SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 DUA LUKISAN


__ADS_3

Perlahan Erik masuk ke dalam rumah, dia tahu hari ini kakek neneknya datang berkunjung. Berkali-kali Mama menghubunginya tapi Erik tidak menjawab.


"Erik, kenapa pulang hampir waktu subuh?"


"Mama," Erik langsung memeluk Septi penuh penyesalan.


"Kamu tidak ada di rumah sakit saat mama menghubungi Aunty Jum."


"Iya Erik sedang keluar Mam, maaf ya pulang telat."


Sebenarnya ada yang ingin Erik sampaikan soal Mamanya yang menolak untuk program hamil, sejak kehilangan adik kecilnya, Mama takut untuk mengandung lagi, sehingga hanya pasrah dengan kapan Allah memberikan.


"Ma, besok ikut Erik cek kesuburan."


"Untuk apa sayang?"


"Erik minta maaf ya Ma, tapi Mama dan Papa bisa mengikuti program kehamilan, Erik sudah bicara dengan teman Erik Dokter kandungan."


"Sudahlah sayang, anak Mama cukup kamu. Mama dan Papa tidak memaksa untuk memiliki anak, lagian kami sudah tua, kamu saja yang menikah, buat cucu yang banyak, jadi penerus kita banyak." Septi tertawa menawarkan Erik banyak perempuan cantik.


"Ma, kenapa jadi bahas Erik?"


"Bagaimana kalau kamu mama jodohkan dengan Sasha, Ayah Sasha dulu seperti Kaka bagi Mama."


"Kenapa harus Sasha Ma, tidak ada perempuan lain."


"Memangnya kamu ada wanita idaman, atau kamu sudah punya calon istri?" Septi duduk menatap tajam putranya.


"Tidak ada Mama!"


"Kamu suka Vira, tapi tidak mungkin kalian seperti kucing dan tikus, kalau Winda preman pasar mana mungkin tertarik cinta walaupun dia sangat cantik, Bella tapi dia bukan tipe kamu, astaga jangan bilang itu Billa, Mama suka Billa dia mengemaskan mirip kak Jum." Septi bicara panjang lebar, tapi Erik sudah kabur ke dalam kamarnya, yang muncul Ammar dengan wajah binggung melihat istrinya mengomel sendiri.


"Kamu mau menjodohkan papa dengan Billa sayang, bisa mati berperang sama Bisma."


"Siapa yang mau sama aki-aki tuan seperti papa!?" Septi teriak marah, mencubit perut Ammar kuat.


"Awwwwww sayang maaf hanya bercanda."


***

__ADS_1


Ravi juga tiba di kamarnya langsung mandi, sebentar lagi sholat subuh berjamaan dengan keluarganya. Selesai mandi Ravi menatap lukisan Kasih yang sangat lucu, menggigatkan Ravi pada sebuah lukisan pemberian Uncle Bima saat dia kecil dulu, Ravi langsung berlari ke lantai bawah, masuk ke dalam kamar lamanya, melihat lukisan kucing bersama foto ular, kucing pertamanya.


"Hai ular, sekarang Ravi sudah besar sebentar lagi akan menikah, lalu Ravi juga bisa kawin seperti ular dulu." Ravi menyentuh wajah kucing pertamanya, lalu mengambil lukisan dan melangkah keluar.


Ravi menggabungkan dua lukisan yang memiliki gaya yang sama, hanya saja lukisan Kasih yang baru lebih Ravi dan nyata, sedangkan yang lama sedikit berantakan.


"Apa kalian orang yang sama? jika iya aku sudah jatuh cinta melalui lukisan kepada sang pemiliknya."


Ravi menggantung dua lukisan, suara ketukan pintunya terdengar, suara cempreng Vira memintanya turun untuk sholat subuh.


Keluarga Rama melaksanakan sholat subuh berjamaah, Ravi yang menjadi imam dan mereka mengakhiri dengan doa.


"Ravi, dengarkan Daddy menikah bukan hanya kalian yang bersatu, tapi dua keluarga juga ikut bersatu, jangan pernah amarah membuat kalian ingin berpisah karena bisa menyakiti bukan hanya kalian berdua tapi kami juga, pikirkanlah dengan matang, terus berdoa memohon kepada Allah untuk meminta ridho."


"Iya Daddy, insyaallah Ravi sangat yakin, Ravi yakin bisa menjadi suami yang baik, membimbing keluarga Ravi, menjaga keluarga kita."


"Kenapa Vira tidak yakin ya Daddy?"


Air mata Viana mendadak mengalir, Ravi mendekat menghapus air mata yang paling dia benci saat keluar dari mata indah Mommy nya.


"Kenapa Mommy menangis? Ravi tetap bersama Mommy, tidak akan pernah jauh dari Mommy."


"Mommy jangan bicara seperti itu, Mommy harus sehat, Mommy harus terus dampingi Ravi, sampai melihat anak cucu Ravi, Mommy nyawa Ravi." Air mata Ravi ikut mengalir memeluk Mommy.


"Kita tidak pernah tahu yang namanya usia, mungkin Daddy yang pergi lebih dulu, kita hanya perlu mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya."


"Ini kenapa pada ngomongin mati, kak Ravi hanya ingin menikah, tidak ada yang ingin melihat Vira menikah, punya anak, Vira tidak suka membicarakan hal yang sedih." Tangisan Vira pecah, suara cemprengnya semakin kuat jika menangis.


Rama menarik putrinya yang sudah menangis histeris, Viana juga membelai rambut Vira.


"Maafkan Daddy dan Mommy, kita akan menemani Vira sampai menikah nanti, Vira juga harus berdoa terus minta umur panjang untuk Mommy dan Daddy ya sayang."


"Vira menikah dengan Wildan ya Daddy?"


"Mana Daddy tahu, Wildan tidak suka Vira."


"Tapi Vira suka!"


"Ya sudah tanya Mommy?"

__ADS_1


"Mommy tidak mengerti soal mengejar cinta, tanya pada Aunty Reva."


Rama tersenyum, baru saja bersedih tapi sudah dibuat kebinggungan oleh Vira, Rama menyukai Wildan tapi tidak ingin memaksa sebuah perasaan, biarkan takdir yang menjodohkan mereka.


"Vira banyak pria tampan, tidak harus Wildan, dia manusia es, tidak malu kamu mengejar cinta laki-laki?"


"Mami juga dulu mengejar cinta Papi Bima?"


"Itu Aunty Reva bukan Mommy Viana! kamu keturunan siapa sebenarnya."


"Ravi Prasetya, kamu pikir hanya kamu yang memiliki banyak pengemar, Vira akan memberikan bocoran, jika kak Kasih juga cukup populer. Mau tahu pria yang selalu menguntit kak Kasih?"


"Siapa?"


"Wani Piro!" Vira langsung tertawa, mencium wajah Rama dan Viana langsung kabur keluar.


Ravi berlari juga mengejar Vira, memaksanya untuk mengatakannya tapi Vira meminta bayaran besar.


Viana meneteskan air matanya, dia sangat bahagia melihat kedua buah hatinya, walaupun sejak kecil selalu bertengkar, tapi keduanya saling menyayangi dan menjaga. Rama merangkul Viana, mencium keningnya, tidak ada yang berubah dari Vi dan Rama, mereka masih romantis, dan rasa cinta tidak sedikitpun pudar tapi semakin besar.


"Hubby, dulu Mommy saat hamil Vira, sering mengatai Reva yang mengejar cinta Om Duren, jadi sekarang turun ke Vira yang mengejar cinta Wildan."


"Biarkan saja Mom, Wildan pria baik walaupun sangat dingin, dia tidak mungkin menyakiti Vira, walaupun dia masih muda, Wildan sangat mirip kak Bim."


"Hubby benar, Wildan dan Bima, seperti jiplakan."


Keributan masih saja terdengar, pertengkaran Vira dan Ravi yang tidak berhenti sekalipun matahari terbit. Bahkan sedang sarapan saja keduanya masih berkelahi hanya karena paha ayam.


"Vira Ravi, nanti setelah kak Ravi menikah kamu tidak akan punya teman bertengkar lagi."


"Vira tidak perduli Mom, kalau Vira mau bisa tinggal di rumah kak Ravi."


"Maaf tidak terima tamu, apalagi manusia cempreng seperti kamu."


"Benar ya, yakin tidak butuh Vira, bener ya!?"


"iya boleh, tapi ingat perjanjian kita." Ravi garuk-garuk kepala jika berurusan dengan Vira, dia bisa buntung baik dompet juga batinnya.


***

__ADS_1


__ADS_2