SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SIAP MENJADI ORANGTUA


__ADS_3

Di rumah Ravi semuanya sudah kumpul, Kasih menatap aneh karena tidak ada yang membawa banyak koper, Kasih juga binggung melihat kopernya sudah kosong.


"Aak kenapa koper Kasih kosong?"


"Tidak perlu membawa banyak baju sayang, kita beli baju di sana."


Akhirnya Kasih menurut saja, Ravi menyerahkan kopernya hanya satu, Kasih satu begitupun dengan yang lainnya, hanya menyumbang satu koper.


Sebelum pergi, berkunjung terlebih dahulu ke rumah orang tua, meminta doa keselamatan di jalan. Ravi meminta Wildan memperketat keamanan setiap rumah, meminta penjagaan untuk orangtuanya dari kejauhan.


Wildan sudah mengatur semuanya, urusan keamanan keluarga tugas Wildan, Tian mengatur keberangkatan, Erik yang menyiapkan penginapan juga tranportasi.


"Mommy kita berangkat ya." Kasih memeluk Mommy, lanjut Mami, Bunda dan keluarga yang lain.


"Daddy Mommy, doakan kita selamat sampai pulang lagi." Ravi memeluk kedua orangtuanya.


"Hati-hati Ravi, jaga istri kamu." Rama mengusap kepala Ravi.


"Uncle jaga Bunda Ravi, doakan Ravi ya." Ravi memeluk Bisma.


"Jangan lupa saat pulang oleh-oleh malaikat kecil." Bisma memeluk Ravi.


"Amin ya Allah semoga saja ya Uncle."


"Bunda, Ravi pergi mohon doanya." Ravi berkeliling menemui keluarga.


"Ayah, Bunda Tian pergi ya, harus selalu menghubungi Tian. Bunda jangan keseringan ngambek." Tian memeluk Jum, air mata Jum langsung menetes jika Tian ingin pergi lama.


"Hati-hati kamu, jaga adik-adik kamu. Secepatnya bujuk Bella, dia masih marah."


"Iya Ayah, ini juga sekalian membujuk Bella."


"Mami Tian pergi, Uncle Bima mohon doa."


"Hati-hati Tian, Uncle berharap saat kembali kamu membawa lampu hijau." Bima tersenyum melihat Tian.

__ADS_1


"Insyaallah Uncle mohon doanya."


Sebelum pergi, Wildan mendapatkan pukulan dari Reva karena dia mengatakan akan pulang tahun depan, Reva tidak ingin Wildan terus keluyuran.


"Awas saja kamu tidak pulang, Mami pastikan kamu akan segera menikah."


"Mami ingin menikahkan Wildan dengan siapa?"


"Vira, dia mewakili negara kita sebagai siswa jenius dalam bisnis, sedangkan Winda menembus pasar internasional membuka cabang bisnisnya. Mereka di sana bukan hanya kuliah, tapi mengumpulkan pundi-pundi uang." Karin tersenyum menatap Wildan.


"Vira dan Winda?" semuanya kaget.


"Wildan tidak pernah mengatakan menang dalam hal apa? Billa mengusulkan Vira untuk mengikuti kompetisi pembisnis muda, perkiraan Karin dia bisa lulus dalam satu tahun setengah. Mungkin bisa lebih cepat."


Wajah kaget Wildan terlihat, jika yang lainnya bahagia berbeda dengan Wildan yang kaget bukan main. Dia bisa tidak mengetahui pergerakan Vira dalam beberapa bulan.


"Vira dan Winda berada di bisnis, Billa berada di dunia medis, lalu Bella melakukan apa?" Jum menatap Karin, putrinya yang paling sulit di atur.


"Bella, Karin juga kehabisan cara menghentikan Bella. Dia kuliah memang di komunitas, tapi Bella menciptakan sendiri teknologi yang dia inginkan, Bella menjadi salah satu wanita muda yang tergabung dalam pembuatan obat-obatan berdosis tinggi, pembuatan senjata yang mempunyai teknologi terbaru. Karin takut, dengan kecerdasan Bella dia bisa disalahgunakan."


"Dia bekerja sendiri Karin, keberadaan Bella hanya agar namanya tidak muncul. Bella hanya bermain-main di sana, teknologi dia berada di sini." Kasih memperlihatkan foto beberapa gambar yang Bella kirimkan untuk meminta pendapat kepada Kasih.


"Syukurlah Bella berubah dulu dia hanya sering membuat bom." Karin masih ingat, paniknya karena bom Bella.


"Dia bilang, banyak orang berbakat tapi ditindas di tempat lain, di remehkan di negaranya. Hanya dunia teknologi membuat orang berimajinasi, menghasilkan uang dan tidak menyakiti siapapun. Dia hanya menciptakan, memberikan peluang kerja. Cita-cita Bella hanya ingin menjadi seorang istri." Kasih menjelaskan hal yang dia ketahui soal Bella.


Bisma tertawa melihat putri nakalnya, Bisma meminta Wildan menjaga, mengontrol dengan ketat bisnis mulia milik Bella.


"Kenapa di sini mereka mirip wanita ugal-ugalan, tapi di luar menjadi wanita luar biasa."


"Karena di sini tidak menemukan saingan Mom, jika di sana persaingan ketat. Memberikan semangat untuk berjuang." Kasih tersenyum.


Ravi tersenyum melihat adik-adiknya akhirnya menemukan dunia mereka, Ravi berharap keempat adiknya bisa menjaga pesan keluarga, tetap menjadi orang biasa.


"Sepertinya sudah saatnya kita pergi?" Ravi berjalan keluar, yang lainnya juga sudah bergerak.

__ADS_1


"OHH iya Bunda, Bella akan menyelesaikan kuliahnya paling lama dua tahun, dan jika kegilaannya kumat bisa lebih singkat." Karin tersenyum, tidak habis pikir dengan Bella yang hanya mengincar gelar.


Jum menatap Bisma, kedua putrinya mengikuti Bisma, tidak ada yang mengikuti dirinya yang punya otak pas-pasan.


'Menikahi Mas memperbaiki keturunan." Jum tertawa melihat Bisma.


"Kita belum tahu sayang, mungkin kepolosannya akan muncul setelah menikah." Bisma menyentuh hidung Jum.


"Kak Tian, Bella punya cita-cita hanya ingin menjadi istri, tapi kemungkinan dia bisa berubah pikiran untuk menemukan tambatan hati." Ravi mengejek Tian yang belum bisa membujuk Bella.


"Semuanya karena kamu, tapi mengerikan juga Vi punya istri yang tidak kalah jenius." Tian mengaruk kepalanya.


"Benar juga, impian ingin memiliki istri wanita biasa, dapatnya luar biasa. Alhamdulillah saja kak."


Semua orang berada di depan rumah, Viana menggenggam erat tangan Kasih berjalan pelan. Viana menatap para putranya yang terlihat kompak, membayangkan para putri yang terlihat heboh.


"Kasih, mereka semua memiliki beban, Tian memikul untuk menjaga nama baik keluarga. Dia terlihat tenang tapi membutuhkan tempat untuk bersandar melepaskan beban. Ravi terlihat selalu bahagia, dia juga memiliki beban, juga memiliki banyak trauma, bahkan perebutan kekuasaan dalam keluarga. Erik juga sama, ketiga lelaki kami memiliki beban yang besar."


"Kasih mengerti Mommy, keharmonisan yang selama puluhan tahun harus dijaga, menghindari perebutan kekuasaan. Jika di lepaskan, banyak orang yang sedang bergantung, tapi di perjuangan membuat pundak menunduk."


Viana tersenyum mengelus punggung Kasih, Vi yakin Kasih memang jodoh yang tepat untuk Ravi.


"Sudah waktunya mereka semua memulai kehidupan ya Mom, membuat para putri mengerti. Bukan hal yang mudah untuk terus bertahan, karena ini Mommy, Mami Bunda mengajarkan arti persahabatan, agar para putri memiliki tempat berbagi suka duka."


"Mommy, dulu Kasih sangat takut melihat keluarga ini, Kasih melihat beberapa kejadian yang menunjukkan kelemahan, karena alasan ini dibuat berkelompok untuk saling menjaga dan melindungi. Satu hal yang paling Kasih kagumi, ajaran agama dalam keluarga ini masih dijaga baik oleh penerus selanjutnya."


"Tanpa Mami jelaskan panjang lebar, Kasih sudah mengerti semuanya. Setiap pendamping dalam keluarga ini memiliki keistimewaan masing-masing. Mommy tidak perlu menyebut dan menjelaskan, Kasih bisa melihat secara langsung. Kamu harus tahu, Kasih salah satu wanita istimewa yang mendampingi Ravi." Viana mengusap kepala Kasih.


"Terima kasih Mommy sudah menerima Kasih, do'akan terbaik untuk kami Mom. Semoga saat kembali kami diberikan kepercayaan menjadi orang tua."


"Amin, Mommy senang mendengar Kasih sudah siap menjadi seorang ibu." Viana memeluk Kasih.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2