangan lelaki sehebat Papi. Bahagia selalu, teruslah tersenyum melihat kami semua bahagia." Senyuman Ravi terlihat, dia sangat bahagia ada di tengah-tengah keluarga besar.
Kasih tersenyum langsung memeluk Ravi, membiarkan suaminya menangis bahagia melihat keluarganya juga bahagia.
Rasih melangkah memeluk kaki Ravi, Rama melihat cucu kecilnya yang mencerminkan sosok Ravi kecil.
"Aku dulu juga selalu memeluk kaki Daddy, Ravi tidak bisa menggenggam tangan, karena takut dilepaskan. Kaki menjadi pilihan terakhir Ravi agar bisa memeluk Daddy." Ravi langsung menggendong putri kecilnya, memeluknya dengan erat.
"Untuk putriku tercinta, kamu jangan cepat besar, Daddy belum puas bermain-main bersama kamu, l love you malaikat kecilku." Ravi mencium kening Rasih.
"Daddy sedang menyumpahi Asih agar tidak tinggi ya?" Rasih melotot, langsung pindah ke pelukan Rama.
Seluruh lampu hidup, memperlihatkan keluarga yang juga ada di tengah-tengah Ravi sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Di balkon kamar Wildan tidak ada lagi orang, mereka semua sudah melangkah ke bawah untuk bergabung bersama keluarga besar.
"Daddy, kenapa Asih selalu mengambil Daddy Vira." Tatapan tajam Vira terlihat kesal langsung memeluk Rama dari belakang.
Rasih menjambak rambut Vira, membuat Vira langsung membalasnya. Keduanya saling pukul membuat Ravi langsung menarik telinga Vira, suara tawa Asih mengejek Aunty nya.
"Sini peluk kak Ravi."
Vira langsung memeluk kakaknya lama, Ravi mengusap kepala Vira yang meneteskan air matanya tidak ingin lepas dari pelukan kakaknya.
"Lepaskan Daddy-nya Asih."
Winda dan Wildan juga memeluk kedua orangtuanya, mengucapkan syukur setiap tahunnya.
Bella berada dalam pelukan Bisma, mengusap kepala putrinya tercinta. Billa juga memeluk Bundanya yang tidak kuasa menahan air mata.
"Selamat ulang tahun sayang, hari ini kalian berdua akan menikah. Papi ingin Wildan menjadi lelaki lebih dewasa lagi, bertanggung jawab. Winda sayang kamu harus menjadi istri yang penurut, hormat kepada suami. Papi sangat menyayangi kalian berdua, kalian adalah doa terindah dalam hidup Papi dan Mami." Bima mencium kening putra putrinya yang akan segera menikah.
***
__ADS_1