SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 JELEK


__ADS_3

Suara nafas Ravi terus terdengar menghela, menatap kepalanya yang harus botak, Tian juga melihat rambut sambung yang sangat panjang, Karin yang mengirimkannya.


Ravi langsung tersenyum, keluar rumah untuk pergi ke salon, Ravi meminta di buat botak, tanpa harus membuat botak rambutnya.


Salon menuruti keinginan Ravi, mata Ravi terpejam membiarkan kepalanya di otak-atik. Tidak berselang lama Tian juga datang, minta rambut palsu yang paling panjang.


Hampir 3 jam baru selesai, Ravi membuka matanya, melihat wajahnya di kaca sambil menggelengkan kepalanya, mengelus kepala botak yang membuat Ravi hampir muntah.


Tawa Ravi langsung kuat melihat Tian yang rambutnya sangat panjang, Tian juga tertawa melihat kepala Ravi yang mirip tuyul.


Keduanya saling mentertawakan, Ravi menutupi kepala menggunakan topi, membantu Tian membawa rambut panjangnya untuk secepatnya pulang.


Billa duduk di depan rumah bersama Bunda, mendengarkan cerita Bunda soal kehamilan. Ravi keluar mobil bersama Tian, mata Billa menatap tajam, bibirnya langsung cemberut, Erik keluar rumah kaget melihat Ravi dan Tian.


"Silahkan dielus Billa, kak Ravi sudah botak." Ravi tersenyum melihat Billa.


"Botak palsu, kak Tian juga rambut palsu, Billa ingin yang asli." Billa langsung masuk, menghentakkan kakinya.


Tian melepaskan rambut palsu, memasangkan kepada Ravi, Erik menahan tawa melihat Tian dan Ravi jadi korban.


Semuanya mengabaikan keinginan Billa, Erik juga sudah kembali bekerja, tapi Billa dilarang sementara ke rumah sakit, dia akan digantikan oleh wakilnya.


Kasih juga rutin datang berkunjung bersama Raka, Rasih dan cinta. Membawakan makanan kesukaan Billa, membantu agar pertumbuhan bayi dalam kandungan Billa cepat normal.


"Kak Kasih, bagaimana keadaan kak Cinta?" Billa merasakan kasihan melihat keadaan Cinta, dia masih belum berbicara, hanya diam melihat ke bawah.


"Masih seperti yang kamu lihat Bil." Kasih memperhatikan tangan Billa yang mengusap kepala Raka.


Senyum Kasih terlihat, putranya biasanya suka tidur, tapi merasakan kepalanya diusap berputar membuat bibir Raka cemberut, matanya menatap Billa yang sedang menggendongnya.


***


Sejak hamil Erik harus bergadang, Billa meminta ini itu, ujungnya ngambek, Erik mengumpulkan kesabaran ekstra menghadapi istrinya yang sedang hamil muda.


"Kak, Billa ingin kepala kak Ravi, lucu kak Billa pengen elus." Billa terus merengek, mengendus leher Erik.


Erik kasihan melihat Ravi, jika harus botak. Dari dulu Ravi sangat menjaga penampilannya.


Bermalam-malam Billa terus mengigau, sampai tubuhnya panas, Erik tidak tidur sama sekali, berusaha menurunkan panas tubuh Billa.


Sampai siang, Erik belum keluar kamar, Jum yang merasa aneh langsung mengetuk pintu, Erik mempersilahkan masuk, mengatakan Billa sedang demam.

__ADS_1


Erik masih terus memantau, Jum juga menggenggam tangan Billa, Bisma juga masuk melihat Billa yang masih tidur.


"Masih masalah botak dan rambut panjang Rik?" Bisma mengusap kepala Billa yang terbangun, Erik mengangguk kepalanya.


Erik tersenyum mencium kening Billa yang terlihat baik-baik saja, Bisma membuka jendela, sinar matahari langsung masuk, Erik berlari ke kamar mandi, langsung muntah.


"Ayah, kak Erik tidak bisa melihat cahaya matahari. Sudah berbulan-bulan tidak suka matahari." Billa tersenyum ingin menutup jendela.


"Maaf, Ayah tidak tahu." Bisma langsung menutup jendela.


Jum masuk ke dalam kamar mandi, membantu Erik mengeluarkan isi perutnya. Jum memarahi Erik dan Billa yang tidak mengatakan apapun, bahkan terlambat mengetahui kehamilan Billa.


Sudah berbulan-bulan Erik muntah, tapi tidak ada yang bicara. Hanya karena keduanya dokter, merasa tidak butuh bantuan yang lain, segala sesuatu dilakukan sendiri.


"Maaf Bunda, Erik tidak mengerti soal kehamilan. Awalnya Erik merasa hanya muntah, mungkin lelah, sejak Kasih berduka pekerjaan dua kali lipat."


"Kenapa Billa demam tidak membangunkan Ayah sama Bunda?"


"Bukan tidak membangunkan Ayah, sudah ingin mengetuk, tapi ada suara desahan, Erik balik lagi." Erik tersenyum menundukkan kepalanya.


Jum bedehem, langsung melangkah keluar meminta semuanya keluar untuk sarapan. Bisma tersenyum merangkul Jum, tangan Jum mencubit perut Bisma yang memang tidak tahu aturan, tidak ingat umur, soal ranjang dia nomor satu.


Kasih mendapatkan pesan dari Mommy, menatap Ravi yang sedang memangku kedua anaknya.


"Billa demam kak, semalam dia mengigau."


"Astaghfirullah Al azim, jika tidak dituruti tidak akan selesai ngidamnya."


"Cukur saja kak, Billa juga sering mengelus kepala Raka, mata Raka melotot tidak suka, sampai menangis." Kasih langsung tertawa.


"Aak cukur sampai botak, tapi janji kamu jangan tertawa, jangan menolak tidur bersama tuyul." Ravi mengancam Kasih, senyum Kasih terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ravi menghubungi Tian, Billa demam. Ravi akan pergi mencukur rambutnya, Tian juga harus menyambungkan rambutnya.


Tian setuju, dia akan menyambungkan rambutnya. Mereka membuat janji untuk bertemu di salon yang sama.


Tian berdiri di samping Ravi, suara cukuran mulai terdengar, rambut Ravi mulai dicukur.


"Sedih Rav?"


"Ya pastilah kak, pasti wajah aku jelek sekali. Sebentar lagi kita akan memberikan acara pertunjukan sirkus." Ravi memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Tidak ikhlas kamu Ravi?"


"Ikhlas dunia akhirat, demi calon keponakan. Rambut aku sebelum dia lahir sudah tumbuh, daripada nanti mereka lahirnya botak semua."


"Uncle terbaik." Tian menepuk pundak Ravi.


Tian juga mulai menyambungkan rambutnya, cukup lama prosesnya. Ravi sudah tertidur nyenyak menunggu hasil yang pastinya membuat wajahnya jelek.


Mata Ravi terbuka setelah mendengar kata selesai, rambutnya botak mengalahkan Raka, tapi demi senyuman Billa, demi si kecil.


Tian langsung kaget melihat wajahnya, rambutnya terasa sakit, karena sedikit demi sedikit rambutnya terkena sambungan.


Melihat kepala Ravi yang sudah licin seperti bakso, Tian menatap wajahnya yang jelek. Seorang pengusaha sukses, rambutnya panjang mengalahkan panjangnya rambut kuntilanak.


Selesai menyambung rambut, juga mencukur rambut, Tian langsung tertawa, Ravi juga merasakan lucu melihat tingkah mereka.


***


Malam ini Billa sedang asik menonton drama Korea yang membuat Bunda, Mommy dan mami lupa suami.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," Jum langsung berdiri memeluk Septi yang baru saja kembali.


Septi melihat Billa yang perutnya sudah terlihat, mencium keningnya, mengelus perut Billa.


Bisma mengucapkan selamat menjadi kakek untuk Ammar, Billa menyambut tangan mertuanya, menciumnya dengan sopan.


"Sudah berapa bulan Billa?" Ammar mengusap kepala Billa.


"Masuk empat bulan Pa, Billa terlambat tahu."


"Semua salah Erik, dia pasti tidak memperhatikan kamu."


Billa tersenyum melihat suaminya yang cemberut, Erik meminta Billa duduk, pelukan tangga Erik erat kepada Septi.


Erik merindukan mamanya setelah berbulan-bulan tidak bertemu, mata Erik tidak berkedip menatap dua orang yang melangkah mendekat.


"Astaghfirullah Al azim, Allahu Akbar. Rambut kamu kenapa Tian, kesuburan? kamu juga Ravi, kepala kamu jelek sekali." Septi kaget, mengusap dadanya.


Erik masih berdiri menjadi patung, tidak berselang lama, tawa Erik langsung terdengar menggelegar, melihat Tian dan Ravi yang jeleknya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

__ADS_1


"Sialan kamu Erik." Ravi menatap tajam.


***


__ADS_2