SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 GARAGARA SUSU


__ADS_3

Lampu mulai hidup, suara Erwin paling besar dan semangat untuk acara makan malam. Para lelaki sibuk memanggang makanan, sedangkan para wanita sibuk di dapur.


"Win, apa rencana kamu setelah kembali?" Ravi menatap Erwin yang berlarian sambil membawa ayam bakar.


"Rencana, aku tidak punya rencana." Suara tawa ciri khas terdengar.


Steven meminta Erwin duduk, dia harus memiliki rencana untuk menetap di rumah sakit atau kembali ke rumah sakit militer.


Jangan terlalu lama membuang-buang waktu, dia harus memiliki target soal masa depan yang akan dia jalani.


Sudah cukup waktu yang dia miliki untuk menemukan hal yang membuatnya bahagia.


"Semuanya sudah menemukan pilihan, sisa kamu Win."


"Iya, aku akan memilih menetap di sini. Kak Stev berikan satu rumah untuk Erik yang ada di ujung." Suara Erwin meringis kesakitan terdengar, Erwin mengusap kepalanya yang mendapatkan pukulan dari Erik.


"Kamu tahu peraturan dalam keluarga kita Erwin, bahkan kamu melanggar dengan memiliki apartemen pribadi." Tian menggelengkan kepalanya melihat Erwin yang nakalnya mengalahkan Erik.


Tatapan Erwin langsung melihat ke arah dalam, semua orang juga melihat ke arah tatapan Erwin. Tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan soal Lin.


Windy muncul menyiapkan meja, menyusun piring untuk makan.


"Kak Win, sejak kapan kak Steven punya istri lain?" kening Erwin berkerut, duduk di meja melipatkan tangannya di dada.


"Istri siapa Win?"


"Kak Stev, katanya gadis itu Putri utama kak Steven." Senyuman jahil terlihat.


Windy bertolak pinggang, langsung melempar Erwin dengan sendok. Secepat kilat juga dia menghindar membuat heboh.


"Sudah cukup, jika sampai ada makanan yang tumpah, Mama cincang kalian." Tatapan Septi tajam.


Semuanya langsung duduk di posisi masing-masing, anak-anak sudah diawasi pengasuh di ruangan bermain.


"Lihat apa kamu Win?"


"Tidak ada, kenapa anak-anak tidak ikut makan?"


"Masih asik bermain, mungkin sebentar lagi muncul." Billa duduk di samping adik iparnya yang matanya tidak bisa diam melihat sekitar.

__ADS_1


Makan malam masih seperti biasanya tidak tenang sama sekali, pembicaraan juga terlihat serius membahas soal pesta selamatan twins V.


Semuanya memberikan saran terbaik untuk menyambut kehadiran dua wanita cantik, tidak dilupakan juga ulang tahun anak-anak yang terlewatkan.


Suara langkah kaki berlari terdengar, Kasih menatap putrinya Asih yang ngos-ngosan. Dari luar juga terlihat anak-anak berlarian tidak tentu arah.


"Ada apa Asih?" Ravi menatap putrinya yang masih mengatur nafasnya.


"Itu Daddy, apa ya namanya? anu ...."


"Mama, kak Lin jatuh kepalanya pecah, banyak darah di sana." Em menarik tangan Billa yang sudah teriak kaget.


Windy langsung menjatuhkan kursi berlari tidak tahu arah, melihat anak-anak sembunyi dan menjauh dari keributan.


Suara Wira marah-marah terdengar, bahkan tangisan juga masih menggema mengatakan siapa yang salah dan siapa yang harus mengalah.


"Ada apa ini?" Windy menarik putranya untuk diam.


Suara tangisan baby sister twins V yang juga menjaga Bulan menangis, menjelaskan kepada Vira jika Lin sudah berbuat semena-mena.


Hanya karena dia sudah diangkat sebagai anak oleh Steven dan Windy bisa berbuat sesuka hatinya.


Mereka bertengkar hanya soal susu bayi, Baby sister yang sudah menjaga Asih dari bayi, lanjut ke Embun, Bulan sekarang twins V sudah berpengalaman, tapi dengan lancangnya Lin mencoba mengubah cara kerja.


"Vira kamu lihat saja ini, saya tahu hanya pembantu di sini, tapi setidaknya Lin harus tahu jika ini bahaya jika sampai diminum bayi."


"Lin, kamu tidak ditugaskan menjaga twins. Urus saja apa yang harus kamu urus, kami sudah berkerja dengan mbak sejak Asih lahir, dia jauh lebih tahu dari kamu." Nada bicara Vira sangat dingin, meminta Lin untuk mengerti soal anaknya.


"Minta maaf sekarang Lin." Windy mengusap rambut Lin yang menganggukkan kepalanya.


"Maafkan Lin mbak, maafkan. Lin tidak akan mengulanginya lagi." Senyuman Lin terlihat menundukkan kepalanya menahan air matanya.


"Dia jatuh sendiri sampai terluka, dan saya hanya menegur dia Vir."


"Iya mbak, Vira mengerti. Vio dan Vani membutuhkan perhatian khusus sama seperti Asih dan Aka dulu, terima kasih sudah membantu Vira." Senyuman Vira juga terlihat, meminta maaf atas nama Lin.


"Saya tahu dia sekarang statusnya putri orang kaya, tapi jaga sikap kamu Lin. Jangan lupa diri."


Wildan berdehem, melihat botol susu anaknya. Langsung menatap tajam, tangan Lin langsung gemetar, dan disembunyikan ke belakang.

__ADS_1


"Maafkan Lin kak Wildan kak Vira, demi Allah aku tidak bermaksud mencelakai twins V."


Senyuman Wildan terlihat, menepuk pundak Lin untuk santai saja, langsung melihat ke arah mbak yang menjaga twins V.


"Seperti kami sudah tidak membutuhkan mbak lagi, dan pekerjaan cukup sampai malam ini. Sebuah penghinaan orang luar menyakiti perasaan anggota keluarga kami. Silahkan pergi."


Suara Vira membentak Wildan tinggi, tidak ada yang menyalahkan Lin apalagi merendahkan. Apa yang dilakukan mbak demi kebaikan anak mereka, dia jauh lebih berpengalaman soal mengurus bayi, daripada Lin yang tidak tahu apapun.


"Kenapa kamu membentak aku Vir?"


"Aku tidak membentak, tapi kamu tahu jika Asih juga lahir prematur dan dijaga oleh mbak, dia sangat memahami kondisi Vio dan Vani."


"Dia berpengalaman saat mengurus Asih, bukan twins." Wildan menatap tajam, meminta Vira mengecilkan suaranya.


"Kamu kenapa membela Lin? tidak biasanya menganggap Lin begitu penting. Kenapa ada apa Wildan?" Vira menatap tajam suaminya.


"Sudah cukup kak Wil, kak Vira. Maafkan Lin, ini kesalahan Lin. Kalian jangan bertengkar aku mohon." Kedua tangan Lin gemetaran, terlipat memohon kepada Wildan dan Vira berhenti.


Suara tepuk tangan terdengar, Erwin tertawa lucu melihat pertengkaran hanya karena susu.


Erwin mengambil botol susu, melihat secara detail susu yang Lin buat. Senyuman Erwin terlihat menatap kagum kepada Lin.


"Berapa banyak kamu belajar mencoba memahami bayi prematur? dari hasil yang aku lihat dia lebih mirip dokter anak yang berpengalaman. Pekerjaan kamu bagus sekali." Erwin tersenyum melihat Lin.


"Asih dan twins V berbeda kondisinya, dia tidak keracunan seperti Arum. Buktinya Aka tumbuh sehat tanpa penjagaan ketat." Kedua botol susu Erwin tumpahan, menjelaskan kondisi yang sebenarnya terjadi kepada twins.


Sejak lahir twins sudah memiliki fisik kuat meskipun prematur, apa yang dilakukan oleh pengasuh jauh lebih berbahaya.


Semuanya terdiam mendengar penjelasan Erwin, Lin tidak salah bahkan dia sangat teliti juga berjaga-jaga soal suhu twins yang lebih membutuhkan banyak kehangatan.


"Kak Wildan sepertinya sudah tahu jika anaknya kak Steven banyak belajar untuk menjaga twins, Erwin mengerti kak Vira sangat sensitif soal bayi apalagi kalian memiliki luka. Tidak ada yang salah, emosi kalian yang salah." Senyuman Erwin terlihat, meminta mbak sebaiknya pergi.


Wildan menundukkan kepalanya meminta maaf kepada Lin, Windy juga Steven. Mereka sudah merendahkan Lin bahkan menyakiti perasaan orangtunya.


Kepala Vira tertunduk, melihat catatan di atas meja, ternyata Lin belajar apa yang pernah Wildan lakukan, tetapi mendapatkan teguran dari Mbak yang menjaga twins.


"Maafkan Lin kak Vira, Lin tidak akan menyentuh twins V lagi." Lin langsung pamitan untuk pulang.


"Lin, kak Vira tidak bermaksud seperti itu."

__ADS_1


***


SATU BAB AJA YA---


__ADS_2