
Rama keluar dari ruangan nya sambil mengandeng tangan Viana, pas didepan meja Andin Viana langsung melotot kan matanya.
Sampai dilantai bawah Ravi berjalan sambil berlarian, senyum manisnya menebar ke segala penjuru. Setiap orang yang melihat mereka ikut bahagia, Keluarga yang sangat bahagia.
"Hai aunty, wajahnya putih tapi leher aunty hitam," sapa Ravi sambil tersenyum.
Viana yang mendengar mengigit bibir bawahnya, menahan tawa sambil memeluk lengan Rama.
"Uncle Bima, uncle usianya berapa?"
"38tahun Ravi,"
"Mommy! umur uncle sama aunty Reva jauh ya,"
"Tidak usah nyindir uncle, mommy sama daddy juga beda jauh."
"Tapi uncle tampan, aunty Reva juga cantik tapi sayang galak."
"Aunty Reva galak, kok bisa Ravi."
"Iya uncle, Ravi disuruh menangkap buaya, harimau, singa. Terus Ravi niatnya kasih aunty semangat tapi aunty langsung bilang, Ravi jangan ganggu aunty, ini lagi konsen, buang jauh kejahilan kamu."
Sepanjang jalan Bima menikmati Omelan Ravi yang duduk disebelahnya, sedangkan Rama dan Viana di belakang.
***
Hari sudah malam Viana sudah berbaring di ranjang menunggu Rama yang masih menemani Ravi, saat melihat langit kamar Viana teringat Chintya yang bermandian darah, Rama masuk memperhatikan Viana yang tiba-tiba gelamun.
"Sayang! mikirin apa?"
"Hubby, mommy sudah membunuh Tya."
"Sayang, kamu tidak membunuh Tya, dia menembak dirinya sendiri, dia sekarang mengalami kecacatan permanen, aku sering mengunjunginya, Tya sekarang hidup sebatang kara, ibunya meninggalkan 2tahun yang lalu, perusahaan ayahnya hancur, aku juga sudah mencoba membantu tapi tetap tidak bisa bertahan."
"Tya masih hidup hubby, ya Allah syukurlah, Viana sudah berpikir menjadi seorang pembunuh."
"Tidak sayang, Tya juga berpesan minta maaf ke kamu, dia ingin sekali bertemu kamu."
"Vi mau hubby menemui Tya, kalau bisa kita bantu pengobatan Tya sebaik mungkin, kasihan dia hubby. Tya hanya korban dari Mitha."
"Siapa Mitha sayang," wajah Rama menatap Viana dengan binggung.
"Ammar tidak pernah cerita soal Mitha hubby,"
"Tidak! dia hanya fokus mencari kamu,"
"Mitha orang yang menghasut Tya, menyebarkan berita keterlibatan Viana dengan dunia gelap melalui Oma, karena Oma titik kelemahan kamu dan juga dulu cinta kita terlalu lemah, jadi Tya menyerang dengan dikendalikan Mitha."
"Tujuannya!"
__ADS_1
"Kekasihnya tewas bunuh diri, karena cintanya Viana tolak, dan dia juga mendekati hubby agar Viana semakin hancur, tapi syukurnya hubby tidak tergoda."
"Hubby tidak pernah mendengar nama Mitha yang mendekati hubby."
"Ya ampun hubby, kalau Mitha muncul langsung Ammar pasti langsung tahu, dia melakukan operasi dan berubah menjadi Ririn, dan pria yang menjadi ayahnya, pria yang itu itu hubby."
"Itu itu apa Vi? bicara yang jelas, hubby binggung."
"Emhhh malu hubby nyebutnya, laki-laki yang menyimpan perempuan."
"Maksudnya mommy, Ririn dan Abi nya bukan anak dan ayah tapi punya hubungan gelap."
"Iya itu hubby paham."
"Astaghfirullah Al azim, kenapa bisa casingnya sebaik itu!"
"Hubby, jangan bilang pernah mengagumi Mitha,"
Rama memeluk dan tersenyum sambil menciumi Viana berkali-kali, Viana sampai kegelian melihat tingkah kekanakan Rama.
"Besok hari spesial Ravi, kita buat adik dulu buat dia, siapa tahu tahun depan hadiah ulangtahun ke 6 adik bayi."
"Dasar ABG mesum, tadi lagi bicara serius tapi sekarang dia minta jatah enak-enak." Batin Viana.
Rama mulai menyusuri setiap inci, dari atas sampai bawah, Viana sudah bermandian keringat, tapi Rama belum niat berhenti.
"Hubby! Mau berapa lama lagi, kita harus tidur besok menyambut Ravi,"
Viana pasrah, dia paham Rama ingin menikmati momen dimana melihat bayinya, Vi pernah menghilangkan kesempatan itu, dari dulu Rama yang paling antusias memiliki anak, dan sekarang masih sama.
***
"Mommy! Daddy! kalian dimana?"
Ravi membuka kamar Mommy tapi kosong, dia keruangan olahraga biasanya daddy nya disana kosong juga, Ravi berlari turun mencari Oma Irma tapi tidak ada.
"Aunty Jum, mommy dan daddy dimana?"
"Sudah pergi kerja tuan muda."
Ravi melangkah pergi keluar rumah, melihat mobil Rama dan Viana memang sudah tidak ada diparkiran.
Ravi kembali masuk kedalam ada sambil menundukkan kepalanya, air matanya langsung mengalir di pipinya.
"Mommy, Ravi hari ini ulang tahun, mommy biasanya tidak pernah meninggalkan Ravi,"
"Daddy, Ravi mau mommy sama daddy,"
Ravi menangis tersedu-sedu, duduk dilantai memeluk lututnya sambil terus menangis, Jum yang melihat Ravi ikut meneteskan air matanya, Ravi terlihat takut kehilangan kedua orangtuanya, matanya terus mencari-cari berharap mommy dan daddy nya kembali.
__ADS_1
"Mommy, Daddy gak sayang Ravi, hari ini Ravi ulang tahun, tapi tidak tiup lilin, daddy sudah janji tiup lilin bareng Ravi. Daddy bohong, daddy gak sayang Ravi. mommy Ravi mau ikut mommy."
"Ravi!"
"Uncle, mommy sama daddy pergi, hari ini Ravi ulang tahun, apa Ravi mimpi ya uncle bisa bertemu daddy, berarti mimpi Ravi panjang sekali uncle terasa nyata,"
Ravi terus menangis dalam pelukan Bisma, dia menutup matanya.
"Buka mata kamu Ravi, ini hari ulang tahun kamu, uncle sudah janji di ulang tahun kamu yang ke-lima, tiup lilin bareng mommy dan daddy"
"Tidak uncle, Ravi hanya bermimpi bertemu daddy, Ravi tidak mau tiup lilin lagi, Ravi cukup bersama mommy, Ravi takut mommy juga meninggalkan Ravi."
"Yakin tidak mau buka mata dan tiup lilin," Bisma menghapus air mata Ravi. Perlahan mata Ravi terbuka.
Mata Ravi menangkap sosok orang yang selalu dia menemaninya, Ravi turun dari gendongan Bisma dan berlari memeluk Viana.
"Mommy jangan tinggalkan Ravi,"
"Kamu drama sekali Ravi, cowok hoby nangis."
"Mommy tidak mengerti suasana sedih," tatap kesal Ravi melihat mommy tertawa.
Suara gemuruh bersama mengejutkan Ravi, dilihatnya kue yang sangat besar, Rama berdiri disamping kue, Ravi ragu untuk berlari memeluk daddy nya.
"Mommy, Ravi tidak mimpikan."
Viana melangkah mendekati Rama dan mencium pipi Rama sambil mengejek Ravi yang hidungnya sudah meler kebanyakan menangis.
Satu persatu semuanya mendekat, Reva mendekati Ravi memberikan sebuah kado ukuran besar, Ravi memandangi nya.
Hidungnya yang meler digosok-gosokkan sampai mata Reva melotot kesal.
"Rama! anak Lo jorok banget," teriak Reva membuat orang tertawa.
"Bukan jorok Tante, hidung Ravi pilek ini keluar terus." Ravi memegang ingus dan memberikannya ke Reva.
Reva yang berlutut didepan Ravi langsung terbaring di lantai jatuh pingsan, Bima mendekati Ravi dan membersihkan hidung Ravi dengan tisu.
Melihat Reva yang pingsan Ravi tertawa lebar, suasana sedihnya langsung berubah tawa.
Rama memandangi Ravi juga meneteskan air matanya, hati Rama sakit melihat Ravi yang panik berpikir semua yang dia lewati bersama Rama hanyalah mimpi.
***
BESOK PESTA ULTAHNYA, KITA LIHAT KEKACAUAN YANG DI BUAT RAVI.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA..
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE...