SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MAAF DAN TERIMA KASIH


__ADS_3

Seluruh orang diam melihat Erik dan Billa masuk, tidak ada yang memberikan senyuman, tatapan masih penuh kesedihan.


Erik melihat Mamanya di pojokan sedang memeluk Erwin, Erik langsung mendekat memeluk Mamanya tangisan Septi semakin kuat.


"Mama, maafkan Erik sudah membuat Mama menangis, terkadang Erik bertanya kenapa Mama harus menangisi anak seperti Erik, alasan Mama hanya satu karena mencintai Erik." Erik mencium pipi Septi menghapus air matanya.


"Maafkan Mama sayang, tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk kamu."


"Ma, kenapa bicara seperti itu? tidak ada orang tua yang ingin anaknya bersedih, tidak ada yang ingin melihat menderita, semua orang tua melakukan yang terbaik untuk anak mereka, sama seperti Mama yang ingin terbaik untuk Erik. Apapun yang Mama anggap baik, baik juga bagi Erik." Air mata Erik menetes, memeluk erat Mamanya.


"Maafkan Erik Ma, sudah membuat Mama susah tidur, makan tidak nyaman, pikiran kacau, suka melamun, Mama selalu gelisah, bahkan Mama jarang berbicara mengkhawatirkan Erik, Papa dan Mama orang tua terhebat bagi Erik." Erik menangis sesegukan, dia selama ini berusaha kuat, karena tidak tega melihat Mamanya, tapi tetap saja kesedihan tidak bisa Erik tutupi.


"Orang tua mana yang tidak khawatir, kamu tidak pernah menangis, mengatakan Mama sakit, tapi kali ini kamu mengatakan, betapa hancurnya hati seorang ibu, melihat anaknya tersenyum berusaha kuat, tapi di kegelapan menangis. Mama sangat takut kehilangan kamu Rik, sungguh Mama tidak rela kamu dimiliki orang yang tidak sepantasnya." Septi menghapus air matanya.


"Erik tidak akan pernah melawan perintah Mama, wanita pertama yang Erik cintai."


Ammar mendekati Kedua anak dan istrinya, memeluk mereka erat. Ammar tahu Septi sangat mencintai putranya, bahkan takut Erik lebih memilih ibu kandungannya.


"Maafkan Papa belum bisa membuat kalian bahagia."


"Mama bahagia, memiliki tiga lelaki hebat, Erik pria baik karena mengikuti Papanya yang super baik. Mas Papa yang hebat, suami yang hebat."


"Kak Erik mirip Papa, Erwin mirip siapa Ma?" Erwin memeluk erat Mamanya.


"Kamu juga mirip Papa baik, contoh juga sikap baik kakak kamu."


"Ohhhh, jadi kita tidak mirip Mama, hanya anak Papa?"


"Kita juga anak Mama, pintar masak seperti Mama menjadi koki yang hebat."

__ADS_1


"Kak Erik benar, keluarga kita ada Dokter, koki, polisi, lalu Erwin menjadi apa ya?"


"Pemulung." Wira menjawab, mulutnya penuh makanan.


Tawa Erik dan Erwin langsung kuat, orang yang melihat Wira juga tertawa. Bersyukur dengan kehadiran bocah 5 tahun yang sangat cerewet.


"Kata kakek pekerjaan mereka mulia, mengurangi sampah, pintar mendaur ulang, tidak malu dengan pekerjaan mereka, selama pekerjaan halal tidak masalah, tanpa mereka apalah artinya kita. Benar Kakek?" Wira menatap Bima yang menggagukan kepalanya.


"Wira cita-cita ingin menjadi pemulung?" Windy menatap putra semata wayangnya.


"Tidak Mom, Wira ingin menjadi Playboy saja."


Windy langsung menepuk jidat, Steven mengelus gemes melihat putranya yang memang nakal juga genit.


Jum menepis air matanya, ada rasa bahagia, haru, juga sedih bercampur aduk melihat putrinya Billa. Erik mendekat memeluk Jum yang langsung memeluk Erik.


"Bunda maafkan Erik, candaan Erik membuat Bunda bersedih. Erik sayang Bunda, sangat sayang terima kasih Bunda sudah melakukan terbaik untuk Erik dan Billa." Erik menghapus air mata Jum.


"Erik yang salah Bunda, apapun yang terjadi akan menjadi pelajaran untuk Erik agar lebih bisa menjaga perasaan Billa, maafkan Erik ya Bunda." Erik memeluk sambil tersenyum, Jum juga menepuk punggung Erik, mencium keningnya.


"Mami, Mommy, maafkan Erik sudah membuat sedih, kecewa. Erik sangat menyayangi Mommy dan Mami, terima kasih Mami sangat menyayangi Erik, terima kasih Mommy selalu menguatkan Erik, tanpa kalian tidak mungkin Erik berdiri dengan kuat." Erik memeluk Viana dan Reva yang tidak bisa menahan air matanya.


"Bisa kita sudahi air mata ini Rik, kita semua ingin melihat kamu tersenyum bahagia, ingatlah sayang ini baru awal, rumah tangga kalian selalu diuji, jadilah lelaki kuat dan hebat, seperti Ayah kamu." Viana mengusap kepala Erik.


Erik tersenyum menatap Bisma langsung memeluknya, meminta maaf sudah mengecewakan, juga meminta maaf karena dirinya tidak bisa tegas menghadapi masalah. Bisma memeluk erat Erik, mengerti perasaan Erik, tapi yang Bisma lakukan merahasiakan pernikahan demi kebaikan Billa dan Erik.


Langkah kaki Erik juga memeluk Bima, lelaki yang memberikan inspirasi terbesar, panutan hidupnya. Sosok Daddy Rama yang juga selalu menasehatinya tidak pernah membedakan dirinya dan Ravi.


"Terima kasih Uncle Bima sudah sayang Erik, melindungi Erik, mengajarkan banyak hal. Terima kasih juga Uncle Rama, tidak pernah lelah menegur Erik, maafkan Erik jika sudah mengecewakan, juga banyak salah."

__ADS_1


"Erik, kamu bernilai+ dari Ammar. Mental kamu kuat dapat dari Papa kamu yang selalu berusaha kuat, kesabaran kamu dapat dari Mama kamu, mereka berhasil mendidik kamu dengan baik, kami semua memberikan yang terbaik untuk kamu, karena kamu bagian dari kami, putra kami." Bima memeluk Erik.


"Jangan sedih lagi, sebaiknya kamu ganti baju kita tunggu di tempat ijab kabul." Rama menepuk pundak Erik.


"Papa Ayah, Mama Bunda semuanya Erik meminta izin menghalalkan Billa." Erik tersenyum melihat semua orang tua.


"Ayah ingin mengatakan tidak, tapi cerita akan semakin panjang, Billa juga bisa mengamuk, jadiannya setuju. Sekarang kita tunggu kamu berganti baju." Bisma merangkul Jum sambil tersenyum.


Ammar mengusap matanya, tiba-tiba ada kesedihan, juga kebahagiaan melihat putranya akhirnya akan menikah, setelah melewati masalah yang rumit.


"Papa, Erik ingin minta maaf selalu membuat Papa khawatir, terima kasih sudah menjadi Papa yang hebat dan terbaik untuk Erik, dari dalam hati Erik yang paling dalam, Erik sayang Papa, mencintai Papa. Erik bersyukur, bangga menjadi putra seorang Papa Ammar." Erik langsung memeluk erat Papanya.


"Sudah berhenti bersedih, sebentar lagi penghulu kabur menunggu kamu terlalu lama." Ammar menjitak kepala Erik.


Erik langsung melangkah memeluk Ravi dan Tian, ketiganya berpelukan penuh rasa bahagia, sedih, juga terharu.


"Kalian melupakan kak Win." Windy cemberut.


Tian merentangkan tangannya, Windy langsung berlari memeluk tiga lelaki hebatnya. Bahagia melihat Erik bisa tersenyum lepas lagi.


"Terima kasih Ravi sudah menjadi sahabat terbaik, kak Tian juga sudah menjadi kakak terbaik, terima kasih juga kak Win yang sudah menjadi emak-emak dari zaman dahulu suka mengomel." Erik tertawa bersama Ravi dan Tian.


Windy langsung melepaskan pelukan, memukul kepala tiga orang dengan high heels nya.


"Beraninya kalian menghina dan mentertawakan." Windy melotot.


"Kak Win lagi bulanan?" Ravi mengusap kepalanya.


"Hamil mungkin? Kasih hamil suka mengamuk." Erik tertawa langsung memeluk Windy.

__ADS_1


***


__ADS_2