SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 GARA GARA MINUM


__ADS_3

Seluruh keluarga berkumpul untuk merayakan ulang tahun pertama Bintang dan Bulan, si tampan yang pendiam, tidak banyak gerak dan bicara sangat menyukai Ayahnya, dan selalu mengikuti apapun kebiasaan Tian.


Bulan si kecil yang nakal, mudah marah, ambekkan, suka memukul dan banyak gerak dan bicara. Bulan sangat manja kepada Ayahnya, dan juga tidak pernah mendapatkan teguran.


Makanan enak dan mewah sudah terhidang, Wira yang biasanya heboh mendadak pendiam membuat Windy kebingungan.


"Wira sayang kamu kenapa?" Windy memeluk putranya yang terlihat tidak bersemangat.


"Kak Wira sedih, karena kak Lin sudah pergi. Jika ada kak Lin makanan cepat habisnya, karena dia rakus." Asih mengunyah makanan tanpa melihat wajah Wira.


"Rakus sama seperti Asih?" Ning juga makan dengan lahap.


Tatapan mata Rasih tajam melihat temannya yang tidak bisa menjaga mulutnya. Dirinya tidak rakus, hanya saja hobi makan.


"Mommy mengenal Erlin?"


"Tidak, hanya saja wajah dia mirip teman mommy saat muda, dia salah satu orang kepercayaan VCLO." Viana menatap Reva yang juga mengenal sosok Clara.


"Bisa cerita tidak Mom?" Winda juga ikutan penasaran.


Viana meminta Reva yang menceritakan soal Clara, karena sejak Viana menghilang hubungannya dengan Citra renggang.


Reva menceritakan jika Citra salah satu orang kepercayaan VCLO, Sisi dan Citra dua orang yang selalu ada di samping Reva membantunya membangun VCLO yang melemah, karena kehilangan pemimpin.


Mereka berdua bekerja siang dan malam, tanpa Clara Sisi, tidak mungkin seorang Reva bisa berada di puncak.


Saat perusahaan sudah normal, Clara menikah dengan kekasihnya. Dia masih aktif di perusahaan sampai Viana kembali dan dia dalam keadaan hamil.


Setelah melahirkan Clara memutuskan untuk resign, dia ingin menjadi seorang ibu seutuhnya dan mengikuti suaminya.


Reva tidak bisa mempertahankan Clara, dia sudah cukup lama mengabdi kepada perusahan, hanya bisa memberikan pesangon yang pantas sebagai penghargaan untuk karyawan yang setia.


Sepengetahuan Reva Clara memiliki seorang Putri dan pergi ke luar kota memulai hidup baru.


"Mami tidak tahu lagi kabar mereka?"

__ADS_1


"Aunty Clara dekat sama Mommy sejak kapan?" senyuman Vira terlihat menatap Mommynya yang cengar-cengir.


"Clara dan Sisi teman Mommy mabuk-mabukan." Reva langsung tertawa lucu melihat wajah Viana.


Semua anak-anak melihat ke arah Reva, kecuali Jum, Bisma, Bima dan Rama yang sudah tahu kebiasaan buruk Viana.


"Mommy mabuk?" Billa mengerutkan keningnya.


"Kalian juga harus tahu, jika dulu pakaian Mommy memperlihatkan dadanya sampai paha juga terlihat, perutnya terlihat, bahkan body-nya sudah pres." Reva geleng-geleng saat melihat pakaian Viana yang pernah cakar-cakaran sampai melorot, dadanya hampir keluar.


"Woy sialan, kenapa mengungkit masa lalu?" tatapan Viana tajam, memegang pisau daging mendekati wajah Reva.


"Fakta, dulu dada kak Vi ketutup, tapi belakangnya seperti sendal bolong." Reva juga memegang sendok garpu menyentuh pisau Vi.


"Rok kak Vi dulu, ketutup sampai dengkul, eh sampingnya belah sampai atas paha." Jum tertawa meminta keduanya tenang.


"Jum, beraninya kamu." Wajah Viana cemberut, dirinya diserang oleh dua wanita Bramasta.


"Apapun masa lalu kak Vi kita bangga mengenal seorang Viana." Jum merangkul Reva dan Viana sambil tersenyum, keduanya masih saling tatap.


Tanpa seorang Viana tidak mungkin sukses seorang Reva, tanpa Reva tidak mungkin bertahannya seorang Viana, tanpa Jum tidak mungkin kuat seorang Reva, tanpa Reva tidak mungkin setia seorang Jum.


"Masa lalu Mommy jangan diikuti, terutama hobi mabuk dan menggunakan baju seksi." Rama menatap anak cucunya yang menganggukkan kepalanya.


Ravi mempertanyakan keadaan pamannya yang sedang berduka karena ditinggal istri tercinta, kabar anak cucunya juga.


Viana yakin adiknya kuat, meskipun terlihat sangat rapuh setidaknya Sisi tidak merasakan sakit lagi.


"Nenek Sisi itu temannya nenek Vi mabuk-mabukan?" Em menatap tajam.


Viana menelan ludah, meminta Jum menjelaskan kepada si kecil yang sudah mulai mengerti.


"Itu dulu Em, saat kita masih belum ada, sekarang nenek Sisi sudah tua, tidak bisa minum lagi." Asih memberikan tulang ayamnya kepada Em.


"Kenapa tidak bisa minum? jika haus tidak minum bisa dehidrasi." Em melempar tulang ayam sampai masuk piring Elang.

__ADS_1


Sikap sabar Elang tidak protes sama sekali, mengambil tisu dan membungkus tulang lalu meletakkannya ke atas meja membuat Erik tersenyum.


"Diyam." Bulan meletakan tangannya di bibir.


"Nek Sisi sudah meninggal pastinya tidak bisa minum." Ning menatap Asih dan Embun.


"Oh, berarti nenek meninggal karena tidak minum." Em memberikan minum kepada Asih agar tidak mati.


"Semuanya gara-gara minuman." Bisma meminta semuanya tenang.


"Berhentilah membicarakan nenek Sisi, dia sudah tenang. Kalian jangan mengungkit masa lalu dia, seharusnya doakan agar nenek berada di surga." Wira meminta adik-adiknya diam, barulah Asih, Em, Ning diam.


Viana tersenyum menatap Wira yang bisa menghentikan perdebatan, seluruh adiknya sangat menurut kepada kakak tertua mereka.


"Mommy, bagaimana jika Lin cucu nenek Clara?"


"Harus kita cari tahu dulu, Mommy juga merasakan sedih karena tidak pernah mencari keberadaannya."


Wira meminta semuanya berhenti membahas Lin dan membicarakan masa lalu, mereka harus tiup lilin dan merayakan ulang tahun twins B.


Vira tersenyum melihat kue, langsung mecolet dengan telunjuknya merasakan enaknya kue.


Wildan menahan tangan istrinya yang ingin makan banyak, Dokter meminta Vira menjaga berat badan agar seimbang agar tidak terlalu beresiko.


"Satu kali lagi."


"Cukup Vira, demi baby twins." Tangan Wildan membersihkan bibir istrinya yang celemotan.


"Twins minta satu lagi." Jari Vira menunjukkan angka tiga, Viana meminta kue segera disingkirkan sebelum Vira menangis.


"Aku janji setelah kamu melahirkan, kue apapun yang twins dan mami inginkan akan Papi sediakan." Wildan memohon agar Vira menurut demi kandungannya yang semakin besar.


"Vira sayang, lihat Winda, sama Bella tidak makan kue. Mereka ingin sama seperti kamu mengurangi makan kue, padahal sangat menyukainya." Rama memberikan air minum agar Vira luluh.


"Bunda tidak makan kue karena lagi diet, sama dengan Maminya Arum tidak makam kue karena pipinya sudah mirip Kue, Bulat." Asih mengejek Bella dan Winda yang melotot.

__ADS_1


"Aunty Vir jangan banyak makan kue, nanti gemuk seperti Aunty Winda dan Bella, mereka rakus soalnya." Em langsung melangkah pergi tanpa dosa setelah menjatuhkan harga diri Winda dan Bella.


***


__ADS_2