
Selesai sholat subuh, keluarga berbaris melihat Kasih yang sedang di periksa. Kasih masih terlelap tidur, Dokter Ririn muncul menatap keluarga sambil tersenyum.
"Keadaan stabil, tapi jangan ada yang bicara terlalu keras."
"Dokter aneh, kita sebanyak ini dari tadi diam, masih sempat bilang kita bicara keras." Viana menatap sinis.
"Kak Vi ada dendam apa dengan Ririn?" Jum menahan tawa.
Suara ketukan pintu terdengar, Erik masuk sambil tersenyum. Ririn langsung mendekati Erik menyerahkan catatannya sambil tersenyum menggoda.
"Septi, aku tidak setuju dia mendekati Erik."
"Kalau kamu tidak suka, aku juga tidak suka."
"Mbak Reva ada masalah apa dengan Ririn?" Jum binggung melihat Reva dan Viana.
Erik masih sibuk bicara dengan Ririn, Erik mendekati Kasih sambil tersenyum.
"Dok, sebaiknya istirahat total. Saya bisa meluangkan waktu untuk menjaga Kasih."
"Terima kasih Rin."
"Dok, saya juga sudah meminta Ayah saya untuk memberikan libur, jadi bisa istirahat selama satu minggu full."
Erik menatap Ririn, menggagukan kepalanya sambil tersenyum. Bastian menahan tawa melihat Erik yang terlihat biasa. Ririn langsung keluar, permisi juga kepada yang lainnya.
Jas putih Erik dibuka, tarik nafas buang nafas. Tatapan kesal langsung terlihat.
"Satu minggu, gua butuh tiga bulan." Erik teriak, Kasih langsung bergerak.
"Erik jangan teriak."
"Kenapa? kalian pikir Kasih sakit gigi, atau gendang telinga pecah."
Mata Kasih terbuka, melihat Erik yang menatapnya tajam. Kasih mengerutkan keningnya langsung mencari Ravi.
"Mencari siapa?"
"Ravi, kamu mirip malaikat maut."
Tawa langsung terdengar, Kasih melihat keluarganya tersenyum lalu menangis. Ibu langsung mendekat memeluk Kasih terus meminta maaf. Karin juga menangis memeluk Kasih yang masih belum bisa membalas setiap pelukan.
"Kasih, Alhamdulillah akhirnya kita bisa melihat kamu." Viana mencium tangan Kasih.
"Kak Vi tangan Kasih bau."
"Bau apa Jum?" Viana langsung meletakan tangan Kasih, tangan Kasih mendekati hidungnya untuk di bau.
"Bau Iler Ravi, dia tidur memegang Kasih, dia menangis ingusan."
Kasih mengangkat tangannya, Viana langsung mengambil tisu basah. Reva sudah cekikikan tertawa melihat ulah Jum.
"Jum kali ini benar Va, dasar Ravi jorok."
"Kasih bagaimana keadaan kamu?"
"Baik Mami tapi dada Kasih susah bergerak."
"Jangan bergerak dulu sayang, tunggu sampai pulih."
Rama juga mendekat, mengusap rambut Kasih mengucapakan syukur karena Kasih kembali di tengah keluarganya.
__ADS_1
"Cepat sembuh ya nak, kita semua di sini bersama kamu."
"Kasih yang membuat air mata, Kasih juga yang mengembalikan senyuman, Kasih Kasih." Bisma tersenyum melihat Kasih yang belum bisa bergerak bebas.
"Maaf Uncle, maaf juga Daddy, Papi, karena membuat semuanya bersedih."
Bunyi salam terdengar, Ravi datang membawa sarapan pagi. Langsung melihat Kasih yang sudah bangun, tatapan mata Kasih yang tajam.
"Kenapa mata kamu selalu menatap sinis?"
"Daddy Rama lebih ganteng, bahkan Papi lebih keren dari kamu." Kasih menatap Ravi.
"Uncle Bisma tidak di sebut?"
"Kalau Papi Bima ganteng, berarti Uncle juga ganteng."
"Bagus puji saja terus, Uncle Ammar tidak sekalian." Ravi menggelengkan kepalanya.
"Uncle Ammar, dia ganteng badannya juga keren berotot."
"Bagus, awas kamu Kasih."
Ravi langsung mendekati Erik yang sibuk bongkar makan, belum sempat makanan masuk mulutnya sudah ditarik Ravi.
"Otaknya Kasih sudah geser, kamu salah memberikan obat."
"Jangan salahkan aku, lihat betapa berantakannya kamu. Mata Kasih semakin terang tahu bedanya yang ganteng dan kucel." Erik kembali mendekati makanannya.
Ravi menatap Kasih yang tersenyum, langsung masuk kamar mandi. Kasih melihat keluarga yang berkumpul, makan bersama bahkan bocah tua masih makan disuap.
Tian masih disuap Jum, Erik juga seorang Dokter makan disuap Aunty Septi. Viana mendekati Kasih untuk menyuapinya.
"kamu jangan heran, keluarga kami memang seperti ini, jangankan anak, bapaknya juga masih disuap." Viana mengaduk bubur Kasih, menyuapinya untuk makan, Kasih menerima setiap suap.
"Erik boleh tidak?" Viana menatap Erik yang masih berdebat dengan Tama.
"Boleh,"
Kasih dan Viana langsung tersenyum, Vi langsung mengambil makanan dan menyuapi Kasih. Ravi langsung menghentikan sendok, menatap Mommy sampai air rambutnya menetes mengenai wajah Kasih.
"Mommy Kasih belum boleh makan seperti ini, dia bisa sesak nafas. Tubuhnya belum bisa menerima sembarang makanan."
"Erik bilang boleh."
Ravi menatap Erik yang masih bertengkar, Ravi langsung mengambil karet gelang siap mengarahkan ke Erik yang mulutnya penuh tapi banyak bicara.
"Awwwwww, gila kalian." Mulut Erik menyemburkan nasi, semua yang duduk langsung lari menjauh.
"Hujan nasi gays." Tian merasakan geli.
Kasih tertawa melihat kekacauan yang terjadi, Viana meneteskan air matanya melihat tawa Kasih. Mengusap rambutnya dan mencium kening Kasih.
"Kamu penambah kebahagiaan kami Kasih." Viana tersenyum haru.
"Gila kamu Ravi,"
"Kamu yang gila, Kasih makan ini, kamu biarkan." Erik melihat makanan ditangan Mommy, langsung mengambilnya dan menyuapi mulut Ravi.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua."
Erik langsung berlari keluar, ruangan berhamburan. Tian, Wildan juga menyusul untuk keluar. Tama mendekatinya Kasih untuk izin keluar.
__ADS_1
"Kak Kasih, Karin boleh izin menjenguk Cinta?"
"Cinta, dia sakit?"
"Iya kak, kak Cinta masuk rumah sakit jiwa karena depresi."
"Boleh, kamu jenguk dia ya atau jika diizinkan bawa Cinta menemui kakak."
"Seriusan, Alhamdulillah kak Kasih baik sekali."
"Ayahnya Cinta di mana?"
"Penjara, dia mendapatkan hukuman seumur hidup. Tapi kemarin kak Tama bilang dia banyak berubah, sering sholat, titip maaf juga untuk kakak."
"Iya, kalau kakak boleh pulang kita jenguk juga Ayah Cinta, bersama Cinta juga."
Ibu menangis menciumi wajah Kasih, inilah yang ibu mereka harapkan, putra putrinya bersatu.
Karin langsung pamitan bersama ibu untuk menjenguk Cinta, Kasih tersenyum melihat ibunya sedikit bersemangat.
Ammar juga pulang bersama istrinya, Daddy, Papi dan Ayah Bisma juga pulang untuk berkerja. Hanya tersisa Mommy, Bunda, Mami dan Ravi.
Reva membersihkan ruangan yang berantakan, Kasih kagum melihat orang tua yang bersahabat dengan anaknya. Keharmonisan keluarga yang memang tidak ada bandingnya.
"Kamu jangan bosan melihat kekacauan seperti ini ya Kasih, keluarga kami memang aneh."
"Kasih senang Mom, keluarga ini saling menyayangi."
Ravi masuk setelah mengantar Daddy ke bawah, memeluk Reva erat dan menciumnya.
"Terima kasih Mami, terima kasih Bunda." Ravi juga memeluk Jum dan menciumnya.
"Terima kasih malaikat tidak bersayap, aku mencintai Mommy." Ravi mencium tangan Viana lalu mencium keningnya.
Ravi menatap Kasih yang tersenyum, menggenggam tangan Kasih menciuminya.
"Sekarang sudah ganteng belum?"
"Seperti lebih ganteng tadi, lucu ada kumisnya." Kasih tersenyum, Ravi langsung cemberut.
Suara berisik terdengar lagi, Wira datang bersama Windy. Langsung memanjat rajang Kasih, Ravi cepat menangkapnya duduk dipangkuan.
"Hai Tante cantik, cepat sembuh ya."
"Terima kasih ganteng."
"Bagaimana keadaan kamu Kasih?"
"Alhamdulillah baik kak, kak Windy sudah lama datangnya?"
Orang sedang asik bicara, suara barang jatuh terdengar. Mata Windy melotot ingin menelan Wira.
"Kalian berdua akan tahu rasanya, urat hampir putus melihat bocah nakal."
"Karma namanya Windy, kalian juga dulu sangat nakal." Viana tersenyum melihat Ravi yang mengaruk tengkuknya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***