SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SUNTIKAN


__ADS_3

Wildan dan Vira kembali ke rumah sakit bersama Erik dan Billa untuk melakukan pengecekan kembali di bagian kepala Wildan yang mengalami pendarahan.


"Istirahat dulu Wil." Vira membantu Wildan untuk kembali ke tempat tidurnya.


"Vir, aku ingin mandi. Gerah." Wildan merasakan tidak nyaman belum mandi.


Vira membantu Wildan ke kamar mandi, membuka bajunya perlahan. Beberapa bagian tubuh Wildan masih di balut, karena tulangnya mengalami keretakan.


"Vira bantu keramas." Tangan Vira menyentuh rambut Wildan membantunya menyegarkan rambut, beberapa bagian tubuh Wildan dibersihkan menggunakan kain basah.


Selesai mandi Vira juga membantu Wildan mengganti baju, tawa Vira langsung pecah saat Wildan memintanya membalikan badan saat mengganti pakaian dalam.


"Lihat pengorbanan seorang istri, kamu sedang kesulitan siapa yang mendampingi. Jangan sampai saat hidup enak mencari kupu-kupu malam, hilang kelamin." Senyuman Vira terlihat, menatap wajah Wildan yang mengerutkan keningnya.


Telinga Wildan tidak terbiasa membicarakan hal dewasa, dia tidak nyaman hanya sekedar mendengarnya saja.


"Kita sudah besar Wil, hal biasa membicarakan hal enak-enak." Tangan Vira membantu Wildan berjalan pincang sebelah.


"Ya ya ya, kita memang sudah dewasa, tapi aku tidak nyaman."


"Bagaimana kita bisa cepat punya anak?" Wajah Vira langsung cemberut, menatap kesal Wildan yang tidak ingin membicarakan hubungan mereka.


"Soal itu ikuti ***** saja, lagian kamu menggoda sekarang aku bisa apa? ingat kejadian di hotel, kepala aku hampir pecah menahan *****, nyatanya kamu tidak ingin melakukan hubungan suami istri." Tangan Wildan menyatukan jari jemari dengan Vira, meminta maaf jika cara bicaranya salah.


"Maaf, karena Vira takut jika suatu hari kamu meninggalkan Vira, berhubungan tanpa perasaan juga tanpa mengetahui perasaan kamu sulit untuk aku Wil. Segitu pentingnya pengakuan cinta agar Vira yakin menyerahkan seutuhnya tubuh, hati, waktu juga cinta." Senyuman Vira terlihat, menatap Wildan yang mencium tangannya.


Vira menatap ponselnya, Wildan juga melihat rekaman kejadian di tempat persembunyian dragon. Dia sedang dalam perawatan, karena luka tembak yang Wildan lakukan di bagian perutnya.


Fly datang dengan menyamar, langsung memberikan suntikan mati untuk dragon. Tembakan juga menghantam punggung Fly membuatnya tertawa, aksi saling tembak terdengar.


Dragon menatap Fly yang menyentuh darahnya, mulut Diego berbusa dengan tatapan tajamnya.


"Kenapa kamu berkhianat?" Fly menahan rasa sakit.


"Karena kamu mulai ragu, perasaan kamu ke Wildan mulai berkurang. Kamu juga berbohong Fly, sebenarnya kamu juga membantu ...." Diego merenggang nyawa di hadapan Fly.


"Sampai bertemu di neraka Diego." Fly melihat bawahan Bella sedang bertarung, salah satu orang kepercayaan grup V membantu Fly untuk ke luar.


Kerusuhan sudah terjadi, banyak bawahan dragon yang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa masing-masing.


"Kalian semua boleh pergi, biarkan aku sendiri. Terima kasih." Fly tersenyum, meminta semuanya pergi.


Bella memberikan perintah untuk mundur, membiarkan Fly dengan rasa sakitnya. Mati mungkin balasan setimpal untuk Fly, Bella membantu hanya untuk membalaskan kematian Dewa juga terlukanya Wildan.

__ADS_1


Vira menghubungi Bella, memarahinya yang membiarkan Fly mati di tempat kejadian. Pertengkaran Vira dan Bella sudah mengeluarkan kata-kata kotor, Wildan menutup mulut Vira memintanya diam.


"Tidak boleh bicara seperti itu Vira? semoga saja Randu bisa menemukan Fly.


"Semenjak hamil Bella sangat aneh, pasti anaknya mewarisi sikap gilanya." Vira menatap kesal, mendengar laporan dari grup V.


Pintu kamar Wildan terbuka, Bella langsung masuk dan menari mengejek Vira.


"Akhirnya Fly mati." Bella tertawa sambil joget, perutnya yang buncit semakin terlihat.


"Kak Bel tidak boleh seperti itu, kita tidak boleh bahagia di atas penderitaan orang lain." Wildan menegur Bella yang langsung duduk diam.


Tatapan tajam tidak menyukai teguran, Wildan menggelengkan kepalanya ibu hamil memang selalu aneh. Saat Kasih hamil dia diminta memakan udang mentah, Billa hamil dirinya diminta menggunakan kumis dan jenggot sekarang Bella juga terlihat aneh.


"Kak Bel benci sekali melihat kamu Wil, tapi kak Bel suka melihat kamu gondrong, atau kamu mengunakan poni." Bella tersenyum, melihat ponselnya untuk melihat model rambut Wildan.


Mata Wildan langsung terpejam berpura-pura tidur, tidak ingin membayangkan jika dirinya memliki poni.


Senyuman Bella terlihat, Vira langsung mendekati Bella melihat model rambut yang cocok untuk Wildan.


"Bel, dari pada kamu sibuk mengurus rambut orang lebih baik kamu minta kak Tian botak, sepertinya lucu." Vira menunjukkan foto rambut botak.


"Tapi nanti malam-malam Bella ketemu tuyul, tidak mau melihat tuyul tidur di sebelah Bella."


Wildan yang mendengar menahan tawa, Vira ada saja ulahnya membuat Bella langsung keluar mencari suaminya untuk botak sebelah.


Vira langsung tertawa puas, Wildan juga tertawa melihat tingkah konyol Vira. Bella yang ambekkan, tingkahnya kekanakan.


"Jahil sekali kamu Vir."


"Biarkan saja, Vira tidak sabar lagi membayangkan kak Tian botak sebelah. Ya Allah kabulkan doa hamba untuk melihat kak Tian botak, lalu Bella setiap malam menangis melihat kepala suaminya." Vira langsung tidur di samping Wildan sambil memeluknya.


"Jangan jahil, nanti kamu juga hamil ingin melihat aku botak. Kak Ravi botak karena Billa, sekarang kak Tian bersiap-siap untuk botak."


Pintu terbuka kembali, Bella kembali melihat Vira sedangkan Wildan berpura-pura tidur.


"Bella ingin Erik saja yang botak, dia ada di mana?" Bella langsung menutup pintu mencari Erik.


Wildan dan Vira langsung tertawa, sungguh lucunya melihat dokter Erik yang memiliki banyak pengemar akhirnya botak.


Vira tidak bisa menahan tawanya, sakit sekali perutnya membayangkan momen lucu melihat Erik botak.


"Apa kabar Winda hari ini? sungguh Vira rindu, ingin bercerita kejadian hari ini, kemarin, juga beberapa hari ke belakang. Kami juga belum membicarakan hari esok, lusa juga beberapa hari ke depan." Vira melihat wallpaper handphonenya foto Vira bersama ketiga sahabatnya.

__ADS_1


"Berdoa saja, semoga pekerjaan Ar cepat selesai. Mereka bisa menetap di sini." Wildan mengusap wajah Vira yang terlihat sedih.


Senyuman Vira terlihat memeluk Wildan, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak.


***


Tatapan Erik tajam melihat Bella yang mengutarakan keinginannya untuk melihat Erik botak. Dengan cepat Erik menolak langsung melangkah pergi untuk menemui pasiennya.


Air mata Bella menetes, hatinya terasa sakit melihat penolak Erik. Bella memotong rambutannya yang panjang meluapkan rasa sakitnya.


Tian membuka ruangan, langsung menghentikan Bella membuang gunting memeluk Bella yang menangis histeris.


"Apa yang kamu lakukan Bel?"


"Bella ingin Erik botak."


"Kak Tian saja yang botak, apapun kemauan kamu aku turuti." Tian khawatir sekali.


"Ada apa kak Tian?" Bella mencari suaminya, tapi melihat kakaknya menangis.


"Lihat ini Bil, Bella memotong rambutnya sendiri hanya karena Erik tidak ingin botak." Tian menghela nafasnya.


"Astaghfirullah Al azim, nanti Billa yang bicara dengan kak Erik. Sekarang Billa harus pergi, Fly sudah berada di ruangan operasi." Billa melangkah pergi, mencari Erik yang ternyata sudah mengetahui jika Randu datang membawa Fly yang terluka parah.


***


Done dua hari ini.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


***


Hai semuanya, novel SUAMIKU MASIH ABG SUDAH SATU TAHUN. Author memiliki niat untuk berbagi sedikit untuk pembaca setia, kalian cukup follow Ig VHIAAZARA.


Kalian juga bisa sering-sering komentar di bawah, setiap up novel. Agar author tahu pembaca setia.


Nanti akhir bulan author Kasih pertanyaan soal S1 S2 DAN S3 di IG kalian jawab pertanyaan, author pilih beberapa orang.


***

__ADS_1


__ADS_2