
Selesai mengantar Fly, Yusuf dan Wildan melanjutkan perjalanan menuju Mansion yang lumayan jauh.
"Wil, kamu tidak salah menuduh Fly seperti itu?"
"Tidak kak, Wildan sangat yakin karena sudah membuktikannya sendiri."
"Baguslah, aku merasa kamu sedang memutuskan hubungan secara tidak baik dengan Fly."
"Mungkin, karena dia mulai menggunakan hati. Wildan tidak bisa membiarkan dia terus disisi Wildan."
Yusuf menganggukkan kepalanya, Wildan memiliki alasan untuk tidak pernah bekerja dengan wanita karena tidak ingin menggunakan hati, tapi bekerja dengan lelaki rawan dikhianati.
"Kita masuk perbatasan Wil."
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, saat tiba di perkebunan Yusuf melambatkan laju mobilnya. Wildan menatap tajam ke depan melihat tiga wanita sedang main kejar-kejaran bersama rombongan ayam.
Tangan Wildan langsung memijit pelipisnya, meminta mobil berhenti.
Vira berlari kencang, menendang ayam yang mencuri cacingnya. Vira sudah susah payah mencari cacing untuk memancing, tapi dicuri ayam.
Bella dan Winda teriak kuat meminta Vira berlari karena ada hewan leher panjang mengejar mereka.
Vira langsung berlari, melewati Winda yang larinya paling lambat.
Suara tertawa terdengar, seorang pemuda berdiri di belakang Winda menghentikan aksi saling mengejar.
"Sialan kalian berdua meninggalkan Winda terus."
"Kamu baik-baik saja." Dewa tersenyum menatap Winda.
"Innalilahi, baik. Winda baik-baik saja." Winda tersenyum menatap Dewa yang sangat tampan.
"Kamu baik-baik saja Bella?"
"Punya mata, tidak melihat keringat, lihat kaki Bella." Suara Bella keras seakan sedang marah.
Dewa mengeluarkan sapu tangan memberikan kepada Bella untuk mengelap keringat, Dewa menunduk membersikan kaki Bella dari lumpur, juga kotoran.
Vira menatap tajam, langsung jongkok melihat wajah Dewa yang sangat tampan juga terlihat lembut sekali.
"Kamu siapa?"
"Aku yakin kalian mengenal aku, kamu pasti Vira?" Dewa berdiri mengulurkan tangannya.
"Kamu mengenal aku?"
"Aku tahu nama, tapi tidak tahu wajah kalian."
Winda langsung mendekati Dewa yang tersenyum menatap Bella yang sangat cuek, membuang sapu tangan langsung melangkah pergi.
"Kamu sedang mendekati Bella?" Winda menatap tajam.
"Kamu tahu dari mana? apa dari tatapan aku kamu bisa melihatnya?" Dewa tersenyum.
Winda juga tersenyum mendekati wajah Dewa yang langsung melangkah mundur, Randu berjalan mendekati kakaknya yang langsung berdiri di depan Dewa.
"Jangan mendekati Dewa jika kamu tidak ingin terluka."
"Randu, kamu jelek sekali." Winda menatap sinis.
Vira dan Bella langsung tertawa lucu, Dewa langsung menatap wajah Randu. Tanggapan Randu langsung serius memegang pipinya.
"Aku jelek, kamu tidak tahu berapa banyak wanita yang mengagumi wajah ini."
__ADS_1
"Apa yang ingin di kagumi, lihatlah pori-pori kamu, ada komedo, flek bekas jerawat, ini juga ada jerawat. Stop jangan menunjukkan gigi sungguh menjijikan." Winda langsung merapikan rambutnya melangkah pergi.
Dewa tersenyum melihat Randu yang mengejar Winda langsung menahannya, Randu memperhatikan wajah Winda yang mulus tanpa cacat.
"Bagaimana cantik?"
"Kenapa pipi kamu merah?"
"Dasar manusia astral, ini namanya lipstik digunakan di mata dan pipi."
"Lalu yang dibibir kamu bukannya lipstik?"
"Oh salah besar yang dibibir ini namanya lip balm."
Wildan keluar dari mobil melangkah mendekat, Vira langsung kaget melihat si tampan yang muncul dihadapannya.
"Bella, kenapa aku halu melihat Wildan?" Vira mengucek matanya.
"Wildan." Bella langsung melangkah mendekati Wildan.
"Kak Wil ada di sini." Winda menatap Wildan yang menatap Dewa.
Senyuman Dewa terlihat menatap Wildan yang berjalan ke arahnya, Randu langsung berdiri di samping Dewa.
"Sore Wil, senang bisa bertemu."
"Kami permisi dulu." Wildan meminta Bella, Vira dan Winda masuk mobil.
"Kamu memiliki hutang kepada kami, setidaknya kata maaf." Randu menatap tajam.
Wildan langsung membalikkan tubuhnya, berjalan mendekati Randu yang terlihat tidak menyukainya.
Senyuman tipis Wildan berikan langsung meminta maaf, melangkah pergi.
"Aku tahu tujuan kalian ingin mengungkap kebenaran, tapi apapun tujuan kalian aku sudah datang selidiki aku, apa keterlibatan W dengan kalian, tenang saja aku tidak akan melarikan diri."
"Sombong." Randu menatap sinis.
"Bukan aku yang sombong, tapi kalian yang lambat."
"Kamu tidak takut Wil?" Dewa tersenyum lembut.
"Takut manusiawi Dewa, aku manusia yang memiliki rasa takut." Wildan melangkah pergi.
Vira menatap tajam Wildan, Bella dan Winda juga tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak Wil kenapa bisa ada di sini?"
"Pertanyaan lucu."
Winda langsung mengerutkan keningnya, Yusuf tersenyum menjalankan mobilnya.
"Wildan, kamu ada masalah apa sebenarnya dengan mereka?"
"Kamu penasaran cari tahu sendiri."
Vira mengerutkan keningnya, menendang kursi Wildan.
"Wil, Dewa tidak berbahaya seperti yang orang katakan, dia hanya ingin mengembalikan nama baiknya."
"Wildan tahu kak, tapi tidak semudah itu. Lawan mereka hacker yang hebat, bahkan Wildan belum berhasil menemukannya."
Bella menghela nafasnya, mengambil sebuah kertas bernama Butterfly.
__ADS_1
"Kamu datang bersama Fly?" Bella menyerahkan sebuah kertas.
Wildan mengambil kertas meminta mencari yang lain mungkin ada sesuatu yang tertinggal, Bella hanya melihat satu kertas.
"Wildan kenapa kamu tidak pernah mencari tahu soal Fly?" Yusuf menatap Wildan yang menatap tajam kertas.
"Ada dua orang yang tidak bisa aku ketahui identitasnya, Fly dan Dewa."
"Coba kamu lacak kak Bella? kamu pasti belum pernah mencobanya."
Winda memejamkan matanya, karena tidak mengerti apapun.
"Winda, kamu lacak kak Bella."
"Kak Wil, Winda tidak mengerti."
"Pengacara bodoh." Wildan, Vira dan Bella menatap tajam.
"Tunggu sampai Mansion saja." Yusuf mempercepat laju mobilnya sampai akhirnya tiba di mansion.
Wildan langsung melangkah masuk, diikuti oleh yang lainnya masuk ke dalam ruangan yang sangat canggih.
Wildan menghidupkan seluruh layar komputer, mencari tahu identitas Bella sebagai seorang hackers.
"Tidak ada." Wildan tersenyum.
Yusuf juga melakukan hal yang sama, identitas Bella memang terkunci.
"Kenyataannya ada empat hackers yang terkunci, W, By, Fly dan Dewa."
"Ada satu lagi, dia orang yang selama ini mengadu domba."
Vira duduk diam, mendekati Wildan mempertanyakan hubungan Wildan dan Fly. Kertas yang baru saja Bella temukan orang yang sama saat Bella dan Vira tertangkap di Roma.
"Wildan apa mungkin Fly yang menjebak kami dulu?"
"Entahlah, tapi bisa saja."
"Bukannya dia punya hubungan baik dengan kak Kasih?" Winda menggaruk kepalanya.
"Inilah yang masih membingungkan, intinya kita harus berhati-hati kepada Fly dan Dewa."
"Kalian bertiga jangan ada yang ikut campur, rahasiakan jika kita mengetahui hackers yang terkunci. Biarkan Dewa yang menyelesaikan masalah keluarganya."
"Vira ingin mengejar cinta Dewa, lalu bagaimana caranya jika tidak boleh ikut campur." Vira mengacak rambutnya.
Wildan rasanya ingin sekali memukul kepala Vira, jika sudah menginginkan sesuatu tidak bisa dihentikan."
"Wildan, tolong selamatkan Dewaku."
"Dia sudah besar, bisa meyelamatkan dirinya sendiri." Wildan menatap tajam.
"Kamu terbaik Wildan, lakukan sesuatu."
"Baiklah, Wildan akan mengawasi dia."
"Thanks you so much adikku tercinta." Vira memberikan ciuman jarak jauh.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA.
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
__ADS_1
***