SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 7


__ADS_3

Kemarahan Bella tidak terbendung lagi melihat tangan anaknya patah, hanya dirinya yang boleh memukul Bulan, tidak ada yang boleh menyakiti anaknya.


Billa mengirim pesan kepada Winda, dia tidak bisa menghentikan Bella yang marah besar. Bahkan Bella pergi sebelum bertemu Bulan.


Winda yang mendapatkan kabar langsung menghubungi Vira, mereka tidak tahu Bella pergi ke mana, bahkan pelaku yang menyerang belum di ketahui keberadaannya.


"Bagaimana ini Vir? kita tidak punya banyak waktu untuk menemukan keberadaan Bella." Winda menjalankan mobilnya, mencoba menghubungi tapi tidak ada jawaban.


"Bella bisa dengan mudah menemukan mereka, dia salah satu hacker yang hebat. Polisi belum bergerak, Bella sudah bisa membunuh mereka." Vira mengaruk kepalanya.


Tidak ada pilihan lain, Vira langsung menghubungi suaminya mengatakan kepada Wildan jika Bulan diserang dan mengalami patah tulang.


Masalahnya bukan di Bulan, tapi Bella yang menghilang. Vira sangat yakin pasti Bella mencari pelaku.


Wildan langsung cepat mengecek ke tempat kejadian, menghubungi pihak sekolahan. Wildan langsung mengirimkan kepada Vira alamat anak-anak yang menyerang Bulan.


Mobil Bella tiba di sebuah rumah mewah, air matanya masih menetes. Satpam tidak mengizinkan Bella masuk, dan mendorongnya keluar.


Bella yang sedang dalam emosi melayangkan pukulan kuat, langsung berlari masuk mengunci pintu.


Suara keluarga sedang tertawa terdengar, foto keluarga terlihat. Anak yang memukul Bulan sudah berusia tujuh belas tahun, sedangkan Bulan dia masih sangat kecil.


"Kalian keluarga yang memiliki status dan sangat dipandang baik oleh masyarakat, putra pimpinan dan ayahnya seorang jendral tapi anaknya mirip binatang. Putriku masih kecil, beraninya kamu membuatnya patah tulang?" Bella melemparkan bingkai foto tepat mengenai kepala.


Suara teriakan terdengar, dua anak kecil berlari bersembunyi ke dalam kamar. Bella akan memastikan siapapun yang mematahkan tangan anaknya harus patah.


Bella menginjak kuat tangan, tidak perduli dengan teriak histeris.


Suara tembakan terdengar, Bella langsung melihat ke arah seseorang yang memakai serangan juga mengarahkan senjata.


"Putra anda mematahkan tangan putriku, dia belum genap lima tahun, sedangkan anak anda sudah besar. Sebagai ibunya aku tidak terima." Bella menatap tajam.


"Ini namanya penyerang, anda bisa saya laporkan."

__ADS_1


"Silahkan, tuntun aku jika anda mampu. Catat baik-baik nama Bella Bramasta, laporkan aku sebagai orang yang masuk ke rumah seorang jendral dan mematahkan tangan anaknya. Lakukanlah setidaknya aku bisa membalaskan rasa sakit anakku." Senyum Bella terlihat, menatap seorang pemuda berteriak sambil menangis melihat tangannya patah, bahkan tulangnya terlihat.


Pukulan kuat menghantam wajah Bella sampai terlempar, Bella langsung tertawa melihat dirinya ditampar.


Kesempatan yang Bella tunggu untuk memberikan pelajaran kepada jendral yang tidak bisa mendidik anak, sebagai sesama orang tua seharusnya mengerti posisi Bella.


Tanpa ada rasa persiapan, Bella langsung berdiri. Bertarung dengan pria bersenjata, keduanya saling menjatuhkan sampai barang-barang berjatuhan.


Pintu rumah terbuka, Tian melihat Bella bertengkar langsung berlari menariknya. Penampilan Bella sudah berantakan, bahkan darah keluar dari hidungnya.


Vira melayangkan tendangan, Wildan langsung menarik istrinya yang terpancing emosi. Winda yang melihat juga langsung emosi.


"Sialan, kamu tidak tahu anak yang diserang baru berusia lima tahun."


"Win, Arum juga diserang bahkan kepalanya harus Rontgen." Bella meludahkan darah.


"Binatang." Winda langsung memukul kuat.


"Berhenti!" Tian teriakan kuat.


Winda mencekik kuat, lehernya juga dicekik. Seorang anak kecil remaja langsung bersujud meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.


"Kita sama seorang ayah, putriku ada di rumah sakit. Tangannya patah, wajahnya babak belur. Aku juga marah dan terluka melihat putri semata wayang yang sangat aku cintai disakiti. Sejak kecil putriku nakal, tapi tidak sekalipun aku menaiki nada untuk memarahinya karena apa, dia anak yang penyayang dan menyukai keramaian, tapi jika dia disakiti akan membalas bekali-kali lipat. Kami menghukum dia, bahkan mengalah untuk memindahkan dia sekolah agar tidak ada keributan, tapi anak kalian menyerang dia menggunakan kakaknya." Tian menatap pria berseragam mengambil senjatanya.


Suara tembakan terdengar, Tian menembakkan seluruh peluru ke lantai. Meminta pria tersebut membawa anaknya ke rumah sakit. Tian akan membayar kerugian yang istrinya buat dan memastikan kehilangan pangkat.


"Bastian, saya khilaf. Tolong maafkan keluarga kami, ini tidak akan terulang lagi."


"Aku bukan Ayah yang baik bisa memaafkan, kalian tidak bisa mengembalikan putriku seperti semula." Tian menarik tangan Bella keluar untuk pergi ke rumah sakit.


Wildan tahu jika Tian sendang menahan emosi, pukulan kuat menghantam mobil sampai kaca pecah.


Tangan Wildan mengusap punggung Tian yang menahan kesedihannya melihat putrinya terluka.

__ADS_1


Vira menatap satpam, memberikan kartu nama untuk meminta ganti rugi atas pukulan Bella dan meminta maaf.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, jangan sampai Ayah Bisma tahu pasti dia marah besar." Wildan melarang Tian membawa mobil.


Tatapan Tian melihat ke arah luar jendela, air matanya menetes melihat anak yang memukul putrinya melalui CCTV.


"Tenangkan diri dulu kak Tian, jangan sampai Bulan melihat kesedihan kalian." Wildan memberikan minum.


"Kamu tahu Wil, nyamuk sedikit saja tidak aku izinkan menyakiti Bulan, kamu tahu rasanya memiliki putri. Jika dia berkelahi, dan bercerita bertapa senangnya dia saat menang, aku tidak marah dan siap ganti rugi setiap orang mempermasalahkan. Aku tahu putriku tidak salah, dan dia anak yang baik." Tian mengusap wajahnya, merasa sesak dadanya.


"Bagaimana dengan Arum? aku hanya melihat kak Ar kebut-kebutan di jalan."


"Dia baik-baik saja, hanya ada luka di kepalanya."


Wildan mengusap dada, saat tahu Arum terluka Wildan juga hampir jantungan. Mereka tidak percaya jika anak remaja memukuli anak kecil hanya untuk membalas pertengkaran adiknya.


Di mobil lain Bella sudah tenang, hatinya puas saat bisa meluapkan emosinya. Suara Bella mengumpat masih terdengar, sumpah dan caci maki menjadi musik di jalanan.


"Bagaimana keadaan Arum? kenapa tidak ada yang mengabari aku?" Winda juga kesal, jika dia tahu bukan hanya tangan yang dia patahkan, tapi leher.


Bella yakin Arum baik-baik saja, jika Erwin terlihat tenang berarti Arum aman. Bella hanya tidak terima putrinya patah tangan.


Vira mengusap air mata Bella, langsung memeluknya. Memarahi Bella yang pergi sendirian, seharusnya memberikan kabar.


"Setelah menjadi ibu, emosi aku semakin tinggi, apalagi musuh bebuyutan yang disakiti. Oh tidak terima." Bella tertawa melihat foto putrinya yang selalu berkelahi dengannya.


Vira dan Winda setuju, para wanita memang musuh bebuyutan mereka yang harus dijaga, juga dipukul karena sangat nakal, tapi juga sangat disayang.


"Bagaimana ekspresi aku jika melihat Bulan? tidak boleh menangis, nanti dia tertawa." Bella mengatur ekspresi wajahnya.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2