SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BERMAIN BERSAMA KELUARGA KECIL


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa usia twins V sudah menginjak enam bulan. Keduanya semakin besar dan sangat mirip.


Sulit sekali membedakan keduanya, bahkan Vira juga belum bisa membedakannya.


Istimewanya warna mata kedua putrinya juga bisa berubah, tubuh mereka juga semakin gemuk. Vira kesulitan jika harus menggendong keduanya.


"Vira, kamu bisa diam tidak?" tatapan Wildan tajam, dia tidak bisa fokus menyetir melihat Vira yang terus mengoceh di kursi belakang.


Virdan juga hanya bisa menutup telinganya, suara Vira mengoceh mengalahkan burung beo.


Apapun yang Vira ucapkan diikuti oleh Vio dan Vani, keduanya berteriak membuat kepala Wildan dan Virdan ingin pecah.


Vira langsung diam, melipat tangannya di dada melihat dua anak perempuannya juga diam.


Suara tawa bayi nakal di samping Vira terdengar, terlihat sekali wajah bahagia melihat jalanan.


"Siapa nama kamu? aku juga tidak tahu yang mana Vio dan mana Vani?" Vira menghela nafasnya.


Wildan menghentikan mobilnya, membuka pintu belakang. Mengeluarkan kursi dorong, Vio langsung diturunkan di masukan ke dalam kursi, baru giliran Vani.


Vira mengandeng tangan Virdan, Wildan mendorong roda kedua putrinya. Suara teriakan Vio sangat besar melihat keramaian, dan menatap pantai yang sangat indah.


Keluarga kecil Wildan memutuskan untuk liburan, menghabiskan waktu bersama dan bermain-main di pantai.


Melihat pantai yang sangat tenang, Virdan langsung mengantuk dan memutuskan untuk tidur.


Vio yang sudah bisa merangkak dibiarkan bergerak bebas di pasir pantai dalam pengawasan Wildan dan Vira.


Melihat kakaknya bergerak bebas, Vani juga langsung bergerak mengejar kakaknya yang bermain pasir.


Senyuman Vira dan Wildan terlihat, menatap bahagianya keluarga kecil mereka. Bisa melihat kedua putrinya bermain bebas.


Masih teringat saat Wildan dan Vira berkunjung ke makam putri mereka, membawa Vio dan Vani juga Virdan.


Mencoba berbesar hati dan mengikhlaskan apa yang sudah pergi agar mereka semua bahagia.


Vira meneteskan air matanya, ada rasa haru dari sebuah kesabaran juga perjuangan untuk mempertahankan kandungannya hingga twins V lahir.


"Ayang, Vira bahagia sekali. Meksipun ada luka di hati kita kehilangan Vivi, juga takutnya Virdan yang terabaikan. Kita berhasil melewati semuanya." Senyuman Vira terlihat, mencium pipi suaminya.


"Sadar tidak kamu Vir jika kamu melupakan sesuatu?" tatapan Wildan tidak berpaling dari putrinya yang main pasir.

__ADS_1


Vira menatap suaminya dengan ekspresi binggung, Vira selama ini sudah melakukan yang terbaik dalam hubungan rumah tangganya.


Tidak tahu jika dirinya melakukan kesalahan kepada suaminya, Wildan juga sebelumnya tidak pernah kompline.


"Ada apa Ayang?"


"Rasa cinta kamu apa sudah berubah?"


Vira langsung terkejut, menggelengkan kepalanya jika perasaan cintanya masih sama, tidak ada yang berubah sedikitpun.


"Rasa cinta Vira semakin hari semakin besar, Ayang kenapa bicara seperti itu?" tatapan Vira langsung berubah sedih.


Wildan tersenyum, menyentuh hidung istrinya. Jika mengingat lagi masa lalu mereka yang hanya sebatas saudara, dan tidak pernah terpikirkan akan menikah cepat dan dan memiliki anak diusia yang sangat muda.


"Vira, kamu sudah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak, terima kasih sudah mencintai kami. Seharusnya kamu melewati masa muda yang masih panjang."


"Apa maksudnya Ayang? Vira tidak mengerti." Air mata Vira langsung menetes, hatinya merasa tidak nyaman.


Dulu Wildan selalu menolaknya, mengatakan jika masa mereka masih panjang, jauh dari kata cinta. Wildan ingin menghabiskan masa muda sampai puas, tapi kenyataannya dia harus menjadi ayah diusia muda.


"Jangan menangis sayang, maaf jika ucapan aku salah."


"Apa yang harus Vira lakukan agar Ayang tetap bersama kami? apa salahnya Vira yang membuat Ayang kecewa?" Air mata Vira semakin deras membasahi pipinya.


Kepala Wildan menggeleng, tidak ada yang salah dari Vira. Dia mengubah pikirannya untuk menghabiskan masa muda sendirian, jika berdua bisa membuat bahagia kenapa harus sendiri.


"Vir, kamu sadar tidak jika waktu sangat cepat berlalu, bangun pagi, lalu sore kembali. Setiap hari semuanya terus terulang ... terkadang aku menginginkan sesuatu yang lebih, egoisnya aku Vir." Wildan langsung berdiri, melangkah menangkap putrinya yang dipukul oleh Vio sampai penuh pasir.


"Apa yang ayang inginkan?"


"Aku menginginkan kamu, tapi waktu kamu sudah terisi untuk memperhatikan anak-anak." Suara tawa Wildan terdengar.


Vira juga langsung tersenyum, Wildan memang benar sejak bangun tidur mereka sibuk dengan anak.


"Maaf, Vira lupa kewajiban sebagai istri." Vira langsung berlari ke pelukan suaminya.


"Tidak Vir, kamu sudah menjadi wanita yang sangat hebat, ibu dan istri yang luar biasa. Aku bahagia memiliki kamu, sangat bahagia." Pelukan Wildan sangat erat, mencium bibir Vira.


Wildan dan Vira berpelukan dan saling mengatakan cinta, tidak menyadari jika Vio sudah merangkak ke arah pantai.


Virdan yang terbangun langsung berlari mengejar adiknya, dia tidak kuat menggendong Vio yang badannya sangat gemuk. Terpaksa Virdan menjambak rambut adiknya agar berhenti bergerak.

__ADS_1


Wildan langsung melepaskan pelukan terhadap Vira, melihat putranya tidak ada ditempat lagi. Vira langsung cemberut, sebenarnya bukan Wildan yang kesepian tanpa Vira, tapi Wildan yang melupakannya demi anak-anak.


"Di mana Virdan?" Wildan langsung melihat Vani yang duduk menatap Vio menangis.


Vira langsung teriak kaget, Vio menangis karena dijambak oleh kakaknya yang melarang Vio mendekati air.


"Papi, Vio ingin main air." Suara pelan Virdan terdengar melihat adiknya menangis.


Wildan langsung berlari, menggendong putrinya yang kesakitan karena rambut ditarik. Kedua tangan Vio mengusap rambutnya yang dikuncir dua.


Suara tawa Wildan dan Vira terdengar, mereka merasa lucu melihat tingkah Virdan yang kesulitan menengahi kedua adiknya.


"Dan, kamu jika sama Arum sangat lembut, tapi ke Vio main tarik rambut."


"Maaf, Virdan meminta Vio berhenti, tapi terus saja."


Vira mencium putranya yang langsung melangkah mundur, tatapan Virdan tajam melihat Vani yang sudah guling-guling, menggelinding di pasir.


"Astaghfirullah Al azim Vani." Vira langsung menggendong putrinya.


Wildan membawa Vio bermain air, suara tawa Vio terdengar sangat menyukai air. Vira juga membawa Vani bermain air pantai.


"Virdan kemarilah."


"Tidak mau Papi, nanti kaki Virdan kotor."


"Virdan tolong Mami, Vani kuat sekali." Vira tersenyum agar Virdan mendekatinya dan bermain air bersama.


Dengan terpaksa, Virdan melihat kakinya tekena air dan membantu Maminya memegang Vani yang mengacak-acak air.


"Papi tolong Virdan, nanti wajah Dan basah." Ekspresi wajah Virdan cemberut, kesal melihat adiknya.


Senyuman Wildan terlihat, membiarkan anak-anaknya basah. Wajah Vio dan Vani terlihat sangat menyukai air sedangkan Virdan sudah mengeras membersihkan wajahnya.


"Sesekali kotor itu baik Virdan."


"Tidak Papi, Virdan membenci kotor." Tatapan mata Virdan tajam, melihat bajunya basah.


***


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2