
Seluruh keluarga berkumpul, Rama Viana juga kedua anaknya, Ravi dan Vira juga ada calon menantunya Kasih.
Keluarga Bramasta juga lengkap, Reva Bima, ada Windy dengan keluarganya, Winda juga Wildan yang baru kembali.
Keluarga Bisma dan Jum dengan kehadiran putranya Bastian, dan putri kembarnya Bella dan Billa.
Ada juga keluarga Ivan dan Tya dengan Putrinya Sasha, keluarga Ammar dan Septi dengan putranya Erik. Masih ada satu keluarga yang juga ikut bergabung Romi dan istrinya yang baru saja kembali dengan membawa anaknya yang berusia 10tahun.
"Hubby, setiap bulan kita selalu berkumpul tidak mengurangi sedikit saja hubungan kita semua. Mommy sangat bahagia."
"Iya sayang, kita memiliki persahabatan yang sudah seperti keluarga."
"Kak Vi, hidup kita awet muda ya, melihat anak-anak menggigatkan masa muda dulu." Reva tersenyum melihat keributan anak-anak yang sedang heboh.
"Iya Va, lihatlah putraku yang mulai menemukan cinta sejati, putramu yang dingin, juga putra Bisma yang dewasa serta Erik yang selalu tersenyum tidak pernah berubah. Belum lagi para wanita cerewet yang sangat heboh."
"Sebentar lagi Ravi akan menikah, kalian juga akan memiliki cucu seperti mbak Reva, mas kita harus segera menikahkan Tian."
"Siapa calonnya?" Ammar menatap Bisma.
"Biar Viana yang tebak dari sekian banyak wanita di depan sana."
"Reva juga sepertinya sependapat dengan kak Vi."
"Tian dan Bella, mereka berdua dari kecil sangat dekat, Billa selalu dipukul oleh Bella jika mendekati Tian, tapi saat lima tahun yang lalu Tian pergi Bella mulai nakal dan saat Tian kembali mereka terlihat canggung, pasti ada sesuatu, berbeda dengan Billa yang memandang Tian selayaknya kakak."
"Apa Tian juga menyukai Bella?" Jum menatap putra dan putri yang berjauhan.
"100% suka, tatapan matanya ke Bella dan Billa berbeda kak Jum, tapi kalian harus memperjelas mereka karena, Tian mungkin menjaga nama baik keluarga dan melupakan cintanya." Reva bertepuk tangan dengan Viana untuk mendukung hubungan Bella dan Tian.
"Kak Viana dan Reva paling hidup jika menjodohkan orang." Septi tertawa melihat keduanya yang menyemangati Jum.
Bisma sudah lama tahu soal hubungan Tian dan Bella, Tian pernah marah sampai memutuskan pergi karena pengakuan Bella yang mencintainya, Bella mengancam jika Tian pergi dia tidak ingin mengenal Tian lagi, memutuskan hubungan persaudaraan. Tapi hanya Bima yang mendengarnya, tidak memberitahu Jum karena Bella masih kecil saat itu, tapi berbeda dengan sekarang, namun buruknya hubungan mereka sangat renggang.
Selesai makan malam bersama semuanya berkumpul, Ravi mengomel dengan ciri khasnya. Ivan meminta anak-anak bermain permainan mereka dahulu sebuah kejujuran. Semuanya langsung setuju, pertanyaan semuanya Romi yang bertanya setelah berdiskusi dengan yang lainnya.
"Bastian Bramasta, ada wanita yang paling kamu cintai sampai detik ini belum bisa kamu lupakan, alasan kamu tidak bisa memilikinya." Pertanyaan yang menjebak Tian, selama ini Tian menjalin hubungan tidak pernah merasa nyaman dan selalu berakhir kandas.
"Ada, dia sangat aku cintai, tapi tidak bisa aku miliki alasannya, dia dan aku bersaudara." Tian langsung menatap Bella yang sengaja asik memainkan ponselnya, kejujuran pertama Tian yang selama ini dia pendam.
Ravi kini tahu mengapa Tian menggunakan banyak wanita hanya untuk status, demi menyingkirkan dan membuat menyerah wanita yang dia cintai.
Semuanya menatap Tian, tapi tidak bisa bertanya karena hanya Romi yang boleh bertanya.
__ADS_1
"Ravi Prasetya, apa yang kamu sembunyikan di gedung x dengan penjagaan ketat." Ravi langsung kaget dengan pertanyaan, menatap Daddy yang ternyata mencurigai Ravi yang memegang bisnis ilegal tapi bukan kegiatan yang buruk, Ravi hanya menjalankan organisasi rahasia.
Ravi menatap Wildan, karena mereka berdua yang membangunnya, Wildan tidak memberikan reaksi akhirnya Ravi memilih mengakui.
"Misi rahasia, aku dan Wildan mengendalikan seluruh CCTV di kota ini."
Vira dan geng saling pandang, pantas Ravi dan Wildan bisa mengetahui selalu keberadaan mereka, ternyata karena mereka yang mengendalikan.
"Erik Ganadra, mengapa kamu selalu berada di rumah sakit?" Tubuh Erik rasanya ingin roboh, menatap Mama dan kakak iparnya juga Ravi dan Tian.
"Ehh ganti Erik, ternyata ada pertanyaan lain, diantara wanita di sini ada yang kamu cintai?"
Erik bernafas lega, pertanyaan pertama di batalkan. Dengan rasa gugup Erik menggagukan kepalanya.
Ravi dan Kasih saling pandang, karena yang mereka tahu Erik mencintai Cinta.
"Ada, dia wanita yang aku cintai tapi aku takut untuk mengakuinya, jadi biarkan rasa ini menghilang."
"Kamu cinta Sasha Rik." Ravi tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Gila, mulutnya mirip comberan, bukan selera, bisa pecah gendang telinga."
"Sasha juga tidak mau sama Erik,"
"Vira bukan hanya suka, tapi sangat cinta, dia adalah Wildan Bramasta." Vira bertepuk tangan bahagia sendiri.
Viana menyemburkan minumanku, melihat putrinya tanpa banyak pikir langsung spontan, Reva sudah terasa kuat memeluk Vira yang juga langsung memeluknya, berbeda dengan Wildan yang tanpa senyum menatap sinis.
"Calon menantu Mami."
"Calon mertua Vira,"
Viana tersenyum melihat Rama yang menggelengkan kepalanya, penerus Reva akhirnya muncul.
"Wah, Vira memang tidak tahu malu. Lanjut Bella, sebesar apa rasa cinta kamu terhadap kakak kamu Tian."
"Cinta, mengapa Cinta seharusnya pertanyaan berapa besar benci aku. Maka jawabannya sangat benci, aku sangat membenci lelaki yang bernama Bastian Bramasta." Bella langsung berdiri menendang kursinya dan melangkah pergi.
Tian memijit pelipisnya, melihat Bisma yang menggerakkan kepalanya untuk mengejar Bella. Tian langsung berdiri, Jum cukup merasa khawatir dengan sikap Bella.
"Jum, Bella masih labil bahkan tidak bisa membedakan antara benci dan cinta."
"Iya Aunty, kemarin juga dia masih bisa menulis I love you B, tidak mungkin dia suka bebek." Winda langsung tertawa bersama Vira.
__ADS_1
Terdengar keributan dari dalam, Ravi langsung berdiri untuk mengintip pertengkaran Tian dan Bella yang ratu amukan. Bukan hanya Ravi, Erik, Winda dan Vira juga mengintip keributan keduanya.
Wildan memutuskan pergi menenangkan diri, Kasih juga duduk bersama Viana. Jum tidak suka dengan sikap Bella yang kurang ajar, tapi Bisma yakin Tian bisa mengendalikan Bella yang memang suka mengamuk.
"Bella, kamu sudah besar tolong mengerti posisi Kaka."
"Apa, sudah aku katakan kita berdua tidak saling mengenal, aku tidak memiliki kakak!"
Tian menarik tangan Bella yang ingin melangkah pergi, masuk ke dalam pelukannya, menenangkan Bella yang terus meronta-ronta. Tangisannya juga sudah pecah, pukulan kuat juga Bella lakukan.
"Aku sangat mencintai kamu Bella, tapi rasa hormat aku kepada ayah dan Bunda sama besarnya. Aku siap terluka, tapi tidak siap melukai mereka. Biarkan waktu yang menjawab semuanya Bella."
Ravi tersenyum melihat Tian, lelaki yang paling baik dan dewasa sangat menyayangi keluarganya.
"Enak ya jadi Bella dipeluk, Vira juga pengen masuk dalam pelukan Wildan."
"Setelah itu Wildan akan menggendong kamu, dan dilemparkan ke kadang buaya."
"Kamu buayanya, buaya peot. Jangan bilang Kak Erik naksir Vira, maaf ya hati, tubuh Vira hanya milik Wildan." Vira langsung pergi bersama sahabatnya.
"Amit-amit kepedean banget adik Lo Ravi, ingin rasanya gue lempar ke gunung berapi."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
yang masih binggung....
Erik anak siapa
Wildan anak siapa
Tian anaknya siapa
Bella Billa, Winda, Sasha anak siapa.
Atau Ravi sama Vira tidak tahu anaknya siapa?🤣
MASA KECIL ANAK INI ADA DI MENGEJAR CINTA OM DUREN.
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR YA....