
Seluruh keluarga mengantar Verrel ke makam Papi, Rama Ravi, daddy mommy, mami Sisil juga pergi ziarah. Viana berdiam diri di mobil tidak ingin ikut turun. Semuanya mengerti perasaan Viana yang belum bisa menerima kebenarannya.
Verrel mengirimkan doa, sambil meneteskan air matanya, harapannya selama 5tahun mencari Papi nya kini hanya angan. Dia hanya bisa mengirimkan doa agar Papi tenang.
"Papi! Verrel datang, sungguh Verrel tidak tahu apa yang harus Verrel katakan. Verrell marah, kecewa, tapi Verrel juga lega mengetahui semuanya."
Lama semuanya berdoa,Viana memejamkan matanya, terasa Viana berada di sebuah jalan setapak penuh semak-semak, Vi melihat Andri yang tersenyum padanya. Viana menangis memalingkan wajahnya tidak ingin melihat.
Vi mendengarkan suara Papi nya meminta maaf, Vi juga mendapatkan amanah untuk hidup rukun dengan adiknya. Viana melihat kearah Papi yang melangkah pergi, Viana menangis sesenggukan mengejar Papi yang hilang dari pandangnya.
Mata Viana terbuka, pipinya basah air mata, Vi keluar dari mobil dan melangkah mendekati pemakaman, Vi berdiri di samping Rama melihat Verrel menangis mengungkapkan semua amarahnya, rasa kecewa ke mami dan papi. Sisil juga menangis memeluk Verrel meminta maaf, karena masa muda Verrel tidak bahagia, dan sampai detik ini Verrel tidak punya tempat tujuan pulang.
Rama memeluk Viana yang membalasnya tersenyum, menghentikan ocehan Verrel menyalahkan Papi.
"Kau sudah tua Verrel, katanya akan segera menikah kau sudah bertemu Papi berhenti cengeng, kau tidak malu dengan Ravi."
"Papi, mengapa kak Viana galak sekali?" mata Viana melotot kearah Verrel.
Setelah sekian lama akhirnya mereka pulang meninggalkan pemakaman, Verrel menggendong Ravi yang dari tadi melihatnya menangis.
"Ravi! mommy kamu galak ya, suka marah, cerewet lagi."
"Uncle juga cerewet, mommy kadang hobi marah, kadang kerjaan ghibab, kadang juga manja ke daddy. Mommy Ravi tidak jelas." Suara tawa Ravi dan Verrel terdengar membuat Viana menoleh dan mereka langsung diam.
***
Selesai makan malam, keluarga berkumpul dan bercanda bersama melihat kehebohan Ravi. Jum dan Bisma juga datang menemui Viana.
"Rencana kamu sekarang apa Verrel,"
"Bertualang kakek, Verrel akan melanjutkan perjalanan berkeliling dunia."
"Tidak! kita kembali ke Amerika memulai hidup baru."
"Jika mami ingin pergi silahkan, mami juga mau menikah dengan Bisma juga silahkan." Sifat keras Verrel yang mirip Viana muncul.
__ADS_1
"Kamu tetap tinggal di sini, lanjutkan bisnis keluarga kita, jadilah penerus keluarga Arsen menggantikan papi kamu."
"Maaf kakek, Verrel menolak! Verrel tidak mengerti kerja kantor, selama hidup hanya berkeliaran."
"Kamu tetap di sini meneruskan bisnis keluarga Arsen, aku akan mengirim orang kepercayaan untuk membimbing kamu. Dan kamu Sisil, terserah mau tetap di sini atau kembali ke negara kamu tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan menyetujui hubungan kamu dan Bisma. Tapi jika kalian tetap nekat melanggar, baik Bisma ataupun kamu jangan pernah muncul hadapanku."
"Viana!"
"Ini keputusan Vi Hubby, jika mereka tidak menerima maka dari awal jangan mengungkap kebenarannya."
"Viana mami dan Bisma tidak pernah ada hubungan sejauh itu, hati Bisma milik wanita lain, cinta mami untuk papi kamu."
"Jangan sebut kak Andri, jika kalian saling mencintai mengapa memisahkan kami? kenapa tidak membunuh kami saat dalam kandungan, kalian melakukan kesalahan besar membuat kami, melahirkan kami, memisahkan. Di mana letak cinta!" Viana bicara dengan nada tinggi membuat Sisil menangis, Rama langsung memeluk Viana agar berhenti.
"Biarkan mommy meluangkan sakit hati ini daddy. Mereka tidak memikirkan masa muda kami, liat Verrel dia pergi keluar tidak tahu tempat pulang, tidak punya keluarga. Dunia hanya melihat tawa dia yang aslinya menunjukkan kebodohan dia, hidup Verrel hancur, dia kehilangan masa berharga dia hanya untuk bertahan hidup. Kalian juga lihat Viana, aku menjadi wanita kejam, arogan, tidak punya belas kasihan. Aku setiap hari ketakutan mencoba mencari tempat berlindung. Apa mami bisa mengembalikan masa sulit kami." Viana menangis meluapkan emosi, Verrel juga sesekali meneteskan air matanya.
"Viana mohon mami, mulailah kehidupan mami carilah kebahagiaan mami, lupakan masalalu yang menyakitkan. Ini permintaan Viana sebagai seorang putri."
Sisil memegang dadanya yang terasa sesak, dia berdiri mendekati Viana meminta izin memeluk Vi, putri yang dia lahirkan mempertaruhkan nyawanya tapi tidak pernah bisa dia peluk.
Viana melihat kearah daddy nya yang langsung memeluk Viana.
"Apapun keinginan Viana, daddy turutin."
"Tinggallah bersama kami Sisil, kita menua bersama melihat kebahagiaan anak cucu kita."
***
Viana masuk ke kamar ingin membangunkan Rama yang tidur lagi setelah sholat, tapi tidak ada di atas ranjang. Viana mendengar suara orang muntah di kamar mandi dan langsung mengecek ke sana.
"Hubby!" Viana memijit leher Rama agar mengeluarkan muntahnya.
Setelah selesai Rama berbaring di ranjang dengan wajah pucat, Viana mengambil obat dan memijit kepala Rama.
"Hubby, sekarang makin sering muntah dan pusingnya, kemarin periksa dokter bilang apa?"
__ADS_1
"Kata dokter aku sehat, tidak ada masalah apapun."
Viana menghela nafas, tidak tega melihat Rama setiap pagi muntah terus, belum lagi ngurusin Ravi yang sangat sensi ke Viana.
Setiap hari Ravi marah dan tidak mau di sentuh oleh Viana, dia juga semakin lengket ke Rama pulang sekolah bukan ke rumah tapi ke kantor Ravi.
Viana pusing memikirkan kedua pria nya.
***
Reva sedang berada di sebuah pameran, banyak lelaki yang memandangi kecantikan Reva, Jum dan Bisma juga datang karena mendapatkan undangan dari Reva. Bisma dari jauh melihat Reva yang tertawa dengan seorang bule, Bisma melangkah mendekat dan merangkul pundak Reva mendekatkan jarak mereka.
Reva binggung menatap Bisma yang mengatakan jika tunangan Reva yang akan segera menikah dalam beberapa bulan ini, Bisma juga mengundang secara langsung membuat Reva kesal.
Setelah bule pergi, Jum mendekati Reva dan Bisma sambil tersenyum.
"Lo gila, ganggu bisnis gue,"
"Reva jaga perasaan kak Bima, jangan tebar pesona."
"Bima juga tidak perduli, kenapa aku harus ambil pusing."
Viana datang memeluk Reva yang kaget.
"Selamat ya Reva, akhirnya naik pelaminan. Undangan kalian juga bagus banget."
"Apa yang kalian bicara, undangan apa? siapa yang akan menikah."
"Bukannya Bima nyebar undangan, jadi Bima bukan nikah sama Lo Rev, jadi siapa calon ibu untuk...."
Reva langsung berlari keluar meninggalkan acara pameran, Viana dan Jum hanya tertawa melihat Reva yang bucin para, sok ngambek lama, di ambil orang nangis juga.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE