SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SENYUMAN


__ADS_3

Kasih terbangun karena seseorang menggakat tubuhnya, meletakkan di atas ranjang. Kasih membuka sedikit matanya melihat Ravi yang baru pulang bekerja, karena lelahnya membersihkan rumah Kasih sampai ketiduran.


Ravi masih melakukan panggilan dengan Vira yang suaranya sangat berisik, Vira memaksa ingin menginap tapi Ravi menolak.


[Vira lebih baik kamu segera pergi ke New York untuk mendaftar kuliah di sana. Berhentilah untuk mengacau.]


[Wanita yang bersama kakak bukan kak Kasih, dia wanita berbahaya kak.]


Tanpa menjawab Ravi langsung masuk kamar mandi, meninggalkan Vira yang terus mengomel. Kasih bangun mengambil ponsel Ravi, membiarkan Vira bicara tanpa rem.


[Datanglah Vira, berhentilah untuk mengomel.] Kasih langsung mematikan panggilan.


"Siapkan baju aku Kasih." Ravi keluar hanya dengan menggunakan handuk.


Kasih langsung membuka lemari mencari baju santai, menyerahkannya kepada Ravi yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Vira geng sudah tahu tentang aku, apa yang harus aku lakukan?"


"Secepatnya kita harus menemukan Karin, lalu kalian berdua harus jujur dan bongkar kebusukan Cinta. Lebih baik sakit di awal dari pada Cinta membuat korban baru."


Kasih diam, mungkin masalah keluarga bisa di selesaikan tapi tentang dirinya tidak akan mudah selesai hanya dengan permintaan maaf, atau memberikan hal kecil. Kasih takut Ravi bisa tahu soal Keluarga angkatannya yang memiliki banyak pembunuh bayaran.


"Soal Vira jangan terlalu di pikirkan, mereka tidak akan bertindak jauh karena masih dalam pengawasan."


Kasih hanya menggagukan kepalanya, Ravi meminta Kasih mandi baru sholat ashar bersama. Karena Kasih malas berdebat akhirnya menuruti keinginan Ravi, dan sholat berjamaah.


"Kamu ternyata selain playboy, ada bagusnya juga." Kasih tersenyum kecil, berbicara dalam hati.


"Mau ikut aku jalan-jalan keliling komplek?"


"Boleh,"


Kasih membereskan alat sholatnya, langsung menemui Ravi yang sudah menunggu di luar. Ravi sibuk memanaskan mesin motor, Kasih baru tahu jika ada motor.


"Ayo naik,"


"Kita mau ke mana?"


"Keliling komplek, siapa tahu dapat makan gratis."


Kasih mengerutkan keningnya, naik motor besar milik Ravi, Kasih berusaha menjaga jarak, tapi Ravi yang sengaja mengerem kejut membuatnya harus memeluk pinggang.


Saat tangan Kasih ingin di tarik, Ravi menahannya menyatukan jari-jari mereka. Kasih menghela nafas mengabaikan apapun yang Ravi lakukan, menikmati sore yang cerah.


"Kasih, jangan pernah maju sendiri melawan Ayah angkat kamu, aku tahu dia orang jahat, tapi jangan pernah kamu juga melakukan kejahatan."

__ADS_1


"Aku hanya menghukum orang jahat, menyelamatkan dan membebaskan orang baik."


Kasih bicara pelan belum menyadari ucapan yang ternyata Ravi mengetahui soal keluarga angkatnya, Kasih sibuk tersenyum melihat kucing yang sangat banyak di balik rumah kaca, dekat dengan rumah mertuanya.


Motor Ravi berhenti tepat di depan kursi santai bawah pohon rindang, tidak jauh dari kediaman Uncle Bima.


"Assalamualaikum Uncle, di mana Mami?"


"Waalaikum salam, Mami masih di dalam mengambil cemilan."


"Selamat sore paman." Kasih menatap Bima, lelaki yang dulu memberikannya peralatan lukisan saat kecil, Kasih tidak mengenali Bima saat pernikahan karena hatinya sedang berperang.


"Sore Kasih, kalian berdua terus seperti ini, kamu harus mempunyai banyak waktu bersama istri kamu Ravi"


"Paman kenal Kasih tidak, dulu saat Kasih kecil paman membeli lukisan Kasih?"


Bima coba berpikir menatap Ravi yang tersenyum.


"Lukisan yang Ravi minta dulu Uncle."


"Ohhhh paman ingat, gadis kecil perusak jalanan dengan mencoret-coret, pelukisnya memang bernama Kasih, jadi kalian memang berjodoh."


Viana keluar bersama Rama, langsung memeluk Kasih mencium pipinya, Reva juga datang membawa ubi goreng hangat, Jum juga datang membawa minuman.


"Kamu coba sayang, ubi ini enak karena bukan masakan Mami."


"Ravi, beraninya kamu." Reva dan Ravi tertawa.


"Kasih jika kamu ingin cepat hamil, Bunda bisa memberikan ramuan dari kampung Bunda."


Kasih tersenyum melihat Reva dan Viana yang berada di belakang, menggelengkan kepalanya, menyilang tangan.


"Terima kasih Bunda, Kasih ikut saja saran Bunda."


"Mbah Jambrong lagi Jum, dia berhasil membuat Ayam beranak."


"Bukan kak Vi, dia lebih hebat dari Mbah Jambrong namanya Mbak kiting."


"Tukang urut kak Jum, rambutnya keriting jadinya mbak kiting." Reva sudah menahan tawanya.


"Menurut cerita, dia tidak punya rambut mbak Reva."


Kasih langsung tertawa, ketiga wanita melihat Kasih yang tertawa kecil sangat cantik terkena matahari sore. Kasih heran mendengar pembicaraan Tri istri yang mengatakan ayam bisa beranak, Mbah kiting tidak berambut.


Ravi tersenyum melihat senyuman Kasih yang terlihat tidak memiliki beban, perbedaan yang kini Ravi temukan, Kasih yang menghilang murah senyum sehingga sudah biasa terlihat, sedangkan Kasih istrinya saat tersenyum semua orang terdiam karena pesona senyuman dengan lesung pipi kecil di dekat bibirnya.

__ADS_1


"Cantik sekali senyuman kamu Kasih, Bunda sering melihat kamu tersenyum tapi hari ini terlihat beda, apa karena sudah menikah."


Kasih diam melihat ke arah Ravi yang tersenyum menatapnya, Ravi sengaja membawa Kasih agar lebih santai dan bisa dekat dengan keluarganya.


"Mommy misalnya Kasih tidak bisa memberikan keturunan dan penerus...." Ravi langsung menutup mulut Kasih, matanya tajam menatap Kasih yang diam


"Anak itu rezeki dan ujian, jangan terlalu menjadi beban pikiran. Serahkan semuanya kepada Allah, tidak ada yang menuntut kapan kalian memilikinya." Bima tersenyum menepuk bahu Ravi.


"Mommy terlihat memaksa ya sayang, maafkan Mommy tapi bagi Mommy anak itu titipan dari Allah, kami tidak bisa menentukan kapan titipan itu hadir."


"Bukan Mommy Kasih hanya bertanya, Mommy Daddy dan lainnya ingin cepat punya cucu tidak, Kasih takut mengecewakan."


"Mau banget, langsung kembar Lima juga boleh." Viana mencium Kasih memeluknya, Reva juga ikut memeluk bersama Jum.


"Sudah lama kita tidak menggendong bayi, terakhir sekali saat bocah masih kecil." Jum matanya langsung bening ingin menangis.


"Ya Allah besarnya dosa Kasih membohongi mereka, padahal mereka keluarga yang sangat hangat,penuh kasih sayang, cinta dan perhatian. Kasih tidak sanggup jika mereka kecewa dan membenci Kasih, melihat keharmonisan ini, Kasih membayang seorang bayi, Ravi pasti memiliki beban untuk memberikan keturunan utama." Batin Kasih memeluk Viana yang sangat menyayanginya.


Ravi dan Kasih pamit pulang, di jalan Kasih terdiam sampai akhirnya tiba. Ravi mengerutkan keningnya, menatap Kasih yang menatapnya sinis.


"Ravi, kamu sendiri pengen segera punya anak ya?"


"Pastilah, pertanyaan yang lucu."


"Aku tidak tega terus membohongi keluarga kamu."


"Tapi kamu dan Karin tega membohongi ibu dan Tama hampir sepuluh tahun, sebelum keluarga aku tahu, keluarga kamu harus lebih dulu tahu." Ravi melangkah masuk, Kasih mengejar Ravi dan berdiri di hadapannya.


"Itu masalah yang berbeda Ravi, bapak sudah coba mengatakan kepada ibu tapi hanya tertawa, dan mengatakan mustahil."


"Kenapa keduanya tidak langsung muncul?"


"Jika kami diketahui kembar, maka aku dan Karin akan sama-sama menderita karena harus bekerja membantu kejahatan, jika kami menolak, pasti ibu akan menjadi tawanan. Aku tidak ingin sampai terjadi."


Ravi langsung mendekat dan memeluk Kasih, membelai rambutnya.


"Aku akan membebaskan kamu, tunggu sebentar lagi kamu tidak perlu hidup bersembunyi." Ravi menangkup wajah Kasih mendaratkan ciuman di bibirnya, mata Kasih langsung melotot, Ravi langsung pergi.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***--

__ADS_1


__ADS_2