
Kursi berputar di dalam perpustakaan besar yang baru di bangun di area perumahan keluarga, Raka masih duduk memejamkan matanya berpikir.
Melihat adiknya kembali dari rumah sakit dan mempertanyakan keadaan Bulan, Raka mengerutkan keningnya saat Bintang membanting tabletnya.
"Bagaimana keadaan Bulan?"
"Patah tangan, aku akan membalas mereka." Tatapan Bintang tajam.
"Tangannya sudah dipatahkan oleh Bunda, sekarang dia juga mengalami patah tulang dan ada di rumah sakit." Aka meminta Bintang tenang, Bulan gadis kecil yang sangat kuat.
Suara Elang tertawa terdengar, Aka langsung menoleh ke arah El yang masih membaca buku.
"Ada apa kak?" Arwin langsung duduk menghidupkan komputernya.
"Tidak ada, kalian lucu." El menatap Aka yang mengerutkan keningnya.
Tatapan Aka tajam, meminta Virdan menjauhi Bintang membiarkannya sendirian. Dia bisa mengendalikan diri sendiri tidak harus dijaga.
Pintu diketuk, lima anak melihat secara bersamaan. Bima melangkah masuk menghidupkan seluruh lampu.
Senyuman anak-anak terlihat, menjawab salam Bima yang terdengar sangat lembut.
"Kakek boleh masuk dan bergabung?" tatapan mata yang sangat tenang, meskipun sudah tua.
Raka mempersilahkan, meminta adik-adiknya berkumpul. Bima tersenyum melihat lima anak lelaki yang duduk dengan tenang.
"Ada apa kakek?" Virdan mewakili yang lainnya untuk memulai.
Bima hanya tersenyum, dia tahu anak-anak marah melihat keadaan Bulan, sama para orang tua juga kecewa.
Masalah yang terjadi tidak akan berkesudahan jika diikuti rasa saling membalas, bagi keluarga mereka menjatuhkan orang muda, bahkan menghilangkannya.
"Aka, hidup ini tidak akan jauh dari yang namanya masalah. Sejak kakek muda sampai setua sekarang masalah silih berganti." Langkah Bima mendekati komputer Aka.
Bima sudah menyadari kemampuan Raka sejak usianya dua tahun, Raka sangat pendiam seperti Rama, tapi dia memiliki sikap yang kasar seperti Viana.
Kemampuan Raka dalam pelajaran Bima akui di atas rata-rata, dia juga menyembunyikan kemampuannya.
"Kek, jika kita diam orang-orang akan terus menjatuhkan, dan kita akan diremehkan." Aka menatap punggung Bima yang duduk di depan komputernya.
__ADS_1
"Lalu setelah kamu menghancurkan mereka untungnya apa?"
Kening Raka berkerut, memang tidak ada untungnya. Hanya saja setidaknya seimbang sakit dibalas sakit.
"Saling membalas, terus dan terus. Kalian ingin mengumpulkan musuh. Aka kamu memiliki banyak adik, saudara dan keluarga besar. Jaga mereka bukan dengan menunjukkan bertapa hebatnya kamu, tapi tunjukkan betapa sayangnya kamu." Tangan Bima mengusap kepala Raka, Bima tahu Raka sangat menyayangi adik-adiknya, tapi tidak pernah mengutarakan apalagi menunjukkan.
Bima juga menatap Elang, kedua tangan El menggenggam sesuatu. Bima menyentuhnya dan akan mensupport El untuk kebaikan.
Terlahir dari keluarga yang di atas anak jenius, El sudah memiliki ruangan laboratorium pribadi yang dia sembunyikan dari orangtuanya.
"El, kamu bebas melakukan apapun di ruangan itu untuk menguji hasil penelitian kamu, tapi ingat jangan pernah kamu melakukan kejahatan dengan kemampuan kamu, gunakan untuk kebaikan, banyak orang yang membutuhkan anak berbakat seperti kamu." Mata menatap penuh kelembutan, El tersenyum sangat bahagia.
"Terima kasih kakek." El langsung lompat kesenangan.
Setelah perjuangan El mendapatkan izin memiliki lab sendiri, dan keinginan untuk tidak sekolah umum dikabulkan orangtuanya.
Raka langsung berdiri melihat El yang berlari ke ruangan pribadinya, kening Aka berkerut tapi tidak ingin membatah keputusan kakeknya.
"Bintang dan Arwin, kalian berdua juga tidak harus pergi ke sekolah. Mulai sekarang kalian sekolah khusus, kakek mengkhawatirkan kemampuan kalian yang sudah bisa melakukan hack." Tangan Bima menunjuk ke arah ruangan pribadi keduanya yang langsung tersenyum mengangguk kepalanya.
Kepala Virdan tertunduk, dia tidak ingin sekolah sendirian. Kenapa keputusannya ditolak untuk sekolah di rumah.
"Aka, Virdan ikut kakek. Ini sudah menjadi keputusan seluruh orang untuk kalian berdua."
"Raka kamu mengetahui kemampuan El yang berbahaya, kepintaran dia tidak bisa mengimbangi anak seusia dia. Alasan tempat ini dibangun untuk menjaga kalian." Bima membuka sebuah ruangan bawah tanah.
Hanya Aka dan Virdan yang memiliki akses untuk masuk, karena mereka perwakilan dari keluarga Bramasta dan Prasetya. Putra dari Ravi dan Wildan.
Tatapan Aka dan Virdan terkagum-kagum melihat ruangan bawah tanah, mereka bisa melihat segalanya dari segala tempat.
"Kakek." Dan melihat Rama juga ada di dalam sedang melihat sesuatu.
"Kalian sudah datang, kemarilah sayang." Rama menatap dua cucunya untuk melihat layar.
"Kalian berdua bertugas mengawasi semuanya, semakin banyaknya kita, lawan juga terus bertambah. Dibalas ataupun dibiarkan akhirnya tetap buruk." Rama tersenyum melihat Virdan dan Raka duduk.
Senyuman Raka terlihat, dia bisa melihat El di ruangan lab, juga Arwin dan Bintang.
"Kek, kenapa Arwin dan Bintang digabung?"
__ADS_1
Bima mengusap kepala Virdan, Bintang memiliki emosi yang tinggi, sedangkan Arwin air yang sangat tenang. Mereka dua orang yang bisa disatukan, dan saling mengimbangi.
"Apa mereka akan diawasi oleh Uncle Ar dan Tian?"
"Tidak, mereka tidak diawasi Dan. Hanya El yang akan diawasi oleh Uncle Erwin, dan juga sesekali Papanya akan bergabung." Bima tersenyum.
"Mereka memang keluarga dokter semua, pintarnya luar biasa." Aka tersenyum.
"Aka, saat kamu usia lima belas tahun, sudah saatnya untuk keluar dan menemukan jati diri, jangan gunakan kemampuan kamu juga nama keluarga, hiduplah dengan bebas bersama El." Rama mengusap cucu pertamanya yang menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana dengan adik-adik jika kita akan pergi?"
"Dan, jangan anggap remeh mereka. Jangan terlalu menghawatirkan twins V dan Arum, kamu juga harus pergi saat usia lima belas tahun." Tatapan Rama lembut mengusap kepala cucunya.
Bima tidak tahu sampai kapan dia hidup, hanya dengan cara seperti ini untuk menyembunyikan kepintaran cucunya. Mereka harus mempunyai kehidupan Normal, saat Aka dan El ke luar negeri Virdan akan mengambil alih, tapi saat Virdan, Arwin dan Bintang pergi saat itu juga Aka harus kembali.
Tangan Rama menepuk tangan Bima, keluarga akan selalu aman selama ada Bima disisi mereka.
Kemampuan anak-anak harus disembunyikan demi keamanan, bahkan para anak laki-laki dilarang sekolah, karena sudah melebihi batasan.
Keadaan berbeda dengan Wildan, dia sendirian dan harus bangkit sendiri, juga mudah dikendalikan.
Melihat lima anak jenius, tidak mungkin bisa dikendalikan jika mereka bergabung. Demi keamanan terpaksa mengawasi sejak kecil.
Dari layar terlihat pintu terbuka, suara teriakan terdengar. Bima dan Rama saling pandang, mereka melupakan satu orang.
Wira kembali, dan sudah dipastikan lebih kacau lagi.
"Kek, kenapa para wanita tidak sekolah khusus saja?"
Bima kaget, Raka merekomendasikan adik-adiknya juga bergabung. Rama langsung menggeleng kepalanya.
"Raka, kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan di sekolah?" Rama tersenyum melihat Wira yang berdiri sambil menatap kamera.
"Tidur, makan, main. Mereka tidak pernah belajar." Virdan menatap Raka yang mengerti jika mereka menginginkan kebebasan.
"Aku kembali, how are you El." Wira bisa membobol keamanan ruangan El.
***
__ADS_1
GARA-GARA POCONG MERAH PAKAI TOPI