
Suara langkah kaki berlari terdengar, Raka tiba lebih dulu melihat Ning yang masih menangis, sedangkan seluruh orang tua sedang berbicara dengan pihak sekolah.
Elang, Bintang, Erwin dan Virdan juga tiba, hanya ada Ning yang menunggu sedangkan yang lainnya sudah menghilang.
"Di mana Arum kak Ning?" Virda mengerutkan keningnya, menatap tajam ke arah dalam yang masih ribut.
Ning menggelengkan kepalanya, tidak tahu yang lain pergi ke mana. Mereka semua melarikan diri.
Billa keluar dengan tatapan marah, langsung melangkah pergi sambil menghubungi suaminya yang masih bekerja.
Bella, Kasih, Winda dan Vira juga keluar, mereka langsung melangkah pulang, tidak tahu lagi harus bicara apa, sudah habis kata-kata.
"Sabar Bil, Em pasti punya alasan melakukannya." Vira mengusap tangan Billa yang kewalahan.
Dirinya tidak nakal di sekolah, kenapa putrinya bisa selalu bertengkar.
"Hal ini akan terus terulang, mereka sama seperti kita dulu. Nikmati saja prosesnya." Bella tersenyum merasa lucu.
Kasih memijit pelipisnya, dia tidak pernah memukul orang secara habis-habisan seperti Asih.
Winda hanya diam saja, dia mengkhawatirkan Putrinya yang bisa membuat anak orang giginya rontok lima.
"Hanya Vio dan Vani yang tidak melakukan penyerangan, kenapa kamu juga datang Vira?" Kasih menatap adik iparnya yang hanya tersenyum.
Vira tahu siapa kedua putrinya, dia akan menyerang jika Arum terluka. Jika salah satu terluka, pasti satunya akan nekat membalas, Vira takut.
"Vio memiliki emosi sama seperti Bulan, hanya saja dia masih tenang selama Arum baik-baik saja, jika kakaknya terluka habis mereka semua." Wajah Vira tegang membayangkannya.
"Vira benar, Arum masih bisa kontrol diri dan mengendalikan Bulan, Vio dan Vani, tapi dia tidak bisa menghentikan Asih dan Embun yang lebih besar darinya." Winda cengengesan melihat anak orang patah gigi ulah putrinya.
"Kuat sekali tenaga Arum?" Billa menatap Kasih yang sudah memperingati.
Sesampainya di rumah semuanya terlihat normal dan seakan baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan anak-anak?" Viana menatap tajam para wanita yang baru pulang.
"Tidak tahu, mereka sudah melarikan diri." Vira langsung duduk mempertanyakan dirinya saat kecil nakal tidak.
Viana memukul kepala Vira, dia sangat nakal sampai Viana ingin menenggelamkannya ke dalam kolam.
Bahkan Vi bertengkar dengan Rama karena Vira dilempar ke dalam kolam, bukan tengelam tapi lanjut main dan berenang diikuti oleh Winda dan Bella.
__ADS_1
"Jika anak kalian nakal jangan heran, kalian juga sama nakalnya." Jum menggelengkan kepalanya.
"Billa tidak nakal bunda, tapi kenapa anaknya Billa nakal sekali?" air mata Billa menetes, dia sulit sekali menahan emosi melihat tingkah Em.
"Lihat dulu siapa bapaknya, Erik dulu nakal. Kakeknya lebih lagi nakalnya."
Reva langsung tertawa melihat Billa, kasihan juga melihatnya. Billa tidak sekuat Jum, hanya Erik yang santai saja melihat anaknya nakal dan yang satunya menjadi manusia kutu buku.
***
Selesai magrib anak-anak dikumpulkan, Virdan dan Erwin sibuk mengobati kaki adik mereka yang masih bengkak, tangan Em juga terluka.
"Kak Dan, kenapa sayang sekali sama Rum? dari tadi tidak pulang-pulang hanya mengawasi kak Rum saja. Iya kan Vio?" bibir Vani monyong, menatap sinis kakaknya.
"Kamu juga terluka Va?"
"Tidak, apa Vani harus terluka dulu agar kak Virdan sayang Vani?"
"Diamlah Vani, kenapa kamu ceramah di sini? pergi sana." Arum mengerutkan keningnya, menatap Rasih, Embun dan Bulan muncul.
"Di mana kak Ning?"
"Dia tidak ikut, mendadak demam dan ikut pipinya." Asih duduk di samping Arum.
"Yes yes tidak sekolah." Vio joget-joget sambil menari karena mereka tidak sekolah.
"Kamu sekolah Vio, karena tidak berkelahi." Asih menatap sinis.
"Benarkah, berarti besok Vio harus memukuli orang agar tidak sekolah." Senyuman Vio dan Vani terlihat memiliki rencana busuk.
Suara pukulan menghantam body Vio, Vira memukulnya menggunakan pukulan nyamuk.
Anak-anak langsung tertawa melihat Vio yang mengusap body yang kesakitan, bibirnya Vio cemberut.
Vani cekikikan tertawa, mengejek kakaknya yang masih meringis kesakitan.
"Besok kalian semua sekolah, dan tidak ada lagi acara latihan bela diri. Dan satu hal lagi Abi, Papi, Daddy, Papa dan Ayah kalian akan memberikan hukuman." Vira menakuti anak-anak yang terdiam.
"Vani juga dihukum? padahal Vani tidak bertengkar." Tatapan mata Vani tajam melihat Maminya melangkah ke dapur.
"Bagaimana keadaan kaki kamu?"
__ADS_1
"Sudah membaik, diobati kak Virdan. Ada kak Arwin juga yang jagain dan tadi ada kak Elang memberikan obat." Arum tersenyum melihat kakinya sudah jauh lebih baik.
"Elang sama kak Raka ada jenguk juga?" Em menatap tajam.
"Iya, hanya melihat kaki Arum, tidak mengatakan apapun langsung pergi.
Asih menatap tajam, dirinya dan Embun juga terluka tapi tidak ada yang bertanya. Hanya Wira yang perduli setiap hari menanyakan kabar.
Bahkan Kakaknya Raka hanya perduli kepada Arum, semuanya selalu mengutamakan Arum.
"Kak Asih ingin ke mana?" Bulan langsung mengikutinya.
Di ruangan khusus, Raka, Elang, Virdan, Bintang, dan Arwin sedang membaca dan memainkan komputer.
Asih masuk bersama Em dan Bulan, langsung duduk di depan Raka yang masih membaca buku.
"Asih ingin bertanya satu hal, kenapa kalian sangat perhatian kepada Arum? kita bertiga juga terluka apa ada yang bertanya apa kami baik-baik saja." Asih menatap tajam lima pria di depannya.
"Jika kamu masih bisa marah, berarti baik-baik saja." Elang menatap tajam langsung fokus kembali di komputernya.
"Kita bertanya Elang, jawaban kamu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan." Em memukul meja kuat.
"Kak Embun sudah besar, tapi pikirannya kekanakan. Seharusnya kalian koreksi diri sebagai yang lebih tua, berkelahi dan membuat keributan setiap hari, mempermalukan keluarga." Nada dingin Virdan terdengar.
Pukulan di meja kuat, tatapan Arwin dan Raka langsung tajam. Melihat mata keduanya Bulan langsung melangkah pergi dan melihat Arum, Vio dan Vani berdiri di depan pintu.
"Asih, kamu masih ingat apa yang terjadi dua tahun yang lalu?" Aka menatap adiknya, dan memintanya keluar.
"Oh, hanya karena Arum yang selalu sakit-sakitan membuat kalian sangat menyayangi dia." Asih membalik badannya menatap Arum.
"Memangnya Arum sakit apa? aku merasa kuat dan sehat, memangnya apa yang terjadi dua tahun yang lalu." Arum menatap Raka yang hanya diam saja.
"Rum, maafkan kak Asih. Kita bicara di luar saja."
Arum langsung menepis tangan Asih, meneteskan air matanya melihat saudaranya yang hanya diam.
"Kenapa kita yang bertengkar? Vio tidak suka suasana seperti ini."
"Vani juga tidak suka, kak Arum jangan marah." Vani dan Vio memeluk Arum erat.
Arum melangkah keluar, menggandeng tangan kedua adiknya setelah mendapatkan panggilan untuk berkumpul.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara