
Senyuman Windy terlihat, meminta Wildan dan Vira tidak mempermasalahkan soal ini. Windy sangat mengerti perasaan soal ibu yang sangat menjaga anaknya.
Mungkin rasa iri mbak kepada Lin berlebihan, gadis yang dulunya Vira pekerjaan untuk menjaga Virdan berubah status menjadi seorang putri, mungkin terlihat lucu dan membuat iri hati.
"Wildan, seorang ibu pasti sangat takut jika bersangkutan dengan anaknya. Kak Windy sangat mengerti." Tangan Windy mengusap kepala adiknya, Windy akan bicara dengan Lin agar dia mengerti.
"Kak Vira minta maaf, tidak ada maksud untuk menyingung kak Windy dan Stev, intinya Vira minta maaf." Air mata Vira mendadak menetes merasa menyesal.
Windy langsung memeluk Vira, meminta maaf atas nama Lin. Windy tidak marah sedikitpun, karena Windy tahu rasanya kehilangan anak.
Jum melangkah mengikuti Lin yang ingin pulang, menahannya untuk duduk. senyuman Lin terlihat dan merasakan sangat bersalah.
"Kamu terluka?"
"Tidak Bunda, Lin baik-baik saja." Tangan Lin di sembunyikan karena gemetaran dan menahan tangisannya.
Reva juga mendekat, mengusap wajah Lin menyingkirkan poni rambutnya. Terlihat luka di kepalanya bahkan sampai mengalir dikening.
Tangan Lin mengusap keningnya, mengatakan jika dia baik-baik saja. Tidak merasakan sakit sama sekali, bahkan tidak tahu jika berdarah.
"Billa, kemari kamu. Obati Lin." Viana berteriak kuat.
Erwin langsung duduk di meja, meletakan obat yang sudah dia bawa. Membersikan tangan Lin yang ada bekas darah.
Poninya basah, karena ada darah. Wajah panik Lin semakin terlihat menahan rasa takut.
"Jika ingin menangis, maka menangis saja. Tidak ada salahnya menangis, karena itulah gunanya air mata. Dulu saat aku kecil sering terluka karena kak Vira, dia hanya tertawa melihat aku menangis terkena goresan kecil." Senyuman Erwin terlihat mengobati kening Lin.
Vira melangkah mendekat, melihat Erwin mengobati Lin. Mata Lin tertutup mendengarkan cerita Erwin saat dia kecil.
"Maafkan ucapan kak Vira, sejak kecil dia tidak rela membagi kak Wildan. Ternyata dia belum dewasa, masih egois ingin berkuasa. Tahan sebentar, ini akan terasa sakit." Suara lembut Erwin terdengar.
"Bagaimana lukanya Win?" Stev ingin membawa Erlin ke rumah sakit jika lukanya parah.
Senyuman Erwin terlihat, menutupi luka Lin yang mencengkram kuat bajunya berusaha menguatkan diri sendiri.
"Sebentar lagi akan ada banjir air mata." Erwin melangkah mundur, meminta Steven untuk menenangkan Lin yang ketakutan.
Steven langsung mengusap rambut, menggenggam jari-jemari Lin untuk membuka mata dan berbicara.
__ADS_1
"Lin, lihat Daddy."
"Maafkan Lin sudah membuat kecewa." Lin ingin memeluk Stev, tapi langsung melangkah mundur.
Steven langsung memeluk erat, mengusap punggung Lin. Suara tangisan mulai terdengar, Lin menangis kuat terus meminta maaf.
Mencoba menjelaskan kepada Steven apa yang terjadi, dia melihat Vio haus, dan sudah mencari mbak yang menjaga, tapi ternyata ada di toilet.
Tidak tega melihat Vio, akhirnya Lin membuat susu, tapi kata mbaknya salah. Susu twins berbeda dengan anak-anak yang lain, mendorong Lin untuk menjauh sampai jatuh, dan kepalanya terbentur.
Lin juga menunjukkan tangannya yang terkena air panas, tangannya merah dan terasa sakit.
Lin sudah berusaha memahami kondisi twins, dan melakukan hal yang sama seperti Wildan biasanya membuat susu, dirinya memang tidak banyak tahu, tetapi apa yang dia buat sudah sesuai.
"Daddy, Lin minta maaf ya. Lin sayang sekali kepada twins, sayang kak Vira juga. Intinya Lin minta maaf sudah lancang, Daddy boleh menghukum Lin." Pelukan semakin erat, nada Lim meminta perlindungan dari kemarahan Vira, juga rasa bersalahnya yang semakin besar.
"Kita ke rumah sakit dulu untuk periksa kepala kamu, Daddy tidak mungkin bisa marah sama putri kesayangan Daddy." Stev menghapus air mata, meniup kening Lin yang terluka.
Kepala Lin menggeleng, dia tidak ingin ke rumah sakit. Meminta Daddy-nya meminta maaf kepada Mbak yang mungkin sekarang sedang kecewa.
"Daddy tidak membenarkan apa yang Lin lakukan hari ini, tapi satu hal yang ingin Daddy pertanyaan. Kamu ragu tidak membuatkan susu untuk Vio?"
Kepala Lin menggeleng, dia sangat yakin sudah sesuai. Bahkan menjelaskan apa yang dia pelajari. Twins juga masih meminum ASI, dan kondisi twins sangat kuat.
Jangan menerima apa yang orang salahkan, jika merasa benar lakukan pembelaan dan tunjukkan kebenaran.
"Kenapa Lin diam didorong? katakan kepada Mbak apa yang Lin yakin. Melihat Vira marah, jangan takut. Katakan maaf lalu jelaskan kesalahan jangan menunggu. Kamu menyayangi Vira, buktikan rasa sayang kamu jika apa yang dilakukan benar. Sayang, hati kita ini mudah sekali tersinggung dan marah, sehingga itu belajar kendalikan. Persaudaraan bisa hancur karena tersinggung dan salah paham."
Lin tersenyum menganggukkan kepalanya, dia tidak salah seharusnya membela diri.
"Kak Vira tidak boleh seperti itu ... Lin minta maaf ... Lin lupa ingin bicara apa Daddy, tidak tega ingin memarahi kak Vira." Tangisan Lin terdengar kembali.
Suara tawa Erwin terdengar, menatap Vira yang menangis langsung mendekati Lin meminta maaf karena ucapannya keterlaluan.
"Maaf kak Vira salah, ucapan kak Vira keterlaluan."
"Lin tidak tahu kak Vira bicara apa? sudah lupa semua. Jika Lin menangis pasti lupa ingin bicara apa."
"Kak Vira mengatakan jika kamu dan kak Wildan selingkuh." Erwin langsung berlari sebelum mendapatkan pukulan.
__ADS_1
Lin langsung merinding, memeluk Daddy-nya tidak ingin bicara dengan Vira yang mempunyai pikiran jelek.
Vira mengumpat kasar Erwin, mencoba menjelaskan kepada Lin jika Erwin hanya bicara sembarang.
Suara keras benda jatuh terdengar di depan rumah, Lin langsung berlari melewati Daddy-nya.
"Wira, tidak boleh." Lin berdiri di depan adiknya yang sudah memegang senapan, memecahkan ban mobil.
"Tidak boleh dendam, apalagi dengan orang yang memiliki hati iri dan dengki." Lin langsung memeluk adik lelakinya mengatakan jika dirinya baik-baik saja.
"Minggir kak Lin, Wira ingin melihat bintang." Senyuman Wira terlihat.
Kening Lin berkerut, melihat apa yang Wira pegang. Diarahkan ke atas langit.
"Coba kak Lin lihat, indah tidak."
Senyuman Lin terlihat, menatap Wira yang tersenyum. Adik-adiknya juga duduk sambil melihat bintang.
"Kak Lin sedih, kita juga sedih. Maka jika ingin kita bahagia, jangan pernah bersedih. Meskipun kita tidak lahir dari rahim yang sama, bertemu juga setelah besar. Kak Lin harus yakin, jika hadirnya kakak bagian dari doa Wira, mommy dan Daddy." Senyuman Wira terlihat, memeluk kakaknya erat.
"Sesekali lakukan kesalahan kak, Asih juga suka berbuat salah."
"Em juga suka, apalagi jika Mama marah-marah lucu sekali."
"Kak Lin baik-baik saja, jangan sedih. Di marah keluarga lebih baik, daripada tidak dipedulikan." Aka tersenyum melangkah duduk di dekat adiknya.
Senyuman Lin terlihat, langsung memeluk Windy yang berkali-kali mengusap air matanya.
"Mommy jangan sedih, Lin baik-baik saja. Kepala Lin sedikit pusing."
"Kita ke rumah sakit sekarang." Stev mengusap kepala putrinya.
"Maafkan Vira kak Windy, terlalu takut anak Vira yang sakit, sampai lupa jika menyakiti putri kak Windy." Vira memeluk Windy dan Lin yang juga memeluknya.
Wildan hanya tersenyum langsung menggendong putrinya.
***
Aku kasih dua bab
__ADS_1
Lanjut besok, dan aku ucapan selamat hari ibu untuk seluruh ibu di dunia.
***